Kamis, 14 Mei 2015

Pemimpin dan Pengemis

Sudah tak asing lagi, budaya mengemis merupakan budaya yang telah menjamur di berbagai penjuru dunia dari dulu hingga kini.
Tempat-tempat strategis bagi para pengemis pun berbeda-beda. Di Mesir, misalnya, kebanyakan para pengemis menunggu jama’ah shalat di depan pintu masjid-masjid. Tidak hanya beberapa hari, bahkan setiap hari pasti ada pengemis di sekitar masjid.
Islam sebagai agama yang rahmatan lil’alamiin memiliki pandangan tersendiri tentang budaya mengemis ini.
Kita sebagai umat Islam sepatutnya menghindari budaya mengemis , bukankah masih ada usaha lain yang lebih mulia dari pada mengemis?
Qais bin ‘Ashim, sahabat nabi sekaligus seorang penyair mewasiati putranya, “Jauhilah meminta-minta, sesungguhnya meminta-minta merupakan akhir usaha seseorang.”(Dinukil dari Kitab Bahjat al-Majalis, Ibnu ‘Abdul Barr)
Usaha biasa atau rendahan (yang dibolehkan Islam) itu jauh lebih mulia dibanding meminta-minta.
Bukankah Khalifah ‘Umar bin Khattab telah berkata, “Sebuah usaha biasa itu lebih baik dari pada meminta-minta manusia.” (Manaqib ‘Umar, Ibnu Al-jauzi)
Rakyat jelata yang mengemis karena tidak ada pekerjaan dan kebutuhan, seharusnya merupakan tanggungjawab seorang pemimpin untuk memberikan jalan keluar.
Bukankah di zamanRasulullah Shallallahu ‘alahi Wassallam ada seorang pengemis mendatangi beliau, seorang utusan Allah dan pemimpin. Namun apa yang beliau lakukan, sebagai suri tauladan yang baik beliau memberinya uang yang kemudian beliau memberikan solusi dengan memberinya sebuah kampak untuk mencari kayu. Hal ini menunjukkan bahwa pengemis merupakan tanggungjawab seorang pemimpin.
Walaupun Islam mencela usaha mengemis atau meminta-minta. Di sisi lain Islam juga melarang menghardik atau menolak seorang pengemis.
Allah Ta’ala berfirman;
“Dan terhadap orang yang meminta-minta maka janganlah kamu menghardiknya.” (QS: adh-Dhuha [93]: 10)
Di dalam surat al-Baqarah, disebutkan;
“Perkataan yang baik dan pemberian maaf bisa lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan.(2:263).*/Ridho el Faiz
(fauziya/hidayatullah/muslimahzone.com)

Andai Gaza Di Depan Rumahmu

Apa yang biasanya kautemui di depan rumahmu ketika bangun dari tidurmu? Apa yang biasa kau lihat? Apa yang biasa kau hirup? Apa yang biasa kaurasakan? Tepat setelah kau bangun dari tidurmu dan kau buka pintu rumahmu?
Pernahkah kau bayangkan, ketika kau buka matamu, yang biasa kau temui di pagi harimu, segalanya menjadi jauh berbeda?
Ketika kau membuka mata. Ada pemandangan yang tak pernah kau kira. Ketika kau membuka mata. Ada Gaza.
***
Andai Gaza di depan rumahmu. Apa yang akan kaulakukan Saudaraku?
Tak perlu kau tanyakan bagaimana bisa. Meskipun cuma seandainya, tak ada hal yang tak mungkin bagi-Nya. Cukup bayangkan saja…
Ketika pagi, kau buka matamu. Kau heran, kenapa tak ada suara azan terdengar? Alih-alih, justru suara-suara menggelegar?
Lalu kau bergegas menuju pintu rumahmu. Kau buka, lalu seketika tak percaya.
***
Kegelapan yang biasa kau lihat, kini telah diterangi cahaya ledakan yang berkilat-kilat. Silau! Seolah retinamu tertusuk! karena masih terbawa kantuk.
Segarnya udara pagi yang murni dan belum tercemari, kini berganti dengan tajamnya mesiu yang menusuk paru-paru. Tak ada lagi udara yang menyegarkan seluruh tubuhmu. Melainkan mesiu panas dalam setiap hirupanmu.
Hawa dingin yang biasa menyengat hingga memaksamu mengenakan jaket rangkap, kini dipanasi oleh puluhan ledakan yang berasap.
Ketika kau mulai terheran, ketika itu pula kau bertanya-tanya “Apa yang harus kulakukan? Ini asli! Bukan berita yang setiap hari kulihat di TV!” ujarmu.
***
Kemarin, beberapa hari sebelum hari ini…
Kabar dan berita, tiap hari kausaksikan dan kau baca. Hampir tiap hari pula, disampaikan kepadamu oleh mereka, berita tentang Palestina serta konfliknya di Jalur Gaza. Lalu, setelah mendengar dan atau melihatnya dengan mata kepala (melalui layar kaca), kau diam serta tak berbuat apa-apa selain doa.
“Masih banyak urusanku yang lain” jawabmu.
Pendidikan katamu. Jika kau seorang pelajar. “Aku harus menuntut ilmu, menggali kemudian mengkaryakannya agar berguna bagi negaraku”. Begitu jawabmu.
Mencari nafkah katamu. Jika kau seorang kepala rumah tangga. “Aku harus menghidupi keluargaku dengan cucuran keringatku. Aku memiliki nyawa-nyawa lain yang bergantung dan menjadi tanggung jawabku”. Begitu jawabmu yang lain.
Serta berbagai jawaban lain yang senada. Jawaban dari orang-orang yang termasuk dalam golongan realistis yang tak suka taking a risk.
***
Itu kemarin. Kini segalanya telah lain. Kau tak bisa berkata “maaf, tidak” kepada seruan dan ajakan yang mengulurkan tangannya, memintamu menyambutnya dan menyerahkan diri secara sukarela dengan niat tulus dan lurus, menjadi mujahid Allah Ta’ala.
Tak perlu lagi dalam-dalam merogoh kocekmu untuk transportasi. Kini segalanya ada di depan matamu. Lapangan jihad melawan Zonis terlaknat.
Di depan matamu, kau saksikan mortir berjatuhan. Di sekelilingmu, kaudengar ledakan granat, serta suara rentetan senapan yang memekikkan.
Ini bukan layar kaca! Segalanya nyata! Mayat yang tak lengkap lagi organ di tubuhnya berserakan di mana-mana. Tua-muda, kecil-dewasa, pria-wanita, semua menjadi korbannya.
Lautan darah di sepanjang kau memandang. “Kenapa tak anyir? Kenapa tak amis? Sebaliknya, harum… Inikah syahid?” begitu pikirmu.
Tiba-tiba sebuah bom dijatuhkan di dekatmu. Suaranya memecahkan lamunanmu. Ledakannya mementalkan tubuhmu. Kau bangun, tubuh dan seluruh persendianmu terasa ngilu. Kau melihat rumahmu, kini telah menjadi abu. Lalu kau sadari, tak ada waktu untuk termangu. Keputusan harus dibuat secepat kilat. Jihad. Atau habis riwayat.
***
Andai Gaza di depan rumahmu… Akankah kau terlalu sayang akan nyawamu? Bersembunyi di sudut redup, karena percaya kata logika, jika berontak, tak ada harapan hidup.
Andai Gaza di depan rumahmu… Atau akankah kau pungut senapan di dekatmu. Berdiri. Mengumpulkan keberanian, berlari ke depan. Bergabung bersama para mujahid yang telah siap bahkan mencari Syahid.
Bukan mengantarkan nyawamu. Tapi memberikan perlawanan. Karena itu kewajiban.
“Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah, benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu. yaitu orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar.” (Q.S. al-Hajj : 39-40)
Bukan pula karena panggilan. Tapi kebutuhan. Karena Gaza tak pernah membutuhkanmu. Tapi kaulah yang membutuhkan Tuhanmu.
“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.” (Q.S. at-Taubah : 111)
***
Maka, ketika dihadapkan dalam kondisi demikian, apakah kau akan bersyukur? Bergembira karena dapat menjadi Mujahid-Nya.
Ataukah justru kau bersyukur karena sekarang kau tak berada dalam keadaan dimana nyawa menjadi taruhan?
“Hai manusia sekalian! Janganlah kamu mengharapkan pertemuan dengan musuh dan mohonlah kesehatan kepada Allah. Namun apabila kamu bertemu dengan mereka, maka bersabarlah” (H.R. Muslim)
Jika kau adalah golongan yang pertama, jika rumahmu bukanlah di Gaza atau Palestina. Kau ingin, tapi karena hambatan beberapa hal ‘teknikal’, hingga tak memungkinkanmu pergi kesana. Janganlah berduka.
Ketahuilah… Hampir semua ayat berjihad, selalu diikuti kata “… dengan harta, dan jiwa mereka…”
“Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapatkan kemenangan.” (Q.S. at-Taubah :20)
Karena ‘Gaza’ yang lain, ada di depan matamu. Di dalam dirimu. Ia berbentuk ‘Nafsu’.
Wallahua’lam bisshowab…
Oleh: Widhi Satya
(fauziya/eramuslim/muslimahzone.com)

3 Hal Ini Cukup Menyebabkan Wanita Masuk Neraka

“Aku melihat ke dalam surga maka aku melihat kebanyakan penghuninya adalah fuqara’ (orang-orang fakir) dan aku melihat ke dalam Neraka maka aku menyaksikan kebanyakan penghuninya adalah wanita,” (Hadis Riwayat Al- Bukhari dan Muslim).
Timbul pertanyaan, apa yang menjadi penyebab para wanita lebih banyak menghuni neraka? Banyak hal, ternyata.
Namun, dengan tiga hal saja ternyata sudah cukup mendekatkan diri pada hal pedih di akhirat nanti:
  1. Kufur Terhadap Suami dan Kebaikan-Kebaikannya
Seperti hadits Rasulullah SAW: “ … dan aku melihat Neraka maka tidak pernah aku melihat pemandangan seperti ini sama sekali, aku melihat kebanyakan penghuninya adalah kaum wanita. Para sahabat pun bertanya : “Mengapa (demikian) wahai Rasulullah?” Baginda shallallohu Alaihi Wasallam menjawab : “karena kekufuran mereka.” Kemudian ditanya lagi : “Apakah mereka kufur kepada Allah?” Baginda menjawab : “Mereka kufur terhadap suami-suami mereka, kufur terhadap kebaikan-kebaikannya. Kalaulah engkau berbuat baik kepada salah seorang di antara mereka selama waktu yang panjang kemudian dia melihat sesuatu pada dirimu (yang tidak dia sukai) niscaya dia akan berkata : ‘Aku tidak pernah melihat sedikitpun kebaikan pada dirimu.’ ” (Hadis Riwayat Imam Al-Bukhari)
  1. Durhaka Terhadap Suami
Kedurhakaan yang dilakukan seorang isteri terhadap suaminya pada umumnya berupa tiga bentuk kedurhakaan yang sering kita jumpai pada kehidupan masyarakat kaum Muslimin. Tiga bentuk kedurhakaan itu adalah durhaka dengan ucapan, durhaka dengan perbuatan, durhaka dengan ucapan dan perbuatan.
  1. Tabarruj
Yang dimaksud dengan tabarruj ialah seorang wanita yang menampakkan perhiasannya dan keindahan tubuhnya serta apa-apa yang wajib ditutupnya dari pandangan lelaki bukan mahramnya.
Sebagaimana yang diuraikan oleh Ibnul ‘Abdil Barr rahimahumullah ketika menjelaskan sabda Rasulullah shallallohu Alaihi Wasallam tersebut. Ibnul ‘Abdil Barr menyatakan: “Wanita-wanita yang dimaksudkan Rasulullah shallallohu Alaihi Wasallam adalah yang memakai pakaian yang tipis yang menampakkan tubuhnya atapun yang menunjukkan bentuk tubuhnya dan tidak menutupinya, maka mereka adalah wanita-wanita yang berpakaian pada zahirnya dan telanjang pada hakikatnya … .”
Demikianlah penyebab kenapa wanita lebih banyak menghuni neraka.
Sumber: Bring Islam
(fauziya/muslimahzone.com)

Dahsyatnya Do’a Seorang Ibu

Mungkin sebagian orang masih tidak sadar bahwa kemungkinan kesuksesan-kesuksesannya selama ini adalah buah dari doa seorang ibu kepada Allah tanpa ia ketahui. Dan seorang ibu itu tanpa disuruh pasti akan selalu mendoakan anaknya di tiap nafasnya kala bermunajat kepada Allah. Tapi seorang anak belum tentu selalu berdoa untuk orang tuanya.
Barangkali juga kita suka mengeluh tentang sifat buruk orang tua, entah karena ibu nya cerewet, suka ikut campur, suka nyuruh-nyuruh, tidak gaul dan lain sebagainya. Jika seperti ini maka tragis. Kenapa tragis? Karena terlalu fokus dengan secuil kekurangan orang tua dan melupakan segudang kebaikan yang telah diberikan kepada kita selama ini.
Di luar sana mungkin ada orang-orang di pinggir jalanan, di bawah kolong jembatan dan di tempat lainnya mereka juga suka mengeluh, tapi yang mereka keluhkan ialah bukan karena sifat orang tua atau ibu mereka, tapi mereka mengeluh karena mereka tidak punya lagi orang tua.
Bersyukurlah jika masih mempunyai orang tua. Jika ingin tahu rasanya tidak punya ibu, coba tanyakan kepada mereka yang ibu nya telah tiada. Mungkin perasaan mereka sangat sedih dan kekurangan motivasi dalam hidup.
Coba bayangkan jika kita tidak punya ibu, ketika kita akan pergi ke luar rumah untuk sekolah atau bekerja, tidak ada lagi tangan yang bias kita cium. Jika tidak punya ibu mungkin tidak ada lagi makanan yang tersedia di meja makan saat kita pulang. Jika kita tidak punya ibu lagi ketika hari lebaran rumah terasa sepi dan lebaran terasa tanpa makna. Jika kita tidak punya ibu barangkali kita hanya bisa membayangkan wajah tulusnya di pikiran kita dan melihat baju-bajunya di lemarinya.
Banyak di antara kita suka mengeluh tentang sifat negatif ibu kita, tapi kita tidak pernah berfikir mungkin hampir setiap malam ibu kita di keheningan sepertiga malam bangun untuk shalat tahajud mendoakan kita sampai bercucuran air mata agar sukses dunia dan akhirat.
Mungkin di suatu malam beliau pernah mendatangi kita saat tidur dan mengucap dengan bisik “nak, maafkan ibu ya… ibu belum bisa menjadi ibu yang baik bagimu” kita mungkin juga lupa di saat kondisi ekonomi rumah tangga kurang baik, ibu rela tidak makan agar jatah makannya bisa dimakan anaknya. Ketika kita masih kecil ibu kira rela tidur di lantai dan tanpa selimut, agar kita bisa tidur nyaman di kasur dengan selimut yang hangat.
Setelah semua pengorbanan telah diberikan oleh ibu kita selama ini, lalu coba renungkan apa yang kita perbuat selama ini kepada ibu kita? Kapan terakhir kita membuat dosa kepadanya? Kapan terakhir kita membentak-bentaknya? Pantaskah kita membentak ibu kita yang selama Sembilan bulan mengandung dengan penuh penderitaan? Oleh karena itu maka berusahalah untuk berbakti kepada orang tuamu khususnya kepada Ibumu. Karena masa depan kita ada di desah doa-doanya setiap malam. Dan ingat perilaku kita dengan orang tua kita saat ini akan mencerminkan perilaku anak kita kepada diri kita nanti.
Dan doa ibu itu mampu menembus langit, sangat mustajab di hadapan Allah. Maka muliakanlah ibumu.
(fauziya/detikislam/muslimahzone.com)

Jangan Mencela Hujan

 Sebagian orang merasa dirugikan ketika musim hujan. Memang benar, tidak semua yang terjadi di sekitar kita, sesuai dengan yang kita harapkan. Terkadang kita berharap langit cerah, namun Allah turunkan hujan. Dan sebaliknya. Namun apakah kehendak Allah harus bergantung kepada kehendak kita? Jangan sampai ketidaknyamanan ini, menyebabkan kita menjadi murka dan marah dengan takdir Allah. Terlebih, JAGA LISAN baik-baik, jangan sampai mengeluarkan kata CELAAN terhadap hujan yang Allah turunkan.
Terkadang kita tidak sadar, ucapan kita bisa menjadi sebab diri kita tergelincir ke dalam neraka.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
Sesungguhnya ada seorang hamba berbicara dengan suatu perkataan yang mengundang ridha Allah, yang tidak sempat dia pikirkan, namun Allah mengangkat derajatnya disebabkan perkataannya itu. Sebaliknya, ada hamba yang berbicara dengan suatu perkataan yang membuat Allah murka dan tidak pernah dia pikirkan bahayanya, lalu dia dilemparkan ke dalam jahannam.” (HR. Ahmad 8635, Bukhari 6478, dan yang lainnya).
MENCELA HUJAN = MENCELA DZAT YANG MEMBERI HUJAN
Protes seorang hamba ketika Allah menetapkan taqdir, sejatinya dia protes kepada Allah. Dalam hadis qudsi, Allah ta’ala melarang kita mencela keadaan yang Dia ciptakan.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, bahwa Allah Ta’ala berfirman,
Manusia menyakiti Aku; dia mencaci maki masa (waktu), padahal Akulah adalah pemilik masa, Aku-lah yang mengatur malam dan siang.” (HR. Bukhari 4826, Muslim 6000, dan yang lainnya).
Dalil di atas berbicara tentang hukum mencela waktu. Kasus mencela hujan, tidak berbeda dengan mencela waktu.
Para ulama memberikan rincian hukum untuk kasus mencela waktu, hujan atau semacamnya:
  1. Hanya sebatas memberitakan. Misalnya, seseorang mengatakan: ‘Sepatu saya rusak karena kehujanan.’ ‘Motor saya macet karena kehujanan.’
  2. Mencela hujan dengan maksud mencela ketetapan dan takdir Allah. Misalnya mengatakan, ‘Ini hujan, ngapain turun. Bikin tambah macet aja.’ ‘Sebel, hujan terus. Pagi-pagi sudah hujan.’
Celaan semacam ini termasuk perbuatan dosa, karena hakekatnya, dia mencela Allah.Wallahu’alam.
(konsultasisyariah/muslimahzone.com)

Banggalah Menjadi Diri Sendiri, Tak Perlu Membebek Orang Lain

Lingkungan pergaulan kadang menuntut kita untuk bersikap dan bercara pandang seragam. Bila kita berada pada lingkungan sosialita yang senang pamer penampilan, dan materi yang wah dijadikan standar penilaian, sederhana akan menjadi tampak berbeda dengan lingkungan.
Bila ada satu orang yang berbeda biasanya akan dianggap aneh, lalu menjadi bahan gunjingan dan olok-olok, ketika kemudian dia menarik diri dari lingkungan maka akan dicap orang ngga gaul. Begitulah…
Memegang suatu prinsip yang tidak membebek pada lingkungan yang mayoritas menghamba pada materi memang menyiksa. Tetapi, tidak sama dengan lingkungan itu tidak dosa.  Itu berarti kita hanya berada di lingkungan yang salah saja.
“ The right man in the wrong place”.


Orang yang bertahan pada prinsip yang benar kadang harus membayar mahal dengan tersingkir dari sebuah lingkungan. Ketika prinsip itu membuat tak ada satu pun yang ada pada dirinya bisa dipamerkan. Sehingga kehadirannya di lingkungan itu hanya sebagai penonton yang tak diperhitungkan, alihkan ruang pergaulan ke tempat dimana ide ide kita sejalan.
Dunia ini luas, segeralah bergegas untuk mencari tempat dimana prinsip kita tak menjadi minoritas. Masih banyak orang-orang yang peduli dengan kesederhanaan. Hanya saja, memang perlu sebuah perjuangan. Allah ingin agar hambanya tidak berdiam diri dalam mencapai keinginan.
“ Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa apa yang pada diri mereka. ( Ar Ra’d [13]: 11)
Dengan mengetahui di luar sana masih banyak orang-orang dengan kesederhanaan, kita akan menjadi lebih percaya diri.  Sederhana bukan berarti tidak mampu tapi sikap qonaah dan membeli sesuatu sesuai kebutuhan mengukur dengan penghasilan.
Tetaplah jaga kesederhanaan, Allah tidak menyukai orang yang berlebihan.
“ Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Alloh tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. (QS. Al-A’raf [7]: 31)
Tak usah hiraukan mereka yang membicarakan kita, terus tetap dalam kebaikan, karena kita tidak tahu apakah Allah menerima seluruh amal kita selama ini. Toh sebaik-baik umat adalah yang paling bertaqwa kepada Allah.
“ Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kalian.” (QS. Al Hujuraat[49]:13)
Profil penulis : Yusnita Andriyani, ibu rumah tangga, kader Posyandu, aktifis dakwah. Dan saat ini bergabung dengan Komunitas Ummi menulis.
Sumber: Ummi-online
(fauziya/muslimahzone.com)

Rezeki yang Diantarkan

Bagi orang-orang yang beriman, poin terpenting dari rezeki bukanlah soal besarannya. Rezeki adalah tentang bagaimana mendapatkan dan memanfaatkannya. Maka seberapa pun jumlahnya, yang paling utama adalah dampaknya; apakah rezeki itu semakin mendekatkannya kepada Allah Ta’ala, atau sebaliknya.
Rezeki, kadang hanya sejumlah tujuh ribu rupiah. Tapi, coba amati bagaimana perjuangan yang ditempuhnya hingga sampai di tangan seorang hamba.
Tersebutlah seorang perantau yang mudik. Enam hingga tujuh jam adalah lamanya perjalanan yang ia tempuh. Maka saat berangkat dari tempat perantauan di permulaan malam, pada dini harilah ia sampai di kampung yang amat dicintainya.
Rehat sejenak menunggu subuh, kemudian pagi menyapa dengan sumringah. Lelaki perantau itu pun bergegas menyiapkan motor, sebab adiknya harus diantar ke sekolah.
Saking asyiknya bernostalgia dan ngobrol aneka rupa soalan kehidupan kepada adiknya, ia tak peduli pada penanda bensin di kuda besi miliknya itu. Hingga sampai di sekolah sang adik, motor itu masih kuasa tuk melaju.
Rupanya, meski di depan sekolah ada penjual bahan bakar motor yang kini naik-turun tak jelas itu, pemuda ini sama sekali tak tergiur. Anehnya, ia malah menancap gas dan menempuh rute lain untuk pulang.
Luar biasanya, rute yang ia niatkan ini adalah jalanan terjal, banyak batu, dan jarang penduduk; jalan kecil di tengah hamparan sawah yang mulai ditanam oleh petani yang juga tak menentu nasibnya, bak bahan bakar motor yang naik turun itu.
Dalam hitungan puluhan menit, saat motor itu telah melewati sekitar satu kilometer; motornya berhenti. Mogok. Bahan bakarnya nol liter. “Duh,” benaknya berkata. Maka, ia pun turun dari jok sepeda motor, lantas didoronglah motor yang baru dibelinya sekitar empat bulan lalu.
Ketika bertemu dengan banyak orang di jalan, ketika masyarakat kampung itu menyapanya dengan ramah, pemuda kurus yang belum berganti bajunya ini pun memberanikan diri bertanya, “Pak, Bu, penjual bensin di mana ya?”
Selepasnya, ia pun sedikit mempercepat langkahnya mengikuti petunjuk warga yang memberinya informasi.
Agak lama. Cukup panjang. Sekitar lima belas menit. Atau, sekira satu kilo meter jarak yang ia tempuh berjalan kaki sembari mendorong motor. Alhamdulillah, mendaratlah ia dengan selamat di sebuah gubuk yang terdapat parkiran botol berjejer bertuliskan angka tujuh ribu.
“Satu liter saja, Bu.” ujarnya singkat. Lalu, diberikanlah selembar mata uang yang mendapat kembalian tiga lembar bergambar seorang kapitan yang memamerkan pedangnya.
Beberapa jenak setelah merapikan tangki bahan bakar dengan menutup dan memasang jok kendaraannya, ia pun melaju dengan kecepatan sedang untuk menempuh perjalanan selanjutnya.
Di sepanjang perjalanan itu, ia berpikir, “Betapa Allah Ta’ala Maha Pengasih. Jauh-jauh dari rantau; belum ganti baju dan sepatu, dengan perjuangan berjalan serta mendorong motor lumayan lama; ‘hanya’ untuk ‘mengantarkan’ rezeki senilai tujuh ribu rupiah yang belum dikurangi modal hingga penjual bensin itu mendapatkan untung.”
Apakah yang demikian ini masih menyisakan ruang dalam hati dan pikiran hingga kita mengkhawatirkan masalah rezeki? Mungkinkah Allah Ta’ala tak berikan ‘gaji’, padahal Dia telah menghidupkan kita?
Sumber: keluargacinta.com
(fauziya/muslimahzone.com)