Rabu, 27 Mei 2015

Tukang Roti Dan Istighfar

Tukang Roti Dan Istighfar


Kisah ini terjadi pada masa Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah. Ketika itu Imam Ahmad hendak menghabiskan malamnya di dalam masjid, akan tetapi ia terhalang untuk bermalam di dalam masjid, karena larangan penjaga masjid. Ia terus berusaha meminta izin, namun tidak membuahkan hasil. Lalu, Imam Ahmad berkata kepada si penjaga,” Saya akan tidur di tempat kakiku berpijak ini.” Dan, benar, Imam Ahmad bin Hanbal tidur di tempat kakinya berpijak. Lalu penjaga masjid mengusirnya dari lokasi masjid. Imam Ahmad bin Hanbal adalah seorang syaikh yang berwibawa, serta terlihat tanda-tanda keshalihan dan ketakwaan pada dirinya.

Lalu ada seorang tukang roti yang melihat Imam Ahmad. Begitu si tukang roti melihat penampilannya, ia menawarkan tempat bermalam. Maka, Imam Ahmad bin Hanbal pergi bersama tukang roti itu, dan ia begitu memuliakannya.

Lalu si tukang roti mengambil adonan untuk membuat roti. Imam Ahmad mendengar si tukang roti membaca istighfar dan terus membaca istighfar. Waktu berlalu sekian lama dan ia tetap dalam kondisi tersebut. Imam Ahmad merasa takjub, keesokan harinya ia bertanya kepada si tukang roti tentang tindakannya membaca istighfar semalam. Ia menjawab bahwa selama membuat adonan ia terus membaca istighfar.

Imam Ahmad bertanya,” Apakah kamu mendapatkan buah dari istighfar yang kamu baca?” Imam Ahmad mengajukan pertanyaan ini, sedangkan ia mengetahui bermacam buah istighfar. Ia mengetahui keutamaan istighfar, dan ia mengetahui faedah-faedah istighfar.

Si tukang roti menjawab,” Ya, demi Allah. Tidak sekalipun aku memanjatkan doa melainkan doaku terkabulkan, kecuali satu permohonan.” Imam Ahmad bertanya,” Permohonan apa itu?” Si tukang roti menjawab ,” Melihat Imam Ahamd bin Hanbal.”

Imam Ahmad berkata,” Akulah Ahmad bin Hanbal. Demi Allah, sungguh aku telah ditarik untuk mendatangimu!”

Subhanallah… Semoga kita bisa mengambil pelajaran dan diberi kemudahan oleh Allah untuk mengamalkannya. Aamiin.

10 Teman Iblis Dari Umat Muhammad SAW

10 Teman Iblis Dari Umat Muhammad SAW


Dalam riwayat Imam Bukhari, diceritakan suatu saat ketika sedang duduk Rasulullah saw didatangi seseorang. Rasul bertanya kepadanya: “Siapa Anda?” Ia pun menjawab: “Saya Iblis.”

Rasul bertanya lagi, apa maksud kedatanganmu. Iblis menceritakan kedatangannya atas izin Allah untuk menjawab semua pertanyaan dari Rasulullah saw.

Kesempatan itu pun digunakan Rasulullah saw untuk menanyakan beberapa hal. Salah satunya mengenai teman-teman Iblis dari umat Muhammad saw yang akan menemaninya di neraka nanti? Iblis menjawab, temannya di neraka nanti ada 10 kelompok.


Yang pertama, kata Iblis, haakimun zaa`ir (hakim yang curang). Maksudnya adalah seorang hakim yang berlaku tidak adil dalam menetapkan hukum. Ia menetapkan tidak semestinya. Tak hanya hakim, dalam hal ini bisa juga para penegak hukum secara umum, seperti polisi, jaksa, pengacara, dan juga setiap individu, karena mereka menjadi hakim dalam keluarganya.

Yang kedua, kata Iblis, ghaniyyun mutakabbir (orang kaya yang sombong). Ia begitu bangga dengan kekayaan dan enggan mendermakan untuk masyarakat yang membutuhkan. Dia menganggap, semua yang diperolehnya merupakan usahanya sendiri tanpa bantuan orang lain. Contohnya seperti Qarun.

Ketiga, taajirun kha’in (pedagang yang berkhianat). Ia melakukan penipuan, baik dalam hal kualitas barang yang diperdagangkan, maupun mengurangi timbangan. Bila membeli sesuatu, dia selalu meminta ditambah, namun saat menjualnya dia melakukan kecurangan dengan menguranginya. Disamping itu, ia menimbun barang. Membeli di saat murah, dan menjualnya di saat harga melambung tinggi. Dengan begitu, dia memperoleh untung besar. Demikian juga pada pengerjaan proyek tertentu, ia membeli barang dengan kualitas rendah untuk meraih keuntungan berlipat (mark up).

Kelompok keempat yang menjadi teman Iblis adalah syaaribu al-khamr (orang yang meminum khamar). Minuman apapun yang memabukkan, ia termasuk khamar. Misalnya arak, wine, wisky, atau minuman yang sejenisnya. Dalam sebuah riwayat disebutkan, peminum khamar (pemabuk) dikatakan tidak beriman, jika dia meninggal nanti masih terdapat khamar dalam tubuhnya.

Yang kelima, al-fattaan (tukang fitnah). Fitnah lebih berbahaya dari pada pembunuhan (al-fitnatu asyaddu min al-qatl). Lihat QS al-Baqarah [2]: 191. Membunuh adalah menghilangkan nyawa lebih cepat, namun fitnah ‘membunuh’ seseorang secara pelan-pelan. Fitnah ini bisa pula ‘pembunuhan’ karakter seseorang. Fitnah itu di antaranya, mengungkap aib seseorang yang kebenarannya tidak bisa dipertanggungjawabkan, gosip, ghibah, dan lainnya.

Keenam adalah shaahibu ar-riya` (orang yang suka memamerkan diri). Mereka selalu ingin menunjukkan kehebatan dirinya, menunjukkan amalnya, kekayaannya, dan lainnya. Semuanya itu demi mendapatkan pujian.

Ketujuh, aakilu maal al-yatiim (orang yang memakan harta anak yatim). Mereka memanfaatkan harta anak yatim atau sumbangan untuk anak yatim demi kepentingan pribadi atau kelompoknya. Lihat QS al-Ma`un [107]: 1-7.

Kedelapan, al-mutahaawinu bi al-shalah (orang yang meringankan shalat). Mereka memahami perintah shalat adalah kewajiban, namun dengan berbagai alasan, akhirnya shalat pun ditinggalkan. Allah juga mengancam Muslim yang melalaikan shalat.

Kesembilan, maani’u az-zakaah (orang yang enggan membayar zakat). Mereka merasa berat untuk mengeluarkan zakat, walaupun tujuan zakat untuk membersihkan diri dan hartanya.

Teman Iblis yang ke-10 adalah man yuthiilu al-amal (panjang angan-angan). Enggan berbuat, namun selalu menginginkan sesuatu. Dia hanya bisa berandai-andai, tapi tak pernah melakukan hal itu. Wallahu a’lam.

Masya Allah, semoga Allah mengampuni kesalahan yang kami sengaja maupun yang kami tidak sengaja. Amin... 

Kisah Mengharukan Syaikh Bin Baz Dan Seorang Pencuri

Kisah Mengharukan Syaikh Bin Baz Dan Seorang Pencuri

Salah seorang murid Syaikh ‘Ibn Utsaimin rahimahullah menceritakan kisah ini kepadaku. Dia berkata: “Pada salah satu kajian Syaikh Utsaimin rahimahullah di Masjidil Haram, salah seorang murid beliau bertanya tentang sebuah masalah yang didalamnya ada syubhat, beserta pendapat dari Syaikh Bin Baz rahimahullah tentang masalah tersebut. Maka Syaikh Utsaimin menjawab pertanyaan penanya serta memuji Syaikh bin Baz rahimahullah.

Di tengah-tengah mendengar kajian, tiba-tiba ada seorang lelaki dengan jarak kira-kira 30 orang dari arah sampingku kedua matanya mengalirkan air mata dengan deras, dan suara tangisannyapun keras hingga para muridpun mengetahuinya.

Di saat Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah selesai dari kajian, dan majelis sudah sepi aku melihat kepada pemuda yang tadi menangis.

Ternyata dai dalam keadaan sedih, dan bersamanya sebuah mushhaf. Akupun lebih mendekat hingga kemudian aku bertanya kepadanya setelah kuucapkan salam: “Bagaimana kabarmu wahai akhi, apa yang membuatmu menangis?”

Maka diapun menjawab dengan bahasa yang mengharukan: “Jazakallahu khairan.” Akupun mengulangi pertanyaanku sekali lagi: “Apa yang membuatmu menangis akhi?” Diapun menjawab dengan tekanan suara yang haru: “Tidak ada apa-apa, sungguh aku telah ingat Syaikh bin Baz, maka akupun menangis.” Kini menjadi jelas bagiku dari penuturannya bahwa dia dari Pakistan, sedang dia mengenakan pakaian orang Saudi.

Dia meneruskan keterangannya: “Dulu aku mempunyai sebuah kisah bersama Syaikh bin Baz rahimahullah, yaitu sepuluh tahun yang lalu aku bekerja sebagai satpam pada salah satu pabrik batu bata di kota Thaif. Suatu ketika datang sebuah surat dari Pakistan kepadaku yang menyatakan bahwa ibuku dalam keadaan kritis, yang mengahruskan operasi untuk penanaman sebuah ginjal. Biaya operasi tersebut membutuhkan tujuh ribu Riyal Saudi (kurang lebih 17,5 juta Rupiah). Jika tidak segera dilaksanakan operasi dalam seminggu, bisa jadi dia akan meninggal. Sedangkan beliau sudah berusia lanjut.

Saat itu, aku tidak memiliki uang selian seribu Riyal, dan aku tidak mendapati orang yang mau memberi atau meminjami uang. Maka akupun meminta kepada perusahaan untuk memberiku pinjaman, Mereka menolak, Aku menangis sepanjang hari. Dia adalah ibu yang telah merawatku dan tidak tidur karena aku.

Pada situasi yang genting tersebut, aku memutuskan untuk mencuri pada salah satu rumah yang bersebelahan dengan perusahaan pada jam dua malam. Beberapa saat setelah aku melompati pagar rumah, aku tidak merasa apa-apa kecuali para polisi tengah menangkap dan melemparkanku ke mobil mereka. Setelah itu duniapun terasa menjadi gelap.

Tiba-tiba, sebelum shalat subuh para polisi mengembalikanku ke rumah yang telah kucuri. Mereka memasukkanku ke sebuah ruangan kemudian pergi. Tiba-tiba ada seorang pemuda yang menghidangkan makanan seraya berkata: “Makanlah, dengan membaca bismillah!” Aku pun tidak mempercayai apa yang tengah kualami.

Saat adzan shalat subuh, mereka berkata kepadaku, “Wudhu’lah untuk shalat!” Saat itu rasa takut masih menyelimutiku. Tiba-tiba datang seorang lelaki yang sudah lanjut usia dipapah salah seorang pemuda masuk menemuiku. Kemudian dia memegang tanganku dan mengucapkan salam kepadaku seraya berkata: “Apakah engkau sudah makan?” Akupun menjawab: “Ya, sudah.” Kemudian dia memegang tangan kananku dan membawaku ke masjid bersamanya. Kami shalat subuh.

Setelah itu aku melihat lelaki tua yang memegang tanganku tadi duduk di atas kursi di bagian depan masjid, sementara jama’ah shalat dan banyak murid mengitarinya. Kemudian syaikh tersebut memulai berbicara menyampaikan sebuah kajian kepada mereka. Maka akupun meletakkan tanganku di atas kepalaku karena malu dan takut.

Ya, Allah, apa yang telah aku lakukan? Aku telah mencuri di rumah Syaikh bin Baz rahimahullah. Sebelumnya aku telah mendengar nama beliau, dan beliau telah terkenal di negeri kami, Pakistan.

Setelah Syaikh bin Baz selesai dari kajian, mereka membawaku ke rumah sekali lagi. Syaikh pun memegang tanganku, dan kami sarapan pagi dengan dihadiri oleh banyak pemuda. Syaikh mendudukanku di sisi beliau. Di tengah makan beliau bertanya kepadaku: “Siapakah namamu?” Kujawab: “Murtadho.” Beliau bertanya lagi: “Mengapa engkau mencuri?” Maka aku ceritakan kisah ibuku. Beliau berkata: “Baik, kami akan memberimu 9000 Riyal.” Aku berkata kepada beliau: “Yang dibutuhkan Cuma 7000 Riyal.” Beliau menjawab: “Sisanya untukmu, tetapi jangan lagi mencuri wahai anakku.”

Aku mengambil uang tersebut, dan berterima kasih kepada beliau dan berdoa untuk beliau. Aku pergi ke Pakistan, lalu melakukan operasi untuk ibuku. Alhamdulillah, beliau sembuh. Lima bulan setelah itu, aku kembali ke Saudi, dan langsung mencari keberadaan Syaikh bin Baz rahimahullah. Aku pergi rumah beliau. Aku mengenali beliau dan beliaupun mengenali aku.

Kemudian beliaupun bertanya tentang ibuku. Aku berikan 1500 Riyal kepada beliau, dan beliau bertanya, “Apa ini?” Kujawab: “Itu sisanya.” Maka beliau berkata: “Ini untukmu.” Kukatakan: “Wahai Syaikh, saya memiliki permohonan kepada anda.” Maka beliau menjawba: “Apa itu wahai anakku?” Kujawab: “Aku ingin bekerja pada anda sebagai pembantu atau apa saja, aku berharap dari anda wahai Syaikh, janganlah menolak permohonan saya, mudah-mudahan Allah menjaga anda.” Maka beliau menjawab: “Baiklah.” Akupun bekerja di rumah Syaikh hingga wafat beliau.

Selang beberapa waktu dari pekerjaanku di rumah Syaikh, salah seorang pemuda yang mulazamah kepada beliau memberitahuku tentang kisahku ketika aku melompat ke rumah beliau hendak mencuri di rumah Syaikh. Dia berkata: “Sesungguhnya ketika engkau melompat ke dalam rumah, Syaikh bin Baz saat itu sedang shalat malam, dan beliau mendengar sebuah suara di luar rumah. Maka beliau menekan bel yang beliau gunakan untuk membangunkan keluarga untuk shalat fardhu saja.

Maka mereka terbangun semua sebelum waktunya. Mereka merasa heran dengan hal ini. Maka beliau memberitahu bahwa beliau telah mendengar sebuah suara. Kemudian mereka memberi tahu salah seorang menjaga keamanan, lalu dia menghubungi polisi. Mereka datang dengan segera dan menangkapmu. Tatkala Syaikh mengetahui hal ini, beliau bertanya: “Kabar apa?” Mereka menjawab: “Seorang pencuri berusaha masuk, mereka sudah menangkap dan membawanya ke kepolisian.” Maka Syaikhpun berkata sambil marah: “Tidak, tidak, hadirkan dia sekarang dari kepolisian, dia tidak akan mencuri kecuali dia orang yang membutuhkan.”

Maka di sinilah kisah tersebut berakhir. Aku katakan kepada pemuda tersebut: “Sungguh matahari sudah terbit, seluruh umat ini terasa berat, dan menangisi perpisahan dengan beliau. Berdirilah sekarang, marilah kita shalat dua rakaat dan berdoa untuk Syaikh rahimahullah.

Mudah-mudahan Allah merahmati Syaikh bin Baz dan Ibnu Utsaimin dan menempatkan keduanya di keluasan surga-Nya. Amiin.

By : Syaikh Mamduh Farhan al Buhairi
Edited : Aster Prescott
Source : Di kutip dari Majalah Qiblati edisi 02 tahun III (11-2007M / 10-1428H)

Dialog Rasulullah dan Sahabat Tentang Penyakit Hati

Dialog Rasulullah dan Sahabat Tentang Penyakit Hati

Racun-racun hati itu banyak macamnya, di antaranya adalah berlebih-lebihan (banyak) bicara atau fudhulul kalam.
Dikatakan bahwa belumlah bisa istiqamah iman seseorang sebelum istiqamah lisannya. Maka lurus dan istiqamahnya hati dalam memegang keimanan itu dimulai dari lisan yang istiqamah.

Oleh karena itulah Islam mengajarkan kepada umatnya agar tidak banyak bicara tanpa disertai dzikir kepada Allah, karena akan mengakibatkan kerasnya hati. Dalam salah satu hadits shahih Rasulullah SAW pernah bicara kepada sahabat Mu'adz:
"Apakah engkau mau aku tunjukkan yang menjadi landasan itu semua (ibadah-ibadah)?"
"Baik, ya Rasulullah", jawab Mu'adz.
Kemudian Rasulullah SAW bersabda: "Cegahlah ini" (sambil mengisyaratkan dengan jarinya pada mulutnya).

Lalu mu'adz berkata:
"Ya Rasulullah, apakah kita akan dimintai tanggung jawab dari apa yang kita ucapkan?"
Kemudian Rasulullah SAW bersabda: "Kamu wahai Mu'adz, tidaklah seseorang akan ditelungkupkan wajahnya dan punggungnya ke dalam Neraka melainkan karena hasil dari lisannya."
(Diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi).

"Ada dua lubang yang paling banyak memasukkan manusia ke dalam Neraka, yaitu mulut dan kemaluan."
(HR Ahmad, At-Tirmidzi dan di-shahih-kannya).

Dan tatkala Uqban bin Amir bertanya kepada Rasulullah: "Ya Rasulullah, apakah sesuatu yang dapat menyelematkan kita?"
Lalu dijawab oleh Nabi : "Tahanlah olehmu lisanmu."

Lalu dalam kesempatan lain Rasulullah SAW bersabda:
"Barangsiapa yang dapat memberi jaminan kepadaku dari apa yang ada di antara jenggot dan kumisnya (lisan) dan kedua pahanya (kemaluan), maka aku jamin untuknya Surga."
(HR. Al-Bukhari).

Maksud dalam hadits ini adalah, barangsiapa yang bisa memelihara apa yang ada di antara kedua bibirnya, yaitu mulut dari semua perkataan yang tidak bermanfaat dan bisa menjaga apa yang ada di antara kedua pahanya yaitu farji agar tidak diletakkan di tempat yang tidak dihalalkan Allah, maka jaminannya adalah Surga.

Kemudian dalam hadits yang lain Rasulullah SAW juga bersabda:
"Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan beriman kepada hari akhirat, hendaklah berbicara yang baik atau agar ia diam."
(HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Dan dalam sutau riwayat dari Abu Hurairah Rasulullah SAW bersabda:
"Sebagian dari tanda bagusnya Islam seseorang apabila ia bisa meninggalkan ucapan yang tidak berguna baginya." Berkata Sahl: "Barangsiapa yang masih suka bicara yang tidak berguna maka ia tidak layak dikatakan shiddiq".

Apalagi bila ucapan seseorang sampai menyakiti orang lain maka belum bisa dijadikan jaminan iman yang dimilikinya, sebagaimana sabda Rasulullah SAW:
"Demi Allah, tidaklah beriman, demi Allah tidaklah beriman", kemudian ditanyakan siapakah gerangan yang engkau maksudkan wahai Rasulullah?
Jawabnya, "orang yang menjadikan tetangganya merasa tidak aman lantaran kejahatannya."

Hati yang tidak mengenal dengan Rabbnya, tidak melakukan ibadah sesuai dengan apa yang diperintahkanNya, dicitaiNya dan diridhaiNya. Bahkan selalu memperturutkan nafsu dan syahwatnya serta kenikmatan dan hingar bingarnya dunia, walaupun ia tahu bahwa itu amatlah dimurkai oleh Allah dan dibenciNya.

Ia tidak pernah peduli tatkala memuaskan diri dengan nafsu syahwatnya itu diridhaiNya atau dimurkaiNya, dan ia menghambakan diri dalam segala bentuk kepada selain Allah. Apabila ia mencintai maka cintanya karena nafsunya, apabila ia membenci maka bencinya karena nafsunya, apabila ia memberi maka itu karena nafsunya, apabila ia menolak maka tolakannya atas dasar nafsunya, maka nafsunya sangat berperan dalam dirinya, dan lebih ia cintai daripada ridha Allah

Dengan demikian maka hendaklah seorang mukmin mencukupkan diri dari ucapan yang tidak berguna seperti berdusta, suka mengadu domba, ucapan yang keji, ghibah, namimah, suka mencela, bernyanyi, menyakiti orang lain dan lain sebagainya. Itu semua merupakan racun-racun hati sehingga apabila seseorang banyak melakukan seperti ini maka hati akan teracuni dan bila hati sudah teracuni maka lambat laun, cepat atau lambat akan mengakibatkan sakitnya hati, semakin banyak racunnya akan semakin parah penyakit dalam hatinya, dan kalau tidak tertolong akan mengakibatkan mati hatinya.

Ketahuilah bahwa semua maksiat dalam bentuk apapun adalah merupakan racun bagi hati, penyebab sakitnya hati bahkan juga penyebab matinya hati. Berkata Abdullah Ibnu Mubarak: "Meninggalkan dosa dan maksiat dapat menjadikan hidupnya hati, dan sebaik-baik jiwa adalah yang mampu meniadakan perbuatan dosa dalam dirinya.

Maka barangsiapa yang menginginkan hatinya menjadi hati yang selamat hendaklah membersihkan diri dari racun-racun hati, kemudian dengan menjaganya tatkala ada racun hati yang berusaha menghampirinya, dan apabila terkena sedikit dari racun hati bersegeralah untuk menghilangkannya dengan taubat dan istighfar.

Selasa, 26 Mei 2015

RIZKI

Rasulullah ` bersabda,“Sesungguhnya tiap-tiap kalian dikumpulkan penciptaannya dalam rahim ibunya selama 40 hari berupa nutfah, kemudian menjadi ‘Alaqah (segumpal darah) selama itu juga lalu menjadi Mudhghah (segumpal daging) selama itu juga, kemudian diutuslah Malaikat untuk meniupkan ruh kepadanya lalu diperintahkan untuk menuliskan 4 kata: Rezeki, Ajal, Amal dan Celaka/bahagianya. maka demi Allah yang tiada Tuhan selainnya, ada seseorang diantara kalian yang mengerjakan amalan ahli surga sehingga tidak ada jarak antara dirinya dan surga kecuali sehasta saja. kemudian ia didahului oleh ketetapan Allah lalu ia melakukan perbuatan ahli neraka dan ia masuk neraka. Ada diantara kalian yang mengerjakan amalan ahli neraka sehingga tidak ada lagi jarak antara dirinya dan neraka kecuali sehasta saja. kemudian ia didahului oleh ketetapan Allah lalu ia melakukan perbuatan ahli surga dan ia masuk surga.”(HR Bukhari, No. 3208 dan HR Muslim No. 2643)

Kisah Seorang Istri Yang Setia Menjaga Amanah Suaminya, Subhanallah

Kisah Seorang Istri Yang Setia Menjaga Amanah Suaminya, Subhanallah....

Tersebutlah seorang istri yang amat taat pada suaminya. Suatu hari sang suami pamit hendak berangkat pergi berjihad fisabillah. Sebelum berangkat sang suami berpesan kepada istrinya.
"Wahai Istriku..aku akan pergi jihad....aku berpesan sebelum aku pulang kerumah, janganlah engkau pergi keluar rumah". Setelah itu berangkatlah sang suami.
Hari demi hari telah berlalu hingga suatu hari datanglah seorang utusan yang menyampaikan kabar tentang ibu sang wanita itu.
" Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh" ucap utusan itu.
" Waalaikum salam warahmatullahi wabarakatuh" jawab Istri itu.
" Ibu anda sekarang sedang sakit keras, jenguklah ia"
" Maaf, saya tidak bisa datang karena suamiku belum pulang dan aku tidak di ijinkan keluar rumah sebelum suamiku datang, jadi sampaikan saja salam untuk ibu saya" jawab istri itu menolak ajakan sang utusan. Lalu pulanglah utusan itu.
Besoknya utusan itu datang lagi
" Ibu anda sekarang sekarat, jenguklah ia !!"
" Tentu saya ingin datang ke sana, tapi suami saya belum pulang, jadi sampaikan permintaan maaf saya untuk ibu".
Lalu utusan itu kembali pulang.
Dan besoknya utusan itu kembali lagi
"Ibu anda sekarang meninggal, datanglah untuk yang terakhir kali sebelum ibu anda di kubur"
" Maaf sekali lagi maaf, suami saya belum pulang dan saya tidak dapat keluar rumah tanpa seijinya"
Lalu pulangkah utusan itu dengan perasaan kesal dan heran. Karena saking kesalnya lalu diadukannya lah perkara tersebut kepada Rasulullah SAW.
" Ya Rasul !! agaknya si wanita itu benar2 keterlaluan" ucap sang utusan itu dengan nada sedikit marah.
" Ada apa wahai Saudaraku? " tanya Rasulullah SAW.
" Bagaimana tidak ya Rasul, dari mulai ibunya sakit, sekarat hingga akhirnya sekarang meninggal, wanita itu tidak mau datang menjenguk ibunya !!"
" Kenapa dia tidak mau datang?" tanya Rasulullah SAW.
" Wanita itu mengatakan bahwa ia tidak di ijinkan keluar rumah sebelum sang suami pulang".
Mendengar jawaban itu Rasulullah hanya tersenyum lalu bekata.
" Dosa Sang Ibu yang telah wafat itu telah diampuni oleh ALLAH SWT karena beliau memiliki putri yang sangat taat kepada suaminya".
subhanallah, semoga kisah ini bisa memberi manfaat bagi kita, terutama bagi para istri dan para calon-calon istri 

Banyak Memberi Berarti Menerima Lebih Banyak

Banyak Memberi Berarti Menerima Lebih Banyak

Ilmu ke tujuh untuk menjadi kaya berikut akhir-akhir ini terdengar sangat klise. Disamping mulai banyak ustadz-ustadz di televisi yang mendakwahkannya, di toko buku Gramedia juga mulai banyak buku-buku motivasi dan spiritual yang membahas mengenai hal ini. Akhirnya di internet pun kisah mengenai kekuatan ilmu yang satu ini juga semakin marak.

Ilmu yang ketujuh ini adalah : 

"Siapa Yang Memberi Pasti Menerima"

Semakin Banyak Memberi, Semakin Banyak Menerima

Dalam bahasa agama sering disebut dengan sedekah. Kami yakin ini bukan pertama kalinya Anda mendengar mengenai kekuatan dari ilmu ini. Dan barangkali Anda pun yang membaca artikel ini sudah membuktikan sendiri mengenai kedahsyatan ilmu yang satu ini.

Dalam sebuah buku motivasi karya Jamil Azzaini dan rekan yang berjudul "Kubik Leadership" dijelaskan bahwa di alam semesta ini terdapat hukum kekekalan energi. Energi tidak perrnah hilang, hanya berubah wujud dari bentuk yang satu ke bentuk yang lain. Ini yang menjadi salah satu dalil dilihat dari sudut pandang metafisika bahwa jika kita memberi dengan hati yang ikhlas, energi positif dari sedekah dengan hati yang ikhlas tersebut akan terlepas dari kita dan menyebar ke alam semesta sampai akhirnya energi positif itu akan kembali lagi kepada kita suatu saat dengan jumlah yang sama atau lebih besar.

Joe Vitale salah seorang motivator kondang asal Amerika Serikat yang juga menjadi salah satu Guru dari film The Secret yang dulu sempat heboh di beberapa negara termasuk Indonesia bahkan membuat satu buku khusus mengenai kekuatan dari memberi dengan hati yang ikhlas dalam buku yang berjudul "The Greatest Money-Making Secret In History". Dikatakan di buku itu bahwa memberi atau membantu dengan ikhlas bisa dipastikan akan membuat orang yang memberi tersebut semakin banyak menerima, bahkan seringkali jumlah yang diterima adalah lebih banyak. Syarat yang diberikan di sini adalah tidak hanya asal memberi, tapi diperlukan syarat mutlak yaitu perasaan ikhlas ketika memberi. Hal ini berhubungan dengan mekasnisme spiritualias dan metafisika yang memang mensyaratkan apabila kita ingin menerima energi positif lebih banyak maka berikanlah energi positif juga yang banyak pula. Mungkin ada yang bingung dengan penjelasan spiritual dan metafisika, ya kami sendiri tidak ingin menjelaskan lebih lanjut pada postingan ini, pokoknya penjelasan dari Joe Vitale dan Jamil Azzaini ya begitu itu.


Sekarang dari dalil agama Islam bagaimana?

Oh ya sudah pasti ada, dan memang syariat sedekah itu memang mengharuskan ikhlas ketika akan memberi. Karena sedekah itu kan perintah agama, kita memberi karena diperintahkan agama, niatnya ya untuk mematuhi perintah Allah SWT dan Rasul SAW. Dari situ saja sebenarnya kadar spiritual nya sudah sangat tinggi, sehingga wajar apabila ketika kita sedekah dengan ikhlas maka hasilnya kita akan menerima lebih banyak.

Dalil sedekah dari Al-Qur'an diantaranya

 مَنْ ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضَاعِفَهُ لَهُ أَضْعَافًا كَثِيرَةً ۚ وَاللَّهُ يَقْبِضُ وَيَبْسُطُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

"Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan meperlipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezeki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan." (Al Baqarah : 245)

مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

"Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui." (Al Baqarah : 261)

الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ثُمَّ لَا يُتْبِعُونَ مَا أَنْفَقُوا مَنًّا وَلَا أَذًى ۙ لَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

"Orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, kemudian mereka tidak mengiringi apa yang dinafkahkannya itu dengan menyebut-nyebut pemberiannya dan dengan tidak menyakiti (perasaan si penerima), mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati." (Al Baqarah : 262)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالْأَذَىٰ كَالَّذِي يُنْفِقُ مَالَهُ رِئَاءَ النَّاسِ وَلَا يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۖ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ صَفْوَانٍ عَلَيْهِ تُرَابٌ فَأَصَابَهُ وَابِلٌ فَتَرَكَهُ صَلْدًا ۖ لَا يَقْدِرُونَ عَلَىٰ شَيْءٍ مِمَّا كَسَبُوا ۗ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir." (Al Baqarah : 264)

وَمَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ وَتَثْبِيتًا مِنْ أَنْفُسِهِمْ كَمَثَلِ جَنَّةٍ بِرَبْوَةٍ أَصَابَهَا وَابِلٌ فَآتَتْ أُكُلَهَا ضِعْفَيْنِ فَإِنْ لَمْ يُصِبْهَا وَابِلٌ فَطَلٌّ ۗ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

"Dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya karena mencari keridhaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka hujan gerimis (pun memadai). Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu perbuat." (Al Baqarah : 265) 
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَنْفِقُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا كَسَبْتُمْ وَمِمَّا أَخْرَجْنَا لَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ ۖ وَلَا تَيَمَّمُوا الْخَبِيثَ مِنْهُ تُنْفِقُونَ وَلَسْتُمْ بِآخِذِيهِ إِلَّا أَنْ تُغْمِضُوا فِيهِ ۚ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ

"Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu menafkahkan daripadanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memincingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji." (Al Baqarah : 267) 
الشَّيْطَانُ يَعِدُكُمُ الْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُمْ بِالْفَحْشَاءِ ۖ وَاللَّهُ يَعِدُكُمْ مَغْفِرَةً مِنْهُ وَفَضْلًا ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

"Syaitan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir); sedang Allah menjadikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengatahui." (Al Baqarah : 268)
إِنْ تُبْدُوا الصَّدَقَاتِ فَنِعِمَّا هِيَ ۖ وَإِنْ تُخْفُوهَا وَتُؤْتُوهَا الْفُقَرَاءَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۚ وَيُكَفِّرُ عَنْكُمْ مِنْ سَيِّئَاتِكُمْ ۗ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

"Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu; dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan." (Al Baqarah : 271)

لَيْسَ عَلَيْكَ هُدَاهُمْ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ ۗ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ خَيْرٍ فَلِأَنْفُسِكُمْ ۚ وَمَا تُنْفِقُونَ إِلَّا ابْتِغَاءَ وَجْهِ اللَّهِ ۚ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ خَيْرٍ يُوَفَّ إِلَيْكُمْ وَأَنْتُمْ لَا تُظْلَمُونَ

"Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk (memberi taufiq) siapa yang dikehendaki-Nya. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan allah), maka pahalanya itu untuk kamu sendiri. Dan janganlah kamu membelanjakan sesuatu melainkan karena mencari keridhaan Allah. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan, niscaya kamu akan diberi pahalanya dengan cukup sedang kamu sedikitpun tidak akan dianiaya (dirugikan)." (Al Baqarah : 272)

الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ سِرًّا وَعَلَانِيَةً فَلَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

"Orang-orang yang menafkahkan hartanya di malam dan di siang hari secara tersembunyi dan terang-terangan, maka mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati." (Al Baqarah : 274)

وَإِنْ كَانَ ذُو عُسْرَةٍ فَنَظِرَةٌ إِلَىٰ مَيْسَرَةٍ ۚ وَأَنْ تَصَدَّقُوا خَيْرٌ لَكُمْ ۖ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

"Dan jika (orang yang berhutang itu) dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan. Dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu, lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui." (Al Baqarah : 280)
  
Sedangkan dalil dari Hadis antara lain

Dari Abu Hurairah r.a berkata bahawa Rasulullah SAW bersabda yang maksudnya : “Sedekah tidak mengurangkan harta. Allah tidak melebihkan seseorang hamba dengan kemaafan-Nya melainkan kemuliaan dan tidak merendahkan diri seseorang melainkan Allah mengangkatnya.” (Muslim, ad-Darimi dan Ahmad)

Abu Hurairah r.a berkata, Rasulullah SAW bersabda yang maksudnya: “Barang siapa bersedekah seberat biji kurma dari usaha yang baik, dan tidak naik (sampai) kepada Allah melainkan yang baik, maka sesungguhnya Allah menyambutnya dengan tangan kanan-Nya. Kemudian Allah memelihara sedekah itu untuk pemiliknya, sebagaimana seorang kamu memelihara anak-anak kudanya sehingga menjadilah sedekah itu setinggi gunung.” (al-Bukhari dan Muslim)

Dari abu hurairah r.a. berkata bahwa Nabi SAW bersabda, “Ketika seseorang sedang berada di padang pasir, tiba-tiba ia mendengar suara dari awan, ‘Curahkanlah ke kebun Fulan.’ Maka bergeraklah awan itu kemudian turun sebagai hujan di suatu tanah yang keras berbatuan. Lalu salah satu tumpukan dari tumpukan bebatuan tersebut menampung seluruh air yang baru saja turun, sehingga air mengalir ke suatu arah. Ternyata air itu mengalir di sebuah tempat dimana seorang laki-laki berdiri di tengah kebun miliknya sedang meratakan air dengan cangkulnya. Lalu orang tersebut bertanya kepada pemilik kebun, “Wahai hamba Allah, siapakah namamu?” Ia menyebutkan sebuah nama yang pernah didengar oleh orang yang bertanya tersebut dari balik mendung. Kemudian pemilik kebun itu balik bertanya kepadanya, “Mengapa engkau menanyakan nama saya?” Orang itu berkata, “Saya telah mendengar suara dari balik awan, ‘Siramilah tanah si Fulan,’ dan saya mendengar namamu disebut. Apakah sebenarnya amalanmu (sehingga mencapai derajat seperti itu)?” Pemilik kebun itu berkata, “Karena engkau telah menceritakannya, saya pun terpaksa menerangkan bahwa dari hasil (kebun ini), sepertiga bagian langsung saya sedekahkan di jalan Allah SWT, sepertiga bagian lainnya saya gunakan untuk keperluan saya dan keluarga saya, dan sepertiga bagian lainnya saya pergunakan untuk keperluan kebun ini.” (HR. Muslim)

Nabi SAW bersabda,“Seorang wanita pezina telah diampuni dosanya karena ketika dalam perjalanan, ia melewati seekor anjing yang menengadahkan kepalanya sambil menjulurkan lidahnya hampir mati karena kehausan. Maka, wanita tersebut menanggalkan sepatu kulitnya, lalu mengikatkannya dengan kain kudungnya, kemudian anjing tersebut diberi minum olehnya. Maka dengan perbuatannya tersebut, ia telah diampuni dosanya.” Seseorang bertanya, “Adakah pahala bagi kita dengan berbuat baik kepada binatang?” Beliau SAW menjawab, “Berbuat baik kepada setiap yang mempunyai hati (nyawa) terdapat pahala.” (Muttafaq ‘Alaih)

Nabi SAW bersabda, “Bershadaqah pahalanya sepuluh, memberi hutang (tanpa bunga) pahalanya delapan belas, silaturahmi dengan kawan-kawan pahalanya dua puluh dan silaturahmi (dengan keluarga) pahalanya dua puluh empat.” (HR. Al Hakim)

Allah SWT berfirman (dalam hadits qudsi): “Hai anak adam, infaklah (nafkahkanlah hartamu), niscaya Aku memberikan nafkah kepadamu.” (HR. Muslim)

Seorang sahabat bertanya kepada rasulullah SAW, “Shadaqah yang bagaimana yang paling besar pahalanya?” Nabi SAW menjawab, “Saat kamu bershadaqah hendaklah kamu sehat dan dalam kondisi pelit (mengekang) dan saat kamu takut melarat tetapi mengharap kaya. Jangan ditunda sehingga rohmu ditenggorokan baru kamu berkata untuk Fulan sekian dan untuk Fulan sekian.” (HR. Bukhari)

Nabi SAW bersabda,“Barangsiapa ingin doanya terkabul dan dibebaskan dari kesulitannya hendaklah dia mengatasi (menyelesaikan) kesulitan orang lain.” (HR. Ahmad)

“Bentengilah hartamu dengan zakat, obati orang-orang sakit (dari kalanganmu) dengan bershadaqah dan persiapkan doa untuk menghadapi datangnya bencana.” (HR. Ath Thabrani)

“Tiada seorang bershadaqah dengan baik kecuali Allah memelihara kelangsungan warisannya.” (HR. Ahmad)

Dan masih banyak lagi dalil lainnya. Karena begitu banyak mungkin perlu ada postingan khusus yang isinya hanya tentang dalil mengenai sedekah saja.

Sekarang bagaimana cara memberi yang membuat kita jadi lebih banyak menerima?

Menurut para motivator setidaknya ada 3 syarat. Ya sementara kami nurut saja lah apa kata motivator. Tiga syarat tersebut antara lain :

1. Memberi dengan perasaan positif 

Ini ada kaitannya dengan hukum TEN-FOLD RETURN. Apa itu? Katanya ini adalah hukum yang berlaku di alam semesta, yang mengatakan bahwa "Setiap pemberian kita dikembalikan ke kita berlipat ganda" Maka berhati-hatilah dengan apa yang Anda berikan.

Contohnya begini kalau kita memberi saudara atau teman kita yang membutuhkan sejumlah uang.

Tentu ada perbedaan ketika kita memberi dengan kata-kata yang baik, dan senyuman. Kita justru malah merasa senang dapat membantu orang walaupun kita kehilangan sejumlah uang.

Dengan 

Memberi tapi dengan kata-kata yang tidak enak seperti (ah elu mah inget gue kalo lagi butuh aja; elu mah ngrepotin gua aja bisanya; elu jangan cuman minta-minta aja, sono cari kerja yang bener; dan lain sebagainya), karena dasarnya Anda memang tidak begitu ikhlas. Lalu serahkan uangnya dengan cara melemparnya, atau lemparkan ke mukanya.

Cara yang pertama yang penuh dengan perasaan positif walau Anda kehilangan uang adalah lebih baik nantinya daripada cara yang kedua yang penuh dengan perasaan negatif. Bisa jadi dengan cara yang kedua Anda tidak akan menerima lebih banyak, bahkan bisa jadi menerima sesuatu yang tidak Anda inginkan, walaupun judulnya sama-sama memberi.

Felix Siauw teman saya di kampus dulu memberikan sebuah tips yang ampuh untuk ini.

Tips nya adalah ketika Anda punya kesempatan untuk memberi di depan mata Anda, maka Anda tidak boleh berfikir dua kali untuk memberi. Langsung berikan saja, tanpa perlu menimbang-nimbang apakah Anda akan memberi atau tidak. Karena jika Anda memberikan kesempatan diri Anda untuk berfikir dua kali apakah Anda perlu memberi atau tidak maka hampir pasti Anda tidak jadi memberi.

2. Tidak perlu mengharapkan balasan


Ini adalah alasan yang lagi-lagi masuk ke dalam ranah spiritual. Oleh karenanya buang jauh-jauh logika Anda kalau sudah masuk ke ranah ini. Karena logika materialistik tidak berlaku di sini.

Dalam buku yang ditulis oleh Yusuf Mansur ada kisah yang sangat menarik dan relevan mengenai hal ini. Ada seorang tukang gorengan yang memberi gorengan gratis kepada seorang anak kecil, karena iba dengan anak kecil yang miskin itu. Dia memberi gorengan gratis itu hanya beberapa hari saja, karena setelah itu anak kecil itu tidak nampak lagi di daerah situ.

Lalu selang puluhan tahun kemudian ada seorang pemuda yang datang kepadanya kemudian berterimakasih kepada penjual gorengan yang sudah paruh baya tersebut atas apa yang ia lakukan kepadanya puluhan tahun silam. Lalu sebagai balasannya pemuda yang sudah sukses secara finansial itu memberangkatkan haji pak tua penjual gorengan ini.

Sebuah balasan yang tidak disangka-sangka. Penjual gorengan ini jelas tidak mengharapkan balasan ketika memberi gorengan kepada anak kecil itu beberapa puluh tahun lalu. Apalagi balasan yang begitu besar, jauh lebih besar nilainya daripada sekedar gorengan.

Hukum kekekalan energi, dan hukum ten fold return berlaku di sini.

3. Berikan apa saja yang anda inginkan


Syarat memberi efektif terakhir agar pemberian Anda ampuh membuka lebar-lebar pintu rezeki Anda adalah Anda harus mau memberi tidak hanya uang, tapi apa saja yang Anda inginkan tersebut.

Alurnya itu begini :
"Anda memberi lebih dulu baru Anda mendapat balasannya berlipat-lipat."

Jadi bukan Anda kaya dulu baru Anda bisa memberi dan membantu orang lain, seperti sikap dan cara pandang kebanyakan orang.

"Nanti kalau aku kaya aku akan sedekah.", "Nanti kalau usahaku ini sudah berhasil, aku akan menyantuni anak yatim.", "Kalau aku naik pangkat dan naik gaji, aku akan bayar zakat." dan sebagainya.

Jadi syarat yang ketiga ini kita justru berperilaku sebaliknya.

Anda memberi dahulu, yang dengan itu Anda akan menerima dengan lebih banyak.

Lalu karena balasan berlipat ini, Anda jadi bisa memberi semakin banyak lagi,

Yang kemudian berakibat Anda menerima lebih banyak lagi.

Dan begitu seterusnya.

Apa saja yang harus kita beri? Apapun itu, dari sesuatu yang abstrak dan tidak memerlukan modal antara lain :

Senyuman, kasih sayang, ilmu yang bermanfaat, sumbangsih tenaga, sumbangsih pemikiran, doa, harapan dan kata-kata positif, saran dan nasihat yang baik, dan berbagai macam hal lain yang bisa kita berikan.

Tiga syarat diatas akan menjamin apa yang Anda beri akan kembali kepada Anda, yang artinya Anda akan menerima jauh lebih banyak. Ketika Anda menerima jauh lebih banyak maka berikanlah lebih banyak lagi, maka Anda akan menerima jauh lebih banyak lagi. Begitu saja lingkaran itu berputar-putar, dan semakin Anda banyak memberi maka semakin banyak dan semakin sering Anda menerima.

Semoga bermanfaat.
 ----------------------

Ini adalah ilmu ke 7 dari seri 24 ilmu menjadi kaya. Jika tertarik untuk membaca artikel ke 6 ilmu untuk menjadi kaya dapat menuju pada tautan berikut :