Kamis, 04 Juni 2015

Langkah Menuju Kekhusukan Shalat
Begitu pentingnya shalat  yang khusuk, bukan hanya pada fisiknya, tetapi juga hatinya. Karena dengan  shalat yang khusuk, kita akan mendapatkan banyak keutamaan di dalamnya. Ada  beberapa langkah yang dapat membantu kekhusukan dalam shalat.
  • Menghadirkan       Hati dalam Shalat
Artinya, megosongkan  hati dari hal-hal yang mengusiknya. Pendukung dalam menghadirkan hari, adalah  hasrat. Jika ada hasrat yang hendak mengusik hati, maka tidak ada jalan lain  kecuali mengembalikan hasrat itu kepada shalat.Pengalihan hasrat ini  dapat menguat dan juga melemah, tergantung pada kekuatan iman terhadap akhirat  dan pencelaan terhadap dunia. Jika seseorang merasa hatinya tidak hadir dalam  shalat, maka itulah indikasi lemahnya iman. Karenanya Allah SWT berfirman, yang  artinya,”Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya  yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusuk, (yaitu)  orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka  akan kembali kepada-Nya.” (QS. Al-Baqarah:45-46)Ibnu Taimiyyah  mengatakan “Usaha seorang hamba untuk memikirkan yang dia ucapkan dan ia  perbuat, memahami bacaan, dzikir dan doa, menyadari bahwa ia sedang bermunajat  kepada Allah, yang seakan-akan ia melihat-Nya, semua ini muncul karena kekuatan  iman semata. Perasaan bahwa engkau sedang beribadah kepada Allah seakan-akan  engkau dapat melihat-Nya, kalaupun tidak dapat seakan-akan melihat-nya, maka  sesungguhnya Dia melihatmu. Kemudian selagi engkau merasakan manisnya shalat,  maka semua ini akan menciptakan konsentrasi hanya kepada shalat.”Lalu beliau  mengatakan,”Faktor kedua (agar khusuk) ialah menghilangkan penghalang, dengan  berusaha menyingkirkan segala hal yang menyibukkan hati, seperti hal-hal yang  tidak berfaedah dalam ibadahnya, memikirkan hal-hal yang dapat mengalihkan dari  tujuan shalat. Semua ini menjadi penghalang bagi hamba yang sedang menunaikan  shalat. Banyaknya bisikan hati tergantung pada banyaknya syubhat dan syahwat  serta ketergantungan hati kapada kepada hal-hal yang disukai, yang mendorong  hati untuk mencarinya. Seorang hamba yang kuat, ialah yang berusaha menyempurnakan  konsentrasi hati. Tiada daya dan kekuatan kecuali dari Allah semata.Ibnu Katsir  menyatakan,”Sesungguhnya kekhusukan dalam shalat itu hanya dapat dicapai oleh  orang yang mengkonsentrasikan hatinya untuk shalat dan disibukkan oleh shalat,  serta ia tidak memperhatikan yang lainnya, sehingga ia lebih mengutamakan  shalat dari amalan yang lain.Di dalam ringkasan Minhajul  Qashidin, diterangkan,”Ketahuilah bahwa shalat itu mempunyai rukun, yang  wajib dan yang sunnah. Sedangkan ruhnya adalah niat, ikhlas, khusuk dan  keterlibatan hati. Shalat itu meliputi dzikir dan munajat. Sebab, ucapan yang  tidak selaras dengan apa yang terkandung di dalam sanubari, kedudukannya sama  dengan igauan. Perbuatan pun juga tidak menghasilkan apa-apa. Sebab, jika  tujuan berdiri itu adalah pengabdian, tujuan rukuk dan sujud adalah ketundukan  dan pengagungan, sementara perbuatan tersebut sama sekali tidak diiringi dengan  kehadiran hati, maka tujuan itu pun tidak tercapai. Jika perbuatan keluar dari  maksudnya, maka ia laksana gambar yang tidak bermakna. Allah SWT berfirman,  yang artinya,”Daging-daging unta dan darahnya sekali-kali tidak dapai  mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakutan dari kamulah yang dapat  mencapai-Nya.” (QS. Al-Hajj:37)Maksudnya adalah, yang  sampai kepada Allah adalah sifat yang menguasai hati, yang mendorong mengikuti  perintah yang diwajibkan. Jadi harus ada keterlibatan hati dalam shalat,  sekalipun Allah memberikan kelonggran saat tiba-tiba saja lalai. Sebab  kehadiran hati pada permulaannya akan terus berpengaruh terhadap saat-saat  setelahnya.”
  • Memahami       Makna-Makna dan Ucapan
Hal ini termasuk  pendukung yang dapat mengkhusukkan hati setelah menghadirkan hati. Kadang kala  hati memang hadir mengiringi setiap ucapan, tapi tanpa makna. Maka pikiran  harus dikonsenrtasikan untuk memahami maknanya, dengan menyingkirkan lintasan  pikiran yang memotong objeknya. Sebab, jika objeknya tidak segera dipotong,  lintasan pikiran pun tidak akan hilang.Objek di sini dapat  diartikan sebagai objek lahir dan batin. Yang lahir adalah apa saja yang dapat  mengganggu penglihatan dan pendengaran. Yang batin justru lebih berat, seperti  yang disibukkan oleh berbagai hasrat dan pikirannya yang mengelana.Ibnul Qayyim mengatakan  ,”Ada satu hal yang ajaib, yang dapat diperoleh orang yang merenungi  makna-makna Al-Quran. Yaitu keajaiban-keajaiban asma dan sifat Allah. Itu  terjadi tatkala ia menuangkan segala curahan iman dalam hatinya, sehingga ia  dapat memahami bahwa setiap asma dan sifat Allah itu memiliki tempat (bukan  dibaca) di setiap gerakan shalat. Artinya, bersesuaian. Tatkala ia tegak  berdiri, ia dapat menyadari ke-Maha Terjagaan Allah, dan apabila ia bertakbir,  ia ingat akan ke-Maha Agungan Allah.”Memahami makna dan  ucapan dalam shalat dapat mewujudkan adanya rasa pengagungan terhadap Allah  SWT. Sementara mengagungkan Allah daan takut kepada-Nya dapat menghasilkan dua  hal: pertama, mengetahui keagungan Allah dan kebesaran-Nya. Kedua, kehinaan  dirinya dan kedudukannya sebagai hamba, sehingga dapat menghasilkan ketenaran  dan kekhusukan.Rasulullah SAW bersabda,”Engkau  beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, jika tidak bisa, maka  yakinlah bahwa Allah melihatmu”. (HR. Bukhari dan Muslim).
  • Jauhkan       Diri dari Hal yang Menyibukkan Hati.
Termasuk hal ini, adalah  shalat ketika makanan sudah dihidangkan; atau shalat ketika sedang menahan  buang air kecil atau besar. Nabi bersabda “Janganlah salah seorang di  antara kamu shalat, ketika makanan dihidangkan, atau ketika menahan buang air”. (HR. Muslim)Diriwayatkan dalam  hadist Bukhari dan Muslim, bahwa Ibnu Umar pernah dihidangi makanan saat itu  adzan berkumandang, namun beliau terus saja makan sampai selesai. Padahal  beliau sudah mendengar suara bacaan imam.Diantaranya lagi,  memandang (ketika shalat) sesuatu yang merusak konsentrasi. Dari Anas bin Malik  ra diceritakan, bahwa ‘Aisyah memiliki kain korden berhias yang menutupi  sebagian tembok rumahnya. Maka Rasulullah SAW bersabda,”Singkirkan korden  itu, sesungguhnya gambar-gambarnya it uterus terbayang dalam diriku di waktu  shalat”.(HR. Bukhari)Imam Ash-Shan’ani  berkata,”Sesungguhnya hadist itu mengandung larangan terhadap segala hal yang  dapat mengganggu shalat. Baik itu ukiran-ukiran, hiasan-hiasan dan lain-lain”.
  • Memelihara       Tuma’ninah
Artinya, adalah  ketenangan dan tidak terburu-terburu dalam shalat. Allah berfirman, yang  artinya,”Dan apabila kamu sudah tenang, mak dirikanlah shalat.” (QS.  An-Nisa’:103)Ayat diatas jelas  mengisyaratkan, bahwa ketenangan adalah faktor vital dalam shalat yang harus  diperhatikan. Sehingga ‘keharusan’ shalat bagi seorang mukmin di saat-saat  berperang dengan orang-orang kafir, dilakukan ketika ia sudah kembali tenang.Hal ini juga dipahami  dari hadist tentang orang yang melakukan shalat tetapi serampangan, yang  kemudian dikoreksi oleh Nabi. Bahkan orang tersebut diminta mengulangi  shalatnya.Abu Hurairah ra  bercerita,”Ada seorang laki-laki masuk masjid, lalu ia shalat, sedangkan  Rasulullah SAW berada di sisi masjid, mak dia datang (kepadanya) dan memberi  salam kepadanya, maka beliau menjawabnya sambil berkata, ‘Waalaikas salaam,  kembali dan shalatlah, karena sesungguhnya engkau belum shalat’. Maka ia  kembali dan shalat kemudian memberi salam , ia berkata,”Wa’alaikas salaam,  kembali dan shalatlah, karena sesungguhnya engkau belum shalat’. Pada yang  ketiga kali ia berkata,’Ajarkanlah kepadaku”. Maka Nabi bersabda,”Apabila  engaku akan melaksanakan shalat, sempurnakanlah wudhu, kemudian menghadaplah ke  kiblat dan bertakbirlah, dan bacalah apa-apa yang mudah dari Al-Quran kemudian  rukuklah sehingga benar-benar rukuk, kemudian angkatlah kepalamu sehingga  engkau benar-benar berdiri, kemudian sujudlah dengan benar-benar sujud,  kemudian engkatlah (tubuhnya) sehingga rata dan benar-benar duduk, kemudian  sujudlah dengan benar-benar sujud, kemudian angkatlah sehingga benar-benar berdiri,berdiri,  kemudian lakukan semua itu di shalatmu seluruhnya”.(HR. Bukhari dan  Muslim).
  • Ingatlah       Mati Ketika Shalat
Nabi SAW bersabda,”Ingatlah  mati ketika engkau shalat. Karena seseorang yang ingat mati ketika shalat, maka  hal itu dapat mendorong untuk menyempurnakan shalatnya. Dan shalatlah sepeti  shalatnya seseorang yang meyakini bahwa ia tidak akan shalat lagi –mati”. (Hadist ini dihasankan oleh Albani dalam Silsilah Al-Hadist Ash-Shahihah, 1421)Rasulullah SAW bersabda,”Apabila  engkau melakukan shalat, maka shalatlah kamu dengan shalatnya orang yang akan  meninggalkan alam fana”.(HR. Ibnu Majah dan Ahmad, hasan).Maksudnya, adalah  seperti shalatnya orang yang rindu untuk berjumpa kepada Allah, bukan shalatnya  orang yang terpesona dengan dunia, yang menjadikan dunia dan segal  kesibukkannya sebagai bayangan yang selalu terukir dalam benak.Semoga beberapa kiat ini  dapat memperbaiki kualitas shalat kita, menghiasi dan menyempurnakan dengan  kekhususan, sehingga menjadi mukmin yang penuh keberuntungan, dunia, dan  akhirat. Wallahu a’lam.Sumber :http://blogsikathabis.multiply.com/reviews/item/1

Kisah Menakjubkan: Para Ulama Mengkhatamkan Al Quran dalam Sehari

Kisah Menakjubkan: Para Ulama Mengkhatamkan Al Quran dalam Sehari



Disunnahkan untuk memperbanyak membaca Al-Qur’an di bulan Ramadhan dan semangat untuk mengkhatamkannya. Walaupun hal ini tidaklah wajib. Artinya, jika tidak mengkhatamkan Al-Qur’an, maka tidak berdosa. Namun sayang, saat itu ia akan luput dari pahala yang besar.
Apa dalil di bulan Ramadhan kita mesti perhatian pada Al-Qur’an. Lihatlah Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallamberusaha untuk mengkhatamkan Al-Qur’an di hadapan Jibril ‘alaihis salam sebanyak sekali setiap tahunnya. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,
كَانَ يَعْرِضُ عَلَى النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – الْقُرْآنَ كُلَّ عَامٍ مَرَّةً ، فَعَرَضَ عَلَيْهِ مَرَّتَيْنِ فِى الْعَامِ الَّذِى قُبِضَ ، وَكَانَ يَعْتَكِفُ كُلَّ عَامٍ عَشْرًا فَاعْتَكَفَ عِشْرِينَ فِى الْعَامِ الَّذِى قُبِضَ { فِيهِ }
Jibril itu (saling) belajar Al-Qur’an dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam setiap tahun sekali (khatam). Ketika di tahun beliau akan meninggal dunia dua kali khatam. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa pula beri’tikaf setiap tahunnya selama sepuluh hari. Namun di tahun saat beliau akan meninggal dunia, beliau beri’tikaf selama dua puluh hari.” (HR. Bukhari no. 4998).
Ibnul Atsir menyatakan dalam Al-Jami’ fii Gharibil Hadits (4: 64) bahwa Jibril saling mengajarkan pada Nabi seluruh Al-Qur’an yang telah diturunkan.
Dari situ, para ulama –semoga Allah meridhai mereka- begitu semangat mengkhatamkan Al-Qur’an di bulan Ramadhan karena mencontoh Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam.
Beberapa contoh kami sebutkan di bawah ini.
Contoh pertama dari seorang ulama yang bernama Al-Aswad bin Yazid –seorang ulama besar tabi’in yang meninggal dunia 74 atau 75 Hijriyah di Kufah- bisa mengkhatamkan Al-Qur’an di bulan Ramadhan setiap dua malam. Dari Ibrahim An-Nakha’i, ia berkata,
كَانَ الأَسْوَدُ يَخْتِمُ القُرْآنَ فِي رَمَضَانَ فِي كُلِّ لَيْلَتَيْنِ
“Al-Aswad biasa mengkhatamkan Al-Qur’an di bulan Ramadhan setiap dua malam.” (Siyar A’lam An-Nubala, 4: 51). Subhanallah … Yang ada, kita hanya jadi orang yang lalai dari Al-Qur’an di bulan Ramadhan.
Disebutkan dalam kitab yang sama di luar bulan Ramadhan, Al-Aswad biasa mengkhatamkan Al-Qur’an dalam enam malam. Waktu istirahat beliau untuk tidur hanya antara Maghrib dan Isya. (Siyar A’lam An-Nubala, 4: 51)
Ada seorang ulama di kalangan tabi’in yang bernama Qatadah bin Da’amah yang meninggal tahun 60 atau 61 Hijriyah dan salah seorang murid dari Anas bin Malik radhiyallahu anhu. Beliau ini sampai dikatakan oleh Imam Ahmad bin Hambal sebagai ulama pakar tafsir dan paham akan perselisihan ulama dalam masalah tafsir. Sampai-sampai Sufyan Ats-Tsaury mengatakan bahwa tidak ada di muka bumi ini yang semisal Qatadah. Salam bin Abu Muthi’ pernah mengatakan tentang semangat Qatadah dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an,
كَانَ قَتَادَة يَخْتِمُ القُرْآنَ فِي سَبْعٍ، وَإِذَا جَاءَ رَمَضَانُ خَتَمَ فِي كُلِّ ثَلاَثٍ، فَإِذَا جَاءَ العَشْرُ خَتَمَ كُلَّ لَيْلَةٍ
“Qatadah biasanya mengkhatamkan Al-Qur’an dalam tujuh hari. Namun jika datang bulan Ramadhan ia mengkhatamkannya setiap tiga hari. Ketika datang sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan, ia mengkhatamkan setiap malamnya.” (Siyar A’lam An-Nubala’, 5: 276)
Muhammad bin Idri Asy-Syafi’i yang kita kenal dengan Imam Syafi’i yang terkenal sebagai salah satu ulama madzhab sebagaimana disebutkan oleh muridnya Ar-Rabi’ bin Sulaiman,
كَانَ الشَّافِعِيُّ يَخْتِمُ القُرْآنَ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ سِتِّيْنَ خَتْمَةً
“Imam Syafi’i biasa mengkhatamkan Al-Qur’an di bulan Ramadhan sebanyak 60 kali.” Ditambahkan oleh Ibnu Abi Hatim bahwa khataman tersebut dilakukan dalam shalat. (Siyar A’lam An-Nubala’, 10: 36). Bayangkan, Imam Syafi’i berarti mengkhatamkan Al-Qur’an sehari dua kali. Subhanallah …
Ibnu ‘Asakir adalah seorang ulama hadits dari negeri Syam, dengan nama kunyah Abul Qasim, beliau penulis kitab yang terkenal yaitu Tarikh Dimasyq. Anaknya yang bernama Al-Qasim mengatakan mengenai bapaknya,
وكان مواظبا على صلاة الجماعة وتلاوة القرآن، يختم كل جمعة، ويختم في رمضان كل يوم، ويعتكف في المنارة الشرقية، وكان كثير النوافل والاذكار
“Ibnu ‘Asakir adalah orang yang biasa merutinkan shalat jama’ah dan tilawah Al-Qur’an. Beliau biasa mengkhatamkan Al-Qur’an setiap pekannya. Lebih luar biasanya di bulan Ramadhan, beliau khatamkan Al-Qur’an setiap hari. Beliau biasa beri’tikaf di Al-Manarah Asy-Syaqiyyah. Beliau adalah orang yang sangat gemar melakukan amalan sunnah dan rajin berdzikir.” (Siyar A’lam An-Nubala’, 20: 562)

Apakah Mengkhatamkan Al-Qur’an itu Wajib?

Imam Nawawi rahimahullah menyebutkan bahwa seperti itu berbeda tergantung pada orang masing-masing. Orang yang sibuk pikirannya, maka berusaha sebisa mungkin sesuai kemampuan pemahamannya. Begitu pula orang yang sibuk dalam menyebarkan ilmu atau sibuk mengurus urusan agama lainnya atau urusan orang banyak, berusahalah pula untuk mengkhatamkannya sesuai kemampuan. Sedangkan selain mereka yang disebut tadi, hendaknya bisa memperbanyak membaca, jangan sampai jadi lalai. Lihat At-Tibyan, hal. 72.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah ditanya, “Apakah orang yang berpuasa wajib mengkhatamkan Al-Qur’an di bulan Ramadhan?”
Jawab beliau rahimahullah bahwa mengkhatamkan Al-Qur’an di bulan Ramadhan bagi orang yang berpuasa tidaklah wajib. Akan tetapi sudah sepatutnya setiap muslim di bulan Ramadhan untuk memperbanyak membaca Al-Qur’an. Hal ini merupakan sunnah dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Setiap bulan Ramadhan, Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam biasa saling mengkaji Al-Qur’an bersama Jibril. (Majmu’ Fatawa Ibnu ‘Utsaimin 20: 516, Dinukil dari Fatawa Al-Islam Sual wa Jawab no. 65754)

Padahal Ada Hadits yang Melarang Khatam Al-Qur’an Kurang dari Tiga Hari

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr, ia berkata,
يَا رَسُولَ اللَّهِ فِى كَمْ أَقْرَأُ الْقُرْآنَ قَالَ « فِى شَهْرٍ ». قَالَ إِنِّى أَقْوَى مِنْ ذَلِكَ وَتَنَاقَصَهُ حَتَّى قَالَ « اقْرَأْهُ فِى سَبْعٍ ». قَالَ إِنِّى أَقْوَى مِنْ ذَلِكَ. قَالَ « لاَ يَفْقَهُ مَنْ قَرَأَهُ فِى أَقَلَّ مِنْ ثَلاَثٍ »
“Wahai Rasulullah dalam berapa hari aku boleh mengkhatamkan Al-Qur’an. Beliau menjawab, “Dalam satu bulan.” ‘Abdullah menjawab, “Aku masih lebih kuat dari itu.” Lantas hal itu dikurangi hingga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan, “Khatamkanlah dalam waktu seminggu.” ‘Abdullah masih menjawab, “Aku masih lebih kuat dari itu.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bersabda, “Tidaklah bisa memahami jika ada yang mengkhatamkan Al-Qur’an kurang dari tiga hari.” (HR. Abu Daud no. 1390 dan Ahmad 2: 195. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih).
Al ‘Azhim Abadi menyatakan bahwa hadits di atas adalah dalil tegas yang menyatakan bahwa tidak boleh mengkhatamkan Al-Qur’an kurang dari tiga hari. (‘Aun Al-Ma’bud, 4: 212)
Para ulama menjelaskan bahwa yang ternafikan dalam hadits adalah ketidakpahaman, bukan pahalanya. Artinya, hadits tersebut tidaklah menunjukkan tidak boleh mengkhatamkan Al-Qur’an kurang dari tiga hari. Yang dimaksudkan dalam hadits adalah jika mengkhatamkan kurang dari tiga hari sulit untuk memahami. Berarti kalau dilakukan oleh orang yang memahami Al-Qur’an seperti contoh para ulama yang penulis sebutkan di atas, maka tidaklah masalah.
Dalam Lathaif Al-Ma’arif (hal. 306) disebutkan oleh Ibnu Rajab Al-Hambali, “Larangan mengkhatamkan Al-Qur’an kurang dari tiga hari itu ada jika dilakukan terus menerus. Sedangkan jika sesekali dilakukan apalagi di waktu utama seperti bulan Ramadhan lebih-lebih lagi pada malam yang dinanti yaitu Lailatul Qadar atau di tempat yang mulia seperti di Makkah bagi yang mendatanginya dan ia bukan penduduk Makkah, maka disunnahkan untuk memperbanyak tilawah untuk memanfaatkan pahala melimpah pada waktu dan zaman. Inilah pendapat dari Imam Ahmad dan Ishaq serta ulama besar lainnya. Inilah yang diamalkan oleh para ulama sebagaimana telah disebutkan.”
Walhamdulillah. Wallahu waliyyut taufiq.

Referensi:

At-Tibyan fi Adab Hamalah Al-Qur’an. Cetakan pertama tahun 1426 H. Yahya bin Syarf An-Nawawi. Penerbit Maktabah Ibnu ‘Abbas.
‘Aun Al-Ma’bud Syarh Sunan Abi Daud. Cetakan pertama tahun 1430 H. Muhammad Asyraf Ash-Shidiqiy Al-‘Azhim Abadi. Penerbit Darul Fayha’.
Lathaif Al-Ma’arif. Cetakan pertama tahun 1428 H. Ibnu Rajab Al-Hambali. Penerbit Al-Maktab Al-Islami.
Siyar A’lam An-Nubala’. Cetakan kedua tahun 1435 H. Muhammad bin Ahmad bin ‘Utsman Adz-Dzahabiy. Penerbit Muassasah Ar-Risalah.
Fatawa Al-Islam Sual wa Jawab no. 65754.
Diselesaikan di pagi hari 12 Sya’ban 1436 H di Darush Sholihin Panggang Gunungkidul

Sudah Pelit Koq Sukses

ADA orang yang maksiatnya lancar tapi rezekinya juga lancar, bisnisnya sukses, pelitnya luar biasa. Bagaimana bisa?Jawabannya ada pada hadits berikut ini:
عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: إذا رأيت الله يعطي العبد من الدنيا ما يحب وهو مقيم على معصيته ؛ فاعلم أنما ذلك منه استدراج ، ثُمَّ تَلَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: {فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ} [الأنعام: 44].
Dari ‘Uqbah bin Amir, dari Rasulullah SAW: “Apabila engkau melihat Allah mengaruniakan dunia kepada seorang hamba sesuai dengan yang ia inginkan, sementara ia tenggelam dalam kemaksiatan, maka ketahuilah itu hanya istidraj darinya”, kemudian Rasulullah SAW membaca firman: “ Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa”.عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ فِي قَوْلِهِ عَزَّ وَجَلَّ: {سَنَسْتَدْرِجُهُمْ مِنْ حَيْثُ لا يَعْلَمُونَ} [القلم: 44] ؛ قَالَ: كُلَّمَا أَحْدَثُوا خَطِيئَةً جددنا لهم نعمة وأنسيناهم الاسْتِغْفَارَ.Laporkan iklan?Ibnu Abbas menjelaskan firman Allah ‘Azza wajallah: “Nanti Kami akan menarik mereka dengan berangsur-angsur ke arah kebinasaan dengan cara yang tidak mereka ketahui”, ia berkata: Setiap kali mereka melakukan satu kesalahan kami beri mereka nikmat yang baru dan kami lupakan mereka untuk beristighfar.عن سفيانَ في قولِهِ {سَنَسْتَدْرِجُهُم مِّنْ حَيْثُ لاَ يَعْلَمُون} [الأعراف: 182] قالَ: نُسبغُ عَليهم النِّعمةَ ونَمنَعُهم الشكرَ.Sufyan ats Tsauriy menjelaskan firman Allah: “Nanti Kami akan menarik mereka dengan berangsur-angsur ke arah kebinasaan dengan cara yang tidak mereka ketahui”, ia berkata: Kami karuniakan nikmat kepada mereka dan kami halangi mereka untuk bersyukur.Kelancaran rezeki bukanlah standar sayangnya Allah kepada seseorang. Boleh jadi kelapangan hidup itu bentuk azab yang tidak disadari. Untuk apa banyak harta tapi batin merana, ancaman azab akhirat tidak dipedulikan. Kalaulah standar sayangnya Allah itu dengan kemewahan hidup dunia, Qarunlah orang yang paling disayangi Allah. Tapi akhirnya ia binasa ditelan bumi.Juga sebaliknya, jangan mengira orang yang banyak ujian dan cobaan dalam hidup tanda ia dimurkai oleh Allah. Boleh jadi itu adalah musibah untuk menghapuskan dosa dan meninggikan derajatnya di surga nanti.Penuntut ilmu juga begitu. Jangan mengira dapat nilai bagus dan selalu sukses adalah ukuran kasih sayang Allah kepadanya. Tapi lihatlah, bagaimana shalatnya, puasanya, bagaimana ketaatannya untuk tunduk pada aturan Allah, dan bagaimana usahanya untuk mengamalkan ilmunya.Maka berhati-hatilah, kita sedang di posisi mana?Standar sayang atau marahnya Allah itu adalah sejauh mana kita mampu taat kepada-Nya atau sedalam apa tenggelam dalam kemaksiatan.

Risalah Talak (7), Ucapan Talak

Talak atau cerai adalah suatu permasalahan rumah tangga yang saat ini banyak menimpa suami istri. Kadang karena ketidak tahuan akan talak yang menyebabkan dengan sendirinya talak itu jatuh. Ada ucapan yang secara tegas walau tanpa disertai niat, membuat talak itu sah. Ada pula talak berupa kata kiasan yang butuh akan niat. Talak pun bisa dilakukan via sms, email atau faks. Kesemuanya akan disinggung pada kesempatan kali ini diawali melanjutkan pembahasan sebelumnya mengenai syarat talak berkaitan dengan istri yang ditalak. Semoga bermanfaat.

Syarat yang Berkaitan dengan Istri yang Ditalak
Pertama: Istri yang ditalak adalah benar-benar istri yang sah secara hukum.
Yang dimaksud di sini adalah istri yang ditalak adalah benar-benar istri yang sah atau masih ada masa ‘iddah dari talak roj’i. Sedangkan jika istri sudah ditalak ba-in atau nikahnya jadi faskh (batal), mayoritas ulama menganggap tidak sahnya talak.
Jika istri ditalak sebelum disetubuhi atau sebelum berdua-duaan dengannya, maka tidak ada masa ‘iddah. Karena Allah Ta’ala berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِذَا نَكَحْتُمُ الْمُؤْمِنَاتِ ثُمَّ طَلَّقْتُمُوهُنَّ مِنْ قَبْلِ أَنْ تَمَسُّوهُنَّ فَمَا لَكُمْ عَلَيْهِنَّ مِنْ عِدَّةٍ تَعْتَدُّونَهَا
Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu menikahi perempuan-perempuan yang beriman, kemudian kamu ceraikan mereka sebelum kamu mencampurinya maka sekali-sekali tidak wajib atas mereka ‘iddah bagimu yang kamu minta menyempurnakannya” (QS. Al Ahzab: 49).
Kedua: Hendaklah dispesifikkan manakah istri yang ditalak. Ini diperlukan ketika istri lebih dari satu. Hal ini bisa dilakukan dengan isyarat, sifat atau niat. Seperti suami mengatakan kepada salah satu istrinya dengan rinci, “Wahai Zainab, saya talak kamu”.[1]
Syarat yang Berkaitan dengan Sighoh Talak
Asalnya talak dilakukan dengan ucapan. Namun kadangkala talak dilakukan melalui tulisan atau isyarat.
Pertama: Talak dengan lafazh (ucapan)
Talak dengan ucapan ada dua macam: (1) talak dengan lafazh shorih (tegas) dan (2) talak dengan lafazh kinayah (kiasan).
Talak dengan lafazh shorih (tegas) artinya tidak mengandung makna lain ketika diucapkan dan langsung dipahami bahwa maknanya adalah talak, lafazh yang digunakan adalah lafazh talak secara umum yang dipahami dari sisi bahasa dan adat kebiasaan. Contohnya seseorang mengatakan pada istrinya, “Saya talak kamu”, “Saya ceraikan kamu”, “Tak pegat koe (saya ceraikan kamu dalam bahasa Jawa). Lafazh-lafazh ini tidak bisa dipahami selain makna cerai atau talak, maka jatuhlah talak dengan sendirinya ketika diucapkan serius maupun bercanda dan tidak memandang niat. Intinya, jika lafazh talak diucapkan dengan tegas, maka jatuhlah talak selama lafazh tersebut dipahami, diucapkan atas pilihan sendiri, meskipun tidak disertai niat untuk mentalak. Sebagaimana telah diterangkan sebelumnya mengenai orang yang mentalak istri dalam keadaan main-main atau bercanda,
ثَلاَثٌ جِدُّهُنَّ جِدٌّ وَهَزْلُهُنَّ جِدٌّ النِّكَاحُ وَالطَّلاَقُ وَالرَّجْعَةُ
Tiga perkara yang serius dan bercandanya sama-sama dianggap serius: (1) nikah, (2) talak, dan (3) rujuk”.[2]
Talak dengan lafazh kinayah (kiasan) tidak diucapkan dengan kata talak atau cerai secara khusus, namun diucapkan dengan kata yang bisa mengandung makna lain. Jika kata tersebut tidak punya arti apa-apa, maka tidak bisa dimaksudkan cerai dan itu dianggap kata yang sia-sia dan tidak jatuh talak sama sekali. Contoh lafazh kinayah yang dimaksudkan talak, “Pulang saja kamu ke rumah orang tuamu”. Kalimat ini bisa mengandung makna lain selain cerai. Barangkali ada yang memaksudkan agar istrinya pulang saja ke rumah, namun bukan maksud untuk cerai. Contoh lainnya, “Sekarang kita berpisah saja”. Lafazh ini pun tidak selamanya dimaksudkan untuk talak, bisa jadi maknanya kita berpisah di jalan dan seterusnya. Jadi contoh-contoh tadi masih mengandung ihtimal (makna lain). Untuk talak jenis ini perlu adanya niat. Jika diniatkan kalimat tadi untuk maksud talak, jatuhlah talak. Jika tidak, maka tidak jatuh talak. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda,
إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ
Sesungguhnya setiap amal itu tergantung dari niatnya.”[3]
Jika talaknya hanya dengan niat dalam hati tidak sampai diucapkan, maka talaknya tidak jatuh. Karena Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ اللَّهَ تَجَاوَزَ عَنْ أُمَّتِى مَا حَدَّثَتْ بِهِ أَنْفُسَهَا ، مَا لَمْ تَعْمَلْ أَوْ تَتَكَلَّمْ
Sesungguhnya Allah memaafkan pada umatku sesuatu yang terbetik dalam hatinya selama tidak diamalkan atau tidak diucapkan”.[4]
Kedua: Talak dengan tulisan
Talak ini bisa dilakukan lewat sms, email, atau surat menyurat. Jika seseorang tidak ada di tempat, lalu ia menulis pesan kepada istrinya melalui sarana-sarana tadi, maka talaknya jatuh ketika ia berniat untuk talak. Demikian pendapat jumhur –mayoritas ulama-.
Az Zuhri berkata, “Jika seseoran menuliskan pada istrinya kata-kata talak, maka jatuhlah talak. Jika suami mengingkari, maka ia harus dimintai sumpah”.
Ibrahim An Nakho’i berkata, “Jika seseorang menuliskan dengan tangannya kata-kata talak pada istrinya, maka jatuhlah talak”.
Alasan lain bahwa tulisan terdiri dari huruf-huruf yang mudah dipahami maknanya. Jika demikian dilakukan oleh seorang pria ketika ia menuliskan kata-kata talak pada istrinya dan ia berniat mentalak, maka jatuhlah talak sebagaimana ucapan.[5]
Namun untuk tulisan melalui perangkat elektronik perlu ditegaskan bahwa benar-benar tulisan tadi baik berupa sms, email atau fax dari suaminya. Jika tidak dan hanya rekayasa orang lain, maka jelas tidak jatuh talak.[6]
Ketiga: Talak dengan isyarat
Jika suami mampu mentalak dengan ucapan, maka tidak sah jika ia melakukan talaknya hanya dengan isyarat. Demikian menurut jumhur –mayoritas ulama-. Kecuali untuk orang yang bisu yang tidak dapat berbicara, maka talaknya jatuh jika ia melakukannya dengan isyarat. Namun ulama Hanafiyah dan juga pendapat Syafi’iyah menganggap bahwa jika orang bisu tadi mampu melakukannya dengan tulisan, maka sebaiknya dengan tulisan. Jika tidak, maka tidak sah. Karena talak lewat tulisan lebih menunjukkan yang dimaksud, beda halnya jika hanya dengan isyarat kecuali dalam kondisi darurat karena tidak mampu.[7]
Apakah Talak Harus dengan Saksi?
Menurut mayoritas ulama dari kalangan salaf dan imam madzhab, disunnahkan (dianjurkan) adanya saksi dalam talak karena hal ini lebih menjaga hak-hak suami istri dan tidak menimbulkan masalah di kemudian hari jika masih ada perdebatan. Allah Ta’ala berfirman,
فَإِذَا بَلَغْنَ أَجَلَهُنَّ فَأَمْسِكُوهُنَّ بِمَعْرُوفٍ أَوْ فَارِقُوهُنَّ بِمَعْرُوفٍ وَأَشْهِدُوا ذَوَيْ عَدْلٍ مِنْكُمْ وَأَقِيمُوا الشَّهَادَةَ لِلَّهِ
Apabila mereka telah mendekati akhir iddahnya, maka rujukilah mereka dengan baik atau lepaskanlah mereka dengan baik dan persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil di antara kamu dan hendaklah kamu tegakkan kesaksian itu karena Allah” (QS. Ath Tholaq: 2). Di antara alasannya kenapa saksi di sini tidak sampai wajib adalah karena dalam ayat lainnya kalimat talak tidak disertai dengan saksi. Begitu pula dalam beberapa hadits. Dan talak adalah hak suami dan tidak butuh adanya pendukung karena itu haknya secara langsung. Hal ini sama halnya dengan persaksian yang lain.[8]

Diselesaikan 12 Jumadats Tsaniyah di Ummul Hamam, Riyadh, KSA

[1] Shahih Fiqh Sunnah, 3: 250-251
[2] HR. Abu Daud no. 2194, At Tirmidzi no. 1184 dan Ibnu Majah no. 2039. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan
[3] HR. Bukhari no. 1 dan Muslim no. 1907, dari ‘Umar bin Al Khottob.
[4] HR. Bukhari no. 5269  dan Muslim no. 127, dari Abu Hurairah.
[5] Shahih Fiqh Sunnah, 3: 258-259.
[6] Lihat Fatwa Al Islam Sual wal Jawab no. 36761, www.islamqa.com. Juga dijelaskan dalam Shahih Fiqh Sunnah, 3: 259.
[7] Shahih Fiqh Sunnah, 3: 259.
[8] Shahih Fiqh Sunnah, 3: 259-260.