Jumat, 29 Mei 2015
Sikap Memaafkan dan Manfaatnya bagi Kesehatan
Salah satu sifat mulia yang dianjurkan dalam Al Qur’an adalah sikap memaafkan:Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta jangan pedulikan orang-orang yang bodoh. (QS. Al Qur’an, 7:199)Dalam ayat lain Allah berfirman: “…dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak suka bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. An Nuur, 24:22)Mereka yang tidak mengikuti ajaran mulia Al Qur’an akan merasa sulit memaafkan orang lain. Sebab, mereka mudah marah terhadap kesalahan apa pun yang diperbuat. Padahal, Allah telah menganjurkan orang beriman bahwa memaafkan adalah lebih baik:… dan jika kamu maafkan dan kamu santuni serta ampuni (mereka), maka sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. (QS. At Taghaabun, 64:14)Juga dinyatakan dalam Al Qur’an bahwa pemaaf adalah sifat mulia yang terpuji. “Tetapi barang siapa bersabar dan memaafkan, sungguh yang demikian itu termasuk perbuatan yang mulia.” (Qur’an 42:43) Berlandaskan hal tersebut, kaum beriman adalah orang-orang yang bersifat memaafkan, pengasih dan berlapang dada, sebagaimana dinyatakan dalam Al Qur’an, “…menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain.” (QS. Ali ‘Imraan, 3:134)
| Para peneliti percaya bahwa pelepasan hormon stres, kebutuhan oksigen yang meningkat oleh sel-sel otot jantung, dan kekentalan yang bertambah dari keeping-keping darah, yang memicu pembekuan darah menjelaskan bagaimana kemarahan meningkatkan peluang terjadinya serangan jantung. Ketika marah, detak jantung meningkat melebihi batas wajar, dan menyebabkan naiknya tekanan darah pada pembuluh nadi, dan oleh karenanya memperbesar kemungkinan terkena serangan jantung. |
| Memaafkan, adalah salah satu perilaku yang membuat orang tetap sehat, dan sebuah sikap mulia yang seharusnya diamalkan setiap orang |
NASEHAT RASULULLAH SAW MENYAMBUT RAMADHAN
Selain memerintahkan shaum, dalam menyambut bulan Ramadhan, Rasulullah selalu memberikan beberapa nasehat dan pesan-pesan ketika memasuki bulan Ramadhan.
Wahai manusia, sungguh telah datang pada kalian bulan Allah dengan membawa berkah rahmat dan maghfirah. Bulan yang paling mulia di sisi Allah. Hari-harinya adalah hari-hari yang paling utama. Malam-malamnya adalah malam-malam yang paling utama. Jam demi jamnya adalah jam-jam yang paling utama.
Inilah bulan ketika kamu diundang menjadi tamu Allah dan dimuliakan oleh-NYA. Di bulan ini nafas-nafasmu menjadi tasbih, tidurmu ibadah, amal-amalmu diterima dan doa-doamu diijabah. Bermohonlah kepada Allah Rabbmu dengan niat yang tulus dan hati yang suci agar Allah membimbingmu untuk melakukan shiyam dan membaca Kitab-Nya.
Celakalah orang yang tidak mendapat ampunan Allah di bulan yang agung ini. Kenanglah dengan rasa lapar dan hausmu di hari kiamat….. Bersedekahlah kepada kaum fuqara dan masakin.
Muliakanlah orang tuamu, sayangilah yang muda, sambungkanlah tali persaudaraanmu, jaga lidahmu, tahan pandanganmu dari apa yang tidak halal kamu memandangnya dan pendengaranmu dari apa yang tidak halal kamu mendengarnya.
Kasihilah anak-anak yatim, niscaya dikasihi manusia anak-anak yatimmu.
Bertaubatlah kepada Allah dari dosa-dosamu. Angkatlah tangan-tanganmu untuk berdoa pada waktu shalatmu karena itulah saat-saat yang paling utama ketika Allah Azza wa Jalla memandang hamba-hamba-Nya dengan penuh kasih; Dia menjawab mereka ketika mereka menyeru-Nya, menyambut mereka ketika mereka memanggil-Nya dan mengabulkan doa mereka ketika mereka berdoa kepada-Nya.
Wahai manusia, sesungguhnya diri-dirimu tergadai karena amal-amalmu, maka bebaskanlah dengan istighfar.Punggung-punggungmu berat karena beban (dosa) mu, maka ringankanlah dengan memperpanjang sujudmu.
Ketahuilah! Allah ta’ala bersumpah dengan segala kebesaran-Nya bahwa Dia tidak akan mengazab orang-orang yang shalat dan sujud, dan tidak akan mengancam mereka dengan neraka pada hari manusia berdiri di hadapan Rabb al-alamin.
Wahai manusia! Barang siapa di antaramu memberi buka kepada orang-orang mukmin yang berpuasa di bulan ini, maka di sisi Allah nilainya sama dengan membebaskan seorang budak dan dia diberi ampunan atas dosa-dosa yang lalu. (Sahabat-sahabat lain bertanya: “Ya Rasulullah! Tidaklah kami semua mampu berbuat demikian.”
Rasulullah meneruskan: “Jagalah dirimu dari api neraka walaupun hanya dengan sebiji kurma. Jagalah dirimu dari api neraka walaupun hanya dengan seteguk air.”
Wahai manusia! Siapa yang membaguskan akhlaknya di bulan ini ia akan berhasil melewati sirathol mustaqim pada hari ketika kaki-kaki tergelincir.
Siapa yang meringankan pekerjaan orang-orang yang dimiliki tangan kanannya (pegawai atau pembantu) di bulan ini, Allah akan meringankan pemeriksaan-Nya di hari kiamat.
Barangsiapa menahan kejelekannya di bulan ini, Allah akan menahan murka-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya.
Barang siapa memuliakan anak yatim di bulan ini, Allah akan memuliakanya pada hari ia berjumpa dengan-Nya.
Barang siapa menyambungkan tali persaudaraan (silaturahmi) di bulan ini, Allah akan menghubungkan dia dengan rahmat-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya. Barang siapa memutuskan kekeluargaan di bulan ini, Allah akan memutuskan rahmat-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya.
Barangsiapa melakukan shalat sunat di bulan ini, Allah akan menuliskan baginya kebebasan dari api neraka. Barangsiapa melakukan shalat fardu baginya ganjaran seperti melakukan 70 shalat fardu di bulan lain.
Barangsiapa memperbanyak shalawat kepadaku di bulan ini, Allah akan memberatkan timbangannya pada hari ketika timbangan meringan. Barangsiapa di bulan ini membaca satu ayat Al-Quran, ganjarannya samaseperti mengkhatam Al-Quran pada bulan-bulan yang lain.
Wahai manusia! Sesungguhnya pintu-pintu surga dibukakan bagimu, maka mintalah kepada Tuhanmu agar tidak pernah menutupkannya bagimu. Pintu-pintu neraka tertutup, maka mohonlah kepada Rabbmu untuk tidak akan pernah dibukakan bagimu. Setan-setan terbelenggu, maka mintalah agar ia tak lagi pernah menguasaimu. Amirul mukminin k.w. berkata: “Aku berdiri dan berkata: “Ya Rasulullah! Apa amal yang paling utama di bulan ini?” Jawab Nabi: “Ya Abal Hasan! Amal yang paling utama di bulan ini adalah menjaga diri dari apa yang diharamkan Allah”.
Wahai manusia! sesungguhnya kamu akan dinaungi oleh bulan yang senantiasa besar lagi penuh keberkahan, yaitu bulan yang di dalamnya ada suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan; bulan yang Allah telah menjadikan puasanya suatu fardhu, dan qiyam di malam harinya suatu tathawwu’.”
“Barangsiapa mendekatkan diri kepada Allah dengan suatu pekerjaan kebajikan di dalamnya, samalah dia dengan orang yang menunaikan suatu fardhu di dalam bulan yang lain.”
“Ramadhan itu adalah bulan sabar, sedangkan sabar itu adalah pahalanya surga. Ramadhan itu adalah bulan memberi pertolongan ( syahrul muwasah ) dan bulan Allah memberikan rizqi kepada mukmin di dalamnya.”
“Barangsiapa memberikan makanan berbuka seseorang yang berpuasa, adalah yang demikian itu merupakan pengampunan bagi dosanya dan kemerdekaan dirinya dari neraka. Orang yang memberikan makanan itu memperoleh pahala seperti orang yang berpuasa tanpa sedikitpun berkurang.”
Para sahabat berkata, “Ya Rasulullah, tidaklah semua kami memiliki makanan berbuka puasa untuk orang lain yang berpuasa. Maka bersabdalah Rasulullah saw, “Allah memberikan pahala kepada orang yang memberi sebutir kurma, atau seteguk air, atau sehirup susu.”
“Dialah bulan yang permulaannya rahmat, pertengahannya ampunan dan akhirnya pembebasan dari neraka. Barangsiapa meringankan beban dari budak sahaya (termasuk di sini para pembantu rumah) niscaya Allah mengampuni dosanya dan memerdekakannya dari neraka.”
“Oleh karena itu banyakkanlah yang empat perkara di bulan Ramadhan; dua perkara untuk mendatangkan keridhaan Tuhanmu, dan dua perkara lagi kamu sangat menghajatinya.”
“Dua perkara yang pertama ialah mengakui dengan sesungguhnya bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan mohon ampun kepada-Nya . Dua perkara yang kamu sangat memerlukannya ialah mohon surga dan perlindungan dari neraka.”
“Barangsiapa memberi minum kepada orang yang berbuka puasa, niscaya Allah memberi minum kepadanya dari air kolam-Ku dengan suatu minuman yang dia tidak merasakan haus lagi sesudahnya, sehingga dia masuk ke dalam surga.” (HR. Ibnu Huzaimah).
Sumber : Puasa bersama Rasulullah, Pengarang : Ibnu Muhammad (Pustaka Al-Bayan Mizan)
UWAIYS AL – QARANI – WALI ALLAH YANG TERSEMBUNYI
Disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurayrah ra, bahwa Rasulullah SAW (Shollallahu ‘Alayhi Wassalam) bersabda: “Sesungguhnya Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Tinggi mencintai di antara makhluk-Nya orang-orang pilihan, (mereka) tersembunyi, taat, rambut mereka acak-acakan, wajah mereka berdebu dan perut mereka kelaparan. Jika meminta izin kepada pemimpin ditolak. Jika melamar wanita cantik tidak diterima. Jika mereka tak hadir tak ada yang kehilangan dan jika hadir tak ada yang merasa bahagia atas kehadirannya. Jika sakit tak ada yang mengunjunginya dan jika mati tak ada yang menyaksikan jenazahnya.”
Para sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, contohkan pada kami salahsatu dari mereka?” Beliau SAW menjawab: “Itulah ‘Uways al-Qarani.” Para sahabat bertanya kembali: “Seperti apakah ‘Uways al-Qarani?” Beliau SAW menjawab: “Matanya berwarna hitam kebiru-biruan, rambutnya pirang, pundaknya bidang, postur tubuhnya sedang, warna kulitnya mendekati warna tanah (coklat-kemerahan), janggutnya menyentuh dada (karena kepalanya sering tertunduk hingga janggutnya menyentuh dada), pandangannya tertuju pada tempat sujud, selalu meletakkan tangan kanannya di atas tangan kiri, menangisi (kelemahan) dirinya, bajunya compang-camping tak punya baju lain, memakai sarung dan selendang dari bulu domba, tidak dikenal di bumi namun dikenal oleh penduduk langit, jika bersumpah (berdo’a) atas nama Allah pasti akan dikabulkan. Sesungguhnya di bawah pundak kirinya terdapat belang putih. Sesungguhnya kelak di hari kiamat, diserukan pada sekelompok hamba, “Masukklah ke dalam surga!” Dan diserukan
kepada ‘Uways, “Berhenti, dan berikanlah syafa’at!” Maka Allah memberikan syafa’at sebanyak kabilah Rabi’ah dan Mudhar.”
“Wahai ‘Umar, wahai `Ali! Jika kalian berdua menemuinya, mintalah padanya agar memohonkan ampun bagi kalian berdua, niscaya Allah akan mengampuni kalian berdua.” Maka mereka berdua mencarinya selama sepuluh tahun tetapi tidak berhasil. Ketika di akhir tahun sebelum wafatnya, ‘Umar ra berdiri di gunung Abu Qubais, lalu berseru dengan suara lantang: “Wahai penduduk Yaman, adakah di antara kalian yang bernama ‘Uways?”
Bangkitlah seorang tua yang berjenggot panjang, lalu berkata: “Kami tidak tahu ‘Uways yang dimaksud. Kemenakanku ada yang bernama ‘Uways, tetapi ia jarang disebut-sebut, sedikit harta, dan seorang yang paling hina untuk kami ajukan ke hadapanmu. Sesungguhnya ia hanyalah penggembala unta-unta kami, dan orang yang sangat rendah (kedudukan sosialnya) di antara kami. Demi Allah tak ada orang yang lebih bodoh, lebih gila (lebih aneh/nyentrik), dan lebih miskin daripada dia.”
Maka, menangislah ‘Umar ra, lalu beliau berkata: “Hal itu (kemiskinan & kebodohan spiritual) ada padamu, bukan padanya. Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Kelak akan masuk surga melalui syafa’atnya sebanyak kabilah Rabi`ah dan Mudhar.” Maka ‘Umar pun memalingkan pandangan matanya seakan-akan tidak membutuhkannya, dan berkata: Dimanakah kemenakanmu itu!? Apakah ia ada di tanah haram ini?” “Ya,” jawabnya. Beliau bertanya: “Dimanakah tempatnya?” Ia menjawab: “Di bukit ‘Arafat.” Kemudian berangkatlah ‘Umar dan ‘Ali ra dengan cepat menuju bukit ‘Arafat. Sampai di sana, mereka mendapatkannya dalam keadaan sedang shalat di dekat pohon dan unta yang digembalakannya di sekitarnya. Mereka mendekatinya, dan berkata: “Assalamu’alayka wa rahmatullah wa barakatuh.” ‘Uways mempercepat shalatnya dan menjawab salam mereka.
Mereka berdua bertanya: “Siapa engkau?” Ia menjawab: “Penggembala unta dan buruh suatu kaum.” Mereka berdua berkata: “Kami tidak bertanya kepadamu tentang gembala dan buruh, tetapi siapakah namamu?” Ia menjawab: ” `Abdullah (hamba Allah).” Mereka berdua berkata: “Kami sudah tahu bahwa seluruh penduduk langit dan bumi adalah hamba Allah, tetapi siapakah nama yang diberikan oleh ibumu?” Ia menjawab: “Wahai kalian berdua, apakah yang kalian inginkan dariku?”
Mereka berdua menjawab: “Nabi SAW menyifatkan kepada kami seseorang yang bernama ‘Uways al-Qarani. Kami sudah mengetahui akan rambut yang pirang dan mata yang berwarna hitam kebiru-biruan. Beliau SAW memberitahukan kepada kami bahwa di bawah pundak kirinya terdapat belang putih. Tunjukkanlah pada kami, kalau itu memang ada padamu, maka kaulah orangnya. Maka ia menunjukkan kepada mereka berdua pundaknya yang ternyata terdapat belang putih itu. Mereka berdua melihatnya seraya berkata: “Kami bersaksi bahwasannya engkau adalah ‘Uways al-Qarani, mintakanlah ampunan untuk kami, semoga Allah mengampunimu.”
Ia menjawab: “Aku merasa tidak pantas untuk memohon ampun untuk anak cucu Adam (‘alayhis-salam), tetapi di daratan dan lautan (di kapal yang sedang berlayar) ada segolongan laki-laki maupun wanita mu’min (beriman) dan muslim yang doanya diterima.” ‘Umar dan ‘Ali ra berkata: “Sudah pasti kamu yang paling pantas.”
‘Uways berkata: “Wahai kalian berdua, Allah telah membuka (rahasia spiritual) dan memberitahukan keadaaan (kedudukan spiritual)ku kepada kalian berdua, siapakah kalian berdua?” Berkatalah `Ali ra: “Ini adalah ‘Umar ‘Amir al-Mu’minin, sedangkan aku adalah `Ali bin Abi Thalib.” Lalu ‘Uways bangkit dan berkata: “Kesejahteraan, rahmat dan keberkahan Allah bagimu wahai ‘Amir al-Mu’minin, dan kepadamu pula wahai putra ‘Abi Thalib, semoga Allah membalas jasa kalian berdua atas umat ini dengan kebaikan.” Lalu keduanya berkata: “Begitu juga engkau, semoga Allah membalas jasamu dengan kebaikan atas dirimu.”
Lalu ‘Umar ra berkata kepadanya: “Tetaplah di tempatmu hingga aku kembali dari kota Madina dan aku akan membawakan untukmu bekal dari pemberianku dan penutup tubuh dari pakaianku. Di sini tempat aku akan bertemu kembali denganmu.”
Ia berkata: “Tidak ada lagi pertemuan antara aku denganmu wahai ‘Amir al-Mu’minin. Aku tidak akan melihatmu setelah hari ini. Katakan apa yang harus aku perbuat dengan bekal dan baju darimu (jika engkau berikan kepadaku)? Bukankah kau melihat saya (sudah cukup) memakai dua lembar pakaian terbuat dari kulit domba? Kapan kau melihatku merusakkannya! Bukankah kau mengetahui bahwa aku mendapatkan bayaran sebanyak empat dirham dari hasil gembalaku? Kapankah kau melihatku menghabiskannya? Wahai ‘Amir al-Mu’minin, sesungguhnya dihadapanku dan dihadapanmu terdapat bukit terjal dan tidak ada yang bisa melewatinya kecuali setiap (pemilik) hati (bersih-tulus) yang memiliki rasa takut dan tawakal (hanya kepada Allah), maka takutlah (hanya kepada Allah) semoga Allah merahmatimu.”
Ketika ‘Umar ra mendengar semua itu, ia menghentakkan cambuknya di atas tanah. Kemudian ia menyeru dengan suara lantang: “Andai ‘Umar tak dilahirkan oleh ibunya! Andai ibuku mandul tak dapat hamil! Wahai siapa yang ingin mengambil tampuk kekhilafahan ini?” Kemudian ‘Uways berkata: “Wahai ‘Amir al-Mu’minin, ambillah arahmu lewat sini, hingga aku bisa mengambil arah yang lain.” Maka ‘Umar ra berjalan ke arah Madina, sedangkan ‘Uways menggiring unta-untanya dan mengembalikan kepada kaumnya. Lalu ia meninggalkan pekerjaan sebagai penggembala dan pergi ke Kufah dimana ia mengisi hidupnya dengan amal-ibadah hingga kembali menemui Allah.
Para sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, contohkan pada kami salahsatu dari mereka?” Beliau SAW menjawab: “Itulah ‘Uways al-Qarani.” Para sahabat bertanya kembali: “Seperti apakah ‘Uways al-Qarani?” Beliau SAW menjawab: “Matanya berwarna hitam kebiru-biruan, rambutnya pirang, pundaknya bidang, postur tubuhnya sedang, warna kulitnya mendekati warna tanah (coklat-kemerahan), janggutnya menyentuh dada (karena kepalanya sering tertunduk hingga janggutnya menyentuh dada), pandangannya tertuju pada tempat sujud, selalu meletakkan tangan kanannya di atas tangan kiri, menangisi (kelemahan) dirinya, bajunya compang-camping tak punya baju lain, memakai sarung dan selendang dari bulu domba, tidak dikenal di bumi namun dikenal oleh penduduk langit, jika bersumpah (berdo’a) atas nama Allah pasti akan dikabulkan. Sesungguhnya di bawah pundak kirinya terdapat belang putih. Sesungguhnya kelak di hari kiamat, diserukan pada sekelompok hamba, “Masukklah ke dalam surga!” Dan diserukan
kepada ‘Uways, “Berhenti, dan berikanlah syafa’at!” Maka Allah memberikan syafa’at sebanyak kabilah Rabi’ah dan Mudhar.”
“Wahai ‘Umar, wahai `Ali! Jika kalian berdua menemuinya, mintalah padanya agar memohonkan ampun bagi kalian berdua, niscaya Allah akan mengampuni kalian berdua.” Maka mereka berdua mencarinya selama sepuluh tahun tetapi tidak berhasil. Ketika di akhir tahun sebelum wafatnya, ‘Umar ra berdiri di gunung Abu Qubais, lalu berseru dengan suara lantang: “Wahai penduduk Yaman, adakah di antara kalian yang bernama ‘Uways?”
Bangkitlah seorang tua yang berjenggot panjang, lalu berkata: “Kami tidak tahu ‘Uways yang dimaksud. Kemenakanku ada yang bernama ‘Uways, tetapi ia jarang disebut-sebut, sedikit harta, dan seorang yang paling hina untuk kami ajukan ke hadapanmu. Sesungguhnya ia hanyalah penggembala unta-unta kami, dan orang yang sangat rendah (kedudukan sosialnya) di antara kami. Demi Allah tak ada orang yang lebih bodoh, lebih gila (lebih aneh/nyentrik), dan lebih miskin daripada dia.”
Maka, menangislah ‘Umar ra, lalu beliau berkata: “Hal itu (kemiskinan & kebodohan spiritual) ada padamu, bukan padanya. Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Kelak akan masuk surga melalui syafa’atnya sebanyak kabilah Rabi`ah dan Mudhar.” Maka ‘Umar pun memalingkan pandangan matanya seakan-akan tidak membutuhkannya, dan berkata: Dimanakah kemenakanmu itu!? Apakah ia ada di tanah haram ini?” “Ya,” jawabnya. Beliau bertanya: “Dimanakah tempatnya?” Ia menjawab: “Di bukit ‘Arafat.” Kemudian berangkatlah ‘Umar dan ‘Ali ra dengan cepat menuju bukit ‘Arafat. Sampai di sana, mereka mendapatkannya dalam keadaan sedang shalat di dekat pohon dan unta yang digembalakannya di sekitarnya. Mereka mendekatinya, dan berkata: “Assalamu’alayka wa rahmatullah wa barakatuh.” ‘Uways mempercepat shalatnya dan menjawab salam mereka.
Mereka berdua bertanya: “Siapa engkau?” Ia menjawab: “Penggembala unta dan buruh suatu kaum.” Mereka berdua berkata: “Kami tidak bertanya kepadamu tentang gembala dan buruh, tetapi siapakah namamu?” Ia menjawab: ” `Abdullah (hamba Allah).” Mereka berdua berkata: “Kami sudah tahu bahwa seluruh penduduk langit dan bumi adalah hamba Allah, tetapi siapakah nama yang diberikan oleh ibumu?” Ia menjawab: “Wahai kalian berdua, apakah yang kalian inginkan dariku?”
Mereka berdua menjawab: “Nabi SAW menyifatkan kepada kami seseorang yang bernama ‘Uways al-Qarani. Kami sudah mengetahui akan rambut yang pirang dan mata yang berwarna hitam kebiru-biruan. Beliau SAW memberitahukan kepada kami bahwa di bawah pundak kirinya terdapat belang putih. Tunjukkanlah pada kami, kalau itu memang ada padamu, maka kaulah orangnya. Maka ia menunjukkan kepada mereka berdua pundaknya yang ternyata terdapat belang putih itu. Mereka berdua melihatnya seraya berkata: “Kami bersaksi bahwasannya engkau adalah ‘Uways al-Qarani, mintakanlah ampunan untuk kami, semoga Allah mengampunimu.”
Ia menjawab: “Aku merasa tidak pantas untuk memohon ampun untuk anak cucu Adam (‘alayhis-salam), tetapi di daratan dan lautan (di kapal yang sedang berlayar) ada segolongan laki-laki maupun wanita mu’min (beriman) dan muslim yang doanya diterima.” ‘Umar dan ‘Ali ra berkata: “Sudah pasti kamu yang paling pantas.”
‘Uways berkata: “Wahai kalian berdua, Allah telah membuka (rahasia spiritual) dan memberitahukan keadaaan (kedudukan spiritual)ku kepada kalian berdua, siapakah kalian berdua?” Berkatalah `Ali ra: “Ini adalah ‘Umar ‘Amir al-Mu’minin, sedangkan aku adalah `Ali bin Abi Thalib.” Lalu ‘Uways bangkit dan berkata: “Kesejahteraan, rahmat dan keberkahan Allah bagimu wahai ‘Amir al-Mu’minin, dan kepadamu pula wahai putra ‘Abi Thalib, semoga Allah membalas jasa kalian berdua atas umat ini dengan kebaikan.” Lalu keduanya berkata: “Begitu juga engkau, semoga Allah membalas jasamu dengan kebaikan atas dirimu.”
Lalu ‘Umar ra berkata kepadanya: “Tetaplah di tempatmu hingga aku kembali dari kota Madina dan aku akan membawakan untukmu bekal dari pemberianku dan penutup tubuh dari pakaianku. Di sini tempat aku akan bertemu kembali denganmu.”
Ia berkata: “Tidak ada lagi pertemuan antara aku denganmu wahai ‘Amir al-Mu’minin. Aku tidak akan melihatmu setelah hari ini. Katakan apa yang harus aku perbuat dengan bekal dan baju darimu (jika engkau berikan kepadaku)? Bukankah kau melihat saya (sudah cukup) memakai dua lembar pakaian terbuat dari kulit domba? Kapan kau melihatku merusakkannya! Bukankah kau mengetahui bahwa aku mendapatkan bayaran sebanyak empat dirham dari hasil gembalaku? Kapankah kau melihatku menghabiskannya? Wahai ‘Amir al-Mu’minin, sesungguhnya dihadapanku dan dihadapanmu terdapat bukit terjal dan tidak ada yang bisa melewatinya kecuali setiap (pemilik) hati (bersih-tulus) yang memiliki rasa takut dan tawakal (hanya kepada Allah), maka takutlah (hanya kepada Allah) semoga Allah merahmatimu.”
Ketika ‘Umar ra mendengar semua itu, ia menghentakkan cambuknya di atas tanah. Kemudian ia menyeru dengan suara lantang: “Andai ‘Umar tak dilahirkan oleh ibunya! Andai ibuku mandul tak dapat hamil! Wahai siapa yang ingin mengambil tampuk kekhilafahan ini?” Kemudian ‘Uways berkata: “Wahai ‘Amir al-Mu’minin, ambillah arahmu lewat sini, hingga aku bisa mengambil arah yang lain.” Maka ‘Umar ra berjalan ke arah Madina, sedangkan ‘Uways menggiring unta-untanya dan mengembalikan kepada kaumnya. Lalu ia meninggalkan pekerjaan sebagai penggembala dan pergi ke Kufah dimana ia mengisi hidupnya dengan amal-ibadah hingga kembali menemui Allah.
Tips Sehat dan Segar di Bulan Ramadhan
Tips Sehat dan Segar di Bulan Ramadhan
Marhaban ya Ramadhan.. Bulan Ramadhan telah tiba. Bulan yang dimuliakan Alloh serta banyak keutamaan daripada bulan-bulan lainnya harus kita sambut dengan semangat ibadah. Dan tentunya, kita menginginkan berpuasa dengan amalan-amalan berpahala tanpa kelesuan. Meskipun perut kosong sejak pagi hingga menjelang maghrib, jangan menjadikan aktivitas, terutama amalan ibadah di bulan Ramadhan yang penuh berkah ini terlewatkan dengan sia-sia.
Untuk menjaga tubuh tetap segar dan sehat selama berpuasa, beberapa hal berikut ini perlu kita perhatikan, sehingga dapat membantu meningkatkan amalan-amalan ibadah di bulan Ramadhan.
1. Mengakhirkan sahur
Disunahkan mengakhiri waktu makan sahur dengan waktu yang tak jauh dari saat terbit fajar. Telah diriwayatkan dari Anas r.a., dari Zaid bin Tsabit r.a., bahwasanya dia pernah berkata: “Kami pernah makan sahur bersama Nabi SAW, setelah itu Beliau langsung berangkat shalat “. Aku tanyakan: “Berapa lama jarak antara adzan dan sahur? Dia menjawab, “kira-kira sama seperti bacaan limapuluh ayat. (Diriwayatkan oleh Imam Bukhari, IV/118 dan Imam Muslim, 1097).
Hikmah mengikuti sunnah Nabi SAW dengan mengakhirkan sahur memang banyak manfaatnya bagi tubuh. Tubuh akan mempunyai tenggang waktu yang cukup guna membakar makanan untuk diubah menjadi energi, sehingga badan tidak akan lemas pada siang hari.
2. Hindari tidur setelah makan sahur
Kebanyakan orang sering tidur setelah makan sahur. Salah satu faktor yang menjadi penyebabnya, karena makan sahur saat masih tengah malam atau jauh dari terbit fajar. Selain tidak mengikuti sunnah mengakhirkan sahur, shalat subuh mungkin tak bisa terjaga dengan baik. Keadaan ini akan membuat tubuh semakin lemas pada siang hari.
3. Hindari sikap bermalas-malasan
Bermalas-malasan tidak dianjurkan dalam Islam, lebih-lebih di bulan Ramadhan. Tetaplah aktif melakukan kegiatan sehari-hari, termasuk amalan-amalan yang mendatangkan pahala serta olah raga ringan. Berolah raga bisa dilakukan pagi hari, misalnya jalan, lari di tempat, bersepeda atau yang lainnya. Aktivitas pada saat puasa justru dapat merangsang pengeluaran hormon-hormon anti insulin yang berfungsi melepas gula darah dari simpanan energi, sehingga kadar gula darah tidak menurun dan pada akhirnya tubuh tetap segar bugar sepanjang haru.
Apabila kantuk menyerang di pagi hari, segera saja berolahraga secukupnya untuk membakar simpanan makanan supaya menjadi energi, kemudian lanjutkan aktivitas Anda seperti biasanya, misalnya taddarus Al Quran, bekerja, dsb.
4. Tidur Cukup
Usahakan untuk cukup tidur agar sel-sel otot dan organ tubuh dapat pulih kembali, baik siang maupun malam. Masing-masing orang berbeda-beda dalam memenuhi kebutuhan jam tidurnya, yang penting tidak berlebihan. TIdur berlebihan malah menyebabkan tubuh loyo, kulit wajah kering, dan tidak segar.
5. Menyegerakan berbuka
Menyegerakan berbuka merupakan sunnah Rasululloh SAW dan akan mendatangkan kebaikan. Dari Sahl bin Sa’adz bahwa Rasululloh SAW telah bersabda: Umat manusia aini akan tetap baik selama mereka menyegerakan buka puasa. (Riwayat Bukhari, IV/73 dan Muslim, /1093)
6. Saat berbuka memualai dengan makan dengan rasa manis
Saat berbuka, awali dengan makanan atau minuman manis, seperti kurma atau teh manis, atau munuman manis lainnya. Demikian juga Rasululloh telah memerintahkan untuk berbuka puasa dengan kurma. Jika tidak memiliki kurma maka hendaknya dengan air.
Dari Anas bin Malik r.a , dia bercerita: “Nabi SAW biasa berbuka dengan beberapa buah ruthab (kurma segar) sebelum mengerjakan shalat. Jika beliau tidak mendapatkan ruthab, maka beliau SAW berbuka dengan beberapa buah tamr(kurma masak yang sudah lama dipetik). Dan jika tidak mendapatkan tamr, maka beliau meminum Air”.
7. Hindari minum air dingin atau es.
Sudah disebut diatas, apabila tak ada kurma, minumlah air putih. Pada saat puasa, tubuh mengalami dehidrasi, sehingga apabila dibasahi dengan air akan sangat bermanfaat memberi kesegaran bagi tubuh. Sebaiknya hindari untuk langsung minum air dingin atau air es, karena akan menyebabkan perut kembung. Juga minuman yang mengandung pemanis buatan, karena pemanis ini tidak mengandung kalori, sehingga akan menambah kelesuan. Jangan pula mengkonsumsi minuman bersoda, karena dapat berakibat buruk bagi perut.
8. Berbuka hendaknya dilakukan secara bertahap
Setelah berbuka dengan makanan / minuman yang manis, sebaiknya perut istirahat terlebih dahulu lebih kurang 30 atau 60 menit sebelum menyantap hidangan berbuka lainnya. Pada saat menyantap makan pun, sebaiknya dilakukan secara bertahap, jangan langsung berlebihan, supaya perut (lambung) tidak kaget dan mendadak kerja keras, sehingga menjadikan Anda malas melakukan aktifitas selanjutnya. Sebaliknya, jangan makan terlalu sedikit, sebab hal ini akan menurunkan daya tahan tubuh sewaktu berpuasa.
9. Mengkonsumsi makanan berserat.
Perbanyaklah makan sayur dan buah saat akan berbuka atau sahur. Selain mengurangi kekeringan tubuh (karena kandungan air dalam makanan berserat cukup tinggi), tubuh juga dapat menahan rasa lapar lebih lama dengan makanan berserat. Hal ini diakibatkan tubuh memerlukan waktu lebih lama untuk mencerna makanan berserat. Demikian juga daging hewan berkaki empat dan unggas bisa bertahan lama di perut.
10. Banyak minum air putih
Pada malam hari dan saat tisahur, perbanyaklah minum air putih, serta selingan dengan bahan berkalori tinggi, misalnya madu, kurma, gula, susu, dan lain-lain untuk mencegah dehidrasi atau kekurangan cairan tubuh dari aktifitas di siang hari yang banyak mengeluarkan keringat, baik di ruangan terbuka maupun di ruangan ber AC.
11. Mengkonsumsi makanan bergizi
Perbanyak makanan yang mengandung lima unsur gizi lengkap, seperti protein, karbohidrat, lemak, vitamin dan mineral, agar tubuh tetap sehat. Vitamin yang perli dikonsumsi setiap hari adalah Vitamin A, B, dan C yang banyak terdapat pada buah berwarna merah dan kunung, sayuran berwarna hijau tua atau kacang-kacangan.
12. Tetap menggosok gigi dan mandi
Dianjutkan tetap menggosok gigi, menyiramkan air dingin pada kepala, dan juga mandi. Gosok gigi boleh dilakukan oleh orang yang berpuasa, demikian juga tidak ada masalah dengan berkumur dan ngadem. Dalam suatu riwayat disebutkan , Rasululloh SAW pernah menyiramkan air pada kepalanya, sedangkan beliau SAW dalam keadaan berpuasa, karena haus atau panas yang menyengat. Ibarat tanaman, jika kekeringan, maka apabila disiram air, tanaman tersebut menjadi segar kembali.
Mari kita manfaatkan Ramadhan kali ini dengan sebaik-baiknya, sebagai ajang untuk lebih mendekatkan diri Kepada Alloh SWT. Jangan sampai momen Ramadhan kali ini terlewat dengan sia-sia.
Langganan:
Postingan (Atom)


