Selasa, 09 Juni 2015

Amalan yang Paling Banyak Memasukkan Kita ke Surga



Yang paling banyak memasukkan seseorang ke dalam surga ada dua amalan yaitu taqwa dan akhlak yang baik.

Yang terakhir di atas yang amat jarang ditemukan, bahkan pada orang-orang yang sudah kenal agama. Ada yang sudah lama ngaji, sudah sekian lama duduk di majelis ilmu, namun ia adalah orang yang sering lalaikan amanat. Dengan tampilannya yang jenggotan, namun terlihat sangar (tidak murah senyum) dan kasar. Seolah-olah yang dipentingkan adalah penampilan lahiriyah tanpa memperhatikan akhlak yang santun, amanat dan lemah lembut. Padahal seharusnya dengan rajinnya menuntut ilmu dan sudah menjalankan ajaran Rasul semakin terbimbing pada akhlak yang baik. Karena taqwa dan akhlak baik itulah yang mengantarkan pada surga.


Dari Abu Hurairah, ia berkata,

سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَنْ أَكْثَرِ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ الْجَنَّةَ فَقَالَ « تَقْوَى اللَّهِ وَحُسْنُ الْخُلُقِ ». وَسُئِلَ عَنْ أَكْثَرِ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ النَّارَ فَقَالَ « الْفَمُ وَالْفَرْجُ »

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya mengenai perkara yang banyak memasukkan seseorang ke dalam surga, beliau menjawab, “Taqwa kepada Allah dan berakhlak yang baik.” Beliau ditanya pula mengenai perkara yang banyak memasukkan orang dalam neraka, jawab beliau, “Perkara yang disebabkan karena mulut dan kemaluan.” (HR. Tirmidzi no. 2004 dan Ibnu Majah no. 4246. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih).

Maksud Taqwa

 

Taqwa asalnya adalah menjadikan antara seorang hamba dan seseutu yang ditakuti suatu penghalang. Sehingga taqwa kepada Allah berarti menjadikan antara hamba dan Allah suatu benteng yang dapat menghalangi dari kemarahan, murka dan siksa Allah. Taqwa ini dilakukan dengan melaksanakan perintah dan menjauhi maksiat.

Namun taqwa yang sempurna kata Ibnu Rajab Al Hambali adalah dengan mengerjakan kewajiban, meninggalkan keharaman dan perkara syubhat, juga mengerjakan perkara sunnah, dan meninggalkan yang makruh. Inilah derajat taqwa yang paling tinggi.

Al Hasan Al Bashri berkata,
المتقون اتَّقَوا ما حُرِّم عليهم ، وأدَّوا ما افْتُرِض عليهم

“Orang yang bertaqwa adalah mereka yang menjauhi hal-hal yang diharamkan dan menunaikan berbagai kewajiban.”

‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz berkata,

ليس تقوى الله بصيام النهار ، ولا بقيام الليل ، والتخليطِ فيما بَيْنَ ذلك ، ولكن تقوى اللهِ تركُ ما حرَّم الله ، وأداءُ ما افترضَ الله ،فمن رُزِقَ بعد ذلك خيراً ، فهو خيرٌ إلى خير

“Taqwa bukanlah hanya dengan puasa di siang hari atau mendirikan shalat malam, atau melakukan kedua-duanya. Namun taqwa adalah meninggalkan yang Allah haramkan dan menunaikan yang Allah wajibkan. Siapa yang setelah itu dianugerahkan kebaikan, maka itu adalah kebaikan pada kebaikan.”

Tholq bin Habib mengatakan,

التقوى أنْ تعملَ بطاعةِ الله ، على نورٍ من الله ، ترجو ثوابَ الله ، وأنْ تتركَ معصيةَ الله على نورٍ من الله تخافُ عقابَ الله

“Taqwa berarti engkau menjalankan ketaatan pada Allah atas petunjuk cahaya dari Allah dan engkau mengharap pahala dari-Nya. Termasuk dalam taqwa pula adalah menjauhi maksiat atas petunjuk cahaya dari Allah dan engkau takut akan siksa-Nya.”

Ibnu Mas’ud ketika menafsirkan ayat bertaqwalah pada Allah dengan sebenar-benarnya taqwa yang terdapat dalam surat Ali Imran ayat 102, beliau berkata,

أنْ يُطاع فلا يُعصى ، ويُذكر فلا ينسى ، وأن يُشكر فلا يُكفر

“Maksud ayat tersebut adalah Allah itu ditaati, tidak bermaksiat pada-Nya. Allah itu terus diingat, tidak melupakan-Nya. Nikmat Allah itu disyukuri, tidak diingkari.” (HR. Al Hakim secara marfu’, namun mauquf lebih shahih).

Yang dimaksud bersyukur pada Allah adalah dengan melakukan ketaatan pada-Nya.

Adapun maksud mengingat Allah dan tidak melupakan-Nya adalah selalu mengingat Allah dengan hati pada setiap gerakan dan diamnya, begitu saat berucap. Semuanya dilakukan hanya untuk meraih pahala dari Allah. Begitu pula larangan-Nya pun dijauhi. (Lihat Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, 1: 397-402)

Maksud Akhlak yang Baik

 

Dalam hadits Abu Dzar disebutkan,

اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

Bertaqwalah kepada Allah di mana saja engkau berada. Ikutilah kejelekan dengan kebaikan niscaya ia akan menghapuskan kejelekan tersebut dan berakhlaklah dengan manusia dengan akhlak yang baik.” (HR. Tirmidzi no. 1987 dan Ahmad 5/153. Abu ‘Isa At Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih)

Ibnu Rajab mengatakan bahwa berakhlak yang baik termasuk bagian dari taqwa. Akhlak disebutkan secara sendiri karena ingin ditunjukkan pentingnya akhlak. Sebab banyak yang menyangka bahwa taqwa hanyalah menunaikan hak Allah tanpa memperhatikan hak sesama. (Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, 1: 454).

Bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan akhlak yang baik sebagai tanda kesempurnaan iman. Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
 
أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا
Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya.” (HR. Abu Daud no. 4682 dan Ibnu Majah no. 1162. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan)

Akhlak yang baik (husnul khuluq) ditafsirkan oleh para salaf dengan menyebutkan beberapa contoh. 

Al Hasan Al Bashri mengatakan,

حُسنُ الخلق : الكرمُ والبذلة والاحتمالُ
“Akhlak yang baik adalah ramah, dermawan, dan bisa menahan amarah.”

Asy Sya’bi berkata bahwa akhlak yang baik adalah,

البذلة والعطية والبِشرُ الحسن ، وكان الشعبي كذلك

“Bersikap dermawan, suka memberi, dan memberi kegembiraan pada orang lain.” Demikianlah Asy Sya’bi, ia gemar melakukan hal itu.

Ibnul Mubarok mengatakan bahwa akhlak yang baik adalah,

هو بسطُ الوجه ، وبذلُ المعروف ، وكفُّ الأذى

“Bermuka manis, gemar melakukan kebaikan dan menahan diri dari menyakiti orang lain.”

Imam Ahmad berkata,

حُسنُ الخلق أنْ لا تَغضَبَ ولا تحْتدَّ ، وعنه أنَّه قال : حُسنُ الخلق أنْ تحتملَ ما يكونُ من الناس

“Akhlak yang baik adalah jangan engkau marah dan cepat naik darah.” Beliau juga berkata, 

“Berakhlak yang baik adalah bisa menahan amarah di hadapan manusia.”

Ishaq bin Rohuwyah berkata tentang akhlak yang baik,

هو بسطُ الوجهِ ، وأنْ لا تغضب

“Bermuka manis dan jangan marah.” (Lihat Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, 1: 457-458).

Semoga Allah mengaruniakan kepada kita sifat taqwa dan akhlak yang mulia. Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah.

Sumber: rumaysho

Wanita Itu Indah Namun Bisa Menjadi Petaka


Wanita bagaikan mawar berduri. Indah namun bisa juga membuat jari kita berdarah

Allah ta’ala telah menganugerahkan kepada kaum wanita keindahan yang membuat kaum lelaki tertarik kepada mereka. Namun syariat yang suci ini tidak memperkenankan keindahan itu diobral seperti layaknya barang dagangan di etalase atau di emperan toko. Tapi kenyataan yang kita jumpai sekarang ini wanita justru menjadi sumber fitnah bagi laki-laki. Di jalan-jalan, di acara TV atau di VCD para wanita mengumbar aurat seenaknya bak kontes kecantikan yang melombakan keindahan tubuh, sehingga seolah-olah tidak ada siksa dan tidak kenal apa itu dosa. Benarlah sabda Rasulullah yang mulia dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, di mana beliau bersabda, “Tidak pernah kutinggalkan sepeninggalku godaan yang lebih besar bagi kaum lelaki daripada wanita.” (HR. Bukhari Muslim)

Ya, begitulah realitasnya, wanita menjadi sumber godaan yang telah banyak membuat lelaki bertekuk lutut dan terbenam dalam lumpur yang dibuat oleh syaitan untuk menenggelamkannya. Usaha-usaha untuk menggoda bisa secara halus, baik disadari maupun tidak, secara terang-terangan maupun berkedok seni. Tengoklah kisah Nabi Allah Yusuf ‘alaihis salam tatkala istri pembesar Mesir secara terang-terangan menggoda Beliau untuk diajak melakukan tindakan tidak pantas. Nabi Yusuf pun menolak dan berkata, “Aku berlindung kepada Allah, sungguh tuanku telah memperlakukanku dengan baik.” (QS. Yusuf: 23)

Muhammad bin Ishaq menceritakan, As-Sirri pernah lewat di sebuah jalan di kota Mesir. Karena tahu dirinya menarik, wanita ini berkata, “Aku akan menggoda lelaki ini.” Maka wanita itu membuka wajahnya dan memperlihatkan dirinya di hadapan As-Sirri. Beliau lantas bertanya, “Ada apa denganmu?” Wanita itu berkata, “Maukah anda merasakan kasur yang empuk dan kehidupan yang nikmat?” Beliau malah kemudian melantunkan syair,”Berapa banyak pencandu kemaksiatan yang mereguk kenikmatan dari wanita-wanita itu, namun akhirnya ia mati meninggalkan mereka untuk merasakan siksa yang nyata. Mereka menikmati kemaksiatan yang hanya sesaat, untuk merasakan bekas-bekasnya yang tak kunjung sirna. Wahai kejahatan, sesungguhnya Allah melihat dan mendengar hamba-Nya, dengan kehendak Dia pulalah kemaksiatan itu tertutupi jua.” (Roudhotul Muhibbin wa Nuzhatul Musytaqin, karya Ibnul Qayyim)

Perhatikanlah bagaimana Rasulullah telah mewanti-wanti kepada kita sekalian lewat sabda beliau, “Hati-hatilah pada dunia dan hati-hatilah pada wanita karena fitnah pertama bagi Bani Isroil adalah karena wanita.” (HR. Muslim) Kini, di era globalisasi, ketika arus informasi begitu deras mengalir, godaan begitu gampang masuk ke rumah-rumah kita. Cukup dengan membuka surat kabar dan majalah, atau dengan mengklik tombol remote control, godaan pun hadir di tengah-tengah kita tanpa permisi, menampilkan wanita-wanita yang berpakaian tapi telanjang, berlenggak-lenggok memamerkan aurat yang semestinya dijaga.

Lalu, sebagian muslimah ikut-ikutan terbawa oleh propaganda gaya hidup seperti ini. Pakaian kehormatan dilepas, diganti dengan pakaian-pakaian ketat yang membentuk lekuk tubuh, tanpa merasa risih. Godaan pun semakin kencang menerpa, dan pergaulan bebas menjadi hal biasa. Maka, kita perlu merenungkan dua bait syair yang diucapkan oleh Sufyan Ats-Tsauri: “Kelezatan-kelezatan yang didapati seseorang dari yang haram, toh akan hilang juga, yang tinggal hanyalah aib dan kehinaan, segala kejahatan akan meninggalkan bekas-bekas buruk, sungguh tak ada kebaikan dalam kelezatan yang berakhir dengan siksaan dalam neraka.”

Seorang ulama yang masyhur, Ibnul Qayyim pun memberikan nasihat yang sangat berharga: “Allah Subhanahu wa ta’ala telah menjadikan mata itu sebagai cerminan hati. Apabila seorang hamba telah mampu meredam pandangan matanya, berarti hatinya telah mampu meredam gejolak syahwat dan ambisinya. Apabila matanya jelalatan, hatinya juga akan liar mengumbar syahwat…”
Wallahul Musta’an.

Penulis: Abu Harun Aminuddin dari http://www.muslim.or.id. Dipublikasikan kembali olehbelumpernahada.wordpress.com/

Menghargai Sebutir Nasi











Hidup ini harus dihargai, sama seperti kita menghargai sebutir nasi. Apa yang saya lihat kemarin merupakan suatu kesedihan, menjadi pikiran saya selama beberapa hari hanya karena seseorang membuang nasi ke dalam tong sampah.
Bukan ingin memuji diri sendiri, tapi saya memang menempatkan diri sebagai sebutir nasi, itu sebabnya saya berusaha untuk tidak membuang sebutir nasi pun. Ketika sedang menanak nasi, saya usahakan semua beras masuk ke dalam panci, jangan sampai ada yang terbuang. Ketika sedang mengambil nasi, saya usahakan untuk tidak menjatuhkan sebutir nasi pun. Ketika selesai makan pun saya berusaha membersihkan piring dari sisa-sisa nasi sehingga piring menjadi bersih, bukan hanya piring, jari-jari pun tidak luput saya seruput dari sisa nasi. Itulah pengabdian sederhana saya kepada sebutir nasi.
Maka terbayang bagi Anda bila saya melihat orang lain membuang nasi dengan seenaknya. Sedih? Tentu saja karena membayangkan betapa beratnya pekerjaan seorang petani untuk menghasilkan beras dan betapa sulitnya orang-orang untuk membeli beras, membuat saya semakin menghargai sebutir nasi. Tetapi mengapa bagi sebagian orang betapa mudahnya membuang nasi? Entahlah, saya juga tidak tahu.
Pada hakekatnya membuang nasi atau makanan lainnya merupakan tindakan pemubaziran, membuang-buang rezeki yang diberikan oleh Allah SWT. Banyak macam himbauan yang menyebarkan informasi tentang sulitnya orang-orang mendapatkan makanan, kelaparan, bahkan hingga meninggal karena laparnya, tetapi banyak juga orang yang hanya merasa kasihan dan tidak berbuat apa pun untuk lebih menghargai makanan.
Di sudut sana ada orang-orang yang sedang terlilit kesulitan dan menderita kelaparan, mengais-ngais di antara sisa-sisa makanan, mengonsumsi nasi aking yang tidak ada gizinya sama sekali, atau memakan tumbuhan lainnya sebagai pengganti makanan pokok. Sedangkan di sudut sana, orang-orang dengan ceria makan di tempat mewah, memesan segala bentuk makanan yang tidak hanya bergizi tapi juga bernilai ekonomis tinggi, dan mereka tidak perlu susah payah untuk mendapatkan makanan kesukaannya, tinggal telepon, menggesek kartu atau membayar dengan tunai, dan kemudian langsung menyantapnya.
Dunia ini memang selalu berada di dua sisi yang berbeda, saling membelakangi, saling mencemburui, saling berkompetisi, dan harus ekstra keras untuk saling melengkapi. Bagaikan pandangan yang berbeda dari setiap orang tentang sebutir nasi. Kumpulan nasi yang tersedia di atas piring, tinggal disantap untuk mengenyahkan rasa lapar menjadi kumpulan berkah yang akan masuk menjalari darah, atau menjadi kesia-siaan dan kemubaziran semata.
Kembali kepada Anda, bagaimana pandangan Anda terhadap sebutir nasi. Saya jadi ingat tentang kalimat pendek yang sering diucapkan oleh orang tua dulu ketika saya kecil dan sedang disuapi makan, "Ayo habiskan nasinya. Kalau tidak habis nanti nasinya nangis lho". Saya mengerti sekarang, bila kita tidak menghabiskan nasi maka dia benar-benar akan menangis, dan saya juga ikutan menangis. Jadi, bila Anda benar-benar ingin berubah, benar-benar ingin menghargai sebutir nasi, dan bukan hanya karena rasa kasihan sementara waktu, maka berusahalah untuk memakan semua nasi yang ada di piring Anda, bila perlu jangan sisakan sebutir nasi pun pada sendok atau tangan Anda.
Salam sejahtera semuanya, ingatlah untuk menghargai makanan apa pun yang Anda makan setiap hari.
Sumber: kaskus

Membuat Seseorang Dikenang

Inilah Satu Hal yang Akan Membuat Seseorang Dikenang


Assalammu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.Sikap dan sifat gemar berbagi kebaikan dan manfaat, sikap dan sifat yang senantiasa peduli dengan lingkungan yang ada, semakin lama semakin sulit kita temukan dalam kehidupan bermasyarakat. Masih ada dan masih banyak manusia dengan sikap dan sifat seperti itu, namun jumlahnya semakin tergerus perubahan zaman yang memunculkan banyaknya pribadi-pribadi yang individualistis, kurang peduli dengan sesama, pribadi egois.

Manusia terlahir dalam keadaan putih bersih. Seiring pertumbuhannya, dari kecil hingga beranjak dewasa dan seterusnya, masing-masing manusia punya potensi menjadi orang baik dan juga orang tidak baik. Video di atas merupakan contoh ketika seorang manusia memilih opsi untuk berusaha menjadi orang yang baik dan bermanfaat bagi orang lain, bahkan bagi hewan dan tumbuhan sekalipun. Kebaikan yang dilakukan dengan ketulusan hati terhadap orang lain, niscaya akan membawa kebaikan pula kepada pelakunya, minimal akan mendatangkan perasaan yang bahagia saat kita melakukannya. Saat berbagi kebaikan dan manfaat membuat perasaan kita bahagia, maka hidup kita akan semakin lebih baik. Dan percayalah sekecil apapun kebaikan yang kita perbuat di alam semesta ini, baik terhadap manusia, hewan, tumbuhan dan lingkungan yang ada, Allah Subhanahu wa Ta'ala pasti akan membalasnya dengan berbagai kebaikan di dunia maupun di akhirat.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :


"Barangsiapa yang beramal kebaikan walau seberat biji dzarroh pun niscaya dia akan melihat balasannya, dan barangsiapa yang mengerjakan keburukan seberat dzarah pun, niscaya dia akan melihat balasannya pula” (QS. Al-Zalzalah: 7-8)

Seseorang akan gemar melakukan kebaikan, gemar berbagi dan memberi manfaat bagi orang lain, apabila ia memiliki hati yang baik dan sikap taqwa. Saya pernah bertanya kepada salah satu ustadz, seperti ini: "Ustadz.. jika saya masih memendam cita-cita untuk menjadi orang yang kaya raya, bagaimana pendapat ustadz tentang cita-cita saya ini?". Ustadz pun menjawab: "Masya Allah, bagus sekali cita-cita kamu. Namun ingat, seorang yang kaya hendaknya dia memiliki sebuah bekal utama yaitu taqwa. Dengan ketaqwaan kepada Allah 'Azza wa Jalla, maka kekayaannya akan mendatangkan kebaikan baginya. Namun jika kaya saja tanpa disertai taqwa,naudzubillah min dzalik, kekayaan yang ada akan menjatuhkannya dalam azab yang perih. Ketika seseorang memiliki ketaqwaan, dalam kondisi miskin, sederhana, berkecukupan, ataupun kaya raya akan memberikannya kebaikan, bahkan bukan hanya untuk dirinya sendiri namun juga untuk orang lain. Jika kamu kelak kaya raya namun dengan berbekal taqwa, ketika tetanggamu sakit, kamu akan antarkan ke rumah sakit atau dokter dengan mobilmu, ketika ada tetanggamu yang fakir, kamu akan santuni dengan sebagaian rezeki yang Allah titipkan, ketika ada anak yatim piatu, kamu akan menyantuni dan menyayanginya dengan baik, ketika ada tetanggamu yang sakit, kamu akan menjenguk dan mendoakannya, dan berbagai kebaikan yang lainnya."

Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam beliau bersabda, yang artinya: "Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain." (HR. Ahmad, Thabrani. Hadits shahih.)

Kebaikan apa yang sudah kita perbuat hari ini bagi orang lain? Berbagilah kebaikan dengan sesama, minimal dengan senyum yang ramah dan penuh keikhlasan. Seperti yang ada pada video di atas, banyak cara yang dapat kita lakukan untuk berbuat baik. Jangan lupa berbuat kebaikan pula ketika kita sedang berada di jejaring sosial! Buatlah status yang bermanfaat jika bisa, tulislah komentar-komentar yang bermanfaat dan membawa nilai-nilai positif. Jangan sampai menjadi manusia tercela dengan gemar membuat status-status kemaksiatan seperti konten-konten porno, membuat komentar-komentar berbau pelecehan SARA yang menyakiti orang atau pihak lain, dan hal-hal buruk yang semisalnya. Ketika kita menyebarkan kebaikan, maka pahala yang melimpah akan tercurahkan kepada kita dari sekian banyak orang yang mengambil kebaikan tersebut, terlebih jika orang-orang tersebut menyebarkan kebaikan yang bersumber dari kita , maka akan bertambah lagi pahala kita. Sebaliknya, ketika kita menyebarkan maksiat dan dosa, maka akan berlipat-lipat pula lah dosa yang harus kita tanggung atas kemudharatan yang kita sebarkan.

MISKIN HARTA BISA BERJUANG, ASAL JANGAN SAMPAI MISKIN HATI! HIDUP KITA HANYA SEKALI, JADIKAN HIDUP LEBIH BERARTI!

Sumber: kaskus

10 HARI MENUJU RAMADHAN

Mohon Maafkan Jika Saya Khilaf pada Anda semua
10 Hari lagi Kita akan puasa
Jangan kuatir, Apapun Khilaf yg Anda lakukan pada Saya sudah saya Maafkan semuanya

Senin, 08 Juni 2015

Tersembunyi dari Pengetahuan Manusia

Tak ada yang lebih gusar melebihi makhluk Allah yang bernama gula pasir. Pemanis alami dari olahan tumbuhan tebu ini membandingkan dirinya dengan makhluk sejenisnya yang bernama sirup.

Masalahnya sederhana. Gula pasir merasa kalau selama ini dirinya tidak dihargai manusia. Dimanfaatkan, tapi dilupakan begitu saja. Walau ia sudah mengorbankan diri untuk memaniskan teh panas, tapi manusia tidak menyebut-nyebut dirinya dalam campuran teh dan gula itu. Manusia cuma menyebut, "Ini teh manis." Bukan teh gula. Apalagi teh gula pasir.

Begitu pun ketika gula pasir dicampur dengan kopi panas. Tak ada yang mengatakan campuran itu dengan ‘kopi gula pasir’, melainkan, kopi manis. Hal yang sama ia alami ketika dirinya dicampur berbagai adonan kue dan roti.

Gula pasir merasa kalau dirinya cuma dibutuhkan, tapi kemudian dilupakan. Ia cuma disebut manakala manusia butuh. Setelah itu, tak ada penghargaan sedikit pun. Tak ada yang menghargai pengorbanannya, kesetiaannya, dan perannya yang begitu besar sehingga sesuatu menjadi manis. Berbeda sekali dengan sirup.

Dari segi eksistensi, sirup tidak hilang ketika bercampur. Warnanya masih terlihat. Manusia pun mengatakan, "Ini es sirup." Bukan es manis. Bahkan tidak jarang sebutan diikuti dengan jati diri yang lebih lengkap, "Es sirup mangga, es sirup lemun, kokopandan, " dan seterusnya.

Gula pasir pun akhirnya bilang ke sirup, "Andai aku seperti kamu." 

Sosok gula pasir dan sirup merupakan pelajaran tersendiri buat mereka yang giat berbuat banyak untuk umat. Sadar atau tidak, kadang ada keinginan untuk diakui, dihargai, bahkan disebut-sebut namanya sebagai yang paling berjasa. Terkadang tatkala kita melakukan bersedekah, ada keinginan agar orang melihat bahwa kita yang paling banyak bersedekah. Ketika membantu orang lain, ada rasa untuk dipuji dan disanjung-sanjung. Persis seperti yang disuarakan gula pasir.

Kalau saja gula pasir paham bahwa sebuah kebaikan kian bermutu ketika tetap tersembunyi. Kalau saja gula pasir sadar bahwa setinggi apa pun sirup dihargai, toh asalnya juga dari gula pasir. Kalau saja para pegiat kebaikan memahami kekeliruan gula pasir, tidak akan ada ungkapan, "Andai aku seperti sirup!"
 
Hal ini juga sesuai dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْعَبْدَ التَّقِىَّ الْغَنِىَّ الْخَفِىَّ

“Sesungguhnya Allah mencintai hamba yang bertakwa, hamba yang hatinya selalu merasa cukup dan yang suka mengasingkan diri.”Mengasingkan diri berarti amalannya pun sering tidak ditampakkan pada orang lain.

Ibnul Mubarok mengatakan, “Jadilah orang yang suka mengasingkan diri (sehingga amalan mudah tersembunyi), dan janganlah suka dengan popularitas.”

Az Zubair bin Al ‘Awwam mengatakan, “Barangsiapa yang mampu menyembunyikan amalan shalehnya, maka lakukanlah.”

Ibrahim An Nakho’i mengatakan, “Kami tidak suka menampakkan amalan shaleh yang seharusnya disembunyikan.”

Sufyan bin ‘Uyainah mengatakan bahwa Abu Hazim berkata, “Sembunyikanlah amalan kebaikanmu sebagaimana engkau menyembunyikan amalan kejelekanmu.”

Al Fudhail bin ‘Iyadh mengatakan, “Sebaik-baik ilmu dan amal adalah sesuatu yang tidak ditampakkan di hadapan manusia.”

Basyr Al Hafiy mengatakan, “Tidak selayaknya orang-orang semisal kita menampakkan amalan shaleh walaupun hanya sebesar dzarroh (semut kecil). Bagaimana lagi dengan amalan yang mudah terserang penyakit riya’?”

Imam Asy Syafi’i mengatakan, “Sudah sepatutnya bagi seorang alim memiliki amalan rahasia yang tersembunyi, hanya Allah dan dirinya saja yang mengetahuinya. Karena segala sesuatu yang ditampakkan di hadapan manusia akan sedikit sekali manfaatnya di akhirat kelak.”

Ar Robi bin Khutsaim –murid ‘Abdullah bin Mas’ud- tidak  pernah mengerjakan shalat sunnah di masjid kaumnya kecuali hanya sekali saja.Ayub As Sikhtiyaniy memiliki kebiasaan bangun setiap malam. Ia pun selalu berusaha menyembunyikan amalannya. Jika waktu shubuh telah tiba, ia pura-pura mengeraskan suaranya seakan-akan ia baru bangun ketika itu.

Dan di antara golongan yang mendapatkan naungan Allah di hari kiamat nanti adalah,
وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لاَ تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ

Seseorang yang bersedekah kemudian ia menyembunyikannya sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang disedekahkan oleh tangan kanannya.” (HR. Bukhari no. 1423 dan Muslim no.1031,dari Abu Hurairah).

Contoh yang mempraktekan hadits di atas adalah ‘Ali bin Al Husain bin ‘Ali. Beliau biasa memikul karung berisi roti setiap malam hari. Beliau pun membagi roti-roti tersebut ke rumah-rumah secara sembunyi-sembunyi. Beliau mengatakan,
إِنَّ صَدَقَةَ السِّرِّ تُطْفِىءُ غَضَبَ الرَّبِّ عَزَّ وَ جَلَّ

Sesungguhnya sedekah secara sembunyi-sembunyi akan meredam kemarahan Rabb ‘azza wa jalla.
Penduduk Madinah tidak mengetahui siapa yang biasa memberi mereka makan. Tatkala ‘Ali bin Al Husain meninggal dunia, mereka sudah tidak lagi mendapatkan kiriman makanan setiap malamnya. Di punggung Ali bin Al Husain terlihat bekas hitam karena seringnya memikul karung yang dibagikan kepada orang miskin Madinah di malam hari. Subhanallah, kita mungkin sudah tidak pernah melihat makhluk semacam ini di muka bumi ini lagi.
Semoga Allah memudahkan kita untuk beramal secara sembunyi-sembunyi dan menghilangkan sifat ingin disanjung dan menerima pengakuan dari orang lain. Aamiin.
Referensi : rumaysho dan eramuslim

Pandangan Pria dan Perangkap Setan




Di penghujung zaman yang semakin sepi ini, perangkap-perangkap setan kian canggih dan modern. Ujian dan godaan para pengikut shirathal mustaqiim kian mengepung, baik di dunia nyata maupun di dunia maya. Harta, tahta, dan wanita adalah godaan yang mengggiurkan itu. Mungkin banyak diantara orang-orang shaleh atau para penggerak dakwah tidak bergeming dengan jebakan harta dan kekuasaan akan tetapi bisa jadi mereka tidak tahan dan akhirnya tergelincir dengan provokasi keindahan wanita atau pun sebaliknya. Maka bersyukurlah kaum Adam yang bisa lolos dari tiga jenis godaan yang mematikan ini.

Setan dalam menggoda manusia memiliki berbagai macam strategi, dan yang sering dipakai adalah dengan memanfaatkan hawa nafsu, yang memang memiliki kecenderungan mengajak kepada keburukan (ammaratun bissu’). Setan tahu persis kecenderungan nafsu kita, dia terus berusaha agar manusia keluar dari garis yang telah ditentukan Allah, termasuk memandangi lawan jenis yang bukan muhrimnya hingga menimbulkan syahwat.

Secara naluri, fitrah manusia memang menyukai keindahan dan memandanginya dengan penuh takjub. Tetapi disinilah peluang fitnahnya. Seperti dalam kisah keindahan rupa Nabi Yusuf as. Yang mampu menghipnotis para wanita istana kala itu. Karena tak tahan, Zulaiha sang permaisuri kerajaan membuat konspirasi untuk menjebak Nabi Yusuf agar mau berzina. Di satu sisi, ketampanan dan kecantikan rupa adalah anugerah yang harus di syukuri, tapi di sisi lain bisa menjadi pintu syaitan untuk mengelabui manusia supaya terjerumus ke lumpur kemaksiatan.

Menurut informasi, jumlah populasi wanita di dunia ini lebih banyak dibanding dengan pria. Konon kabarnya 10:1. Artinya 1 pria diperebutkan 10 wanita. Fenomena ini tentunya, mau tidak mau menimbulkan polemik. Senada dengan itu, Rasulullah Saw. bersabda, “Engkau akan melihat seorang laki-laki diikuti oleh empat puluh wanita, yang tak lain hal ini disebabkan oleh sedikitnya jumlah laki-laki dan banyaknya jumlah wanita”. (HR. Bukhari).

Banyaknya jumlah populasi wanita dan dibarengi tingkah-polahnya mengundang mata kaum pria untuk melotot. Hal inilah yang menjadikan kaum laki-laki harus berjuang ekstra keras, melawan hawa nafsu dan bisikan setan yang berseliweran. Apalagi di zaman sekarang banyak sekali wanita yang tidak menutup aurat di tempat-tempat umum.

Seperti yang dirasakan pemuda tetangga saya, setiap kali melangkahkan kaki ke luar rumah, di dalam angkutan umum, di bis kota, di pinggiran jalan, dan di tempat umum lainnya secara sengaja atau tidak sengaja (terpaksa) melihat aurat wanita. Para wanita ini tanpa merasa bersalah bergentayangan di tempat umum dengan model pakaian serba mini. “Apakah itu tidak menjadi fitnah bagi kaum laki-laki,” keluhnya kepadaku.

Saya juga pernah mengalami keresahan sang pemuda tetangga saya itu, jika saya berjalan di tempat umum, sudut pandang mata saya selalu menemukan para ’mahluk lembut’ dengan model pakaian serba mini dan super ketat. Sedang saya tidak mungkin berjalan dengan terus menerus menundukkan kepala saya. Beruntung, saya mempunyai istri tangguh, yang selalu memberikan warning jika temanya berhubungan dengan mahluk yang bernama wanita. Yang tak bosan memberikan nasihat agar saya tidak tergelincir dalam perangkap setan. “Jangan jadi laki-laki genit, ghodul bashar-lah suamiku,“ kata sang istri mengingatkan.

Pernah suatu ketika, saya meminjam buku dari seorang teman perempuan yang bertemakan ghoswul fikri karya Adian Husaini. Hati kecil saya hanya berniat meminjam buku itu, karena sudah lama saya ingin membaca buku itu tapi belum kesampaian membeli. Saat sang istri tahu bahwa saya pinjam dari seorang teman perempuan, sang istri meradang, setelah seharian perang dingin, barulah mengungkapkan alasannya mengapa dia marah besar. Karena dengan meminjam buku pada lawan jenis adalah salah satu perangkap pintu setan. “Sekarang pinjam buku, besok mendiskusikan buku setelah itu akan berbuat yang lebih jauh lagi!,“ ungkapnya penuh khawatir.

Ia mengatakan istilah persahabatan itu bisa berkonotasi adanya hubungan yang lebih jauh dari sekedar berinteraksi. Istilah persahabatan dengan lawan jenis lebih dekat kepada apa yang dikatakan oleh orang sebagai “teman tetapi mesra”. “Karena itu hendaklah memperhatikan rambu-rambu syariat dalam bergaul wahai suamiku,“ serunya.

Aku pun tertegun dengan argumentasi sang istri, dan memaksa kepalaku untuk manggut-manggut tanda setuju. Walau teman yang meminjamkan buku itu adalah wanita yang sopan, baik akhlak dan pakaiannya, akan tetapi jika keseringan interaksi dan tidak bisa menahan pandangan, maka seperti yang di khawatirkan sang istri, panah setan itu bisa menancap ke ulu hati dan akhirnya akan berujung pada “hubungan tanpa status“. Sebuah kekhawatiran yang wajar.

Memang benar, rekayasa setan itu bisa datang dari mana saja. Apalagi di zaman yang penuh fitnah ini dimana para wanita dengan berani dan bebas mengumbar auratnya di tempat umum, dan ikhtilat dengan lawan jenis pun tak bisa terhindarkan. Bahkan di dunia maya interaksi yang berlebihan dengan lawan jenis dalam situs jejaring sosial bisa menimbulkan fitnah dan sudah memakan korban, rusaknya hubungan rumah tangga karena sang istri atau suami berselingkuh dengan teman lawan jenisnya di situs jejaring itu.

Dari sinilah keimanan kita di uji. Mampukah kita melawan tiga jenis godaan itu? Khusus untuk ujian dan godaan jenis wanita, saya akan selalu ingat-ingat pesan istri, “Tundukkanlah pandanganmu wahai suamiku!”

Sumber: eramuslim