Sabtu, 23 Mei 2015

FITNAH TERBESAR UMMAT INI ADALAH WANITA

Wanita di antara fitnah yang diberitakan oleh Nabi SAW disebutkan dalam hadits shahih, bahwa Nabi SAW pernah bersabda, 
"Ada dua golongan manusia (penghuni neraka) dari kalangan ummatku yang sekarang belum kulihat keberadaannya, yaitu segolongan orang yang membawa cambuk seperti ekor sapi untuk memukuli orang lain dan segolongan wanita yang berpakaian tetapi telanjang dengan langkah yang berlenggak-lenggok memikat lawan jenisnya; (rambut) kepala mereka seperti punuk unta. Mereka tidak bakal mencium bau surga."  (HR. Muslim dan Ahmad). 

Adapun mengenai kaum wanita yang dimaksud, maka sesungguhnya pada masa sekarang kita telah sering melihatnya. Mereka berpenampilan memikat hati dan menawan jiwa. Cara jalan mereka diatur sedemikian rupa lenggang-lenggoknya untuk menarik lawan jenisnya dan ternyata pengaruhnya demikian hebat. 

Kini, gadis2 Islam keluar dari rumah orangtuanya dengan merias dirinya dan mengenakan wewangian yang seronok, menanggalkan ajaran Laa ilaaha illallaahke belakang punggungnya seakan-akan memamerkan kepada para lelaki,"Lihatlah! Ini aku!"
Selanjutnya, ia pulang dan apa yang dibawanya ? Tentu saja ia kembali dengan membawa laknat Allah.
Semoga Allah menghindarkan kita dari fitnah ini.

Dalam hadits shahih disebutkan bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda, "Wanita yang mengenakan parfumnya, kemudian berlalu di hadapan kaum lelaki agar mereka dapat mencium bau harumnya, maka ia sama saja dengan wanita tuna susila." (HR. Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi, dan Nasa'i). 

Demikian itu karena mata mereka pasti akan memandangnya.
Oleh karena itu, wahai kaum wanita, hindarilah fitnah ini!
Rasulullah SAW telah bersabda, "Aku tidak meninggalkan pada ummatku suatu fitnah pun yang lebih membahayakan kaum lelaki, selain wanita." (HR. Bukhari, Muslim, Ahmad, dan Tirmidzi).

Iblis tidak mampu menyesatkan banyak manusia yang mendapat petunjuk, kecuali melalui wanita.
Oleh karena itu, saya katakan kepada kaum wanita, mudah-mudahan ada yang mau mendengar dan mudah-mudahan hati mereka terketuk.
Mudah-mudahan mereka merenungkan dan memikirkannya.
Wahai saudariku, wahai ibuku, wahai wanita muslimah, bertakwalah kepada Allah dalam memelihara iman dan kehormatanmu. 
Bertaqwalah kepada Allah dalam bergaul dengan masyarakat.
Bertaqwalah kepada Allah dalam bergaul dengan para hamba dan memelihara negeri, karena engkaulah yang bertanggung jawab atas terjadinya fitnah bila menimpa mereka.
Janganlah engkau menjadi penyebab terjerumusnya orang lain ke dalam mara bahaya. 

Wahai hamba perempuan Allah, jagalah rumahmu !
Jagalah dirimu dan kehormatanmu !
Wahai hamba perempuan Allah, di kemanakankah imanmu ?
Manakah hasil pendidikan Nabi Muhammad SAW ?
Di kemanakankah firman Allah SWT, "Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu..." (QS. Al-Ahzaab (33) : 33)


W. N. Laugi





Seorang Ibu dan Putranya yang Meninggal

Aku akan menceritakan padamu sebuah insiden. Beberapa tahun yang lalu di Chicago ada seorang nyonya yang putranya sakit parah. Putranya masih remaja. Kondisinya sangat parah sehingga dia diberikan bantuan pernapasan. Dan dokter akan mencabut selang pernapasan itu karena dia menderita dan kemungkinannya untuk pulih hampir tidak ada. Dan nyonya itu berkata padaku “Aku ingin kau hadir saat putraku meninggal.” Jadi aku berkata pada nyonya itu “Insya Allah aku akan datang.”

Aku masih mengingat kejadian waktu itu. Aku datang ke rumah sakitnya, dan nyonya itu berdiri di samping tempat tidur putranya. Suami nyonya itu duduk di sampingku. Suaminya memakai kursi roda. Sang nyonya berkata pada dokternya “Silahkan, cabutlah bantuan pernapasannya.” Maka dokter pun mencabut selang pernapasan itu dari putranya.

Allahuakbar. Melihat seorang ibu mengggenggam tangan putranya, seiring putranya menghadapi sakaratul maut... Ini adalah sesuatu yang terlalu sukar untuk dilihat. Aku duduk disana karena nyonya itu butuh dukungan dariku. Tapi sangat sulit bagiku mengamati semua ini, sehingga aku menunduk dan air mata mulai mengaliri pipiku. Dan nyonya ini hanya menggenggam tangan putranya sambil menggigit bibir, dia terus berkata pada putranya dalam nada lembut. Dia terus mengulang-ulang ucapannya, “Semua akan baik-baik saja, semua akan baik-baik saja.” Dia tahu bahwa denyut nadi putranya makin lemah. Dia dapat merasakannya karena menggenggam tangan putranya.

Kemudian dia berkata pada dokternya, “Ketika saat terakhirnya tiba, beritahu aku.” Dokternya berkata “Inilah saat-saat terakhirnya.” Allahuakbar, nyonya ini membungkuk dan mengecup putranya, dan tetap dalam posisi itu untuk beberapa saat lamanya. Dia terus mengecup putranya sampai ia meninggal. Setelah putranya meninggal, aku berdiri dan berkata padanya “Bibi, maaf karena aku tidak bisa memberimu dukungan pada momen yang sulit ini, karena aku sendiri juga menangis.” Dia berkata padaku “Nak, aku tidak mengundangmu untuk memberiku dukungan. Untuk hal itu aku memintanya pada Allah. Aku telah belajar setelah bertahun-tahun, bahwa satu-satunya yang jadi tempat bergantungmu adalah Allah. Meski begitu, alasan aku memintamu hadir disini adalah aku ingin kau menjadi saksi bahwa aku mencintai putraku.

Ketahuilah, beberapa minggu yang lalu, aku dan anakku bertengkar. Kemudian dia jatuh sakit sementara kami masih bertengkar. Aku tidak punya kesempatan untuk memberitahu betapa aku mencintainya.”

Dan kemudian nyonya itu berkata padaku “Wallahi al-azim, aku bersumpah demi Allah, pada hari dia terlahir, adalah tangan ini yang pertama kali membawanya ke dunia. Aku adalah orang pertama yang mendekapnya dan mengecupnya. Dan hari ini ketika dia meninggalkan dunia, aku ingin kau menjadi saksi bahwa akulah yang terakhir mendekapnya dan mengecupnya.”

Jadi terkadang kita melupakan kedekatan dengan ibu kita pada saat pertengkaran. Tapi dapatkah anda mengakhiri hubungan seorang ibu dan anaknya? Sang nyonya mengecup anaknya setelah anaknya meninggal dunia. Sebelum dia lahir, ibunya yang membawa anak itu di rahimnya. Bahkan pada awal-awal kehamilan, saat anaknya belum bernyawa, ibunya masih tetap mengelus perutnya dan berbicara kepada janinnya. Dia tersenyum padanya dan telah berencana untuk bayi itu.

Begitu juga, sebagaimana ibu mencintai anda, ALLAH S.W.T MENCINTAI ANDA 99 KALI LIPAT MELEBIHI ITU. Tidak peduli betapa seorang ibu mencintai anda, dan sebagian ibu bahkan tidak bisa mengungkapkan rasa cintanya kepada anak-anaknya. Cinta ini tidak mungkin diungkapkan dengan kata-kata karena cinta ini berasal dari hatinya.

Anda tahu bahwa Romeo dan Juliet tidak bisa mengungkapkan cinta mereka satu sama lain. Tanyakan pada ibu manapun, dapatkah cintanya Romeo dan Juliet menyamai cinta seorang ibu pada anak-anaknya? Sang ibu akan berkata, “Cinta Romeo dan Juliet masih amatiran. Kamilah (para ibu) yang cintanya profesional.” Dan jika anda berpikir bahwa para ibu sudah profesional, Allah s.w.t 99 KALI LIPAT CINTANYA MELEBIHI ITU.

http://www.lampuislam.blogspot.com/2015/04/seorang-ibu-dan-putranya-yang-meninggal.html

Bukankah Tuhan Telah Menetapkan Jodoh Kita?


Semakin dewasa, akhir pekan kian terasa berbeda. Sekarang bukan lagi masanya menggulung diri di dalam selimut, mandi sekali sehari, lalu nonton serial TV seharian. Undangan pernikahan teman yang hampir tiap weekend datang harus dihadiri sebagai tanda penghormatan.

Perasaan bahagia saat melihat teman seperjuangan bersanding dengan pasangan pilihannya sering diikuti dengan pertanyaan yang muncul tanpa diminta,

“Duh, besok bakal bersanding di pelaminan sama siapa ya?”

“Jodoh gue besok kayak gimana ya? Ketemunya masih lama nggak ya?”

Rasa cemas, insecure sebab masih sendiri di usia yang kata orang sudah matang membuat kita merasa harus segera mengikuti jejak mereka. Urusan jodoh, tanpa sadar menjadikan kita manusia yang selalu khawatir — sampai benar-benar jadi pasangan sah di depan negara dan agama.

Padahal jika mau bersabar sedikit saja– bukankah jodoh itu sebenarnya sederhana?

Selama ini kita seperti pecinta alam dan sutradara yang terlampau kreatif. Menerka dan membuka jalan, yang sebenarnya belum tentu diamini oleh Tuhan. Kita adalah manusia yang terlampau kreatif dalam mengarang cerita.

Kita adalah manusia yang terlampau kreatif dalam mengarang cerita.

Ada satu orang sahabat saya yang cuek setengah mati soal urusan cinta. Sampai ulang tahunnya yang ke-24 dia memegang trofi sebagai jomblo abadi. Isi hidupnya hanya kuliah, segala urusan organisasi, ikut penelitian dosen, kumpul-kumpul bersama kami, lalu belakangan ikut kursus pra nikah sesekali. Dengan statusnya yang masih sendiri.

Tapi anehnya sahabat saya ini tidak pernah merasa kekurangan. Di wajahnya selalu bisa kami temukan senyum bahagia, bahkan lebih tulus dari kami yang ditemani pacar ke mana-mana. Dia adalah orang yang berapi-api soal cita-cita. Tak harus dihadapkan pada kegalauan saat ngambek dengan pacar membuatnya bisa menghabiskan waktu untuk banyak menulis dan membaca.

Plot twist pun tiba. Saat kami masih galau soal pekerjaan pertama dan perkara membawa hubungan cinta ke arah mana — kami mendapat kabar bahwa jomblo abadi ini akan menikah dengan pria yang selama ini jadi kawan satu organisasinya. Akad akan dilakukan segera selepas lamaran, demi menghindari hal-hal yang keluar dari ajaran.

Geli rasanya. Kami yang sudah berinvestasi waktu pun perasaan dalam ikatan pacaran sekian lama justru belum berani mengikuti jejaknya. Menghadiri prosesi akadnya seperti membawa kaca ke depan muka:

Jika mau jujur sedikit saja, sebenarnya berapa banyak waktu kita yang sudah terbuang sia-sia?

Saat kami menghabiskan masa muda dengan meratapi sakit hati, dia justru bebas loncat dari satu organisasi ke lembaga kemasyarakatan yang menarik hati. Dia boleh jadi tak merasakan debaran saat bertukar rayuan manis dengan pacar, tapi justru pernikahannya membuat kami sedikit gusar.

Ketika kami terlalu sibuk bertukar janji demi masa depan bersama, sahabat saya ini justru langsung berani menjalaninya — bersama pria pilihannya.

Berkaca dari banyak pengalaman ternyata yang dibutuhkan hanya kemantapan dan sedikit kenekatan. Membangun masa depan tak memerlukan keahlian yang dibiakkan dari pacaran. Membangun masa depan ternyata tak butuh keahlian dari pacaran

Seringkali kalkulasi manusia dan kalkulasi Tuhan berjalan di platform yang berbeda. 1095 hari bersama tidak membawa kemantapan yang sudah ditunggu sekian lama. Kita masih sering memandang wajah orang yang sudah kita genggam tangannya bertahun-tahun lamanya, kemudian membayangkan apakah masa depan benar-benar layak dijalani bersamanya.

Hubungan yang sudah sempurna di mata orang-orang bisa kandas. Perasaan yang kuat ternyata bisa hilang. Bersisian sekian lama, menerka masa depan berdua ternyata tidak menjanjikan apa-apa. Jika memang tidak ada niatan baik untuk membawa hubungan ini ke arah selanjutnya.

Inilah kenapa kisah-kisah “bertemu-orang-yang-tepat” setelah putus dari pacaran bertahun-tahun bermunculan. Kenekatan kerap muncul setelah dikecewakan. Keinginan membangun komitmen ternyata perlu didorong oleh hati yang sudah lelah menghadapi perihnya kegagalan. Ibarat lari maraton panjang, selepas garis finish kita hanya ingin meregangkan otot yang tegang — dalam sebuah peristirahatan yang jauh dari kata menantang.

Ternyata keyakinan untuk bisa membangun masa depan bersama tidak membutuhkantraining bertahun-tahun lamanya. Kita bisa mengeliminasi keharusan PDKT, ratusan kali kencan, dan episode drama yang jumlahnya melebihi jari tangan.

Dalam banyak kasus, justru kemantapan itu datang setelah memantaskan diri sebagai pribadi — selepas dipertemukan dengan orang yang juga sudah selesai dengan dirinya sendiri.

Jodoh toh bukan aljabar yang harus membuat kita sakit kepala. Bahkan prosesi peresmiannya berlangsung tak lebih dari hitungan menit saja. Haruskah kita galau pada prosesi yang berlangsung dalam hitungan menit saja?

Bukankah tujuan akhir dari selalu ke mana-mana berdua adalah ucapan dalam satu hela nafas,

“Saya terima nikahnya!”

Lucu bukan, jika kita rela menghabiskan waktu bertahun-tahun lamanya demi prosesi yang berlangsung bahkan lebih singkat dari wisuda?

Semakin dewasa, setelah jadi saksi bagaimana kawan-kawan menemukan pasangan hidupnya — pandangan kita terhadap jodoh justru akan makin sederhana. Ini bukan lagi soal kencan kemana, memperindah diri dengan baju apa, sampai berapa lama sudah saling mendampingi dan memanggil sayang ke depan muka.

Jodoh ternyata tak lebih dari soal keberanian, kesiapan sebagai pribadi bertemu dengan peluang, keyakinan bahwa hidup tak lagi layak diperjuangkan sendirian. Konsep jodoh yang dengan jelas sudah disiapkan Tuhan sebenarnya tidak menuntut kita untuk galau menantikannya.

Toh dia pasti akan datang sendiri. Bukankah Tuhan tidak akan bermain-main dengan janji?

Kita-kita ini saja yang suka lebay mendramatisir suasana. Merasa paling merana jika belum menemukannya. Merasa hidup kurang sempurna jika belum bertemu pasangan yang bisa menggenapkan separuh jiwa. Padahal jika memang sudah waktunya, pintu jodoh itu akan terbuka dengan sendirinya. Mudah, sederhana, bahkan kadang tanpa banyak usaha.

Kalau memang bukan garisnya, diikat pakai batu akik pun, tak akan jadi jodoh kita seorang anak manusia. Jika memang begini hukumnya — haruskah kita galau dan bercemas diri lama-lama? Haruskah kita galau lama-lama?

Pertunangan bisa gagal, khitbah bisa dibatalkan, pun resepsi bisa di-cancel beberapa jam sebelum perhelatan. Ikatan sebelum pernikahan (ternyata) tidak layak membuat kita merasa aman, pun bangga karena merasa sudah punya pasangan. Sebab ternyata tak ada yang bisa memberi jaminan.

Janji-janji manis yang sudah terucap sebelumya tidak akan berarti apa-apa sampai ada tanda sah di depan negara dan agama. Cincin berlian, atau bahkan batu akik yang sedang hits itu tak akan membantu apapun, jika memang jalan hidup berkata sebaliknya.

Daripada mencemaskan yang sudah tergariskan, mengapa kita tidak mengusahakan yang bisa diubah lewat usaha keras? Rezeki, pekerjaan, membuka kesempatan untuk kembali studi di luar negeri, sampai memutar otak demi membahagiakan orangtua yang sudah tak semandiri dulu lagi misalnya? Hal-hal itu lebih layak mengakuisisi ruang otak kita dibanding terus-terusan galau memikirkan pasangan yang sudah jelas dipersiapkan oleh yang Maha Kuasa.

Akan tiba masanya, ketika kita memandang orang yang tertidur dengan lelap di sisi kanan sembari tersenyum. Ternyata begini jalannya. Ternyata inilah jodoh kita yang telah disiapkan oleh Tuhan. Suatu hari, semua kecemasan yang memenuhi rongga kepala ini hanya akan jadi bahan tertawaan saja.

Bolehkah mulai sekarang kita berusaha lalu berserah saja? Sebab pada akhirnya, jodoh toh sebenarnya sederhana.

http://www.lampuislam.blogspot.com/2015/04/bukankah-tuhan-telah-menetapkan-jodoh.html

Khalifah ‘Umar

Aku mengamati semua sahabat, dan tidak menemukan sahabat yang lebih baik daripada menjaga lidah. Saya memikirkan tentang semua pakaian, tetapi tidak menemukan pakaian yang lebih baik daripada takwa. Aku merenungkan tentang segala jenis amal baik, namun tidak mendapatkan yang lebih baik daripada memberi nasihat baik. Aku mencari segala bentuk rezki, tapi tidak menemukan rezki yang lebih baik daripada sabar.

Khalifah ‘Umar

Aku Wanita Yang Di Poligami

Aku menikah muda. Kala itu, usiaku tak lebih dari 19 tahun dan baru saja lulus SMU. Wanita yang kuperisteri saat itu bahkan baru 16 tahun. Ia hanya lulus SLTP, karena keluarganya pun seperti keluargaku, miskin, tak punya cukup biaya untuk menyekolahkan anaknya lebih tinggi.Namaku Arman, dan isteriku Salimah. Kami tinggal di sebuah dusun, yang termasuk wilayah sebuah desa kecil, di sisi barat Jawa.Di desa kami, usia seperti kami bukanlah usia muda untuk menikah, minimal untuk ukuran pada masa itu. Pada zaman sekarang, ukuran itu memang sudah mengalami dinamika. Makin sedikit saja pasangan muda yang menikah. Berbanding lurus dengan makin banyak pula wanita-wanita yang telat menikah. Meski jumlahnya tak sebanyak di kota-kota besar.Kami menjalani pernikahan dengan segala suka duka yang kami alami. Latar belakang kami dari keluarga yang cukup religious, meski tradisional. Dalam arti, kami masih terbiasa hidup dalam nuansa yang menggabungkan nilai-nilai religi Islam, dengan adat tradisional. Orang Sumatra menyebut kami dari kalangan kaum tua.Aku kurang begitu mengerti soal itu. Meski setelah beberapa tahun menikah, aku mulai sedikit mendalami agama melalui beberapa orang ustadz, di musholla dekat rumah. Lewat mereka, aku mulai dikenalkan dengan upaya banyak ulama untuk menjernihkan agama dari pengaruh bid’ah dan khurofat. Aku sangat memahami paparan-paparan mereka. Tapi, tentu sulit bagi keluarga kami, untuk meninggalkan berbagai tradisi nenek moyang yang sudah lama kami jalankan. Meski kami tahu, sebagian di antaranya berbau kemusyrikan. Wal ‘iyyaadzu billah.Kedua orang tuaku, yang kebetulan rumahnya bersebelahan dengan kami di desa yang sama, juga mengikuti perkembangan tersebut. Mereka juga sepertiku, sulit meninggalkan tradisi lama kami. Tapi, minimal aku mengerti, bahwa mereka tidak lagi apatis terhadap pemahaman-pemahaman seperti yang disampaikan oleh para ustadz secara bergiliran, di musholla kami itu. Meski kecil, tapi cukup membanggakan, karena setidaknya ada 2 taklim dalam sepekan.Selain dua majelis itu, kadang beberapa ustadz senior di desa kami yang berpemahaman kaum tua, juga ikut mengisi. Wajarlah, bila akhirnya sering terjadi perbedaan pendapat di kalangan jama’ah yang hadir. Pro dan kontra.Aku tidak akan berbicara banyak soal itu. Aku hanya ingin menceritakan kepada pembaca, tentang perjalanan hidup rumah tangga kami.***Tak terasa, sudah 10 tahun kami berumah tangga. Umurku kini menginjak 30 tahun, sementara isteriku 26 tahun. Kami sudah dianugerahi 3 orang anak. Yang sulung sudah 9 tahun.Selama satu dasawarsa tersebut, di antara kami sudah terjalin saling pengertian yang cukup manis. Setidaknya, begitulah dalam pandangan kami. Mengingat banyak teman yang menikah di rentang usia mirip dengan kami, tapi rumah tangganya terbilang kacau balau. Sering mengalami percekcokan yang nyaris tak berujung. Bahkan tak sedikit yang akhirnya bercerai, hanya setelah 3 atau 4 tahun menikah.Kegamangan pertama rumah tangga kami, terjadi beberapa bulan lalu, saat hamper masuk tahun ke sebelas pernikahan. Ibunda Salimah, yang sangat dicintai dan mencintai isteriku meninggal dunia. Usianya baru 48 tahun. Beliau wafat karena penyakit paru-paru yang tak kunjung sembuh. Dan kami memang tak punya cukup uang untuk melakukan perobatan secara rutin dan memadai. Meski bagaimanapun, semua itu sudah taqdir, dan kami tabah menerimanya.Walau begitu, isteriku tetap dilanda kesedihan sedemikian rupa. Meski tak menimbulkan prahara dalam rumah tangga, tapi sontak ia berubah menjadi pendiam. Di antara 6 bersaudara –yang kesemuanya sudah menikah dan punya anak-, ia memang yang paling disayang sang ibu. Karena sangat disayang itulah, isteriku menjadi anak yang paling terpukul oleh meninggalnya beliau, berbeda dengan saudara lainnya, yang meskipun bersedih, namun tak terlihat mengalami kegoncangan berarti.Kesedihan bertambah, saat aku diberhentikan dari perusahaanku. Di situ, aku memang hanya bekerja sebagai satpam. Tanpa aku tahu sebabnya, ada pengurangan jumlah tenaga sekuriti, dan aku termasuk yang di-PHK. Alasan mereka, sebagian besar satpam yang ada adalah veteran tentara. Mereka lebih membutuhkan pekerjaan itu dibanding diriku.Yah, apa mau dikata. Aku menjadi satpam memang hanya bermodal sabuk hitam karate yang kumiliki. Ijazah relative tak dibutuhkan untuk pekerjaan itu. Akhirnya, aku menganggur beberapa bulan. Namun, Alhamdulillah, aku kembali diterima sebagai sekuriti di perusahaan lain yang lebih kecil, dengan gaji yang tentunya juga lebih sedikit. Tapi aku menerimanya dengan senang hati.Kedukaan, ditambah dengan kondisi perekonomian keluarga yang semakin surut, membuat rumah tangga kami mengalami masa-masa kritis. Keramahtamahan dan keakraban kami ulai berkurang. Meski, kami bukan tipikal suami isteri yang senang bertengkar. Nyaris tak pernah terjadi percekcokan di antara kami, kecuali dengan hanya ‘marah-marahan’ kecil saja.Saat itu, aku semakin rajin mengikuti taklim pekanan, terutama hari selasa malam. Isteriku juga ikut serta, bersama banyak warga kampong yang memenuhi musholla kecil itu.Kajian malam itu membahas tentang keluarga sakinah. Suatu saat, pembahasan menyentuh soal poligami. Aku dan isteriku, cukup terperanjat. Baru saat itu, kami memahami bahwa poligami dalam Islam ternyata begitu kompleks pembahasannya. Selama ini aku hanya mengetahui bahwa pria muslim diperbolehkan melakukan poligami, dengan syarat mampu berlaku adil. Ternyata, hukum poligami juga beragam, tergantung pada situasi, kondisi –baik pribadi maupun orang lain yang ikut terlibat dalam praktik poligami tersebut-, dan banyak hal lainnya.Di situ, Ustadz MZ juga menjelaskan bahwa banyak orang yang melakukan poligami, tanpa mengikuti aturan, adab, dan etika berpoligami yang ada dalam Islam, sehingga justru menimbulkan citra buruk di masyarakat. Aku terperangah. Ya, tak sedikit kenyataan seperti itu, yang juga aku saksikan pada banyak pelaku poligami.Padahal, secara umum poligami itu dibenarkan syari’at, meski hokum asalnya adalah mubah dengan syarat. Jadi diperbolehkan saja, tak sampai dianjurkan. Namun bisa berbeda-beda hukumnya, tergantung bagi siapa dan dalam kondisi bagaimana.Syaikh Muhammad Sholeh Al-Utsaimin menjelaskan,“Poligami disunnahkan bagi orang yang mampu melakukannya dan bertujuan untuk menjaga kemaluannya serta pandangan matanya dari maksiat, selain juga untuk memperbanyak keturunan dan untuk memotivasi masyarakat Islam agar melakukan perbuatan serupa –dengan tujuan-tujuan yang sama-, sehingga mereka tidak perlu lagi melakukan perbuatan yang diharamkan oleh Alloh. Mereka bisa menggunakan poligami untuk memperbanyak generasi Islam dan memperbanyak orang-orang yang beribadah kepada Alloh di muka bumi, atau untuk tujuan-tujuan baik lainnya.Dalilnya adalah firman Alloh (artinya),“Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita alin yang kamu senangi: dua, tiga, atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka kawinilah seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.” {QS. An-Nisaa’:3}Demikian juga firman Alloh (artinya),“Sesungguhnya telah ada pada diri Rosululloh itu suri teladan..” {QS. Al-Ahzaab: 21}Rosululloh shollallohu ‘alayhi wa’alaa aalihi wasallam sendiri memiliki beberapa orang isteri, dan beliau selalu bersikap adil di antara mereka. Beliau pernah berkata,“Yaa Alloh, inilah yang bisa kulakukan, maka janganlah Engkau mencelaku karena sesuatu yang tidak mampu kulakukan.” Dikeluarkan oleh ashhaabus sunan denga sanad yang shohih. MAksudnya, bahwa sikap adil itu wajib sebatas yang mampu dilakukan oleh manusia, seperti memberi nafkah, mengatur giliran bermalam dan sejenisnya. Adapun cinta kasih dan ‘hubungan seks’, bukanlah sesuatu yang berada dalam kemampuan manusia untuk menciptakannya.Sesampainya di rumah, aku dan isteriku mendiskusikan kembali soal poligami tersebut. Aneh, isteriku juga menanggapinya tidak dengan dingin, bahkan seringkali ditimpali canda tawa. Biasanya, umumnya wanita tak tertarik membahas poligami. Karena biasanya juga, ketika membayangkan suaminya akan memadu dirinya, sudut pandangnya pada poligami otomatis jadi tidak jelas, cenderung berbaur sinisme. Bahkan ada yang sontak memarahi suaminya, hanya karena secara tak sengaja menyinggung-nyinggung topik poligami. Meski belum terbersit keinginan untuk melakukannya!Hingga larut malam, kami sibuk membahas soal-soal poligami, yang bagi kami menarik, dan banyak hal yang tak kami ketahui sebelumnya tentang topik ini.“Kalau aku dipoligami, gimana ya?” tiba-tiba isteriku berkata begitu. Aku terperangah.Aku sendiri, tak pernah berpikir soal poligami. Apalagi, kondisi perekonomian kami yang seperti ini, membuatku tahu diri untuk sekedar memampirkan topik poligami ke dalam benakku.“Wah, memangnya kamu mau?”“Gak tahu ya. Aku hanya membayangkan, kalau aku hidup bersama suami dan maduku , gimana ya?” Ia mengatakan itu, sambil tersenyum lebar. Aku jadi ikut geli melihatnya.Lewat tengah malam, pembicaraan kami terhenti. Dan setelah itu –aneh sekali- hubungan kami menjadi cair lagi. Seolah-olah kedukaan yang merambati hati isteriku dalam beberapa bulan ini, pupus sama sekali. Hari-hari selanjutnya, kembali kami lalui dengan suasana bahagia. Betapa sejuk dada ini.*****2 bulan setelah itu, ada hal yang mengejutkan buat kami. Isteriku, didatangi tamu seorang wanita berusia 34 tahun. Berarti empat tahun lebih tua dariku, dan 8 tahun lebih tua dari isteriku.Ia juga sudah beberapa bulan mengikuti pengajian di musholla kami. Ia berasal dari desa sebelah, hanya 1 kilometer dari rumah kami. Isteriku juga sudah sering berjumpa dengannya di pengajian. Ia dating dengan hijab sempurna (setidaknya menurut ukuranku). Ukuran jilbabnya lebih lebar dari jilbab isteriku.Selama hampir dua jam, ia berada di kamar bersama isteriku. Mereka terlibat obrolan panjang, yang kadang diselingi dengan tawa ringan. Terlihat betul keakraban mereka. Padahal setahuku mereka belum lama saling mengenal. Bahkan ini pertama kalinya wanita itu dating ke rumahku. Isteriku sendiri, meskipun supel, tapi tak pernah begitu mudah mudah menjadi akrab dan berbicara begitu lepas seperti saat ini.Di luar, di ruang tamu, aku duduk sendirian sambil membaca buku. Tak lama, wanita itu keluar. Ia menghadap ke arahku yang berada di pojok ruangan, di atas kursi, dengan membentuk kedua tangan bersalaman dari jauh.“Saya pamit pulang dulu, Mas Arman…” Ujarnya lembut.“O ya, ya, silahkan…”Sepulang wanita tersebut, isteriku berhambur ke ruang tamu. Ada senyum tersungging di wajahnya.“Kenapa, kok senyum-senyum gitu. Menang arisan ya?”“Enggak, kok mas. Lagi senang aja…”“Senang kenapa?”“Mas, kamu saying sama aku gak?”“Loh, kok pake nanya kayak gitu. Ya saying dong.”“Begini. Tapi janji, mas jangan marah ya?”“Ada apa dulu?”“Pokoknya janji dulu, gak marah, baru aku ngomong.”“Oke, aku janji.”“Begini, mas. Menyambung obrolan kita malam itu…”Hatiku tiba-tiba merasa aneh.“Sepertinya, aku mau mewujudkan apa yang aku bilang waktu itu…”“Maksudmu?”“Bagaimana, kalau mas menikahi mbak Ratna yang tadi bertamu ke sini?”Dadaku kini berdegup.“Dia masih gadis dan perawan, Mas. Sampai sekarang belum menikah. Wajahnya lumayan cantik kan, Mas, gak kalah denganku? Aku mau, Mas menikahinya untukku…”“Maksudmu..”“Ya. Aku mau, Mas berpoligami. Tapi bukan dengan wanita lain, dengan mbak Ratna itu. Aku merasa cocok dengannya, Mas. Aku juga ingin membantunya, kasihan dia gak nikah-nikah seusia itu. Padahal, yang mau sama dia banyak. Tapi, tadi dia bilang, dia mau kalau yang menikahinya adalah Mas…”Mataku berkunang-kunang. Perasaanku campur aduk. Aku kehilangan kata untuk menjawab tawaran isteriku yang begitu tiba-tiba, dan sama sekali tak pernah terpikir olehku.“Jangan khawatir, Aku rela kok, dia menjadi maduku, Mas.”“Kenapa dia mau aku nikahi?” Kini aku balik bertanya.“Gak tahu juga, Mas. Tapi yang jelas, saat melihatmu keluar bersamaku dari pengajian, dia kok merasa tertarik ingin menjadi isteri Mas. Makanya, ia memberanikan diri berbicara denganku tadi…”“Tapi, aku belum pantas berpoligami, Adinda…”“Justru karena Mas berpendapat begitu, aku malah bersuka hati menawari Mas untuk berpoligami. Kalau Mas begitu getol ingin kawin lagi, aku malah jadi khawatir..”Wah, aneh. Tak terpikir sedikitpun, kalau aku akan terjebak dalam suasana begini. Isteri yang kucintai, dan selalu hidup bersamaku dalam susah dan senang, tak ada angin tak ada hujan tiba-tiba memintaku untuk berpoligami.“Tapi, lihat saja, ekonomi kita sedang begini. Dalam kondisi baik saja, kita hidup miskin dan kekurangan. Bagaimana mungkin aku beristeri lebih dari satu? Kamu ini aneh, Adinda..”“Ah, soal itu gak perlu khawatir, Mas. Kami tadi sudah mengobrolkannya. Kebetulan, mbak Ratna ini juga lumayan berkecukupan. Ia sudah memiliki rumah sendiri, sudah punya mobil meskipun sederhana, Ia juga punya mini market loh…”Isteriku berbicara panjang lebar soal Ratna, dan aku hanya mendengarkan dengan patuh. Aku tak bisa berkata-kata. Sulit menjabarkan suasana hatiku saat itu. Karena yang berbicara adalah isteriku. Kalau orang lain, mungkin aku tak ambil peduli sama sekali.“Kalau mau menikahinya, Mas diminta untuk mengelola mini market miliknya, untuk sumber penghasilan bersama…”“Tapi jangan salah sangka, Mas. Aku mau Mas menikahinya, bukan karena dia kaya. Tapi aku justru ingin menolongnya. Kasihan, sudah usia 34 tahun, tapi ia belum juga menikah. Tapi, karena kondisinya demikian, bagiku akan lebih mudah merealisasikannya…”Sampai di situ, aku masih terbungkam. Ketika isteriku menanyakan pendapatku, aku hanya bilang, agar ia menunggu hingga esok hari, karena aku betul-betul kebingungan. Bukan aku tak tertarik dengan Ratna. Apalagi, bila menikahinya justru atas permintaan isteri sendiri. Tapi, aku memang betul-betul blank saat itu.Semalaman aku tak bisa memejamkan mata. Jam tiga dini hari, aku bangkit dari pembaringan, dan melakukan sholat malam. Aku berdo’a, memohon pilihan kepada Alloh. Satu malam itu, aku tak tidur sama sekali.Pagi harinya, aku mengajak isteriku ke rumah orang tuaku, dan juga menemui bapak isteriku. Kepada mereka, aku menceritakan permintaan isteriku itu. Tanpa diduga sama sekali, mereka semua setuju. Akhirnya, dengan ringan hati, aku pun menerima tawaran isteriku tersebut…*****Aku pun kini beristeri dua. Aku berpoligami, di saat aku betul-betul tak menginginkannya, bahkan tak pernah memikirkan sebelumnya. Setelah menikahi Ratna, aku baru tahu bahwa ternyata keberadaan isteri keduaku itu menjadi obat buat isteriku, atas kematian ibundanya. Satu hal yang tak pernah kubayangkan pula sebelumnya.Bagi isteriku, Ratna bisa menjadi teman mengobrol, kawan curhat, dan berbagi kasih, seperti yang biasa ia lakukan bersama ibunya. Ratna bisa menjadi pengganti ibunya, dalam dimensi yang sama sekali berbeda tentunya, namun memberikan suntikan rasa yang sama: senang dan bahagia.Semenjak kami berpoligami, kehidupan rumah tangga kami justru semakin semarak, meriah, dan penuh keceriaan. Isteriku sekarang bahkan terlihat jauh lebih berbahagia, ketimbang saat-saat kami masih hidup berdua, sebelum ibunya wafat. Sering kami berpergian bersama, mengunjungi karib kerabat dari pihakku, pihak Salimah, atau pihak Ratna.Aku tak lagi bekerja sebagai satpam. Aku sibuk mengurus bisnis keluarga yang Alhamdulillah berjalan dengan baik. Aku tak tahu, apa lagi yang bisa aku ungkapkan kepada pembaca sekalian. Yang jelas, aku tak bisa menyarankan siapapun untuk mengambil langkah, seperti yang aku lakukan. Karena bisa jadi, kondisi kita tak sama, atau bahkan jauh berbeda. Tapi yang jelas, POLIGAMI telah menjadi salah satu sumber kebahagiaan dalam kehidupan rumah tangga kami. Terserah, anda setuju atau tidak….Sumber: Diketik ulang oleh al Akh Abu Abdillah Huda dari dari buku “Aku Wanita Yang Dipoligami”, Al-Ustadz Abu ‘Umar Basyir

Sahabat

Selemah-lemah Manusia ialah Orang yang tak mau mencari Sahabat dan Orang yang lebih lemah dari itu ialah Orang yang menyia-nyiakan Sahabat yang telah dicarinya
–Khalifah Ali bin Abi Thalib-

Misteri Surah Al-Fatihah

1 – Al-fatihah Baca 14 kali sebelum tidur untuk suami dan anak-anak akan mengingati kita selalu.
2 – Al-fatihah Baca 41 kali tiup dalam air dan minum serta buat air mandian untuk melepaskan rasa sakit dalaman.
3 – Al-fatihah Baca 7 kali dan usap di kepala setiap pagi dan sekali sebelum tidur kepada orang berpenyakit mental.
4 – Al-fatihah Baca 3 kali tiup dalam segelas air minum dan baca sambil mengusap kawasan yang rasa sakit, sakit yang keterlaluan.
5 – Al-fatihah Baca 7 kali dan sapu ke atas kepala bayi yang suka menangis pada malam hari atau pada bila-bila masa.
6 – Al-fatihah Baca 3 atau 7 kali, gunakan ibu jari dan tekan di langit-langit, (mulut) kemudian sapu kepada tempat yang sakit seperti luka berdarah, sengat lebah, jari terkepit di pintu.
SUKA DIINGATKAN: BACALAH DALAM KEADAAN KHUSYUK, TAWAKAL KEPADA ALLAH DAN NIATLAH DENGAN JUJUR, INSYA-ALLAH IANYA MERUPAKAN PENAWAR YANG TERBAIK KEPADA SEMUA.