Selasa, 19 Mei 2015

angan Menyakiti dan Mencari Keburukan Orang Lain, dan Janganlah Berbuat Ghibah.

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

ياَ أَيُّهاَ الَّذِيْنَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيْرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلاَ تَجَسَّسُوا وَلاَ يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيْهِ مَيْتاً فَكَرِهْتُمُوْهُ وَاتَّقُوْا اللهَ إِنَّ اللهَ تَوَّابٌ رَحِيْمٌ

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang”. (QS. Al-Hujurat: 12)

وَاعْلَمْ أَنَّهُ لَيْسَ بِواَجِبٍ أَنْ يَبْحَثَ عَنِ المُنْكَراَتِ المُسْتَوْرَةِ حَتَّى يُنْكِرُهاَ إِذاَ رَآَهاَ بَلْ ذَلِكَ مُحَرَّمٌ

Ketahuilah bahwasanya tidaklah wajib menceritakan kemunkaran yang tersembunyi, kecuali hanya untuk mengingkarinya saja jika memang melihatnya, bahkan menceritakan kemunkaran itu diharamkan. Hal ini berdasarkan firman Allah Ta'ala tersebut di atas. Juga berdasarkan Sabda Nabi shollallahu 'alaihi wa sallam dalam khutbah beliau ;

ياَمَعْشَرَ مَنْ أَسْلَمَ بِلِساَنِهِ وَلَمْ يَفْضِ الإِيْماَنُ إِلىَ قَلْبِهِ لاَ تُؤَذُّوْا المُسْلِمِيْنَ وَلاَ تَزْدِرُوْهُمْ وَلاَ تَتَّبِعُوْا عَوْرَاتِهِمْ فَإِنَّهُ مَنْ يَتَتَبِعُ عَوْرَةَ أَخِيْهِ المُسْلِمِ تَتَبِعُ اللهُ عَوْرَتَهُ وَمَنْ تَتَبِعُ اللهُ عَوْرَتَهُ يُفْضِحُهُ وَلَوْ فيِ جَوْفِ رَحْلِهِ

“Wahai orang-orang yang lisannya menyatakan Islam dan keimananya belum sampai ke hati, janganlah kalian menyakiti kaum muslimin, jangan berbuat jahat kepada mereka dan jangan pula menceritakan keburukan mereka, karena sesungguhnya seseorang yang menceritakan keburukan saudaranya yang muslim maka Allah akan menceritakan keburukannya, siapa yang keburukannya diceritakan Allah maka ia sesungguhnya dipermalukan Allah, meskipun berada di dalam kamar”. (HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Hibban)

Anda hanya berkewajiban untuk memerintah kebaikan di saat anda melihat orang tidak berbuat kebaikan. Dan anda harus melarang keburukan di saat anda melihat orang melakukan keburukan itu. Ketahuilah dalam hal ini kami banyak melihat orang keliru menyikapinya. Penyusun kitab Nashoihuddiniyyah menyatakan ;

وَمِنَ المُهِمِّ أَنْ لاَتُصَدِّقَ وَلاَتَقَبَّلَ كُلُّ ماَيُنْقَلُ إِلَيْكَ مِنْ أَفْعاَلِ النَّاسِ وَأَقْواَلِهِمْ المُنْكَرَةِ حَتَّى تُشاَهِدُ ذَلِكَ بِنَفْسِكَ أَوْ يُنْقِلُهُ إِلَيْكَ مُؤْمِنٌ تَقِىٌّ لاَيُجاَزِفُ وَلاَيَقُوْلُ إِلاَّ الحَقَّ

Diantara hal paling penting adalah anda tidak membenarkan dan tidak menerima setiap kabar yang anda dapatkan tentang perbuatan dan perkataan yang buruk, kecuali anda menyaksikan sendiri atau mendapat khabar dari seorang mukmin yang taqwa, amanah, tidak cerita berlebihan dan tidak berkata melainkan benar.

Demikian itu karena, berbaik sangka kepada kaum muslimin itu diharuskan. Banyak orang sekarang terlalu berlebihan, mudah terpancing isu, sehingga pada akhiranya kurang peduli kebaikan dan hilangnya amanah.

Menurut mereka, seorang yang terpuji ialah jika menyamai keinginan mereka meskipun tidak menegakkan agama Allah, seorang tercela ialah jika menyalahi mereka meskipun seorang soleh. Akhirnya mereka memuji orang yang tidak layak dipuji, karena menyamai dan diam akan kebatilan. Mereka mencela orang yang menyalahi dan menasehati agamanya, inilah kebanyakan orang sekarang, kecuali orang yang Allah lindungi.

Penyusun kitab Nashoihuddiniyyah menyimpulkan ;

فَوَجَبَ الإِحْتِراَزُ وَالتَّحَفُظُ وَالإِحْتِياَطُ فىِ جَمِيْعِ الأُمُوْرِ فَإِنَّ الزَماَنَ مُفْتَوْنَ وَأَهْلُهُ عَنِ الحَقِّ ناَكِبُوْنَ إِلاَّ مَنْ شاَءَ اللهُ مِنْهُمْ وَهُمْ الأَقَلُوْنَ

Oleh karena itu, kita diwajbkan menjaga, memelihara dan hati-hati dalam segala hal, zaman sekarang banyak terjadi fitnah, orang-orangnya jauh dari kebenaran, kecuali mereka yang dipelihara dengan kehendak Allah, sayang mereka ini jumlahnya hanya sedikit.

Wallahu a'lam bishshowaab.

Disarikan dari kitab Nashoihuddiniyyah, karya Al-Imam Al-Quthub Al-Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad.

PEDAGANG SUKSES YANG SALAH SALURAN
Dia pedagang sukses yang terkenal sholeh dan berjiwa sosial. Namanya Tuan Tajir. Tempat usaha dan tempat tinggalnya lebih dari satu. Usahanya adalah berdagang barang-barang antik mewah dan jual beli rumah. Di negerinya penduduk mengenalnya sebagai orang yang selalu menjaga sholat lima waktu berjamaah tepat waktu di masjid, berkawan dengan dengan orang-orang sholeh, ramah pada setiap orang, dan senang membantu baik saudara dekat, saudara jauh maupun orang lain yang bukan saudara.
Suatu hari, datanglah seorang ulama bernama Syeikh Mukhtar bersilaturahmi ke rumahnya. Setelah mengobrol membicarakan berbagai hal termasuk masalah keagamaan, Tuan Tajir meminta didoakan oleh Syeikh Mukhtar agar dirinya terhindar dari musibah seperti yang baru saja dialami rekan bisnisnya yang dirampok barang-barang dagangannya oleh kawanan penyamun di tengah perjalanan bisnisnya. Sebelum Syeikh Mukhtar berpamitan, Tuan Tajir tidak lupa memberikan sumbangan uang sebesar 5 dirham kepada Syeikh Mukhtar sebagai zakat dari pendapatannya hasil penjualan salah satu rumahnya yang baru saja laku 350 dinar.
Pada kesempatan silaturahmi tersebut, Syeikh Mukhtar mengungkapkan maksud dan tujuan kedatangannya. Beliau mengharapkan bantuan Tuan Tajir berkenan membeli satu-satunya rumah yang dimilikinya seharga 50 dinar. Syeikh Mukhtar mengatakan pada Tuan Tajir, uang hasil penjualan rumahnya akan digunakannya untuk membiayai anaknya melanjutkan pendidikan di sebuah madrasah di negeri seberang, mendukung usaha-usaha dakwahnya, dan modal untuk berbisnis agar dia bisa meningkatkan taraf kehidupannya yang memang masih kurang dari cukup.
Dengan halus dan hati-hati, Tuan Tajir sambil memohon maaf mengatakan tidak bisa membantu Syeikh Mukhtar dengan mengemukakan dua alasan, Pertama, dia tidak ada rencana untuk membeli rumah, dan kedua, dia berencana akan membantu saudara kandungnya bernama Tuan Tajir Muda untuk mengembangkan usahanya.
Beberapa bulan kemudian, penduduk negeri itu dikagetkan dengan berita Tuan Tajir menderita sakit yang cukup parah dan harus menjalani pengobatan di rumah sakit yang menelan biaya sebesar 50 dinar. Tak berapa lama setelah itu, penduduk kembali dikagetkan dengan berita Tuan Tajir Muda mengalami kecelakaan di jalan, terjatuh dari unta yang dikendarainya dan harus menjalani perawatan di rumah sakit. Beberapa bulan kemudian, Tuan Tajir mengalami musibah lagi, Beberapa barang dagangannya di salah satu tempat usahanya raib. Kerugian ditaksir sekitar 50 dinar. Tuan Tajir tidak tahu bagamaina bisa raib. Kemungkinan besar pelakunya adalah pegawainya sendiri.
Kisah di atas adalah kisah nyata dengan sedikit perubahan, yakni pada setting waktu, tempat dan nama-nama orang. Kisah-kisah serupa yang menceritakan dan membuktikan keajaiban sedekah kini mudah didapat dari siaran TV, buku-buku dan majalah-majalah.
Apalagi dari internet, akan sangat mudah didapat kisah-kisah sejenis yang sangat banyak ragam dan jumlahnya. Namun ternyata kemudahan-kemudahan itu tidak mudah membuat setiap diri Muslim tergerak hati menjadikan sedekah sebagai gaya dan pola hidupnya.
Masih banyak ditemui atau bahkan diri kita sendiri yang merasa mampu ketika memenuhi segala kebutuhan dan keinginan termasuk untuk hal-hal dan barang-barang yang bukan primer, tapi tiba-tiba merasa miskin ketika ingin bersedekah atau ketika datang seseorang yang memohon bantuannya untuk keperluan orang tersebut, orang lain, lembaganya, atau keperluan dakwah. Sehingga tidak sepersen pun yang keluar dari sakunya, atau jika memberikan bantuan nilai nominalnya kecil.
Contohnya, hampir setiap orang kini mempunyai handphone. Ketika membeli handphone meskipun harganya mencapai ratusan ribu hingga jutaan, bisa dipastikan hampir setiap orang kini mampu membelinya. Juga untuk keperluan membeli pulsa. Pasti ada saja uang untuk membeli pulsa setiap kali habis. Tapi ketika datang seseorang dari sebuah lembaga sosial memohon bantuan infak atau sedekah untuk keperluan anak yatim, tidak setiap orang yang mempunyai handphone dan selalu beli pulsa memberikan sumbangan. Jika memberi, nilai nominalnya kecil, jauh di bawah harga handphone bahkan masih di bawah jumlah pulsa selama satu bulan sekalipun.
Gaya hidup seperti di atas menurut Islam jelas salah. Sesungguhnya bersedekah itu kebutuhan setiap orang. Orang yang bersedekah lah yang membutuhkan orang yang disedekahi. Mengapa demikian? Karena setiap orang ingin hidupnya di dunia barokah, jika sakit ingin sembuh dari sakit, terhindar dari musibah, di alam barzah mendapatkan kiriman pahala terus menerus, dan kelak di akhirat selamat dari api neraka dan mempunyai timbangan amal sholeh yang berat.
Sesungguhnya uang seseorang yang dikeluarkan untuk keperluan sosial dan perjuangan agama adalah yang benar-benar miliknya. Sedangkan uang yang disimpannya atau yang dikeluarkannya untuk memenuhi kebutuhan dan keinginannya bukanlah miliknya. Mengapa? Karena yang pertama manfaatnya akan dirasakan hingga setelah mati, menyelamatkan dirinya dari api neraka dan memperberat timbangan amal sholehnya di Hari Kemudian. Sedangkan yang kedua, manfaatnya hanya dirasakan ketika hidup di dunia, kecuali jika hal-hal atau barang-barang yang dibelinya digunakan untuk beribadah apalagi untuk berdakwah, manfaatnya akan dirasakan di alam barzah dan di alam akhirat.
Bentengilah diri kalian dari siksa api neraka meskipun dengan separuh buah kurma (Muttafaqun alaih)
Dari Uqbah bin Harits r.a., ia berkata, Saya pernah shalat Ashar di belakang Nabi saw., di Madinah Munawwarah. Setelah salam, beliau berdiri dan berjalan dengan cepat melewati bahu orang-orang, kemudian beliau masuk ke rumah salah seorang istri beliau, sehingga orang-orang terkejut melihat perilaku beliau saw. Ketika Rasulullah saw. keluar, beliau merasakan bahwa orang-orang merasa heran atas perilakunya, lalu beliau bersabda, Aku teringat sekeping emas yang tertinggal di rumahku. Aku tidak suka kalau ajalku tiba nanti, emas tersebut masih ada padaku sehingga menjadi penghalang bagiku ketika aku ditanya pada hari Hisab nanti. Oleh karena itu, aku memerintahkan agar emas itu segera dibagi-bagikan (HR. Bukhari)
Sehingga dapat disimpulkan, Tuan Tajir yang paling tidak mempunyai harta 350 dinar dari hasil penjualan rumahnya semestinya membantu Syeikh Mukhtar dengan membeli rumahnya. Lebih baik lagi jika Tuan Tajir memberikan 50 dinar cuma-cuma tanpa mendapakan rumah tersebut. Dengan demikian selain terhindar dari musibah-musibah, uang yang dikeluarkannya untuk membantu Syeikh Mukhtar benar-benar menjadi miliknya.
Dalam banyak hadits Rasulullah sering mengatakan membentengi diri kita dengan bersedekah agar terhindar dari musibah.
Sedekah dapat menolak 70 macam bencana, dan yang paling ringan adalah penyakit kusta dan sopak (vitiligo) (HR Thabrani)
Seandainya ada banyak Tuan Tajir di sebuah negeri yang mengeluarkan hartanya untuk mendukung perjuangan di jalan Allah, Allah Subhanahu Wataala tidak akan melenyapkan ataumemusnahkan penduduk negeri itu untuk diganti dengan kaum lain yanglebih baik. Naudzu billahi min dzalik
(Al Quran)
Ingatlah, kamu ini orang-orang yang diajak untuk menafkahkan pada jalan Allah. Maka di antara kamu ada yang kikir, dan siapa yang kikir sesungguhnya dia hanyalah kikir terhadap dirinya sendiri. Dan Allah-lah yang Maha Kaya sedangkan kamulah orang-orang yang berkehendak; dan jika kamu berpaling niscaya Dia akan mengganti dengan kaum yang lain; dan mereka tidak akan seperti kamu ini (QS. Muhammad [47]:38)
Oleh: Abdullah al-Mustofa. Penulis peneliti ISFI (Islamic Studies Forum for Indonesia) Kuala Lumpur Malaysia.
Sumber: http://www.facebook.com/permalink.php?story_fbid=10151173785081840&id=109056501839

HAKIKAT MI'RAJ MUSLIM DIDALAM SHOLAT

Sholat dalam satu riwayat Hadis dikatakan sebagai mi'rajul mu'minin (Hadist Riwayat Bukhari) yakni Mi'raj orang yang beriman. Sholat, dilukiskan sebagai mi'raj seorang mukmin, dalam analogi dengan Mi'raj Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang menghadap Allah Subhanahu wa Ta'ala secara langsung di Sidrat al­Muntaha.

Sebagai orang yang senantiasa melaksanakan ibadah sholat, sudahkah kita Mi'raj! Kapan kita menciptakan kondisi berdialog dengan Tuhan kita. Ataukah sholat kita hanya sebuah gerak-gerik ucapan bibir, ketika kita mengucapkan lafaz-lafaz ucapan sholat, tanpa mengerti, memahami dan meng­hayatinya, padahal semua lafaz itu adalah dialog kita kepada Tuhan, sehingga mungkinkah akan tercipta dialog suci itu bila pengertian, pemahaman dan peng­hayatan tidak ada pada diri kita.

Kita menyingkap mi'raj itu tidak mudah, tetapi memerlukan perjuangan, latihan dan waktu yang panjang. Dari usaha kita memahami tuntutanibadah shalat, upaya kita mengerti, memahami dan menghayati ucapan sholat dan usaha-usaha lain yang sifatnya rohaniyah. Penghayatan terhadap takbir, tasbih dan tahmid, membesarkan Allah dan perintah-Nya dalam Quran dan Sunnah, lalu membawa perbaikan didalam kehidupan sesuai Nabi dan Shahabatnya adalah pertanda faidah sholat nampak dalam kehidupan.

Mustahil Sholat seorang hamba dalam keadaan ingkar, melakukan perbuatan maksiat dan mempelopori maksiat. Dan menganggap perintah Allah sebagai sesuatu yang sepele dan remeh, dalam artian takbirnya bagai tidak membawa hasil. Tahmidnya membawa rasa syukur mendalam, makin tidak enak berbuat dosa, semakin banyak bertaubat, maka tidak heran Rosulullah SAW beristighfar 100-70 kali sehari karena keagungan Allah dalam penghayatan takbirnya begitu luar biasa.

Bagi para shahabat Nabi, dalam menghayati takbir sholatnya sampai-sampai tidak merasakan anak panah dicabut dalam tubuhnya, mencapai tingkatan ini sholat haruslah ditempatkan sebagai sarana melatih membesarkan Allah SWT, maka tidak ada tempat bagi kehidupan kecuali sejalan dengan Quran dan Sunnah. Dan puncak keimanan sejatinya, membawa ia mengajak manusia kepada Tauhid siapapun agar tunduk kepada Allah dan Rosulnya, seperti para manusia termulia disisi Allah, kelas Nabi dan Rosul, terus memperbaiki diri, senantiasa beristighfar khawatir kalau ada dosa, ini dampak penghayatan takbir yang sebenarnya, kelak dihari kiamat takbir ini menunjukkan eksistensinya, betapa para pendosa ditunjukkan akan kedahsyatan mempertanggung jawabkan dosa dan kesalahan dihadapan Allah SWT sendiri-sendiri, beruntunglah mereka yang cinta sejati dalam iman dan Islam.

Peristiwa Isra' Mi'raj terjadi setahun sebelum Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam hijrah dari Makkah ke Madinah, tepatnya pada tanggal 27 Rajab tahun ke-12 Kenabian (Setelah mene­rima misi sebagai Rasul). Isra'dan Mi'raj adalah suatu perjalanan suci Ilahiyah yang tiada bandingannya, yang hanya berlaku satu kali dalam sejarah kemanusiaan, suatu Peristiwa yang berhak dibanggakan, dikagumi, diagungkan dan di­anggap suci, yang menjadi mukjizat dan lambang kebesaran dan kehormatan bagi Nabi Rasul Islam, Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Isra' itu, Allah, Tuhan sekalian alam memperjalankan hamba-Nya, yaitu Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam di malam hari dari Al-Masjidil Haram yang berada di Makkah, menuju Al-Masjidil Aqsha di Palestina. Sedangkan Mi'raj itu, Allah yang maha kuasa mem­perjalankan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam (naik) dari Al-­Masjidil Aqsha menuju Sidratal-Muntaha, yaitu tempat paling tinggi, yang di atasnya tidak ada sesuatu lagi, dan di dekatnya jannatul Ma'waa, taman tempat tinggal, surga yang paling indah. Disanalah Nabi diterima menghadap Tuhannya.

Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam diterima menghadap Tuhan Dzat-Nya yang Maha Agung, sebagai penghormatan terakhir Nabi diterima audience dengan hijab, dan kemudian diberikan amanah untuk segala makhluk yaitu shalat. Karena itu membicarakan Isra' Mi'raj, maka sholat merupakan fokus perhatian utama dari sekian banyak masalah yang terkandung dalam peristiwa penting ini. Sholat itu amanah, sebagai ibadah wajib untuk me­lakukan komunikasi yang tertib dan teratur lima kali dalam sehari semalam dengan Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Dari keterangan di atas, kita menyaksikan betapa Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memiliki suatu kesempatan berdialog dengan Tuhannya. Dialog suci sewaktu menghadap Tuhan itu adalah suatu peristiwa penting yang menjadi inti perjalanan suci Ilahiyah, untuk menerima sholat lima waktu dalam sehari semalam.

Dalam Sholat terjadi dialog antara hamba denganTuhannya, merupakan karunia yang paling besar, di antara semua karunia yang diberikan kepada makhluk-Nya di bumi, kita tidak dapat mengukur karunia tersebut menurut ukuran dunia, pengalaman itu rupanya dimiliki Muhammad Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Namun demikian, Allah akan memberikan karunia semacam ini, meskipun dalam bentuk yang lain kepada umat yang beriman. Kita akan merasakan situasi dialog, antara kita sebagai hamba dengan Tuhan seru sekalian alam yaitu lewat ibadah sholat kita. Karena sholat, adalah tempat kita berdialog, beromong dan berbisik dengan Tuhan. Rosulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

Sesungguhnya seseorang kamu apabila dia berdiri waktu sholat ia berbicara dengan Tuhannya atau Tuhan ada antara dia dengan kiblat.

Sumber: http://www.facebook.com/photo.php?fbid=10151171497436840&set=a.117212296839.110306.109056501839&type=1

Hakikat Jin-Iblis


“Tahukah kamu Hakikat fungsi penciptaan iblis yang diciptakan dari Api yang berubah menjadi sifat Panas pada diri manusia,

Dia Allah ciptakan dari sifat Panas & lalu ditempatkan (dirumahkan) pada Nafsu-Keinginan yang masuk kedalam manusia menjadi  pada sisi Negatif (untuk org tidak sadar dgn keimanan) menjadi Emosional-egois-godaan/pengaruh buruk, Angkuh, dusta, teledor-tergesa2, berbuat kerusakan….
lalu sifat panas berubah menjadi sisi positif bagi manusia (untuk org Sadar dgn keimanan) yang menjadi Niat Kehendak-kemauan, semangat, berdikari mandiri, Angan2 & cita-cita….
“Jika manusia salah mengarahkan Nafsu-Keinginan.nya ke jalan kebenaran maka Iblis.lah yang menjadi teman.nya di dunia & panas nerakalah di dapat.nya dari hasil perbuatan.nya sendiri.
“Maka Perbaguslah, kendalikan, & tenangkanlah nafsumu-jiwamu dengan banyaknya amalan2 ibadah & niat kehendak yang baik serta akhlak yg mulia….
“Insya Allah kita menjadi org yang sholeha-beriman-Yakin lagi berjiwa tenang dengan kesadaran keimanan serta selalu dibimbing mendapatkan hidayah petunjuk dari Allah Yang Maha Menciptakan Makhluk-Nya yang tidak ada yg sia-sia dari hasil ciptaan-Nya.
Barokallah.

“Manusia berakal selalu menggambarkan dalam dirinya berbagai cobaan,musibah, sebelum tiba pada saatnya. maka apabila datang tiba-tiba tidaklah mengagetkan karena di dalam hatinya telah terdapat gambaran.
sedangkan orang bodoh merasa aman sepanjang waktu, dia lupa kejatuhan,kehancuran,kekecewaan raja-raja zalim &  manusia-manusia yg hebat dimasa yang lalu.
maka jikalau tiba-tiba datang perubahan waktu yg membawa musibah, dia akan menangis tersedu-sedu, kesedihan yang berlebihan, hingga bisa merapuhkan dan meluluh lantakan seluruh sendi-sendi mental jiwanya, dan keimanan’nya.
Jikalau KETEGUHAN HATI lebih dulu datang dalam urusan-urusan manusia, niscaya kesabaran akan mengajarinya dalam berbagai kebaikan-kebaikan di setiap cobaan”.


Imam Ghozali berkata:
“Man Alima Wa’Amila Wa’Allama fahuwal ladzi yud’aa adhii man fii malakuti samawati”
Artinya: “Brgsiapa mengerti-memahami Agama Islam & melaksanakan-menerapkannya serta mengajarkannya, Maka Ia disebut sbg org2 yg sangat Agung di kerajaan langit”.
Baginda Rasulullah SAW bersabda:
“Alaa khulafaai rahmatullahi qilaa: ‘Waman khulafaa uka? Qoola: Al ladzina yuhyuuna sunnatii wayu’allimunahaa Ibadallahi”

Artinya: “Semoga ُ Ya اَللّهُ memberikan Rahmat-Nya kpd penggantiku. Ditanyakan: Siapakah pengganti2mu itu? Jawab Rasulullah: Yaitu org2 yg melaksanakan-menerapkan kesunnahanku (Al’quran-Al Hadist) & yg mengajarkan Agama Islam kpd manusia”.


“Dalam Hidup kita tdk bisa melakukan hal yang besar, Kita hanya bisa melakukan hal yang kecil dengan Cinta yang besar”
“Karena Amanah yang besar memiliki tanggung jawab yang besar”
“Manusia yang hanya Cinta Dunia & Takut Mati, itu membuat kita hanya seperti Buih di Lautan”
“Banyak tetapi Tdk Berarti yang bisa hilang dalam sekejap mata”
“Semoga keberadaan kita masih mendatangkan kemanfaatan bagi disekeliling kita”.