Rabu, 27 Mei 2015

INI TIPS UNTUK MENJADI BIJAK

Ini Tips Menjadi Bijaksa


Bismillah Hirrahman Nirrahim, Assalamualaikum Sobatku dan selamat siang. Konfusius (seorang tokoh dari negeri china Kong Fu-tze) berkata tentang kebijakan dalam tiga hal yaitu, "Pertama, dengan melakukan perenungan, ini bentuk yang paling agung. Kedua, dengan meniru, yaitu yang paling mudah, dan ketiga melalui pengalaman, yaitu bentuk yang paling pahit."

Ast selalu mengagunggi orang-orang bijak dan selalu berusaha untuk menjadi salah seorang dari orang yang dapat bertindak bijak dalam hidup Ast. Kenapa sih menurut Ast bijak itu perlu? Baik Sobatku, seperti posting-poting sebelumnya yang sudah Ast bahas tentang Banyak Orang-Orang Baik Diluar Sana Tetapi Belum Tentu Mereka Orang Yang IkhlasPentingnya Kesabaran. Dan ini adalah bagian dari posting sebelumnya yang intinya kita sedang belajar ke arah menjadi orang-orang bijaksana dalam kehidupan kita.

Bijak itu diperlukan dalam hal apapun, dan orang-orang yang bijak dapat hidup dimanapun dia berada karena kebijaksanaanya, apapun ras dan suku bangsanya, apapun agamanya orang-orang bijak akan selalu hidup lebih tenang dan lebih lama, mari Sob :

1. Isi waktu Anda dengan melakukan kontemplasi (merenung dan memandang). Isi waktu luang Anda dengan belajar bukan dengan gangguan atau distraksi. Jika Anda mengisi waktu luang dengan menonton televisi atau bermain video game, coba ganti waktu menonton televisi satu jam dengan satu jam membaca, atau pilih untuk menonton film dokumenter tentang alam yang sudah lama ingin Anda lihat.

"Orang-orang bijak mereka memandangi langit dengan penuh harapan. -Aditya Von Herman"

2. Berpikir terlebih dahulu barulah berbicara. Tidak selalu penting menyuarakan pendapat Anda dalam sebuah kelompok, atau menyumbangkan sesuatu hanya karena Anda mampu melakukannya. Orang bijak tidak selalu perlu membuktikan pengetahuan yang mereka miliki. Jika pendapat Anda diperlukan, barulah Anda sampaikan. Sebuah pepatah lama mengatakan, "Samurai yang terbaik membiarkan pedangnya berkarat di dalam sarungnya."

Hal di atas bukan bermakna Anda harus menarik diri dari lingkungan sosial, atau tidak pernah berbicara. Sebaliknya, bersikaplah terbuka terhadap orang lain dan jadilah pendengar yang baik. Jangan hanya menunggu giliran Anda untuk berbicara karena Anda pikir Andalah yang paling bijaksana dari seluruh orang lain disana. Ini bukanlah suatu kebijaksanaan, ini adalah bentuk egoisme.

"Orang-orang bijak itu lebih bannyak menghabiskan waktu untuk sendiri, untuk merenung, berfikir, dan mempelajari. -Aditya Von Herman"

3. Membaca banyak hal. Bacalah tulisan-tulisan filsuf dan orang-orang yang banyak berkomentar mengenai kondisi sosial. Membaca terutama tentang bidang tertentu yang Anda minati, baik itu pekerjaan atau hobi Anda, atau mungkin kitab suci agama kalian disana banyak terkandung pengalaman dan hikmah. Baca tentang pengalaman orang lain dan belajar cara orang lain ketika mengatasi situasi yang sama dengan yang mungkin Anda hadapi.

"Kebijaksanaan tidak diperoleh dengan banyak tertawa dan bercanda, karena orang yang bijaksana adalah orang yang berwibawa. -Aditya Von Herman"

4. Bersikap rendah hati. Menjadi rendah hati adalah sikap yang bijaksana karena memungkinkan diri Anda yang sesungguhnya mencuat ke luar. Kerendahan hati juga memastikan bahwa Anda menghormati kemampuan orang lain bukan mengintimidasi mereka; kebijaksanaan untuk menerima keterbatasan Anda sendiri dan menghubungkannya dengan kekuatan orang lain untuk semakin memperbaiki diri adalah suatu kebijaksanaan yang tidak terbatas.

"Orang-orang yang besar itu dibentuk dari pribadi yang kecil. -Aditya Von Herman"

5. Selalu bersedia membantu orang lain. Orang bijak tidak berarti harus hidup di gua-gua, menumbuhkan jenggot layaknya penyihir di pertapaan mereka. Saling bertukar kebijaksanaan dengan orang lain untuk membantu mereka. Sebagaimana Anda adalah mentor dan guru, Anda dapat membantu orang lain belajar mengenai berpikir kritis, merangkul emosi diri mereka, mencintai sikap ingin belajar sepanjang hayat, dan mempercayai diri mereka sendiri.

Hindari godaan untuk menggunakan pembelajaran sebagai tembok pembatas terhadap orang lain. Pengetahuan ada supaya kita bisa saling berbagi bukan menimbunnya, dan kebijaksanaan hanya akan tumbuh bila terbuka terhadap ide-ide orang lain tidak peduli walaupun ide-ide tersebut sangat bertentangan dengan ide Anda sendiri.

"Gunakanlah olehmu kesempatan masa muda sebelum datang kesempitan masa tua. -Rasulullah Muhammad SAW"

6. Menerima bahwa Anda tidak bisa tahu segalanya dan belajarlah untuk mengenali kesalahan Anda. Orang-orang yang bijaksana adalah orang yang sejak lama menyadari sedikitnya pengetahuan yang mereka miliki, meskipun sudah melalui pembelajaran dan pencerminan diri bertahun-tahun lamanya. Semakin Anda berpikir tentang manusia, benda, dan peristiwa, semakin menjadi jelas bahwa selalu ada banyak hal untuk dipelajari dan apa yang sesungguhnya Anda ketahui hanyalah setetes air dari samudra pengetahuan. Menerima keterbatasan pengetahuan Anda sendiri adalah kunci kebijaksanaan.

Perjalanan yang paling sulit adalah sesuatu yang mengharuskan Anda melihat ke dalam diri sendiri dan bersikap jujur tentang apa yang Anda temukan. Cobalah memikirkan tentang keyakinan, pendapat, dan bias yang selama ini Anda pikirkan. Sulit menjadi bijaksana kecuali Anda bersedia untuk mengenal diri sendiri dengan baik dan belajar untuk mencintai kekuatan dan kelemahan dalam diri Anda. 

Berikut diatas sudah kita bahas mengenai bijaksana Sobatku, Sekali lagi tidak pantas bagi Saya yang masih belajar dan selalu belajar menjadi guru dan menggurui kalian yang lebih bijaksana dari Saya dalam pemikiran dan tindakannya. Saya hannya berbagi apa yang Saya jalani dan setidaknya Saya tidak menyebar kebencian kepada kaum manapun, tidak melihat agama, ras suku bangsa, dan status sosial kalian, ini semua ditulis untuk berbagi dan berbagi. 

Tidak ada apapun di dunia ini yang dapat mengubah pemikiran dan tindakan kalian secara instant, menasihati kalian dengan baik, itu semua berpeluang dalam diri Anda sendiri dan bukan orang lain. Tergantung dari pengalaman dan kebijaksanaan Sobat sekalin dalam memahami semua hikmah hidup ini. 

Semoga Allah memberi kami semua kebijaksanaan yang dapat membuat kami menjalani hidup lebih toleran lagi dan lebih damai lagi. Semoga Allah memberikan yang terbaik dari pengalaman dan kesalahan masa lalu kami. Semoga Allah bersama kami dalam langkah dan keputusan kami. Aamiin...

Tukang Roti Dan Istighfar

Tukang Roti Dan Istighfar


Kisah ini terjadi pada masa Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah. Ketika itu Imam Ahmad hendak menghabiskan malamnya di dalam masjid, akan tetapi ia terhalang untuk bermalam di dalam masjid, karena larangan penjaga masjid. Ia terus berusaha meminta izin, namun tidak membuahkan hasil. Lalu, Imam Ahmad berkata kepada si penjaga,” Saya akan tidur di tempat kakiku berpijak ini.” Dan, benar, Imam Ahmad bin Hanbal tidur di tempat kakinya berpijak. Lalu penjaga masjid mengusirnya dari lokasi masjid. Imam Ahmad bin Hanbal adalah seorang syaikh yang berwibawa, serta terlihat tanda-tanda keshalihan dan ketakwaan pada dirinya.

Lalu ada seorang tukang roti yang melihat Imam Ahmad. Begitu si tukang roti melihat penampilannya, ia menawarkan tempat bermalam. Maka, Imam Ahmad bin Hanbal pergi bersama tukang roti itu, dan ia begitu memuliakannya.

Lalu si tukang roti mengambil adonan untuk membuat roti. Imam Ahmad mendengar si tukang roti membaca istighfar dan terus membaca istighfar. Waktu berlalu sekian lama dan ia tetap dalam kondisi tersebut. Imam Ahmad merasa takjub, keesokan harinya ia bertanya kepada si tukang roti tentang tindakannya membaca istighfar semalam. Ia menjawab bahwa selama membuat adonan ia terus membaca istighfar.

Imam Ahmad bertanya,” Apakah kamu mendapatkan buah dari istighfar yang kamu baca?” Imam Ahmad mengajukan pertanyaan ini, sedangkan ia mengetahui bermacam buah istighfar. Ia mengetahui keutamaan istighfar, dan ia mengetahui faedah-faedah istighfar.

Si tukang roti menjawab,” Ya, demi Allah. Tidak sekalipun aku memanjatkan doa melainkan doaku terkabulkan, kecuali satu permohonan.” Imam Ahmad bertanya,” Permohonan apa itu?” Si tukang roti menjawab ,” Melihat Imam Ahamd bin Hanbal.”

Imam Ahmad berkata,” Akulah Ahmad bin Hanbal. Demi Allah, sungguh aku telah ditarik untuk mendatangimu!”

Subhanallah… Semoga kita bisa mengambil pelajaran dan diberi kemudahan oleh Allah untuk mengamalkannya. Aamiin.

10 Teman Iblis Dari Umat Muhammad SAW

10 Teman Iblis Dari Umat Muhammad SAW


Dalam riwayat Imam Bukhari, diceritakan suatu saat ketika sedang duduk Rasulullah saw didatangi seseorang. Rasul bertanya kepadanya: “Siapa Anda?” Ia pun menjawab: “Saya Iblis.”

Rasul bertanya lagi, apa maksud kedatanganmu. Iblis menceritakan kedatangannya atas izin Allah untuk menjawab semua pertanyaan dari Rasulullah saw.

Kesempatan itu pun digunakan Rasulullah saw untuk menanyakan beberapa hal. Salah satunya mengenai teman-teman Iblis dari umat Muhammad saw yang akan menemaninya di neraka nanti? Iblis menjawab, temannya di neraka nanti ada 10 kelompok.


Yang pertama, kata Iblis, haakimun zaa`ir (hakim yang curang). Maksudnya adalah seorang hakim yang berlaku tidak adil dalam menetapkan hukum. Ia menetapkan tidak semestinya. Tak hanya hakim, dalam hal ini bisa juga para penegak hukum secara umum, seperti polisi, jaksa, pengacara, dan juga setiap individu, karena mereka menjadi hakim dalam keluarganya.

Yang kedua, kata Iblis, ghaniyyun mutakabbir (orang kaya yang sombong). Ia begitu bangga dengan kekayaan dan enggan mendermakan untuk masyarakat yang membutuhkan. Dia menganggap, semua yang diperolehnya merupakan usahanya sendiri tanpa bantuan orang lain. Contohnya seperti Qarun.

Ketiga, taajirun kha’in (pedagang yang berkhianat). Ia melakukan penipuan, baik dalam hal kualitas barang yang diperdagangkan, maupun mengurangi timbangan. Bila membeli sesuatu, dia selalu meminta ditambah, namun saat menjualnya dia melakukan kecurangan dengan menguranginya. Disamping itu, ia menimbun barang. Membeli di saat murah, dan menjualnya di saat harga melambung tinggi. Dengan begitu, dia memperoleh untung besar. Demikian juga pada pengerjaan proyek tertentu, ia membeli barang dengan kualitas rendah untuk meraih keuntungan berlipat (mark up).

Kelompok keempat yang menjadi teman Iblis adalah syaaribu al-khamr (orang yang meminum khamar). Minuman apapun yang memabukkan, ia termasuk khamar. Misalnya arak, wine, wisky, atau minuman yang sejenisnya. Dalam sebuah riwayat disebutkan, peminum khamar (pemabuk) dikatakan tidak beriman, jika dia meninggal nanti masih terdapat khamar dalam tubuhnya.

Yang kelima, al-fattaan (tukang fitnah). Fitnah lebih berbahaya dari pada pembunuhan (al-fitnatu asyaddu min al-qatl). Lihat QS al-Baqarah [2]: 191. Membunuh adalah menghilangkan nyawa lebih cepat, namun fitnah ‘membunuh’ seseorang secara pelan-pelan. Fitnah ini bisa pula ‘pembunuhan’ karakter seseorang. Fitnah itu di antaranya, mengungkap aib seseorang yang kebenarannya tidak bisa dipertanggungjawabkan, gosip, ghibah, dan lainnya.

Keenam adalah shaahibu ar-riya` (orang yang suka memamerkan diri). Mereka selalu ingin menunjukkan kehebatan dirinya, menunjukkan amalnya, kekayaannya, dan lainnya. Semuanya itu demi mendapatkan pujian.

Ketujuh, aakilu maal al-yatiim (orang yang memakan harta anak yatim). Mereka memanfaatkan harta anak yatim atau sumbangan untuk anak yatim demi kepentingan pribadi atau kelompoknya. Lihat QS al-Ma`un [107]: 1-7.

Kedelapan, al-mutahaawinu bi al-shalah (orang yang meringankan shalat). Mereka memahami perintah shalat adalah kewajiban, namun dengan berbagai alasan, akhirnya shalat pun ditinggalkan. Allah juga mengancam Muslim yang melalaikan shalat.

Kesembilan, maani’u az-zakaah (orang yang enggan membayar zakat). Mereka merasa berat untuk mengeluarkan zakat, walaupun tujuan zakat untuk membersihkan diri dan hartanya.

Teman Iblis yang ke-10 adalah man yuthiilu al-amal (panjang angan-angan). Enggan berbuat, namun selalu menginginkan sesuatu. Dia hanya bisa berandai-andai, tapi tak pernah melakukan hal itu. Wallahu a’lam.

Masya Allah, semoga Allah mengampuni kesalahan yang kami sengaja maupun yang kami tidak sengaja. Amin... 

Kisah Mengharukan Syaikh Bin Baz Dan Seorang Pencuri

Kisah Mengharukan Syaikh Bin Baz Dan Seorang Pencuri

Salah seorang murid Syaikh ‘Ibn Utsaimin rahimahullah menceritakan kisah ini kepadaku. Dia berkata: “Pada salah satu kajian Syaikh Utsaimin rahimahullah di Masjidil Haram, salah seorang murid beliau bertanya tentang sebuah masalah yang didalamnya ada syubhat, beserta pendapat dari Syaikh Bin Baz rahimahullah tentang masalah tersebut. Maka Syaikh Utsaimin menjawab pertanyaan penanya serta memuji Syaikh bin Baz rahimahullah.

Di tengah-tengah mendengar kajian, tiba-tiba ada seorang lelaki dengan jarak kira-kira 30 orang dari arah sampingku kedua matanya mengalirkan air mata dengan deras, dan suara tangisannyapun keras hingga para muridpun mengetahuinya.

Di saat Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah selesai dari kajian, dan majelis sudah sepi aku melihat kepada pemuda yang tadi menangis.

Ternyata dai dalam keadaan sedih, dan bersamanya sebuah mushhaf. Akupun lebih mendekat hingga kemudian aku bertanya kepadanya setelah kuucapkan salam: “Bagaimana kabarmu wahai akhi, apa yang membuatmu menangis?”

Maka diapun menjawab dengan bahasa yang mengharukan: “Jazakallahu khairan.” Akupun mengulangi pertanyaanku sekali lagi: “Apa yang membuatmu menangis akhi?” Diapun menjawab dengan tekanan suara yang haru: “Tidak ada apa-apa, sungguh aku telah ingat Syaikh bin Baz, maka akupun menangis.” Kini menjadi jelas bagiku dari penuturannya bahwa dia dari Pakistan, sedang dia mengenakan pakaian orang Saudi.

Dia meneruskan keterangannya: “Dulu aku mempunyai sebuah kisah bersama Syaikh bin Baz rahimahullah, yaitu sepuluh tahun yang lalu aku bekerja sebagai satpam pada salah satu pabrik batu bata di kota Thaif. Suatu ketika datang sebuah surat dari Pakistan kepadaku yang menyatakan bahwa ibuku dalam keadaan kritis, yang mengahruskan operasi untuk penanaman sebuah ginjal. Biaya operasi tersebut membutuhkan tujuh ribu Riyal Saudi (kurang lebih 17,5 juta Rupiah). Jika tidak segera dilaksanakan operasi dalam seminggu, bisa jadi dia akan meninggal. Sedangkan beliau sudah berusia lanjut.

Saat itu, aku tidak memiliki uang selian seribu Riyal, dan aku tidak mendapati orang yang mau memberi atau meminjami uang. Maka akupun meminta kepada perusahaan untuk memberiku pinjaman, Mereka menolak, Aku menangis sepanjang hari. Dia adalah ibu yang telah merawatku dan tidak tidur karena aku.

Pada situasi yang genting tersebut, aku memutuskan untuk mencuri pada salah satu rumah yang bersebelahan dengan perusahaan pada jam dua malam. Beberapa saat setelah aku melompati pagar rumah, aku tidak merasa apa-apa kecuali para polisi tengah menangkap dan melemparkanku ke mobil mereka. Setelah itu duniapun terasa menjadi gelap.

Tiba-tiba, sebelum shalat subuh para polisi mengembalikanku ke rumah yang telah kucuri. Mereka memasukkanku ke sebuah ruangan kemudian pergi. Tiba-tiba ada seorang pemuda yang menghidangkan makanan seraya berkata: “Makanlah, dengan membaca bismillah!” Aku pun tidak mempercayai apa yang tengah kualami.

Saat adzan shalat subuh, mereka berkata kepadaku, “Wudhu’lah untuk shalat!” Saat itu rasa takut masih menyelimutiku. Tiba-tiba datang seorang lelaki yang sudah lanjut usia dipapah salah seorang pemuda masuk menemuiku. Kemudian dia memegang tanganku dan mengucapkan salam kepadaku seraya berkata: “Apakah engkau sudah makan?” Akupun menjawab: “Ya, sudah.” Kemudian dia memegang tangan kananku dan membawaku ke masjid bersamanya. Kami shalat subuh.

Setelah itu aku melihat lelaki tua yang memegang tanganku tadi duduk di atas kursi di bagian depan masjid, sementara jama’ah shalat dan banyak murid mengitarinya. Kemudian syaikh tersebut memulai berbicara menyampaikan sebuah kajian kepada mereka. Maka akupun meletakkan tanganku di atas kepalaku karena malu dan takut.

Ya, Allah, apa yang telah aku lakukan? Aku telah mencuri di rumah Syaikh bin Baz rahimahullah. Sebelumnya aku telah mendengar nama beliau, dan beliau telah terkenal di negeri kami, Pakistan.

Setelah Syaikh bin Baz selesai dari kajian, mereka membawaku ke rumah sekali lagi. Syaikh pun memegang tanganku, dan kami sarapan pagi dengan dihadiri oleh banyak pemuda. Syaikh mendudukanku di sisi beliau. Di tengah makan beliau bertanya kepadaku: “Siapakah namamu?” Kujawab: “Murtadho.” Beliau bertanya lagi: “Mengapa engkau mencuri?” Maka aku ceritakan kisah ibuku. Beliau berkata: “Baik, kami akan memberimu 9000 Riyal.” Aku berkata kepada beliau: “Yang dibutuhkan Cuma 7000 Riyal.” Beliau menjawab: “Sisanya untukmu, tetapi jangan lagi mencuri wahai anakku.”

Aku mengambil uang tersebut, dan berterima kasih kepada beliau dan berdoa untuk beliau. Aku pergi ke Pakistan, lalu melakukan operasi untuk ibuku. Alhamdulillah, beliau sembuh. Lima bulan setelah itu, aku kembali ke Saudi, dan langsung mencari keberadaan Syaikh bin Baz rahimahullah. Aku pergi rumah beliau. Aku mengenali beliau dan beliaupun mengenali aku.

Kemudian beliaupun bertanya tentang ibuku. Aku berikan 1500 Riyal kepada beliau, dan beliau bertanya, “Apa ini?” Kujawab: “Itu sisanya.” Maka beliau berkata: “Ini untukmu.” Kukatakan: “Wahai Syaikh, saya memiliki permohonan kepada anda.” Maka beliau menjawba: “Apa itu wahai anakku?” Kujawab: “Aku ingin bekerja pada anda sebagai pembantu atau apa saja, aku berharap dari anda wahai Syaikh, janganlah menolak permohonan saya, mudah-mudahan Allah menjaga anda.” Maka beliau menjawab: “Baiklah.” Akupun bekerja di rumah Syaikh hingga wafat beliau.

Selang beberapa waktu dari pekerjaanku di rumah Syaikh, salah seorang pemuda yang mulazamah kepada beliau memberitahuku tentang kisahku ketika aku melompat ke rumah beliau hendak mencuri di rumah Syaikh. Dia berkata: “Sesungguhnya ketika engkau melompat ke dalam rumah, Syaikh bin Baz saat itu sedang shalat malam, dan beliau mendengar sebuah suara di luar rumah. Maka beliau menekan bel yang beliau gunakan untuk membangunkan keluarga untuk shalat fardhu saja.

Maka mereka terbangun semua sebelum waktunya. Mereka merasa heran dengan hal ini. Maka beliau memberitahu bahwa beliau telah mendengar sebuah suara. Kemudian mereka memberi tahu salah seorang menjaga keamanan, lalu dia menghubungi polisi. Mereka datang dengan segera dan menangkapmu. Tatkala Syaikh mengetahui hal ini, beliau bertanya: “Kabar apa?” Mereka menjawab: “Seorang pencuri berusaha masuk, mereka sudah menangkap dan membawanya ke kepolisian.” Maka Syaikhpun berkata sambil marah: “Tidak, tidak, hadirkan dia sekarang dari kepolisian, dia tidak akan mencuri kecuali dia orang yang membutuhkan.”

Maka di sinilah kisah tersebut berakhir. Aku katakan kepada pemuda tersebut: “Sungguh matahari sudah terbit, seluruh umat ini terasa berat, dan menangisi perpisahan dengan beliau. Berdirilah sekarang, marilah kita shalat dua rakaat dan berdoa untuk Syaikh rahimahullah.

Mudah-mudahan Allah merahmati Syaikh bin Baz dan Ibnu Utsaimin dan menempatkan keduanya di keluasan surga-Nya. Amiin.

By : Syaikh Mamduh Farhan al Buhairi
Edited : Aster Prescott
Source : Di kutip dari Majalah Qiblati edisi 02 tahun III (11-2007M / 10-1428H)

Dialog Rasulullah dan Sahabat Tentang Penyakit Hati

Dialog Rasulullah dan Sahabat Tentang Penyakit Hati

Racun-racun hati itu banyak macamnya, di antaranya adalah berlebih-lebihan (banyak) bicara atau fudhulul kalam.
Dikatakan bahwa belumlah bisa istiqamah iman seseorang sebelum istiqamah lisannya. Maka lurus dan istiqamahnya hati dalam memegang keimanan itu dimulai dari lisan yang istiqamah.

Oleh karena itulah Islam mengajarkan kepada umatnya agar tidak banyak bicara tanpa disertai dzikir kepada Allah, karena akan mengakibatkan kerasnya hati. Dalam salah satu hadits shahih Rasulullah SAW pernah bicara kepada sahabat Mu'adz:
"Apakah engkau mau aku tunjukkan yang menjadi landasan itu semua (ibadah-ibadah)?"
"Baik, ya Rasulullah", jawab Mu'adz.
Kemudian Rasulullah SAW bersabda: "Cegahlah ini" (sambil mengisyaratkan dengan jarinya pada mulutnya).

Lalu mu'adz berkata:
"Ya Rasulullah, apakah kita akan dimintai tanggung jawab dari apa yang kita ucapkan?"
Kemudian Rasulullah SAW bersabda: "Kamu wahai Mu'adz, tidaklah seseorang akan ditelungkupkan wajahnya dan punggungnya ke dalam Neraka melainkan karena hasil dari lisannya."
(Diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi).

"Ada dua lubang yang paling banyak memasukkan manusia ke dalam Neraka, yaitu mulut dan kemaluan."
(HR Ahmad, At-Tirmidzi dan di-shahih-kannya).

Dan tatkala Uqban bin Amir bertanya kepada Rasulullah: "Ya Rasulullah, apakah sesuatu yang dapat menyelematkan kita?"
Lalu dijawab oleh Nabi : "Tahanlah olehmu lisanmu."

Lalu dalam kesempatan lain Rasulullah SAW bersabda:
"Barangsiapa yang dapat memberi jaminan kepadaku dari apa yang ada di antara jenggot dan kumisnya (lisan) dan kedua pahanya (kemaluan), maka aku jamin untuknya Surga."
(HR. Al-Bukhari).

Maksud dalam hadits ini adalah, barangsiapa yang bisa memelihara apa yang ada di antara kedua bibirnya, yaitu mulut dari semua perkataan yang tidak bermanfaat dan bisa menjaga apa yang ada di antara kedua pahanya yaitu farji agar tidak diletakkan di tempat yang tidak dihalalkan Allah, maka jaminannya adalah Surga.

Kemudian dalam hadits yang lain Rasulullah SAW juga bersabda:
"Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan beriman kepada hari akhirat, hendaklah berbicara yang baik atau agar ia diam."
(HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Dan dalam sutau riwayat dari Abu Hurairah Rasulullah SAW bersabda:
"Sebagian dari tanda bagusnya Islam seseorang apabila ia bisa meninggalkan ucapan yang tidak berguna baginya." Berkata Sahl: "Barangsiapa yang masih suka bicara yang tidak berguna maka ia tidak layak dikatakan shiddiq".

Apalagi bila ucapan seseorang sampai menyakiti orang lain maka belum bisa dijadikan jaminan iman yang dimilikinya, sebagaimana sabda Rasulullah SAW:
"Demi Allah, tidaklah beriman, demi Allah tidaklah beriman", kemudian ditanyakan siapakah gerangan yang engkau maksudkan wahai Rasulullah?
Jawabnya, "orang yang menjadikan tetangganya merasa tidak aman lantaran kejahatannya."

Hati yang tidak mengenal dengan Rabbnya, tidak melakukan ibadah sesuai dengan apa yang diperintahkanNya, dicitaiNya dan diridhaiNya. Bahkan selalu memperturutkan nafsu dan syahwatnya serta kenikmatan dan hingar bingarnya dunia, walaupun ia tahu bahwa itu amatlah dimurkai oleh Allah dan dibenciNya.

Ia tidak pernah peduli tatkala memuaskan diri dengan nafsu syahwatnya itu diridhaiNya atau dimurkaiNya, dan ia menghambakan diri dalam segala bentuk kepada selain Allah. Apabila ia mencintai maka cintanya karena nafsunya, apabila ia membenci maka bencinya karena nafsunya, apabila ia memberi maka itu karena nafsunya, apabila ia menolak maka tolakannya atas dasar nafsunya, maka nafsunya sangat berperan dalam dirinya, dan lebih ia cintai daripada ridha Allah

Dengan demikian maka hendaklah seorang mukmin mencukupkan diri dari ucapan yang tidak berguna seperti berdusta, suka mengadu domba, ucapan yang keji, ghibah, namimah, suka mencela, bernyanyi, menyakiti orang lain dan lain sebagainya. Itu semua merupakan racun-racun hati sehingga apabila seseorang banyak melakukan seperti ini maka hati akan teracuni dan bila hati sudah teracuni maka lambat laun, cepat atau lambat akan mengakibatkan sakitnya hati, semakin banyak racunnya akan semakin parah penyakit dalam hatinya, dan kalau tidak tertolong akan mengakibatkan mati hatinya.

Ketahuilah bahwa semua maksiat dalam bentuk apapun adalah merupakan racun bagi hati, penyebab sakitnya hati bahkan juga penyebab matinya hati. Berkata Abdullah Ibnu Mubarak: "Meninggalkan dosa dan maksiat dapat menjadikan hidupnya hati, dan sebaik-baik jiwa adalah yang mampu meniadakan perbuatan dosa dalam dirinya.

Maka barangsiapa yang menginginkan hatinya menjadi hati yang selamat hendaklah membersihkan diri dari racun-racun hati, kemudian dengan menjaganya tatkala ada racun hati yang berusaha menghampirinya, dan apabila terkena sedikit dari racun hati bersegeralah untuk menghilangkannya dengan taubat dan istighfar.

Selasa, 26 Mei 2015

RIZKI

Rasulullah ` bersabda,“Sesungguhnya tiap-tiap kalian dikumpulkan penciptaannya dalam rahim ibunya selama 40 hari berupa nutfah, kemudian menjadi ‘Alaqah (segumpal darah) selama itu juga lalu menjadi Mudhghah (segumpal daging) selama itu juga, kemudian diutuslah Malaikat untuk meniupkan ruh kepadanya lalu diperintahkan untuk menuliskan 4 kata: Rezeki, Ajal, Amal dan Celaka/bahagianya. maka demi Allah yang tiada Tuhan selainnya, ada seseorang diantara kalian yang mengerjakan amalan ahli surga sehingga tidak ada jarak antara dirinya dan surga kecuali sehasta saja. kemudian ia didahului oleh ketetapan Allah lalu ia melakukan perbuatan ahli neraka dan ia masuk neraka. Ada diantara kalian yang mengerjakan amalan ahli neraka sehingga tidak ada lagi jarak antara dirinya dan neraka kecuali sehasta saja. kemudian ia didahului oleh ketetapan Allah lalu ia melakukan perbuatan ahli surga dan ia masuk surga.”(HR Bukhari, No. 3208 dan HR Muslim No. 2643)

Kisah Seorang Istri Yang Setia Menjaga Amanah Suaminya, Subhanallah

Kisah Seorang Istri Yang Setia Menjaga Amanah Suaminya, Subhanallah....

Tersebutlah seorang istri yang amat taat pada suaminya. Suatu hari sang suami pamit hendak berangkat pergi berjihad fisabillah. Sebelum berangkat sang suami berpesan kepada istrinya.
"Wahai Istriku..aku akan pergi jihad....aku berpesan sebelum aku pulang kerumah, janganlah engkau pergi keluar rumah". Setelah itu berangkatlah sang suami.
Hari demi hari telah berlalu hingga suatu hari datanglah seorang utusan yang menyampaikan kabar tentang ibu sang wanita itu.
" Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh" ucap utusan itu.
" Waalaikum salam warahmatullahi wabarakatuh" jawab Istri itu.
" Ibu anda sekarang sedang sakit keras, jenguklah ia"
" Maaf, saya tidak bisa datang karena suamiku belum pulang dan aku tidak di ijinkan keluar rumah sebelum suamiku datang, jadi sampaikan saja salam untuk ibu saya" jawab istri itu menolak ajakan sang utusan. Lalu pulanglah utusan itu.
Besoknya utusan itu datang lagi
" Ibu anda sekarang sekarat, jenguklah ia !!"
" Tentu saya ingin datang ke sana, tapi suami saya belum pulang, jadi sampaikan permintaan maaf saya untuk ibu".
Lalu utusan itu kembali pulang.
Dan besoknya utusan itu kembali lagi
"Ibu anda sekarang meninggal, datanglah untuk yang terakhir kali sebelum ibu anda di kubur"
" Maaf sekali lagi maaf, suami saya belum pulang dan saya tidak dapat keluar rumah tanpa seijinya"
Lalu pulangkah utusan itu dengan perasaan kesal dan heran. Karena saking kesalnya lalu diadukannya lah perkara tersebut kepada Rasulullah SAW.
" Ya Rasul !! agaknya si wanita itu benar2 keterlaluan" ucap sang utusan itu dengan nada sedikit marah.
" Ada apa wahai Saudaraku? " tanya Rasulullah SAW.
" Bagaimana tidak ya Rasul, dari mulai ibunya sakit, sekarat hingga akhirnya sekarang meninggal, wanita itu tidak mau datang menjenguk ibunya !!"
" Kenapa dia tidak mau datang?" tanya Rasulullah SAW.
" Wanita itu mengatakan bahwa ia tidak di ijinkan keluar rumah sebelum sang suami pulang".
Mendengar jawaban itu Rasulullah hanya tersenyum lalu bekata.
" Dosa Sang Ibu yang telah wafat itu telah diampuni oleh ALLAH SWT karena beliau memiliki putri yang sangat taat kepada suaminya".
subhanallah, semoga kisah ini bisa memberi manfaat bagi kita, terutama bagi para istri dan para calon-calon istri