Kamis, 28 Mei 2015

Bila Suami Berperangai Kasar

(Oleh: Al-Ustadzah Ummu Ishaq Al-Atsariyyah)

Seorang ibu dari tiga anak tampak menahan isak tangisnya ketika menceritakan perlakuan yang diterimanya dari suaminya. Ketidakpedulian, ucapan yang kasar, dan pukulan sudah menjadi teman dalam hidupnya selama berkeluarga. Sebenarnya sakit di badan sudah tak dirasakan namun sakit di hati terus tersimpan sampai membawanya untuk mengadukan kisah hidupnya dengan satu asa akan ada jalan keluar dari deraan derita.
Betapa malang nasib seorang wanita yang lemah bila mendapatkan suami yang berperangai kasar lagi "ringan tangan" seperti itu. Padahal Rasul yang mulia n telah bertitah:
"Janganlah kalian memukul hamba-hamba perempuan Allah."
Datanglah 'Umar ibnul Khaththab z untuk mengeluh:
"Wahai Rasulullah, sungguh para istri telah berbuat durhaka kepada suami-suami mereka."
Mendengar pengaduan ini Rasulullah n memberi izin kepada para suami untuk memukul istrinya. Namun ternyata setelahnya banyak wanita datang menemui istri-istri Rasulullah n guna mengadukan suami-suami mereka. Maka kata beliau n:
"Sungguh banyak wanita berkeliling di keluarga Muhammad guna mengadukan suami-suami mereka. Bukanlah para suami yang memukul istri (dengan keras) itu orang yang terbaik di antara kalian. "(HR. Abu Dawud no. 2145, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani t dalam Shahih Abi Dawud)
Kata Rasul n, mereka bukanlah orang yang terbaik, karena suami yang terbaik tidak akan memukul istrinya. Justru ia bersabar dengan kekurangan yang ada pada istrinya. Kalaupun ingin memberi (pukulan) pendidikan kepada istrinya, ia tidak akan memukulnya dengan keras sampai membuatnya mengeluh / mengeluh. ('Aunul Ma'bud, Kitab An-Nikah, bab Fi Dharbin Nisa`)
Al-Imam Al-Baghawi v menjelaskan bahwa sekalipun memukul istri dibolehkan karena akhlak mereka yang jelek misalnya, namun menahan diri dan bersabar atas kejelekan mereka serta tidak memukul mereka justru lebih utama dan lebih bagus. Ucapan yang semakna dengan ini juga dihikayatkan dari Al-Imam Asy-Syafi'i v. (Syarhus Sunnah, 9/187)
Apakah suami sama sekali tidak dibolehkan memukul istrinya? Jawabannya sebagaimana yang telah diisyaratkan di atas, dapat bila memang diperlukan1. Adapun bila memukul itu sudah menjadi kebiasaan, salah sedikit pukul, marah sedikit pukul, sampai si istri babak belur, maka jelas tidaklah diperbolehkan.
Bila istri melakukan nusyuz, durhaka kepada suaminya dan tidak mempan dinasihati dengan baik, tidak pula berubah setelah 'diboikot' di tempat tidurnya, ketika itu suami dibolehkan menempuh tahapan ketiga untuk meluruskan kebengkokan istrinya, yaitu dengan memukulnya. Tahapan ini ditunjukkan dalam firman Allah l:
"Dan para istri yang kalian khawatirkan (kalian ketahui dan yakini2) nusyuznya maka hendaklah kalian menasihati mereka, meninggalkan mereka di tempat tidurnya, dan pukullah mereka." (An-Nisa`: 34)
Dengan demikian, cara pukulan barulah ditempuh setelah cara lain tidak manjur. Bukan pukulan jadi tameng pertama untuk menghadapi atau menghukum kesalahan istri.
Rasulullah n ketika menasihati Fathimah bintu Qais x dalam urusan pernikahan, ia memberi bimbingan agar Fathimah jangan menerima lamaran laki-laki yang diketahui suka memukul wanita. Kisahnya bisa kita simak berikut ini:
Fathimah bintu Qais x ditalak tiga oleh suaminya Abu 'Amr bin Hafsh. Ia lalu menjalani masa iddahnya dan Rasulullah n telah berpesan, "Bila engkau telah selesai dari iddahmu, beritahu aku." Selesai masa iddahnya, Fathimah mengabarkan kepada Rasulullah n bahwa ia dilamar oleh Mu'awiyah bin Abi Sufyan dan Abul Jahm c. Rasulullah n bersabda:
"Adapun Abul Jahm, ia tidak pernah meletakkan tongkatnya dari pundaknya. Sedangkan Mu'awiyah seorang yang fakir tidak berharta, maka (jangan engkau menikah dengan salah satunya, tapi pent.) Menikahlah dengan Usamah bin Zaid. "(HR. Muslim no. 3681)
Makna "tidak pernah meletakkan tongkatnya dari pundaknya" ditunjukkan dalam riwayat lain:
"Adapun Mu'awiyah, ia pria yang fakir tidak berharta. Sedangkan Abul Jahm adalah pria yang suka memukul para wanita .... "(HR. Muslim no. 3696)
"Adapun Mu'awiyah, ia seorang yang fakir lemah kondisinya. Sedangkan Abul Jahm memiliki sifat keras terhadap para wanita -atau ia biasa memukul para wanita, atau yang semisalnya- .... "(HR. Muslim no. 3697)
Ketika seorang suami terpaksa memukul istri maka pukulan tersebut tidak bisa sampai membuat cacat. Hendaklah ia memukul dengan pukulan yang ringan, sehingga tidak membuat si istri menjauh ataupun mendendam kepada suaminya. (Fathul Bari, 9/377)
Saat menyampaikan khutbah di haji Wada ', Nabi n memberi wejangan:
"Bertakwalah kalian kepada Allah dalam hal para wanita (istri), karena kalian mengambil mereka dengan amanah dari Allah dan kalian menghalalkan kemaluan mereka dengan kalimat Allah. Hak kalian terhadap mereka adalah mereka tidak bisa membiarkan seseorang yang kalian benci untuk menginjak (menapak) di hamparan (permadani) kalian. Jika mereka melakukan hal tersebut3 maka pukullah mereka dengan pukulan yang tidak keras. "(HR. Muslim no. 2941)
Sabda Nabi n kata Ibnul Atsir v adalah pukulan yang tidak keras / berat. (An-Nihayah fi Gharibil Hadits, 1/113)
Rasul yang mulia juga menitahkan:
"Janganlah salah seorang dari kalian mencambuk istrinya seperti mencambuk seorang budak, kemudian ternyata di akhir hari ia menggauli istrinya." (HR. Al-Bukhari no. 5204 dan Muslim no. 7120)
Al-Imam An-Nawawi v berkata: "Dalam hadits ini ada larangan memukul istri tanpa alasan terpaksa dalam rangka mendidik." (Al-Minhaj, 17/186)
Setelah ia sakiti tubuh istrinya dengan cambukan, ternyata di akhir harinya atau di malam harinya ia ingin bersenang-senang dengan tubuh tersebut. Tidakkah tindakan seperti ini menghancurkan hati seorang wanita ??? Ia disakiti kemudian diminta untuk melayani suami yang menyakitinya ??? Sementara sebagai istri, ia dilarang untuk menolak ajakan suaminya4. Dan sebagai istri shalihah ia harus memberikan suaminya.5
Dengan demikian, seorang suami yang berakal tidak akan berlebihan dalam memukul istrinya, kemudian beberapa waktu setelahnya ia menggaulinya. Karena jima 'hanyalah baik dilakukan bila disertai kemiringan jiwa dan keinginan untuk bergaul dengan baik. Sementara orang yang dipukul, secara umum akan menjauh dari orang yang memukulnya. (Fathul Bari, 9/377)
Rasulullah n menyarankan kepada sahabatnya Laqith bin Shabirah z ketika mengadukan kejelekan lisan istrinya:
"Janganlah engkau memukul istrimu seperti memukul budak perempuanmu." (Penggalan dari hadits yang diriwayatkan Abu Dawud no. 142, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani v dalam Shahih Abi Dawud)
Al-Imam Al-Baghawi v dalam Syarhus Sunnah (1/418) setelah membawakan hadits di atas menyatakan bahwa larangan dalam hadits ini bukan maknanya haram memukul istri jika memang dibutuhkan.Karena Allah l sendiri memungkinkannya ketika dikhawatirkan perbuatan nusyuz dari istri. Allah l berfirman:
"Maka nasihatilah mereka, dan tinggalkanlah mereka di tempat tidurnya dan pukullah mereka." (An-Nisa`: 34)
Yang dilarang hanyalah pukulan yang menyakitkan atau membuat cacat, sebagaimana pukulan yang dikenakan terhadap para budak menurut kebiasaan orang yang menganggap bisa memukul mereka. Diserupakannya dengan memukul anak di sini juga bukan berarti bisa memukul budak6, namun konteksnya di sini adalah untuk mencela orang-orang yang melakukan perbuatan tersebut, sehingga Rasulullah n melarang meniru mereka.
Kebiasaan lain yang kita dapatkan dari suami yang suka memukul, seringnya yang jadi sasaran pukulannya adalah wajah. Padahal menampar wajah hukumnya haram sebagaimana disebutkan dalam beberapa hadits. Di antaranya:
"Janganlah engkau memukul wajah (istrimu), jangan menjelekkannya7, dan jangan memboikot (mendiamkan) -nya kecuali di dalam rumah8." (HR. Abu Dawud no. 2142 dan selainnya, dishahihkan Asy-Syaikh Muqbil v dalam Al-Jami'ush Shahih , 3/86)
Demikian juga hadits:
"Apabila salah seorang dari kalian memukul saudaranya9 maka hendaknya ia menjauhi wajah." (HR. Muslim no. 6594)
Dalam riwayat lain:
"... Maka jangan sekali-kali ia menampar wajah." (HR. Muslim no. 6597)
Demikianlah ... Lebih dari semua itu, teladan kita yang mulia Rasulullah n adalah suami yang sangat lembut. Tak pernah melakukan kekerasan terhadap istrinya, dan tak pernah memukul seorang pun. Sebagaimana berita dari salah seorang istri beliau Ummul Mukminin Aisyah x:
"Rasulullah n sama sekali tidak pernah memukul seorang pun dengan tangannya. Tidak pernah memukul seorang wanita, tidak pernah pula memukul pembantunya, kecuali bila ia berjihad fi sabilillah .... "(HR. Muslim no. 6004)

Nasihat Seorang Ulama dalam Menghadapi Suami yang Kasar
Para istri yang menerima perlakuan kasar dari suami mereka mungkin bertanya-tanya, bagaimana menghadapi suami mereka yang tipenya demikian. Sebagaimana pertanyaan yang pernah diajukan seorang wanita kepada seorang 'alim rabbani, Syaikh yang mulia Abdul' Aziz bin Baz v yang waktu itu menjabat sebagai mufti kerajaan Saudi Arabi.
Sang wanita mengeluh, "Suami saya tidak menaruh perhatian kepada saya di dalam rumah. Ia selalu bermuka masam lagi sempit dada. Katanya, sayalah yang menjadi penyebabnya. Padahal Allah -segala puji bagi-Nya- mengetahui bagaimana kondisi saya yang sebenarnya. Saya selalu menunaikan haknya dan senantiasa berupaya mempersembahkan untuknya segala kenyamanan dan ketenangan, serta menjauhkan darinya segala yang tidak disukainya. Saya juga menyabari tindak tanduknya yang kaku lagi kasar. Setiap saya bertanya kepadanya tentang sesuatu atau mengajaknya bicara satu hal, ia murka dan mendidih kemarahannya. Ia mengomentari bahwa omongan saya itu tidak ada artinya, ucapan orang yang pandir dan dungu. Padahal suami saya ini selalu berseri-seri wajahnya bila bersama teman-temannya. Tapi kalau bersama saya, tak pernah saya dapati darinya kecuali ucapan yang menjelekkan dan pergaulan yang buruk. Sungguh saya sakit menerima semua ini darinya. Dan ia banyak menyiksa saya, sehingga membuat saya beberapa kali berniat meninggalkan rumah. Saya sendiri adalah seorang wanita yang alhamdulillah menunaikan apa yang Allah l wajibkan kepada saya.
Syaikh yang mulia, apakah saya berdosa bila meninggalkan rumah suami saya bersama anak-anak saya, kemudian menyibukkan diri mendidik anak-anak saya dan menanggung sendiri beban kehidupan ini? Ataukah saya harus tetap tinggal bersamanya dalam kondisi yang seperti ini, menahan diri (berpuasa) dari berbicara dengannya, dan dari berpartisipasi serta ikut merasakan permasalahan-permasalahannya? Berilah fatwa kepada saya, apa yang harus saya lakukan. Semoga Allah l membalas Anda dengan kebaikan. "
Syaikh yang mulia v menyarankan, "Tidaklah diragukan bahwa wajib bagi suami istri untuk bergaul dengan ma'ruf, saling memberikan kecintaan, dan bergaul dengan akhlak yang utama, berdasarkan firman Allah l:
"Bergaullah kalian (wahai para suami) dengan mereka (para istri) dengan ma'ruf." (An-Nisa`: 19)
Dan juga firman-Nya:
"Mereka (para istri) memiliki hak yang seimbang dengan kewajiban mereka dengan cara yang ma'ruf, dan para suami memiliki kelebihan satu tingkat di atas mereka." (Al-Baqarah: 228)
Dan sabda Nabi n:
"Kebaikan itu adalah akhlak yang baik." (HR. Muslim)
Demikian pula sabda beliau n:
"Jangan sekali-kali engkau meremehkan perbuatan baik sedikitpun, meskipun hanya berupa memberikan wajah yang manis saat bertemu dengan saudaramu." (HR. Muslim)
Dan ucapan beliau n:
"Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya. Dan sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap istri-istrinya. Dan aku adalah orang yang terbaik di antara kalian terhadap keluargaku. "10
Masih banyak lagi hadits-hadits yang berisi hasungan untuk berakhlak yang baik, bertemu dengan wajah yang cerah dan bergaul yang baik di antara kaum muslimin secara umum. Tentunya, lebih utama lagi pergaulan antara suami istri dan dengan karib kerabat.
Sungguh Anda telah melakukan hal yang baik dengan kesabaran dan ketabahan Anda dalam menanggung kekakuan dan jeleknya akhlak suami Anda. Saya pesankan kepada Anda untuk terus menambah kesabaran dan jangan meninggalkan rumah suami Anda. Karena dengan terus bertahan dalam kesabaran Insya Allah ada kebaikan yang besar dan akhir yang baik, berdasarkan firman Allah l:
"Bersabarlah kalian karena sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar." (Al-Anfal: 46)
"Sesungguhnya siapa yang bertakwa dan bersabar maka sungguh Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik." (Yusuf: 90)
"Hanyalah orang-orang yang bersabar itu diberikan pahala mereka tanpa batasan." (Az-Zumar: 10)
"Bersabarlah engkau, sesungguhnya akhir / kesudahan yang baik itu diperuntukkan bagi orang-orang yang bertakwa." (Hud: 49)
Tidak ada larangan bagi Anda untuk mengajaknya bercanda dan berbicara dengan menggunakan kata-kata yang bisa melunakkan hatinya. Yang menyebabkannya senang kepada Anda dan membuatnya menyadari hak Anda terhadapnya.
Tidak usah Anda menuntut kebutuhan-kebutuhan duniawi kepadanya selama ia masih menegakkan hal-hal penting yang wajib. Sehingga hatinya menjadi lapang dan dadanya menjadi luas dari memenuhi tuntutan Anda. Anda akan mendapatkan akhir / kesudahan yang baik Insya Allah.
Semoga Allah l memberi taufik kepada Anda agar memberikan tambahan seluruh kebaikan. Dan semoga Dia memperbaiki kondisi suami Anda, memberinya ilham kepada kelurusan dan menganugerahinya akhlak yang baik serta penuh perhatian terhadap hak-hak yang ada. Sesungguhnya Allah l adalah sebaik-baik Dzat yang diminta, dan Dia memberi petunjuk kepada jalan yang lurus. "(Al-Fatawa, Kitab Ad-Da'awat, 1 / 193-195)
Demikian nasihat dari seorang ulama kepada istri yang menerima sikap kasar dari suami.
Maka bersabarlah dan terus bersabar, disertai doa kepada Ar-Rahman ...! Sungguh kesudahan yang baik akan Anda raih dengan izin Allah l.
Wallahu ta'ala a'lam bish-shawab.

1 Adapun hadits yang berisi larangan secara mutlak dari Rasulullah n untuk memukul istri setelah sebelumnya mengizinkannya, tidaklah shahih. Seperti hadits Ibnu 'Abbas c, ia berkata:
أن الرجال استأذنوا رسول الله في ضرب النساء فأذن لهم, فضربوهن. فبات فسمع صوتا عاليا فقال:
ما هذا? فقالوا: أذنت للرجال في ضرب النساء فصربوهن. فنهاهم وقال: خيركم خيركم لأهله وأنا خيركم لأهله
"Ada orang-orang yang minta izin kepada Rasulullah agar dibolehkan memukul istri. Dia pun mengizinkannya sampai mereka memukul istri-istri mereka. Saat berada di waktu malam, ia mendengar suara yang tinggi / keras. Dia bertanya, "Suara apa itu?" Tanya dia. Mereka menjawab, "Engkau telah mengizinkan beberapa orang untuk memukul istri, lalu mereka memukulnya." Rasulullah kemudian melarang mereka dan bersabda: "Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap istrinya, dan aku adalah orang terbaik di antara kalian terhadap keluarganya." ( Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dan Al-Bazzar)
2 Sebagaimana makna ini disebutkan oleh Ibnu 'Abbas c. (Al-Jami 'li Ahkamil Qur`an, 5/112, Tafsir Al-Baghawi, 1/423)
10 HR. At-Tirmidzi no. 1162, lihat Ash-Shahihah no. 284. 

Pengaruh Buruk Perbuatan Dosa

 Pengaruh Buruk Perbuatan Dosa

Nasihat Seorang Ulama dalam Menghadapi Suami yang Kasar

Para istri yang menerima perlakuan kasar dari suami mereka mungkin bertanya-tanya, bagaimana menghadapi suami mereka yang tipenya demikian. Sebagaimana pertanyaan yang pernah diajukan seorang wanita kepada seorang ‘alim rabbani, Syaikh yang mulia Abdul ‘Aziz bin Baz v yang waktu itu menjabat sebagai mufti kerajaan Saudi Arabi.
Sang wanita mengadu, “Suami saya tidak menaruh perhatian kepada saya di dalam rumah. Ia selalu bermuka masam lagi sempit dada. Katanya, sayalah yang menjadi penyebabnya. Padahal Allah -segala puji bagi-Nya- mengetahui bagaimana keadaan saya yang sebenarnya. Saya selalu menunaikan haknya dan senantiasa berupaya mempersembahkan untuknya segala kenyamanan dan ketenangan, serta menjauhkan darinya segala yang tidak disukainya. Saya juga menyabari tindak tanduknya yang kaku lagi kasar. Setiap saya bertanya kepadanya tentang sesuatu atau mengajaknya bicara satu hal, ia murka dan mendidih kemarahannya. Ia mengomentari bahwa omongan saya itu tidak ada artinya, ucapan orang yang pandir dan dungu. Padahal suami saya ini selalu berseri-seri wajahnya bila bersama kawan-kawannya. Tapi kalau bersama saya, tak pernah saya dapati darinya kecuali ucapan yang menjelekkan dan pergaulan yang buruk. Sungguh saya sakit menerima semua ini darinya. Dan ia banyak menyiksa saya, sehingga membuat saya beberapa kali berniat meninggalkan rumah. Saya sendiri adalah seorang wanita yang alhamdulillah menunaikan apa yang Allah l wajibkan kepada saya.
Syaikh yang mulia, apakah saya berdosa bila meninggalkan rumah suami saya bersama anak-anak saya, kemudian menyibukkan diri mendidik anak-anak saya dan menanggung sendiri beban kehidupan ini? Ataukah saya harus tetap tinggal bersamanya dalam keadaan yang seperti ini, menahan diri (berpuasa) dari berbicara dengannya, dan dari menyertai serta ikut merasakan permasalahan-permasalahannya? Berilah fatwa kepada saya, apa yang harus saya lakukan. Semoga Allah l membalas anda dengan kebaikan.”
Syaikh yang mulia v menasihatkan, “Tidaklah diragukan bahwa wajib bagi suami istri untuk bergaul dengan ma’ruf, saling memberikan kecintaan, dan bergaul dengan akhlak yang utama, berdasarkan firman Allah l:
“Bergaullah kalian (wahai para suami) dengan mereka (para istri) dengan ma’ruf.” (An-Nisa`: 19)
Dan juga firman-Nya:
“Mereka (para istri) memiliki hak yang seimbang dengan kewajiban mereka dengan cara yang ma’ruf, dan para suami memiliki kelebihan satu tingkat di atas mereka.” (Al-Baqarah: 228)
Dan sabda Nabi n:
“Kebaikan itu adalah akhlak yang baik.” (HR. Muslim)
Demikian pula sabda beliau n:
“Jangan sekali-kali engkau meremehkan perbuatan baik sedikitpun, walaupun hanya berupa memberikan wajah yang manis saat berjumpa dengan saudaramu.” (HR. Muslim)
Dan ucapan beliau n:
“Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya. Dan sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap istri-istrinya. Dan aku adalah orang yang terbaik di antara kalian terhadap keluargaku.”10
Masih banyak lagi hadits-hadits yang berisi hasungan untuk berakhlak yang baik, berjumpa dengan wajah yang cerah dan bergaul yang baik di antara kaum muslimin secara umum. Tentunya, lebih utama lagi pergaulan antara suami istri dan dengan karib kerabat.
Sungguh anda telah melakukan perkara yang baik dengan kesabaran dan ketabahan anda dalam menanggung kekakuan dan jeleknya akhlak suami anda. Saya pesankan kepada anda untuk terus menambah kesabaran dan jangan meninggalkan rumah suami anda. Karena dengan terus bertahan dalam kesabaran Insya Allah ada kebaikan yang besar dan akhir yang baik, berdasarkan firman Allah l:
“Bersabarlah kalian karena sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” (Al-Anfal: 46)
“Sesungguhnya siapa yang bertakwa dan bersabar maka sungguh Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.” (Yusuf: 90)
“Hanyalah orang-orang yang bersabar itu diberikan pahala mereka tanpa batasan.” (Az-Zumar: 10)
“Bersabarlah engkau, sesungguhnya akhir/kesudahan yang baik itu diperuntukkan bagi orang-orang yang bertakwa.” (Hud: 49)
Tidak ada larangan bagi anda untuk mengajaknya bercanda dan berbincang dengan menggunakan kata-kata yang bisa melunakkan hatinya. Yang menyebabkannya senang kepada anda dan membuatnya menyadari hak anda terhadapnya.
Tidak usah anda menuntut kebutuhan-kebutuhan duniawi kepadanya selama ia masih menegakkan perkara-perkara penting yang wajib. Sehingga hatinya menjadi lapang dan dadanya menjadi luas dari menghadapi tuntutan-tuntutan anda. Anda akan mendapatkan akhir/kesudahan yang baik Insya Allah.
Semoga Allah l memberi taufik kepada anda agar memberi anda tambahan seluruh kebaikan. Dan semoga Dia memperbaiki keadaan suami anda, memberinya ilham kepada kelurusan dan menganugerahinya akhlak yang baik serta penuh perhatian terhadap hak-hak yang ada. Sesungguhnya Allah l adalah sebaik-baik Dzat yang diminta, dan Dia memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (Al-Fatawa, Kitab Ad-Da’awat, 1/193-195)
Demikian nasihat dari seorang ulama kepada istri yang menerima sikap kasar dari suami.
Maka bersabarlah dan terus bersabar, disertai doa kepada Ar-Rahman…! Sungguh kesudahan yang baik akan anda raih dengan izin Allah l.
Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

1 Adapun hadits yang berisi larangan secara mutlak dari Rasulullah n untuk memukul istri setelah sebelumnya mengizinkannya, tidaklah shahih. Seperti hadits Ibnu ‘Abbas c, ia berkata:
أَنَّ الرِّجَالَ اسْتَأْذَنُوْا رَسُولَ اللهِ فِي ضَرْبِ النِّسَاءِ فَأَذِنَ لَهُمْ، فَضَرَبُوْهُنَّ. فَباَتَ فَسَمِعَ صَوْتًا عَالِيًا فَقَالَ:
مَا هَذَا؟ فَقَالُوا: أَذِنْتَ لِلرِّجَالِ فِي ضَرْبِ النِّسَاءِ فَصَرَبُوْهُنَّ. فَنَهَاهُمْ وَقَالَ: خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ
“Ada orang-orang yang minta izin kepada Rasulullah agar dibolehkan memukul istri. Beliau pun mengizinkannya hingga mereka memukul istri-istri mereka. Saat berada di waktu malam, beliau mendengar suara yang tinggi/keras. Beliau bertanya, “Suara apa itu?” tanya beliau. Mereka menjawab, “Engkau telah mengizinkan beberapa orang untuk memukul istri, lalu mereka memukulnya.” Rasulullah kemudian melarang mereka dan bersabda: “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap istrinya, dan aku adalah orang terbaik di antara kalian terhadap keluarganya.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dan Al-Bazzar)
2 Sebagaimana makna ini disebutkan oleh Ibnu ‘Abbas c. (Al-Jami’ li Ahkamil Qur`an, 5/112, Tafsir Al-Baghawi, 1/423)
10 HR. At-Tirmidzi no. 1162, lihat Ash-Shahihah no. 284.

Rabu, 27 Mei 2015

Takut Kepada Istri dan Durhaka Terhadap Ibu

IBU adalah sosok yang telah berjuang untuk dapat menghadirkan kita ke dunia ini. Allah telah memberikan kepercayaan kepadanya untuk dapat memperjuangkan hidup kita sebagai anaknya dan dapat menjalankan apa yang menjadi kewajibannya dan menjauhi segala larangannya, namun apa jadinya jika kita mendurhakai ibu, dengan membiarkannya sendirian, bahkan ada diantaranya yang sudah tidak mau untuk mengurus ibu yang telah berjuang demi kehidupan kita.
Ini adalah salah satu tanda-tanda kiamat, yaitu ketika seseorang durhaka kepada ibunya dan lebih dekat serta takut kepada istrinya untuk melawan dan mendurhakai ibunya atau ayahnya sendiri. Fenomena ini sudah terjadi dewasa ini.
Seringkali kita lihat, ada seorang ibu tinggal sendirian di rumahnya yang nyaris tak pernah dijenguk atau dikunjungi oleh anak-anaknya. Padaha, anak-anak dan menantunya hidup enak dalam kemuliaan, kemudahan, dan kekayaan
Pada saat itu andai ibu atau ayah tinggal bersama anak-anak mereka, kedua orangtua ini tidak akan mendapat perhatian atau perawatan, seperti yang diberikan anak-anak mereka kepada orang lain.
Abu Hurairah meriwayatkan, bahwa Rasuullah SAW bersabda, “Apabila harta rampasan perang (al-Fai’) hanya dibagikan di kalangan orang-orang kaya, seorang suami takut kepada istrinya dan durhaka terhadap ibunya, dan seseorang lebih dekat kepada temannya daripada ayahnya sendiri.” [yherdiansyah/islampos]
Sumber : Kiamat Sudah Dekat/Dr. Muhammad al-Areifi/Penerbit : Qisthi Press

Heroin Di Tas Sekolah

Syahida.com – Tragedi ini dimulai ketika informasi yang sampai kepada perwira intelejen di ibukota negara yang menyatakan seorang murid sekolah menjalankan transaksi narkoba di antara murid-murid sekolah. Ia pun menugaskan beberapa agen untuk mengawasi rumah murid tersebut, mengikuti gerak-gerikya, serta gerak-gerik orang-orang yang keluar masuk ke rumah yang terletak di pinggiran kota Kuwait itu.
Hasil pengamatan dan penyelidikan itu kemudian menunjukkan bahwa dari rumah itu tidak ada yang keluar-masuk kecuali seorang pemuda berusia 17 tahun dengan membawa barang-barang mencurigakan. Tim intelejen masih terus mengawasi rumah itu selam akurang lebih dua minggu hingga mereka meyakini betul kebenaran pengawasan tersebut, mereka meminta izin kepada pemerintah setempat untuk melakukan penggeledahan rumah yang ditinggali pemuda itu.
Dan pada waktu yang telah ditentukan, lima orang agen intelejen menyerbu masuk ke dalam rumah tersangka, sementara di belakangnya bersiap-siap sekelompok personil lainnya. Komandan intelejen memasuki rumah itu dan ia mendapati ibu si tersangka dan beberapa adiknya. Ia bertanya kepada mereka: “Di mana saudara kalian?”
Ketika itulah, adik-adiknya di kamarnya. Mereka mengatakan: “Ada orang asing yang tidak kami kenal ingin menemuimu!”
Muncullah seorang pemda yang usianya belum melebihi 17 tahun. Nampak sekali ia begitu ketakutan.
“Ada apa?” tanya pemuda itu. “Anda Siapa?” tanyanya lagi.
“Sebelum engkau bertanya siapa aku, coba angkat terlebih dulu tangan kananmu, setelah itu aku akan memberitahumu siapa aku!” jawab komandan intelejen itu.
Pemuda itu mengangkat tangan kanannya. Dengan mudahnya komandan intelejen menemukan tanda-tanda dan bekas jarum narkotika di lengan pemuda itu.
“Sekarang apakah engkau sudah tahu siapa aku?” tanya komandan intelejen itu.
Saat itu juga, si tersangka itu menangis dan meminta kepada komandan intelejen untuk tidak memberitahu ibu dan saudara-saudaranya tentang masalah ini. Ia mengatakan hanya sebagai korban dan tidak bersalah. Komandan itu lalu menyuruh anak buahnya untuk memeriksa kamar tersangaka. Maka di laci kamarnya mereka menemukan gulungan-gulungan heroin, sebuah timbangan kecil dan sendok. Belum lagi gulungan-gulungan lain berisi ganja.
Pak komandan menanyakan padanya tentang bagaimana ia bisa mendapatkan bahan-bahan narkotika itu.
“Saya mendapatkan barang-barang ini untuk dijual dari seseorang dengan komisi keuntungan dan suntikan narkoba gratis,” jelas si tersangka itu.
Komandan lalu bertanya lagi tentang pekerjaannya sekarang dan para pelanggan yang membeli barang-barang narkoba itu. Ia pun menjawab bahwa ia adalah pelajar kelas III SMA dan ia menjual “Dagangan”nya itu diantara kawan-kawan sekolah-nya dan pembeli-pembeli lain yang tidak dikenalnya. Pemuda tersangka itu juga mengaku bahwa ia sendiri tidak mengetahui bahaya pekerjaan yang dilakukannya.
Obsesi satu-satunya hanyalah mendapakan uang untuk pembelian mobil sport agar untuk dipamerkan pada teman-temannya. Pak komandan lalu memintanya untuk menunjukkan rumah tersangka kedua yang menyalurkan narkotika padanya. Namun ia bersikeras bahwa ia tidak mengetahuinya. Ia hanya tahu nomer telponnya. Mereka kemudian sepakat untuk menghubungi tersangka kedua tersebut untuk membuat janji pertemuan menyerahkan barang haram itu di salah satu tempat perhentian mobil di kota itu.
Setibanya tersangka kedua itu untuk meyerahkan barang haram itu kepada pemuda tersebut, tim intelejen kemudian menyerbu dan menangkapnya. Kedua tangannya segera di borgol. Ia dan pemuda SMA itu kemudian dinaikkan ke atas mobil tahanan. Tersangka kedua itu mengaku dengan semua yang dikatakan oleh pemuda SMA itu bahwa memang menggunakan anak remaja untuk mendistribusikan narkoba dagangannya.
Dan bahwa ia sepakat dengan remaja itu untuk memberikan konsumsi berupa uang untuk menyebarkan narkoba ditambah dengan suntikan gratis heroin. Anak remaja agen narkoba itu kemudian di tuntut dengan dua tuduhan, yaitu menyimpan dan menggunakan narkoba dengan tujuan untuk diperjual-belikan untuk pemakaian yang tidak diizinkan secara undang-undang.

Sementara kepada tertuduh kedua diajukan tiga tuduhan, yaitu menyimpan dan menggunakan narkoba, kemudian tuduhan melakukan penyelundupan barang-barang terlarang seperti yang telah disebutkan kepada tertuduh pertama dengan denda 10.000 dinar, dan vonis 15 tahun penjara serta denda 10.000 dinar untuk tertuduh kedua,
Demikianlah,
Sesungguhnya tragedi yang kita paparkan ini adalah kisah seorang anak remaja yang usainya belum melebihi 17 tahun, seorang siswa kelas III SMA yang kecanduan narkoba dan juga menjualnya pada saat yang sama. Ia menjualnya di tengah kawan-kawan sekolahnya. Sebuah tragedi yang tidak diragukan lagi bermula dari keluarga.
Bagaimana keluarga ini hidup? Apakah sang ayah tidak pernah tenang dengan keadaan putra atau putrinya ketika di rumah atau di sekolah? Apakah sang ayah tidak mengetahui teman-teman putranya? Apakah ia tidak melihat bekas-bekas heroin di lengan putranya? Apakah keluarga itu tidak duduk bersama setiap hari untuk menikmati makan pagi, siang atau malam? Dan marilah kita menganggap sang ayah sering tidak mengetahui apa ada yang di dalam keluarga, lalu dimana peran ibu?
Ini benar-benar sebuah tragedi yang sesungguhnya. Ini adalah tanggung jawab sang ayah yang sring tidak hadir dan ibu yang lalai. [Syahida.com]
Sumber: Buku Chiken Soup for Muslim karya Ahmad Salim Baduwailan
- See more at: http://www.syahida.com/2015/03/02/2383/kisah-hikmah-heroin-di-tas-sekolah/#sthash.YGzdXY8T.dpuf

Saat Ia Terseret Ke Jalan Kenistaan

Syahida.com – Semasa muda dia telah mengenyam kepedihan. Hingga dia memimpikan seandainya dia bisa pergi meninggalkan dunia ini, maka dia bisa mengistirahatkan diri dan dirinya bisa beristirahat. Hubungannya dengan orang lain berantakan. Bahkan dengan keluarganya dia tidak merasa betah dan nyaman.
Pada usia sembilan belas tahun, beberapa tahun terakhir, dia memikul beban karena perselisihan dan percekcokannya yang terus menerus dengan ayahnya. Akan tetapi dia membekali diri dengan ketaqwaan. Dia terus belajar dan akhirnya masuk perguruan tinggi.
Tidak diketahui apa yang memalingkannya dari shalat. Tiba-tiba saja dia meninggalkannya. Dia merasa dirinya najis, tidak bisa membaca Al-Fatihah di dalam shalatnya. Suaranya menggangu orang-orang di sekelilingnya. Dia berkata: “Ini adalah godaan setan.” Dia bersabar akan tetapi kesabarannya tidak berguna.
Di bangku kuliah dia mengenal seorang pemuda. Pemuda ini memintanya untuk menjadi ‘temannya’. Dia setuju dan beralasan bahwa ini adalah cara lari dari kenyataan dan melupakan kesedihan. Dia tidak menyadari bahwa dia telah meletakkan kedua kakinya di jalan kenistaan.
Dia menemukan jalan penyelewengan. Dia telah menempuh beberapa langkah. Kemudian dia sadar, tapi bingung antara menyendiri, menyepi, kemudian gila, atau meneruskan meniti jalan penyelewengan dan kenistaan. Dia merasa akalnya tidak bekerja di jalan yang benar.
Kelemahan wanita ini dan ketidakberdayaannya membuatnya tersesat, hingga menyeretnya ke jalan penyelewengan.
Akan tetapi rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala sangatlah luas. Dia semestinya bertaubat benar dan bertekad bulat untuk tidak kembali mengulang kesalahan-kesalahannya. Hendaknya ia kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, berdoa kepada-Nya dengan hati khusyu’ agar Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi kekuatan kepada dirinya dan bisa terhindar dari bujuk rayu setan. Agar Dia Subhanahu wa Ta’ala memberikan pertolongan-nya untuk melawannya dan menjauhinya. Kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan berdoa merupakan senjata ampuh yang jarang diketahui oleh banyak orang.
Bersungguh-sungguh menjaga shalat pada waktunya, menunaikan kewajiban, membaca Al-Qur’an, dzikir, mendengar kaset-kaset yang berguna juga termasuk sarana terbaik untuk menghindari penyelewengan dari jalan kebenaran…[1]
Hikmah : Wahai gadis muslimah! Mengapa engkau kehilangan kontrol diri, hanya karena mendengar bisikan hina dan pujian palsu dari pemuda yang melihat dirimu sebatas onggokan daging yang indah tanpa jiwa?
Wahai wanita Islam, sebuah fitnah besar telah dirancang demi mengubah dirimu, bermain-main dengan tubuh dan kehormatanmu. Berlindunglah kepada Tuhanmu! Karena tidak ada yang dapat menyelamatkanmu kecuali Allah Ta’ala.
Kisah nyata ini adalah fakta besar. Betapa gadis-gadis muslimah di negeri-negeri Islam yang memegang tradisi tidak keluar rumah kecuali untuk keperluan syar’i bisa terenggut kesuciannya oleh para pemuda yang hatinya keras, gelap dan busuk.
Jika demikian, betapa mudahnya merampas kesucian gadis-gadis muslimah yang dengan sukarela, bahkan sebagian dengan dukungan orang tua, keluar rumah bersama pemuda pujaannya untuk bermalam minggu, nonton, belanja ke mall dan lain-lain.
Ambillah pelajaran dari kisah-kisah memilukan ini. [Syahida.com]
  1. Lahazhaat Ya Banat, Muhammad Rasyid Al-Uwayyid.
Sumber : Khalid Abu Shalih (Waspadalah Putriku, Serigala Mengintaimu!)  
- See more at: http://www.syahida.com/2015/03/04/2481/kisah-saat-ia-terseret-ke-jalan-kenistaan/#sthash.YxHoZOGG.dpuf

Kata Kata Hikmah Imam Al Ghazali

Kata Kata Hikmah Imam Al Ghazali Ilmu yang tidak disertakan dengan amal itu namanya gila dan amal yang tidak disertai ilmu itu akan sia-sia. [imam al Ghazali] "Barangsiapa yang menghabiskan waktu berjam-jam utk mengumpul harta kerana takut miskin. Maka dialah org miskin." - Imam Al-Ghazali --------------------------------------
Seorang lelaki yang berakhlak buruk menzalim dirinya sendiri. [Imam Ghazali] Carilah teman untuk menenangkan hati dan fikiran, maka perhatikanlah baik baik tentang keselamatanmu dan kesejahteraannya. [imam al Ghazali] Kebahagiaan terletak pada kemenangan memerangi hawa nafsu dan menahan kehendak yang berlebih-lebihan. (Imam al Ghazali)  Hiduplah sebagai mana yang kau sukai tetapi ingat bahawasanya engkau akan mati , cintailah pada sesiapa yang engkau kasihi tetapi jangan lupa bahawasanya engkau akan berpisah dengannya dan buatlah apa yang engkau kehendaki tetapi ketahuilah bahawasanya engkau akan menerima balasan yang setimpal dengannya. [imam al Ghazali] Bersungguh – sungguhlah engkau dalam menuntut ilmu, jauhilah kemalasan dan kebosanan kerana jika tidak demikian engkau akan berada dalam bahaya kesesatan. (Imam Al Ghazali) Barangsiapa yang memilih harta dan anak – anaknya daripada apa yang ada di sisi Allah, niscaya ia rugi dan tertipu dengan kerugian yang amat besar. (Imam Al Ghazali) Yakinlah semata- mata dengan memiliki ilmu belum tentu lagi menjamin keselamatan di akhirat kelak. [imam al Ghazali] Jangan brteman dengan teman yang hanya ada ketika sihat atau kaya, kerana teman seperti itu sungguh berbahaya sekali bagi kamu dibelakang hari - Imam Ghazali Kecintaan kepada Allah melingkupi hati, kecintaan ini membimbing hati dan bahkan merambah ke segala hal. (Imam Al Ghazali) Bersikap tawadduklah dalam segala bidang pergaulan. [imam al Ghazali] carilah teman untuk menenangkan hati dan fikiran, maka perhatikanlah baik baik tentang keselamatanmu dan kesejahteraannya.[imam al Ghazali] 'Salah satu ketentuan Allah SWT yaitu dengan berdo'a , karena do'a sebab dari tertolaknya bala" (Al Imam Ghazali) Yang dekat itu 'kematian' Ingat ajal selalu mengiringi langkah kita di sepanjang waktu.(imam al Ghazali) Yg ditunggu ALLAH swt itu 'taubat' Sesungguhnya ALLAH sngt menyukai hamba hamba-Nya yang bertaubat dari maksiat dan perbuatan dosa.(imam al Ghazali) Jika melihat orang jahat, jangan anggap kita lebih mulia kerana mungkin satu hari nanti dia akan insaf dan bertaubat atas kesalahannya. [imam al Ghazali] Rusaknya negara krn rusaknya penguasa. Rusaknya penguasa krn rusaknya ulama. Dan, rusaknya ulama krn rusaknya hakim. (Imam al-Ghazali) Yang menenteramkan hati itu 'teman sejati' Jadilah teman sejati yang selalu ada untuk seseorang dalam suka dan duka. (Imam al Ghazali) Yang mendorong ke neraka itu 'lidah' Salamatul insan fi khifdhil lisan. Akan selamat manusia jika ia pandai menjaga lidahnya. (Imam al Ghazali) Pilih kawan yang berakal jangan pilih kawan yang bodoh kerana akan menjadi musuh dan menyakitkan hati - Imam Al Ghazali Jadikan kematian itu hanya pada badan kerana tempat tinggalmu ialah liang kubur dan penghuni kubur sentiasa menanti kedatanganmu setiap masa. (Imam Al Ghazali) Cinta merupakan sumber kebahagiaan dan cinta terhadap Allah harus dipelihara dan dipupuk, suburkan dengan shalat serta ibadah yang lainnya. (Imam Al Ghazali) Menuntut ilmu adalah taqwa. Menyampaikan ilmu adalah ibadah. Mengulang-ulang ilmu adalah zikir. Mencari ilmu adalah jihad. (Imam Al Ghazali) "Kamu mesti meyakinkan hati bahawa apa yang Allah telah menetapkan yang paling sesuai dan paling bermanfaat untuk kamu." (Imam Al-Ghazali) Siksa buat ulama adlh kematian mata hatinya: ketika mrk memburu dunia melalui amalan akhirat -Al-Ghazali "Semua orang-orang yang kamu bimbang tentang mereka,  Adakah mereka yang mencipta kamu?" - Imam Al-Ghazali  Taqwa adalah menjalankan perintah-perintah Allah yang Maha Tinggi dan berpaling dari apa yang Allah telah dilarang (Imam Al-Ghazali) Ilmu itu kehidupan hati daripada kebutaan, sinar penglihatan daripada kezaliman dan tenaga badan daripada kelemahan. (Imam Al Ghazali)  "Untuk mendapatkan apa yang kamu suka, kamu mesti bersabar dengan apa yang anda benci ..." - (Al Ghazali) Peringkat pertama ikhlas itu adalah bahawa perbuatan ketika kehidupan perindu dan ketika di awam kamu hendaklah sama"-Imam Al-Ghazali Yang Besar itu Nafsu,  Yang Berat itu Amanah, Yang indah itu Solat, Yang dekat itu Mati...  (Imam Al-Ghazali)  "Jika kamu melihat seorang ulama mengumpat ulama lain, elakkan dia." - Imam Al-Ghazali Celakalah bagi orang yang jahil  untuk tidak belajar. Celakah bagi ulama seribu kali untuk tidak mengamalkannya.  Jadikan kematian itu hanya pada badan kerana tempat tinggalmu liang kubur ، penghuni kubur sentiasa menanti kedatanganmu. (Imam Al Ghazali)  "Rosaknya rakyat disebabkan rosaknya Pemimpin" 'Jika seorang lelaki tidak tahu dirinya sendiri, yang merupakan perkara yang paling dekat dengannya, maka apa yang penggunaan dia mendakwa tahu orang lain' Imam Al Ghazali  "Aku akan mencari ilmu hanya karena Allah, dan aku tidak akan mencari jika untuk selain Allah"-Imam al-Ghazali  Orang-orang yg mempunyai hati mengetahui.. Kebahagian takkan tercapai kecuali dengan 'Ilmu & Ibadah [Imam Al Ghazali] "Barangsiapa yg menghabiskan waktu berjam-jam utk mengumpul harta kerana takut miskin. Maka dialah org miskin." - Imam Al-Ghazali Yang mendorong ke neraka itu 'lidah' Salamatul insan fi khifdhil lisan. Akan selamat manusia jika ia pandai m'jaga lidahnya. (Imam al Ghazali) “Jangan resah andai ada yang membencimu, kerana masih ramai yang mencintaimu di dunia. Tetapi resah dan takutlah andai Allah membencimu, kerana tiada lagi yang mencintaimu di akhirat.” – Imam Al-Ghazali Orang beriman akan melihat rupa Malaikat Maut sebagai pemuda tampan, berpakaian indah dan sangat harum. - Imam Ghazali - Aku hairan dengan manusia yang selalu mencuci mukanya, tapi tidak selalu mencuci hatinya.  ( Imam Al Ghazali )  "Sesungguhnya Kebanyakan Jeritan Penghuni Neraka Adalah Disebabkan oleh Penangguhan Taubat... allahuakhbar :') -Imam al-Ghazali"  Kecintaan kepada Allah melingkupi hati, kecintaan ini membimbing hati dan bahkan merambah ke segala hal.  -Imam Al Ghazali- makhluk paling mulia ialah manusia, Bagian yang termulianya HATI ~Imam Al Ghazali (ahli teori filosofi muslim persia) Yang Paling Dekat dgn kita adh "MATI"  Yang Paling Jauh dgn kita adh "MASA LALU" Yang Paling Besar di dunia ini adh "NAFSU" (#ImamGhazali)