Jumat, 15 Januari 2016

Wahai Rasulullah, Aku Ini Lelaki yang Tidak Laku

Wahai Rasulullah, Aku Ini Lelaki yang Tidak Laku

PENDEK Jelek. Hitam. Tidak berharta. Julaibib namanya. Namun dia adalah seorang sahabat Rasulullah yang mulia. Sangat malu dan minder ketika tiba-tiba Rasulullah menawarinya untuk menikah. Karena tahu diri. Namun Rasulullah menenangkannya. Hingga suatu ketika, bertemulah Rasulullah dengan salah seorang sahabatnya.
“Aku ingin meminang puterimu.” kata Rasulullah. Sahabat itu sangat bahagia. Siapa yang tidak bahagia ketika puterinya menjadi istri Nabi.
“Baiklah wahai Rasulullah, ini merupakan sebuah penghormatan bagi kami.” jawab sahabat itu dengan sangat riang.
“Bukan untukku. Tapi untuk Julaibib.” kata Nabi.
“Julaibib??? Julaibib???” katanya dengan kaget. Wajahnya
berubah. Tidak lagi ceria seperti sebelumnya.
“Namun aku harus bermusyawarah dulu dengan ibunya.” Lanjutnya.
“Julaibib??? Julaibib???” kata sang istri terkejut saat mendengar berita dari suaminya. Terbayang dengan jelas dalam benak wanita itu
sosok lelaki yang pendek. Jelek. Hitam. Dan tidak berharta. Dia yang akan menjadi menantunya nanti. Apa kata orang-orang, pikirnya.
Putrinya yang menyimak percakapan kedua orang tuanya dari bilik kamar segera keluar. “Ayah, ibu, bagaimana mungkin engkau menolak pilihan
Rasulullah? Bukankah Allah berfirman, Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu’min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu’min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka?” jelas gadis itu. “Ayah, ibu, aku akan menikah dengan laki-laki pilihan Nabi?” lanjutnya tegas.
Merekapun menikah. Hingga suatu pagi, datang seruan untuk berjihad. Melawan kaum musyrikin di medan Uhud. Julaibib mendengar seruan itu. Iapun memenuhi panggilan Rasulullah saw. untuk pergi berjihad.
Selesai perang Uhud, Rasulullah mengumpulkan para sahabatnya. “Kalian kehilangan siapa hari ini?” tanya Rasulullah. Ada sahabat yang menjawab, “Kami kehilangan Hamzah!” Ada yang berkata, “Kami kehilangan Mush’ab!” Yang lain berkata, “Kami kehilangan Yaman!” Ada pula yang mengatakan, “Kami kehilangan ‘Amr bin Jamuh!”
“Namun, aku kehilangan Julaibib! Carilah Julaibib sekarang!” kata Rasulullah. Para sahabat mencari Julaibib. Hingga akhirnya Julaibib ditemukan meninggal dunia diantara tujuh orang musyrikin. Para sahabat mengabarkan kepada Rasulullah, bahwa Julaibib meninggal diantara tujuh orang musyrikin. Dia membunuh tujuh orang musyrikin, kemudian dirinya terbunuh. Meninggal sebagai syuhada’.
“Dia adalah bagian dariku, dan aku bagian darinya! Dia adalah bagian dariku, dan aku bagian darinya! Dia adalah bagian dariku, dan aku bagian darinya!” kata Rasulullah menanggapi kabar kematian Julaibib. Seberuntung Julaibib mendapatkan bidadari. Tak disangka, tak diduga, Rasulullah
meminangkan untuknya seorang wanita yang cantik, kaya, dan berkelas. Asyiknya lagi ketika wanita itu menerima lamaran Rasulullah, tanpa berat hati. Padahal dia sangat tahu seperti apa lelaki calon pendamping hidupnya. Julaibib. Ya, ‘hanya’ Julaibib.
Namun wanita itu sangat percaya, seperti apapun fisik Julaibib, dia adalah lelaki yang direkomendasikan Rasulullah. Pasti berkualitas. Pasti hebat. Pasti lelaki sejati. Keimanan yang luar biasa. Apapun yang dipilihkan oleh Allah dan Rasul-Nya, itu
pasti yang terbaik. Dan ternyata benar. Boleh tampang pas-pasan, tapi kualitas berani diadu. Kualitas agama Julaibib tidak sesederhana penampilannya. Sangat luar biasa. Terbaca dari dialognya bersama Rasulullah saw. saat ditawari untuk menikah. Julaibib berkata, “Wahai Rasulullah, aku ini lelaki yang tidak laku.” Namun Rasulullah saw. segera menjawab, “Tapi kamu di sisi Allah laku.”
Keimanan dan loyalitas Julaibib kepada Islam setelah menikah kembali diuji. Kali ini sangat membingunkan. Diajak Rasulullah saw. pergi berjihad ke medan Uhud. Tak bisa dibayangkan tentunya, jejaka yang telah lama merindukan untuk menikah, akhirnya bisa menikah, namun datang seruan untuk berperang. Bingung, itu manusiawi. Belumlah habis menikmati madu kebersamaan dengan sang istri, kini laga jihad telah menanti.
Bersenang-senang dengan wanita yang telah lama didambakan? Atau ikut berperang bertaruh nyawa? Tarikan duniawi sangat kuat, namun ketika orientasi akhirat lebih kuat maka urusan agama tetap diunggulkan. Disinilah istimewanya Julaibib. Meskipun telah menikah, namun urusan agama
tetap diprioritaskan. Perintah Allah dan Rasulullah tetap nomor satu, tidak tergantikan. Ia pun membeli senjata, kuda dan pakaian perang, lalu ikut bersama pasukan Rasulullah ke padang Uhud. Tanpa berat hati. Dengan penuh keikhlasan. Dan yakin akan janji Allah kepada keluarga orang yang beriman.
Sesunggunya, nilai mahal manusia ada pada ketakwaannya. Allah berfirman:
“Sesungguhnya yang paling mulia diantara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa diantara kalian.” (QS. al-Hujurat: 13)
Oleh sebab itu, agama harus menjadi barometer utama dalam memilih pasangan. Silahkan menetapkan kriteria yang banyak sekalipun, namun tetap jadikan
kualitas agama sebagai kriteria yang diutamakan diatas yang lainnya. Jangan terpedaya dengan tampilan, karena itu bukan jaminan. Karena tampilan yang kita miliki adalah takdir, sedangkan kualitas agama adalah hasil dari proses setiap orang yang tidak semua mampu mendapatkannya.
Dari Abu Hurairah ra. berkata, sesungguhnya Rasulullah saw. bersabda: “Boleh jadi, orang yang tidak menarik dan selalu ditolak (tidak laku), namun sekali berdoa maka Allah langsung perkenankan doanya.” (HR. Muslim, no. 2622, 4/2024).
Pantaslah jika kemudian Allah mengkaruniakan bidadari di dunia kepada Julaibab. []
Sumber: E-Book Kemanakah Kulabuhkan Hati ini/Herfi Ghulam Faizi, Lc/2012

Jumat, 25 Desember 2015

Arisan Keyakinan

Arisan Keyakinan: Haram.

Pernah mengikuti arisan…?

Secara umum arisan diperbolehkan..

Selama tidak ada unsur gharar (penipuan), pengurangan hak, dan lainnya dari pelanggaran syariat.

Namun ada satu arisan yang dilarang selama-lamanya..

Yaitu arisan keyakinan.

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ (1) لَا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ (2) وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ (3) وَلَا أَنَا عَابِدٌ مَا عَبَدْتُمْ (4) وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ (5) لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ (6)

“Katakanlah: “Hai orang-orang kafir, Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah.

Dan kamu bukanlah penyembah Tuhan yang aku sembah.

Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah,

dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah.

Bagimu agamamu, dan bagiku, agamaku” (QS. al-Kaafirun: 1-6)

Ada banyak penegasan berulang di surat ini..

Juga penutup ayat yang sangat lugas:

“Bagimu agamamu, dan bagiku agamaku..”

Imam Ibnu Jarir ath-Thabari, Ibnu Katsir dan banyak ahli tafsir rahimahumullah menyampaikan asbabun nuzul (sebab turunnya) ayat ini:

Dahulu orang-orang musyrik dengan kebodohannya, mereka meminta kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam agar beliau mau menyembah sesembahan-sesembahan mereka selama setahun..

Kemudian..

Nanti bergantian mereka akan menyembah Rabb yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sembah (Allah) selama setahun berikutnya..

Maka turunlah ayat ini..

Itulah bentuk arisan keyakinan..

Saling sembah saling ucap selamat atas tuhan yang berbeda bergantian..

Saat orang kafir berkata,

“Kita bertoleransi dalam berhari raya..

Bila bulan lalu kami ucapkan selamat Idul Fithri, besok kalian harus menyampaikan selamat Natal padaku..”

Katakan tidak..!!

Ingat..!!!

Seorang Muslim hanya mengakui satu sesembahan yang hak, yaitu Allah..

Tidak mendua apalagi tiga (trinitas)

Maka tidak selayaknya kaum Muslimin turut serta dalam Natal..

Walau hanya sekedar mengucap selamat..

@sahabatil

Kamis, 24 Desember 2015

Berwudhu

Allah menyayangi hamba yang berwudhu.

Kata Khalifah Ali bin Abu Thalib, “Orang yang selalu berwudhu senantiasa ia akan merasa selalu shalat walau ia sedang tidak shalat, dan dijaga oleh malaikat dengan dua doa, "Ampuni dosa dan sayangi dia Ya Allah”.

Aamiin

Gibah

Di dalam sebuah hadits dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah

 صلى الله عليه وسلم

bersabda:

وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ

“Barangsiapa menutupi (aib) seorang muslim maka Allah akan menutupi (aib)nya di dunia dan akhirat.” [HR Muslim (2699)]Di dalam hadits yang lain, Rasulullah صلى الله عليه وسلم
bersabda:

لاَ يَسْتُرُ عَبْدٌ عَبْداً في الدُّنْيَا إلاَّ سَتَرَهُ اللهُ يَوْمَ القِيَامَةِ

“Tidaklah seorang hamba menutupi (aib) seorang hamba (yang lain) di dunia melainkan Allah akan menutupi (aib)nya di hari kiamat.” [HR Muslim (2590) dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu.]Begitu pula halnya dengan larangan untuk membicarakan kejelekan seorang muslim (ghibah). Hal ini telah datang larangannya di dalam Islam. Di antara dalilnya adalah firman Allah ta’ala

:وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ

“Janganlah kalian menggunjingkan satu sama lain. Apakah salah seorang dari kalian suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kalian merasa jijik kepadanya. Bertaqwalah kalian kepada Allah. Sesungguhnya Allah itu Tawwab (Maha Penerima taubat) lagi Rahim (Maha Menyampaikan rahmat).” [QS Al Hujurat: 12]

Rabu, 23 Desember 2015

Jangan menunggu malam

Jangan menunggu malam
Karna malam akan berganti pagi
Jangan pala berharap hujan
Kalau hujan telah reda
Berharaplah karunia Allah
Karna karunianyalah yang aangat pasti

Minggu, 20 Desember 2015

Sabar dan ikhlas

Untuk Anda yang saat ini sedang berbahagia jangan lupa bersyukur atas karunia Allah
Pun Anda yg saat ini sedang tertimpa musibah jangan lupa mengembalikan semua kehakikat yang sebenarnya bahwa Allah sedang memberi cobaan kepada seorang hamba yang dikasihinya
Maka bersabarlah semoga Allah segera memberi jalan keluarnya Aamiin

https://www.facebook.com/groups/486360328196348/