Tampilkan postingan dengan label Kisah Nabi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah Nabi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 30 Juni 2015

WANITA DIBALIK ISTANA



WANITA DIBALIK ISTANA

————————————–
Itulah penggalan kalimat motivasi dari istri Muhammad bin Saud, pendiri Kerajaan Arab Saudi, yang berhasil merambat ke sanubarinya, melahirkan semangat juang dan optimis untuk menolong dakwah tauhid yang mulia. Sang istri tidaklah dikenal, namanya tidak disematkan pada nama kerajaan sebagaimana nama sang suami. Sejarawan tidak pula mencatatnya. Ia tersembunyi sebagaimana tersembunyinya putri Syu’aib ketika mengatakan kepada ayahnya tentang Nabi Musa ‘alaihissalam:
قَالَتْ إِحْدَاهُمَا يَا أَبَتِ اسْتَأْجِرْهُ ۖ إِنَّ خَيْرَ مَنِ اسْتَأْجَرْتَ الْقَوِيُّ الْأَمِينُ
Salah seorang dari kedua wanita itu berkata: “Wahai ayahanda ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya”. (QS. Al-Qashash: 26).
Ia adalah wanita shalihah. Membantu suaminya ambil bagian dalam agama, bukan berjibaku dengan dunia yang fana. Dialah yang mendorong suaminya agar membantu Muhammad bin Abdul Wahhab mendakwahkan Alquran dan sunnah di tanah Arab hingga menjadi salah satu kerajaan terbesar di dunia. Dialah wanita shalihah di balik istana Saudi Arabia.
Rihlah Dakwah Seorang Da’i Muda
Pertemuan Muhammad bin Saud dengan Muhammad bin Abdul Wahhab didahului oleh rangkaian kisah panjang yang penuh tantangan. Dahulu, saat Arab Saudi belum bernama Arab Saudi. Saat tanah jazirah Arab itu masih berupa lautan padang pasir yang luas. Belum ada gedung-gedung tinggi. Belum diketemukan minyak bumi. Wilayah itu terbagi-bagi dan masing-masing wilayah memiliki penguasa sendiri-sendiri. Hadirlah seorang da’i muda bernama Muhammad bin Abdul Wahhab berdakwah menyerukan pemurnian agama. Mengingatkan umat dari kesyirikan di saat ia telah mendarah daging dalam budaya. Mengajak masyarakat meneladni sunnah dan menjauhi hal-hal yang bukan dari agama.
Muhammad bin Abdul Wahhab memulai dakwahnya di Huraimala. Kemudian sunnatullah bagi pemegang panji tauhid pun terjadi padanya, penduduk Huraimala mengusirnya. Persis seperti ucapan Waraqah bin Naufal ketika ditanya oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam “Apakah mereka akan mengusirku?” “Iya. Tidak ada seorang pun yang datang dengan membawa seperti apa yang engkau bawa, melainkan pasti akan mendapat cobaan, kalau seandainya aku menjumpai hari dimana kamu diusir, pasti aku akan membela serta menolongmu”. (HR. Bukhari no: 3 dan Muslim no: 160). Kemudian ia berpindah menuju Uyainah, kota kelahirannya.
Di Uyainah, Muhammad bin Abdul Wahhab disambut oleh penguasa daerah tersebut, Utsman bin Nashir bin Muammar. Utsman sangat antusias menerima Muhammad bin Abdul Wahhab dan apa yang didakwahkannya. Sehingga dakwah pun begitu diterima dan ulama muda ini pun fokus kepada pendidikan dan pembinaan umat di sana.
Tidak lama, dakwah pun tersebar di Uyainah. Masyarakat berangsur-angsur paham akan tauhid dan bahaya syirik. Dahaga kebodohan mereka sirna dengan segarnya pemahaman sunnah. Muhammad bin Abdul Wahhab tidak memulai dakwahnya dengan frontal dan tergesa-gesa. Ia memulainya dengan pendidikan dan pendekatan yang penuh hikmah. Setelah dakwah memiliki tempat di hati masyarakat, mulailah mereka sedikit demi sedikit diajak untuk menghilangkan simbol kesyirikan. 17 pohon keramat di Uyainah ditebang hingga hilang sama sekali tanpa bekas.
Proses penyebaran dakwah dan ilmu terus berlanjut. Semakin kokoh tauhid dan sunnah di hati masyarakat, maka berhala yang pamornya lebih tinggi dan lebih besar pun menjadi sasaran berikutnya untuk dihancurkan. Muhammad bin Abdul Wahhab meminta izin kepada amir Uyainah untuk menghancurkan berhala yang terbesar. Ia meminta Utsman bin Muammar agar menginstruksikan kaumnya merobohkan kubah besar di kubur Zaid bin al-Khattab di wilayah Jubail. Berangkatlah Ibnu Abdul Wahhab bersama 600 orang untuk menggusur berhala itu.
Gambar pemakaman Baqi'. Tampak pada gambar kubah-kubah besar yang dibangun di atas makam sebagai bentuk pengagungan terhadap kubur.
Gambar pemakaman Baqi’. Tampak pada gambar kubah-kubah besar yang dibangun di atas makam sebagai bentuk pengagungan terhadap kubur. Inilah pemandangan di kuburan-kuburan di Arab Saudi sebelum dakwah sunnah tersebar.
Rencana penghancuran kubah makam Zaid bin al-Khattab menimbulkan kehebohan di kalangan masyarakat. Karena kentalnya budaya syirik di masa itu, ketika kubah dihancurkan masyarakat khawatir akan turun hujan batu dari langit karena ‘kualat’. Lalu kubah makam pun dihancurkan dan tidak terjadi apa-apa.
Tidak ada dakwah yang berjalan mulus tanpa tantangan. Hancurnya kubah makam Zaid al-Khattab mendatangkan kemarahan para pemuja kubur di Jazirah Arab. Mulailah ancaman-ancaman dilayangkan kepada penguasa Uyainah. Penguasa Ahsa mengirim nota protes kepada Ibnu Muammar dan menekannya agar mengusir Muhammad bin Abdul Wahhab dari Uyainah. Ibnu Muammar tak bergeming, nasihat dari Muhammad bin Abdul Wahhab tetap mengokohkan pendiriannya.
Hingga akhirnya datang seorang wanita dari dekat wilayah pembenci dakwah, mengaku telah berzina. Ia meminta untuk ditegakkan had untuknya. Akhirnya setelah 4 kali meminta, Muhammad bin Abdul Wahhab menegakkan had pada sang wanita. Pergolakan pun kian membesar. Kabilah-kabilah semakin meradang. Tuntutan agar Muhammad bin Abdul Wahhab diusir dari Uyainah menjadi gelombang besar di Jazirah. Jika ia tidak diusir, maka semua kabilah akan menyerbu Uyainah. Ibnu Muammar pun tunduk. Dan Muhammad bin Abdul Wahhab diminta meninggalkan Uyainah.
Pertemuan dengan Ibnu Saud dan Peranan Istri Shalihah
Ketika keluar dari Uyainah, Muhammad bin Abdul Wahhab tidak mengetahui kemana lagi ia harus pergi. Tanah mana kira-kira yang akan menampungnya. Namun Allah tidak pernah menyia-nyiakan hamba-Nya yang ‘menolong’ agamanya. Ia berangkat menuju Dir’iyah.
Dir’iyah adalah sebuah kampung kecil yang hanya dihuni oleh 40 rumah saja. Sebuah desa yang sekarang terletak di Barat Laut wilayah Arab Saudi ini, dipimpin oleh seorang laki-laki bernama Muhammad bin Saud.
Di kampung kecil ini, Ibnu Abdul Wahhab menginap di rumah salah satu muridnya sewaktu di Uyainah, Muhammad al-Uraini. Dan ternyata putra dari Muhammad bin Saud yang bernama Abdul Aziz juga merupakan murid Ibnu Abdul Wahhab semasa di Uyainah.
Berita kedatangan Muhammad bin Abdul Wahhab juga tidak luput dari Muhammad bin Saud. Kemudian ia, istri, dan anaknya, Abdul Aziz, datang menemuinya. Di sinilah keberkahan itu bermula. Istri Muhammad bin Saud berharap agar suaminya membantu dan menolong dakwah yang mulia ini. Ia sama sekali tidak ingin jika suaminya mengusir sang ulama sebagaimana para pemimpin sebelumnya telah melakukannya.
Ketika Muhammad bin Saud tengah bersama istrinya, sang istri mulai membuka pembicaraan. “Absyir (Bergembiralah wahai suamiku),” katanya. “Khairun. Basysyarakillahu bil Jannah (Kebaikan. Semoga Allah membuatmu bergembira dengan surga wahai istriku), balas Muhammad bin Saud.
Masya Allah.. alangkah indahnya ucapan dialog antara suami dan istri ini. Sebuah ungkapan yang menunjukkan cinta yang sejati. Mereka saling mendoakan kebaikan agar cinta mereka berkelanjutan hingga berada di surga yang abadi.
“Bergembiralah wahai suamiku, Allah telah menganugerahkan sebuah perbendaharaan kepadamu,” kata istri Muhammad bin Saud. “Apa itu?” tanyanya. “Seorang da’i yang mengajak kepada Kitabullah dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ya, dia mendakwahkan keduanya. Bangkitlah! Bantulah dia!”
Kemudian Muhammad bin Saud meminta agar Ibnu Abdul Wahhab didatangkan menghadapnya. Namun istri shalihah ini menasihati suaminya, “Andalah yang datang menemuinya sehingga masyarakat tahu bahwa Anda memuliakannya. Karena ilmu itu didatangi..” ujarnya.
Alangkah indahnya ucapan istri Muhammad bin Saud. Seorang istri shalihah yang tak gentar dengan risiko yang akan ia dan suaminya hadapi tatkala menolong Muhammad bin Abdul Wahhab, menolong agama Allah. Uyainah yang berpenduduk jauh lebih besar pun khawatir, namun kampung kecil dengan 40 rumah ini berani berdiri bersama sang da’i. Ia menyebut kedatangan Muhammad bin Abdul Wahhab sebagai kabar gembira untuk sang suami, padahal ketakutan telah dihadapi pemimpin lainnya. Ia teguhkan suaminya menyongsong kebaikan karena ia tahu Allah tidak akan menyia-nyiakannya. Benarlah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
الدُّنْيَا مَتَاعٌ وَخَيْرُ مَتَاعِ الدُّنْيَا الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ
“Dunia adalah kenikmatan dan sebaik-baik kenikmatan dunia adalah wanita shalihah.” (HR. Muslim).
Lihatlah keberkahan istri shalihah, istri Muhammad bin Saud. Motivasinya agar sang suami menolong dakwah kepada Alquran dan sunnah, Allah balas dengan kokohnya kekuasaan di dunia dan pahala di akhirat insya Allah. Berangkat dari kampung kecil Uyainah, kini kabilah Saud menguasai 2,149,690 km2 luas permukaan bumi dengan kekayaan minyak bumi yang melimpah. Mereka tetap langgeng dan tetap memegang spirit leluhur mereka mendirikan kerajaan. Yakni dengan memperjuangkan Alquran dan sunnah.
Wanita shalihah mereka meraih surga dengan mengabdi pada suami. Kemudian memotivasi suami-suami mereka pula agar menjadikan akhirat sebagai cita-cita tertinggi. Mereka menyenangkan hati dan membuat ridha suami. Akhlak mereka adalah inner beauty yang tidak tertandingi oleh kecantikan fisik yang lebih sering dihargai materi. Memang istri Muhammad bin Saud tidak merasakan kebesaran Arab Saudi saat ini. Ia pula tidak mendapat pamrih dengan nama yang abadi. Namun ia adalah ratu sejati di balik istana Saudi. Allah tidak menyia-nyiakan jasa orang yang berbuat kebaikan.
فَإِنَّ اللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ
“Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Yusuf: 90).
Rahimahumullah al-jami’…
Sumber:
– al-Imam Muhammad bin Abdul Wahab wa ad-Daulah as-Su’udiyah; Durus wa ‘Ibar oleh Faisal bin Qazar al-Jasim.
Oleh Nurfitri Hadi (@nfhadi07)
Artikel www.KisahMuslim.com



https://www.facebook.com/profile.php?id=100004675667868&_

ROMANTISME RASULULLAH TERHADAP ISTRINYA

ROMANTISME RASULULLAH BERSAMA ISTRI-ISTRINYA



Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersikap tawadhu (rendah diri) di hadapan istri-istrinya, sampai-sampai Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallammembantu istri-istrinya dalam menjalankan pekerjaan rumah tangga. Padahal sehari-harinya nabi memiliki kesibukan dan mobilitas yang sangat itnggi menunaikan kewajiban menyampaikan risalah Allah Azza wa Jalla dan kesibukan mengatur kaum muslimin.

Aisyah mengatakan, “Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam sibuk membantu istrinya dan jika tiba waktu salat maka ia pun pergi menunaikannya.”
Imam Al-Bukhari mencantumkan perkataan Aisyah ini dalam dua bab di dalam sahihnya, yaitu Bab Muamalah Seorang (suami) dengan Istrinyadan Bab Seorang Suami Membantu Istrinya.
Urwah bertanya kepada Aisyah, “Wahai Ummul Mukminin, apa yang diperbuat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam jika ia bersamamu di rumah?”, Aisyah menjawab, “Ia melakukan seperti yang dilakukan salah seorang dari kalian jika sedang membantu istrinya, ia memperbaiki sandalnya, menjahit bajunya, dan mengangkat air di ember.”
Dalam Syama’il karya At-Tirmidzi terdapat tambahan, “Dan memerah susu kambingnya…”
Ibnu Hajar menerangkan faidah hadis ini dengan mengatakan, “Hadis ini menganjurkan untuk bersikap rendah hati dan meninggalkan kesombongan dan hendaklah seorang suami membantu istrinya.”
Sebagian suami ada yang merasa rendah diri dan gengsi jika membantu istrinya mencuci, menyelesaikan urusan rumah tangga. Kata mereka, tidak ada istilahnya lagi, nyuci baju sendiri, merapikan rumah yang tidak bersih, dan jahit baju sendiri. Seolah-olah mereka menjadikan istri seorang pembantu dan memang tugasnyalah melayani suami. Apalagi jika mereka adalah para suami berjas berpenampilan necis, pekerjaan seperti ini tentu tidak lauak dan tidak pantas mereka kerjakan. Atau mereka merasa ini hanyalah tugas ibu-ibu dan para suami tidak pantas dan tidak layak untuk melakukannya.
Berikut ini beberapa kisah yang menunjukkan tawadhu’nya Rasulullahshalallahu ‘alaihi wa sallam di hadapan istri-istrinya,
Dari Anas bin Malik ia berkisah, “Suatu saat Nabi halallahu ‘alaihi wa sallam di tempat salah seorang istrinya maka istrinya yang lain mengirim sepiring makanan. Maka istrinya yang sedang bersamanya ini memukul tangan pembantu sehingga jatuhlah piring dan pecah sehingga makanan berhamburan. Lalu Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam mengumpulkan pecahan piring tersebut dan mengumpulkan makanan yang tadinya di piring, beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Ibu kalian cemburu…”
Perhatikanlah, Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam sama sekali tidak marah akibat perbuatan istrinya yang menyebabkan pecahnya piring. Nabi tidak mengatakan, “Lihatlah! makanan berhamburan!!, ayo kumpul makanan yang berhamburan ini!. ini adalah perbuatan mubadzir!” Akan tetapi ia mendiamkan hal tersebut dan membereskan bahkan dengan rendah hati nabi langsung mengumpulkan pecahan piring dan mengumpulkan makanan yang berhamburan, padahal di sampingnya ada seorang pembantu.
Tidak cukup sampai di situ saja, nabi juga memberi alasan untuk membela sikap istrinya tersebut agar tidak dicela. Nabi mengatakan, “Ibu kalian sedang cemburu.”
Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam menghadapi permasalahan rumah tangganya dengan tenang dan bijak, bagaimanapun beratnya permasalahan tersebut. Beliau juga mampu menenangkan istri-istrinya jika timbul kecemburuan diantara mereka. Sebagian suami tidak mampu mengatasi permasalahan istrinya dengan tenang, padahal istrinya tidak sebanyak istri rasulullah dan kesibukannya pun tidak sesibuk rasulullah. Bahkan di antara kita ada yang memiliki istri cuma satu orang pun tak mampu mengatasi permasalaha antara dia dan istrinya.
Ibnu Hajar mengatakan, “Perkataan Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, ‘ibu kalian cemburu’ adalah udzur dari Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam agar apa yang dilakukan istrinya tersebut tidak dicela. Rasulullah memaklumi bahwa sikap tersebut biasa terjadi di antara seorang istri dengna madunya karena cemburu. Rasa cemburu itu memang merupakan tabiat yang terdapat dalam diri (wanita) yang tidak mungkin untuk ditolak.”
Ibnu Hajar juga mengatakan, “Mereka (para pensyarah hadis ini) mengatakan, bahwasanya pada hadis ini ada isyarat untuk tidak menghukum wantia yang cemburu karena sikap kekeliruan yang timbul darinya. Karena tatkala cemburu, akalnya tertutup akibat kemarahan yang dikobarkan oleh rasa cemburu. Abu Ya’la mencatat sebuah hadis dengan sanad yang hasan dari Aisyah secara marfu’
“Wanita yang cemburu tidak bisa membedakan bagian bawah lembah dan bagian atasnya.”
Ibnu Mas’ud meriwayatkan sebuah hadis dari Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam,
“Allah menetapkan rasa cemburu pada para wanita, maka barangsiapa yang sabar terhadap mereka, maka baginya pahala orang mati syahid.” Hadis ini diriwayatkan oleh Al-Bazar dan ia mengisyaratkan akan sahihnya hadis ini. Para perawinya tsiqoh (terpercaya) hanya saja para ulama memperselisihkan kredibilitas seorang perawi yang bernama Ubaid bin AS-Sobbah.
Dari Anas bin Malik, “Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam mendatangi Khaibar, tatkala Allah mengilhamkan rasa tengan dalam jiwanya untuk menaklukkan benteng Khaibar, sampai sebuah kabar kepada beliau tentang kecantikan Shafiah bin Huyai bin Akhthab dan suami Shafiah pada saat itu telah tewas dengan usia pernikahan mereka yang masih dini. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam pun meminangnya untuk menjadi istrinya. Kemudian beliau mengadakan perjalanan pulang menuju Madinah.” Anas melanjutkan, “Aku melihat Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam mempersiapkan kelambu di atas unta untuk Shafiah lalu beliaushalallahu ‘alaihi wa sallam duduk di dekat unta lalu meletakkan lutut, lalu Shafiah menginjakkan kakinya di atas lutut beliau untuk naik di atas unta.” Adakah seorang suami yang mungkin berbuat hanya setengah dari usaha yang dilakukan Rasulullah, seperti membukakan pintu mobil untuk sang istri, membawakan belanjaannya, dsb. Tentunya hal ini tidak banyak kita dapati.
Perhatikanlah perlakuan Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam yang sedemikian tawadhu dan bersikap romantis terhadap istri-istrinya di hadapan orang banyak tanpa rasa gengsi dan canggung. Inilah sebuahqudwah sri teladan untuk para sahabat yang melihat kejadian itu dan untuk kita semua.

ROMANTISME RASULULLAH BERSAMA ISTRI-ISTRINYA

Perhatikan kisah romantisme Rasulullah bersama istrinya Aisyah. Aisyah mengatakan, “Orang-orang Habasyah masuk ke dalam masjid untuk bermain (latihan berpedang), maka Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallambertanya kepadaku ‘wahai khumaira (panggilan saying untuk Aisyah), apakah engkau ingin meihat mereka?’, aku menjawab, ‘iya’. Nabishalallahu ‘alaihi wa sallam lalu berdiri di pintu, lalu aku mendatanginya dan aku letakkan daguku di atas pundaknya kemudian aku sandarkan wajahku di pipinya. (setelah agak lama) Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam pun bertanya, ‘sudah cukup (engkau melihat mereka bermain)’, aku menjawb, ‘wahai Rasulullah, jangan terburu-buru’, lalu beliau (tetap) berdiri untukku agar aku bisa terus melihat mereka. Kemudian ia bertanya lagi, ‘sudah cukup’, aku pun menjawab, ‘wahai Rasulullah, jangan terburu-buru’. Aisyah berkata, ‘Sebenarnya aku tidak ingin terus melihat mereka bermain, akan tetapi aku ingin para wanita tahu bagaimana kedudukan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam di sisiku dan kedudukanku di sisi  Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam
Lihatlah bagaiaman tawadhu-nya Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam untuk berdiri menemani Aisyah menyaksikan permainan orang-orang Habasyah, bahkan beliau terus berdiri hingga memenuhi keinginan Aisyah sebagaimana perkataan Aisyah dalam riwayat yang lain, “Hingga akulah yang bosan (melihat permainan mereka).”
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam tidak segan-segan memberikan waktunya kepada istrinya untuk memenuhi keinginan istrinya karena beliau adalah orang yang paling lembut kepada istri dalam segala hal selama masih dalam perkara-perkara yang mubah.
Renungkanlah kisah yang dituturkan oleh Aisyah berikut ini,
“Kami keluar bersama Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam pada saat safar beliau (untuk melawan kaum Yahudi kabilah bani Mushthaliq), hingga tatkala kami sampai di Al-Baidaa di Dzatulijaisy kalung milikku terputus maka Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam pun berhenti untuk mencari kalung tersebut. Orang-orang yang bersamanya pun ikut berhenti mencari kalung tersebut, padahal mereka tatkala itu tidak dalam keadaan bersuci. Maka orang-orang pun pada berdatangan menemui Abu bakar Ash-Shiddiq dan berkata, ‘Tidakkah engkau lihat apa yang telah diperbuat Aisyah? Ia menyebabkan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dan orang-orang berhenti padahal mereka tidak dalam keadaan suci (dalam keadaan berwudu). Maka Abu Bakar menemuiku dan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam sedang berbaring meletakkan kepalanya di atas pahaku dan buliau telah tertidur. Lalu ia berkata, ‘engkau telah menyebabkan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam berhenti padahal orang-orang dalam keadaan tidak bersuci dan mereka tidak memiliki air’. Aisyah berkata, ‘Abu bakar mencelaku dan berkata dengan perkataannya lalu ia memukul pinggangku dengan tangannya. Dan tidaklah mencegahku untuk bergerak kecuali karena Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam yang sedang tidur di atas pahaku. Lalu Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallambangun tatkala subuh dalam keadaan tidak bersuci lalu Allah turunkan ayat tentang tayammum. Usaid bin Al-Hudhair mengatakan, “Ini bukanlah awal barokah kalian wahai keluarga Abu bakar.” Aisyah berkata, “Lalu kami pun bersiap melanjutkan perjalanan, ternyata kalung itu berada di bawah unta yang aku naiki tadi.”
Lihatlah bagaimana Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallammemberhentikan pasukan perangnya yang sedang berangkat untuk menyerang orang-orang Yahudi hanya untuk mencari kalung Aisyah yang jatuh. Bahkan disebutkan bahwa kalung Aisyah yang hilang itu nilainya murah, ada yang mengatakan nilainya hanya dua belas dirham. Apalagi di tengah malam dan para sahabat dalam keadaan tidak bersuci dan tidak membawa air. Ini semua menunjukkan bagaimana perhatian Rasulullahshalallahu ‘alaihi wa sallam dan tawadhu beliau kepada istri-istrinya.
Sangat disayangkan, sebagian suami sangat pelit terhadap istrinya, bukan hanya pelit terhadap hartanya, bahkan pelit terhadap waktunya. Seakan-akan waktunya sangat berharga sehingga tidak pantas untuk dihabiskan bersama istrinya. Sering kita jumpai, ada suami yang tidak sabar untuk menemani istrinya belanja, jalan-jalan, atau kegiatan-kegiatan santai lainnya.
Sumber: Suami Idaman Istri Pilihan, Firanda, Pustaka Muslim (Dengan penyesuaian bahasa oleh redaksi kisahmuslim.com)
Artikel www.KisahMuslim.com



https://www.facebook.com/profile.php?id=100004675667868&_

Selasa, 12 Mei 2015

KISAH HIKMAH: AMBISI UMAR BIN ABDUL AZIZ “HARI ESOK LEBIH BAIK DARI HARI INI”

Raja’ bin Hayat (seorang menteri Umar bin Abdul Aziz yang ikhlas) bercerita, “Saya pernah bersama Umar bin Abdul Aziz ketika beliau menjadi penguasa Madinah. Beliau mengutus saya untuk membelikan pakaian untuknya. Lantas saya membelikan pakaian untuknya seharga lima ratus dirham. Ketika beliau melihatnya, lantas beliau berkomentar, ‘Ini bagus, tapi sayang harganya murah.’
Dan ketika beliau telah menjadi khalifah, beliau pernah mengutusku untuk membelikan pakaian untuknya. Lalu saya membelikan pakaian untuknya seharga lima dirham. Ketika beliau melihat pakaian tersebut, beliau berkomentar. ‘Ini bagus, hanya saja mahal harganya.”
Raja’ melanjutkan kisahnya, “Tatkala saya mendengar perkataan tersebut kontan saya pun menangis. Lantas Umar bertanya, ‘Apa yang membuatmu menangis, hai Raja’?’ Saya menjawab, ‘Saya teringat pakaianmu beberapa tahun yang lalu dan komentarmu mengenai pakaian tersebut.’ Kemudian Umar mengungkap rahasia hal tersebut kepada Raja’ bin Hayat. Beliau berkata, ‘Wahai Raja’! Sungguh, saya mempunyai jiwa ambisius. Jika saya telah berhasil merealisasikan sesuatu pastilah saya ingin sesuatu yang di atasnya lagi. Saya mempunyai hasrat untuk menikahi putri pamanku, Fatimah binti Abdul Malik. Saya pun berhasil menikahinya. Kemudian saya ingin memegang kepemimpinan. Saya pun berhasil memegang kekuasaan. Kemudian saya ingin memegang khilafah. Saya pun berhasil menjadi khalifah. Dan sekarang wahai Raja’’, saya ingin mendapat surga, maka aku berharap termasuk ahli surga.”
Umar bin Abdul Aziz mendengar kabar bahwa salah seorang putranya membuat cincin dan memasang batu mata cincin seharga seribu dirham. Lantas beliau menulis surat kepada putranya tersebut, “Saya dengar bahwa engkau membeli batu cincin untuk cincinmu seharga seribu dirham. Oleh karena itu, juallah lalu uangnya gunakan untuk membuat kenyang seribu orang yang kelaparan. Buatlah cincin dari besi serta tuliskan di atasnya, “Semoga Allah merahmati orang yang menyadari posisi dirinya sendiri.”
Sumber: Hiburan Orang-orang Shalih, 101 Kisah Segar, Nyata dan Penuh Hik

mah, Pustaka Arafah Cetakan 1

KISAH RASUL MENCIUM TANGAN TUKANG BATU

Sahabat sekalian, apapun profesi anda saat ini, jika anda memang berprofesi atau bekerja dengan baik dan dari rejeki halal insya Allah berkah.
Ada sebuah kalimat di sekitar kita yang mengatakan ” kerja yang penting halal ” dan itu memang benar.
Seberapapun kita mendapat rupiah , asal kita sungguh-sungguh dan di jalan halal, mudah-mudahan dicukupkan segala kebutuhannya dan yang utama adalah barokah.
Seperti yang kita yakini sebagai umat muslim , Rosullullah adalah manusia yang paling mulia dimuka bumi ini. Segala tindak-tanduknya adalah contoh bagi kita umatnya atau bisa disebut Rosullullah adalah Al-Qur’an yang berjalan.
Kita sering mendengar kisah tentang Rosul.Rasulullah Muhammad SAW begitu mencintai umatnya, terutama pada mereka
yang mencari nafkah secara halal. Bahkan,
Rasulullah pun menjamin tidak akan terkena
api neraka bagi mereka, meski nafkah halal itu berasal dari pekerjaan rendahan semacam tukang batu.
Berikut ini adalah kisah teladan dari Rosullullah yang pantas untuk kita simak dan renungkan,
Suatu hari, Rasulullah baru tiba di Madinah
dari peperangan Tabuk, melawan bangsa
Romawi bersama para sahabatnya. Hampir
seluruh sahabat mengikuti peperangan itu,
kecuali mereka yang berhalangan seperti faktor usia dan sebagainya.
Ketika mendekati kota Madinah, Rasulullah
berjumpa dengan seorang tukang batu di salah satu sudut jalan. Ketika itu Rasulullah melihat tangan tukang batu tersebut melepuh, kulitnya merah kehitam-hitaman seperti terpanggang matahari.
Rasulullah kemudian bertanya, “Kenapa
tanganmu kasar sekali?”
Si tukang batu menjawab, “Ya Rasulullah,
pekerjaan saya ini membelah batu setiap hari, dan belahan batu itu saya jual ke pasar, lalu hasilnya saya gunakan untuk memberi nafkah keluarga saya, karena itulah tangan saya kasar.”
Mendengar jawaban itu Rasulullah segera
menggenggam tangan si tukang batu. Sesaat kemudian, Rasulullah mencium telapak tangan yang melepuh tersebut seraya bersabda ,
“Hadzihi yadun la tamatsaha narun abada”,
“Inilah tangan yang tidak akan pernah disentuh oleh api neraka selama-lamanya.”

Sebagai catatan, Rasulullahl tidak pernah mencium tangan para Pemimpin Quraisy, tangan para Pemimpin Khabilah, Raja atau siapapun. Sejarah mencatat hanya putrinya Fatimah Az Zahra dan tukang batu itulah yang pernah dicium oleh Rasulullah.
Padahal tangan tukang batu yang dicium oleh Rasulullah justru tangan yang telapaknya melepuh dan kasar, kapalan, karena membelah batu dan karena kerja keras.
Suatu ketika seorang laki-laki melintas di
hadapan Rasulullah. Orang itu di kenal sebagai pekerja yang giat dan tangkas. Para sahabat kemudian berkata,
“Wahai Rasulullah, andai bekerja seperti dilakukan orang itu dapat digolongkan jihad di jalan Allah (Fi sabilillah), maka alangkah baiknya.” 
Mendengar itu Rasul pun menjawab,
“Kalau ia bekerja untuk menghidupi anak-anaknya yang masih kecil, maka itu fi sabilillah; kalau ia bekerja untuk menghidupi kedua orang tuanya yang sudah lanjut usia, maka itu fi sabilillah; kalau ia bekerja untuk kepentingan dirinya sendiri agar tidak meminta-minta, maka itu fi sabilillah.” (HR Thabrani)
.
* Orang-orang yang pasif dan malas bekerja,
sesungguhnya tidak menyadari bahwa mereka telah kehilangan sebagian dari harga dirinya, yang lebih jauh mengakibatkan kehidupannya menjadi mundur. Rasulullah amat prihatin terhadap para pemalas.
”Maka apabila telah dilaksanakan shalat,
bertebaranlah kam di muka bumi dan carilah
karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung”. (QS. Al-Jumu’ah 10).
”Dan Allah menjadikan bumi untukmu sebagai hamparan, supaya kamu menjalani jalan-jalan yang luas di bumi ini”. (QS-Nuh19-20)
Berikut beberapa hadist tentang mencari rejeki,
”Siapa saja pada malam hari bersusah payah dalam mencari rejeki yang halal, malam itu ia diampuni”. (HR. Ibnu Asakir dari Anas).
”Siapa saja pada sore hari bersusah payah
dalam bekerja, maka sore itu ia diampuni”. (HR. Thabrani dan lbnu Abbas)
”Tidak ada yang lebih baik bagi seseorang yang makan sesuatu makanan, selain makanan dari hasil usahanya. Dan sesungguhnya Nabiyullah Daud, selalu makan dan hasil usahanya”. (HR. Bukhari)
”Barangsiapa yang bekerja keras mencari nafkah untuk keluarganya, maka sama dengan pejuang dijaIan Allah ‘Azza Wa Jalla”. (HR. Ahmad)
”Sesungguhnya di antara dosa-dosa itu, ada yang tidak dapat terhapus dengan puasa dan shalat”.
Maka para sahabat pun bertanya:
“Apakah yang dapat menghapusnya, wahai
Rasulullah?” 
Beliau menjawab:
”Bersusah payah dalam mencari nafkah.” (HR. Bukhari)
Semoga bermanfaat,
Wassallamu’allaikum, …
Sumber : duniaislam.org

Umar bin Khatab

Umar juga pernah mengatakan, “Setiap hari telah dikatakan, telah meninggal dunia fulan dan fulan, dan pasti suatu hari kelak akan dikatakan telah meninggal dunia Umar.”

Sungguh telah benar apa yang Umar katakan, karena setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian, dan Umar pun mengetahui secara yakin bahwa kelak ia akan dibunuh dan syahid di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala, karena Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam telah memberitakan kabar gembira tersebut jauh-jauh hari sebelumnya.

Senin, 11 Mei 2015

KISAH NENEK YANG MEMBENCI MUHAMMAD

Sesungguhnya Kesabaran, Sikap yang Baik dan menahan Amarah akan membawa manfaat yang baik.
Ambillah sebuah pelajaran dari cerita berikut ini,

Dikisahkan bahwa ada seorang wanita tua yang sedang melintasi gurun pasir dengan membawa beban barang bawaannya yang cukup berat. Wanita tua itu tampaknya sangat kepayahan, namun demikian dia tetap berusaha untuk membawa barang bawaannya dengan sekuat tenaga.

Tidak lama kemudian tampak dari kejauhan, seorang laki-laki muda dengan wajah yang sangat tampan datang menemui wanita tua itu. Laki-laki itu menawarkan diri kepada wanita tua tersebut untuk membantu membawa barang bawaannya dan wanita tua yang sedang kepayahan itu menerima tawaran tersebut dengan segala senang hati. Kemudian laki-laki itu pun mengangkat dan membawa barang bawaan wanita tua itu, lalu mereka berjalan beriringan.
Dalam perjalanan, wanita tua ini banyak bicara dan ternyata dia adalah seorang wanita yang senang berbicara.

“ Anak muda, senang sekali kamu mau membantu dan menemani saya dan saya sangat menghargainya ”, kata wanita itu.
Laki-laki itu hanya tersenyum mendengar ucapan wanita tua itu dan kemudian wanita tua itu berkata lagi : “ Anak muda, selama kita berjalan bersama, saya hanya punya satu permintaan untuk kamu. Janganlah kamu sekali-kali berbicara apapun tentang Muhammad, karena gara-gara dia, tidak ada lagi rasa damai dan saya merasa sangat terganggu dengan pemikirannya. Jadi sekali lagi saya minta kepada kamu, jangan berbicara apapun tentang Muhammad ”.
Laki-laki itu kembali tersenyum dan dengan sabar dia terus mendengarkan perkataan wanita tua itu. Wanita tua itu lalu melanjutkan perkataannya lagi :

“ Muhammad itu benar-benar membuat saya kesal. Saya selalu mendengar nama dan reputasinya kemanapun saya pergi. Dia dikenal berasal dari keluarga dan suku yang terpercaya, akan tetapi tiba-tiba dia memecah belah orang-orang dengan mengatakan bahwa Tuhan itu satu ”.

“ Dia menjerumuskan orang yang lemah, orang miskin dan budak-budak. Orang-orang itu berpikir mereka akan dapat menemukan kekayaan dan kebebasan dengan mengikuti jalannya. Dia merusak anak-anak muda dengan memutarbalikkan kebenaran. Dia meyakinkan mereka bahwa mereka kuat dan bahwa ada suatu tujuan yang bisa diraih. Jadi anak muda, jangan sekali-kali kamu berbicara tentang Muhammad”, kata wanita tua itu lagi dengan nada yang kesal.

Tidak lama kemudian setelah mereka berjalan, sampailah mereka di tempat tujuan. Laki-laki itu lalu menurunkan barang bawaannya dan wanita tua tersebut menatap laki-laki itu dengan senyumannya sambil berkata : “ Terima kasih banyak, anak muda. Kamu sangat baik. Kemurahan hati dan senyuman kamu itu sangat jarang saya temukan. Biarkan saya memberi satu nasihat untuk kamu, jauhi Muhammad!. Jangan pernah memikirkan kata-katanya atau mengikuti jalannya. Kalau kamu lakukan itu, maka kamu tidak akan pernah mendapatkan ketenangan. Yang ada hanya masalah.”
Laki-laki itu masih saja tersenyum ketika mendengarkan ucapan dan nasehat dari wanita tua itu. Kemudian laki-laki itu mohon diri untuk meninggalkan wanita tua itu, namun pada saat laki-laki itu berbalik menjauh, wanita itu menghentikannya : “ Maaf, sebelum kita berpisah, bolehkah saya tahu siapa namamu, anak muda?”.
Laki-laki itu kembali tersenyum kemudian dengan lembut memberitahukan namanya dan ternyata wanita itu sangat terkejut ketika laki-laki itu menyebutkan namanya.

“ Maaf, apa yang kamu bilang tadi? Kata-kata kamu tidak terdengar jelas. Telinga saya semakin tua dan terkadang saya tidak bisa mendengar dengan baik. Kelihatannya ada yang lucu, karena saya pikir tadi saya mendengar kamu mengucapkan Muhammad ”.
“ Iya, Saya Muhammad ”, laki-laki itu mengulang kata-katanya lagi kepada wanita tua itu. Wanita tua itu terpaku memandangi Rasulullah SAW dan tidak lama kemudian tiba-tiba meluncur kata-kata dari mulutnya :

“ Aku bersaksi tiada tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah utusan-Nya “.
_____________________________________________________________
Subhanallah…Allahu Akbar….itulah Rasulullah SAW, betapa agung dan mulianya pribadi beliau. Dengan kesabaran dan kewibawaannya yang luar biasa, Rasulullah SAW sanggup mengubah hati seorang wanita tua yang tadinya sangat membencinya, tapi kini menjadi sangat mencintainya hanya dalam waktu yang singkat.
Allahumma Sholli ‘ala Muhammad Wa’ala Ali Muhammad

http://hamdanisekumpul.blogspot.com/2013/07/kisah-nenek-yang-membenci-muhammad.html