Senin, 18 Mei 2015

Di Atas Ranjang Kematian

Penulis akan memaparkan untuk sahabat kisah muslim kisah-kisah dari sebagian sahabat di saat-saat akhir hayat mereka. Bagaimana keadaan mereka ketika kematian menjelang, bagaimana rasa takut mereka kepada Allah, padahal sebagian mereka telah dijamin sebagai penghuni surga.


Untitled-1Menjelang ajalnya Abu Bakar radhiallahu ‘anhu berkata, “Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya.” Lalu dia berkata kepada putrinya, Aisyah radhiallahu ‘anha, “Perhatikanlah kedua baju ini. Cucilah keduanya, dan kafanilah aku dengan keduanya. Karena orang yang hidup lebih berhak mendapatkan yang baru daripada orang mati.”

Beliau juga berwasiat kepada Umar bin Khottob radhiallahu ‘anhu, “Aku mewasiatkan sebuah wasiat untukmu, jika engkau berkenan menerimanya dariku. Sesungguhnya Allah mempunyai hak di malam hari yang tidak Dia terima di siang hari. Allah juga mempunyai hak di siang hari yang tidak diterima-Nya di malam hari. Dia tidak meneriman ibadah sunnah sebelum ibadah yang wajidb ditunaikan. Orang-orang yang berat timbangannya di akhirat dikarenakan mereka mengikuti kebenaran di dunia. Timbangan amalan baik memang sudah sepantasnya mendapat nilai yang besar. Orang-orang yang berat timbangannya di akhirat, hal itu karena mereka mengikuti kebatilan. Amalan kejelekan memang layak dinilai dengan nilai rendah dan timbangan yang ringan..”

Ketika Umar ditikam, Abdullah bin Abbas datanga dan mengatakan, “Ya Amirul Mukminin, engkau masuk Islam manakala orang-orang masih kufur. Engkau berjihad bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam manakala orang-orang meninggalkannya. Engkau terbunuh secara syahid tanpa ada yang menyangkal. Dan Rasulullah wafat dalam keadaan beliau ridha terhadapmu.” Umar berkata, “Ulangi ucapanmu itu.” Lalu Ibnu Abbas pun mengulangi ucapannya, kemudian langsung ditanggapi oleh Umar, “Orang yang tertipu adalah orang yang kalian tipu. Demi Allah, seandainya aku memiliki harta yang memenuhi antara terbit dan terbenamnya matahari, niscaya aku akan memakainya untuk menebus kengerian kiamat (agar selamat darinya).”

Abdullah bin Umar berkata, “Kepala Umar berada di atas pahaku pada waktu 
ia terluka sebelum wafatnya. Saat itu Umar berkata, “Letakkan kepalaku di atas tanah.” aku berkata, “Apa bedanya di atas tanah dengan di atas pahaku?” Umar berkata, “Letakkan!” Lalu aku pun meletakkan kepalanya di atas tanah, kata ibnu Umar. Kemudian Umar mengatakan, “Celaka Umar dan celakalah (musibah bagi) orang yang melahirkan Umar, jika Rabbku tidak merahmatiku.”

Amirul mukminin Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu, ketika para pemberontak menikamnya dan darah mengalir di jenggotnya, dia berkata, “Tiada sesembahan yang benar kecuali Engkau ya Allah. Maha Suci Engkau dan aku termasuk orang-orang yang zalim. Ya Allah, sesungguhnya aku memohon petunjuk kepada-Mu. Aku memohon pertolongan kepada-Mu dalam segala urusanku. Aku memohon kepada-Mu kesabaran atas musibahku.” Lihatlah Utsman bin Affan, di saat-saat api fitnah bergejolak, beliau tidak membiarkan satu orang sahabat nabi atau seorang muslim lainnya datang melindunginya. 
Beliau khawatir darah uamt Islam tertumpah karena beliau, beliau lebih memilih bersabar, menahan kezaliman dan bersabar walaupun resikonya adalah nyawa
Ketika Utsman radhiallahu ‘anhu wafat dan syahid, para pemberontak membongkar lemarinya. Mereka menemukan sebuah kotak yang terkunci rapat. Mereka membukanya, dan menemukan secarik kertas yang bertuliskan: Ini adalah wasiat Utsman. Bismillahirrahmanirrahim. Utsman bin Affan bersaksi bahwa tiada sesembahan yang hak kecuali Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Allah membangkitkan orang-orang dari kubur mereka pada hari yang tidak ada keraguan akan terjadinya. Sesungguhnya Allah tidak menyelesihi janji. Di atasnya dia hidup, di atasnya dia mati dan di atasnya pula dia dibangkitkan, insya Allah’.

Setelah ditikam, amirul mukminin Ali bin Abi Thalib berkata, “Bagaimana dengan orang yang menikamku?” Orang-orang menjawab, “Kami telah menangkapnya.” Ali mengatakan, “Beri dia makan dari makananku dan beri dia minum dari minumanku. Jika nanti aku masih hidup, maka nanti akan aku pikirkan. Jika ternyata aku mati, maka penggallah ia dengan sekali penggalan jangan lebih dari itu (jangan dianiaya).” kemudian beliau berwasiat kepada putranya hasan bin Ali, “Jangan bermahal-mahalan dalam urusan kafan. Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Janganlah kalian bermahal-mahal dalam urusan kafan, karena kafan akan usang dengan cepat.’.” Ali juga mewasiatkan “Bawalah jasadku nanti diantara dua cara berjalan; jangan bawa dengan tergesa-gesa dan jangan juga terlalu lambat. 
Jika ternyata (keadaan kuburku) memang baik, maka kalian telah menyegerakanku kepada kebaikan itu (karena tidak memperlambat). Namun apabila ternyata kuburku buruk, maka kalian telah meletakkanku di pundak kalian (dengan tidak tergesa-gesa).” Masya Allah orang seperti Ali bin Abi Thalib yang dijamin surga pun masih takut dengan keadaan alam kuburnya, bahkan hal itu beliau pikirkan di saat-saat orang sudah mengalami kondisi sulit, di saat sakratul maut, di saat luka parah karena sabetan pedang beracun yang menghantam kepala beliau radhiallahu ‘anhu.

Muadz bin Jabal radhiallahu ‘anhu, seorang sahabat yang mulia. Manakala maut datang menjemput, beliau menyeru Allah Ta’ala, “Ya Rabbi, dulu aku takut kepada-Mu. Namun pada hari ini aku berharap kepada-Mu. Ya Allah, sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa aku tidak mencintai dunia karena mengalirnya sungai-sungai, tidak pula karena ingin menanam pohon-pohon. Akan tetapi aku hanya ingin merasakan hausnya karena berpuasa di panas yang terik, mengisi saat demi saat dengan bergaul bersama orang-orang shaleh, dan menghadiri halaqah-halaqah ilmu.” Itulah artinya dunia bagi para sahabat nabi, itulah kesenangan dan ambisi hidup mereka di dunia. Rasa senang dan gembira mereka ada pada rasa haus di panas yang terik karena beribadah kepada Allah dengan berpuasa, bergaul dengan orang shaleh dan mendengarkan kalam ilahi di halaqah ilmu.

Demikianlah di antara kisah-kisah sahabat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala ajal menjemput mereka. Betapa yakinnya mereka dengan hari pembalasan dan betapa khawatirnya mereka akan keadaan mereka di kehidupan setelah kematian, padahal mereka telah mengamalkan amalan-amalan yang agung semasa hidup di dunia. Bersamaan itu pula muncul rasa harap yang besar kepada Allah Ta’ala.


Sumber: Ensiklopedi Kisah Generasi Salaf

Hukum Truk Sampah

Suatu hari saya naik sebuah taxi menuju ke Bandara. Kami melaju pada jalur yang benar, ketika tiba-tiba sebuah mobil hitam melompat keluar dari tempat parkir tepat di depan kami, Supir taxi menginjak pedal rem dalam-dalam hingga ban mobil berdecit dan berhenti hanya beberapa cm dari mobil tersebut.

Pengemudi mobil hitam tsb mengeluarkan kepalanya & memaki maki ke arah kami. Supir taxi hanya tersenyum & melambai pada orang tersebut. Saya sangat heran dgn sikapnya yang bersahabat.

Saya bertanya, "Mengapa anda melakukannya ? Orang itu hampir merusak mobil anda dan dapat saja mengirim kita ke rumah sakit?!".

Saat itulah saya belajar dari supir taxi tersebut mengenai apa yang saya kemudian sebut "Hukum Truk Sampah".

Ia menjelaskan bahwa banyak orang seperti truk sampah. Mereka berjalan keliling membawa sampah, seperti frustrasi, kemarahan, kekecewaan.

Seiring dengan semakin penuh kapasitasnya, semakin mereka membutuhkan tempat untuk membuangnya & seringkali mereka membuangnya kepada anda.Jangan ambil hati, tersenyum saja, lambaikan tangan, lalu lanjutkan hidup.

Jangan ambil sampah mereka untuk kembali membuangnya kepada orang lain yang anda temui di tempat kerja, di rumah atau dalam perjalanan.Intinya, orang yang sukses adalah orang yang tidak membiarkan "truk sampah" mengambil alih hari-hari mereka dengan merusak suasana hati.

Hidup ini jangan diisi dengan penyesalan, maka kasihilah orang yang memperlakukan anda dengan benar, berdoalah bagi yang tidak.Hidup itu 10% mengenai apa yang kau buat dengannya dan 90% tentang bagaimana kamu menyikapinya ...

You choose to be Happy or Grumpy !!Hidup bukan mengenai menunggu badai berlalu, tapi tentang bagaimana belajar menari dalam hujan.

Jangan pernah menghakimi orang lain,Biarlah kita menjadi pribadi bijak & mencoba belajar mengerti orang lain.

http://ariezcorp.blogspot.com/2013/09/sepasang-sandal-jepit-yang-membuat-sadar.html

Sepasang Sandal Jepit Yang Membuat Sadar

Selera makanku mendadak punah. Hanya ada rasa kesal dan jengkel yang memenuhi kepala ini. Duh. betapa tidak gemas, dalam keadaan lapar memuncak seperti ini makanan yang tersedia tak ada yang memuaskan lidah. Sayur sop ini rasanya manis bak kolak pisang, sedang perkedelnya asin nggak ketulungan. 


"Ummi... Ummi, kapan kau dapat memasak dengan benar...? Selalu saja, kalau tak keasinan... kemanisan, kalau tak keaseman... ya kepedesan!" Ya, aku tak bisa menahan emosi untuk tak menggerutu. "Sabar bi... Rasulullah juga sabar terhadap masakan Aisyah dan Khodijah. Katanya mau kayak Rasul...? "ucap isteriku kalem. "Iya... tapi abi kan manusia biasa. Abi belum bisa sabar seperti Rasul. Abi tak tahan kalau makan terus menerus seperti ini...! "Jawabku dengan nada tinggi. Mendengar ucapanku yang bernada emosi, kulihat isteriku menundukkan kepala dalam-dalam. Kalau sudah begitu, aku yakin pasti air matanya sudah merebak.

Sepekan sudah aku ke luar kota. Dan tentu, ketika pulang benak ini penuh dengan jumput-jumput harapan untuk menemukan 'baiti jannati' di rumahku. Namun apa yang terjadi...? Ternyata kenyataan tak sesuai dengan apa yang kuimpikan. Sesampainya di rumah, kepalaku malah mumet tujuh keliling. Bayangkan saja, rumah kontrakanku tak ubahnya laksana kapal burak (pecah). Pakaian bersih yang belum disetrika menggunung di sana sini. Piring-piring kotor berpesta pora di dapur, dan cucian... ouw... berember-ember. Ditambah lagi aroma bau busuknya yang menyengat, karena berhari-hari direndam dengan detergen tapi tak juga dicuci. Melihat keadaan seperti ini aku cuma bisa beristigfar sambil mengurut dada. "Ummi... ummi, bagaimana abi tak selalu kesal kalau keadaan terus menerus begini...?" ucapku sambil menggeleng-gelengkan kepala.

sandal-jepit.jpg

"Ummi... isteri sholihat itu tak hanya pandai ngisi pengajian, tapi dia juga
harus pandai dalam mengatur tetek bengek urusan rumah tangga. Harus bisa masak, nyetrika, nyuci, jahit baju, beresin rumah...?" Belum sempat kata-kataku habis sudah terdengar ledakan tangis isteriku yang kelihatan begitu pilu. "Ah... wanita gampang sekali untuk menangis," batinku berkata dalam hati. "Sudah diam Mi, tak boleh cengeng. Katanya mau jadi isteri shalihat...? Isteri shalihat itu tidak cengeng," bujukku hati-hati setelah melihat air matanya menganak sungai dipipinya. "Gimana nggak nangis! Baru juga pulang sudah ngomel-ngomel terus. Rumah ini berantakan karena memang ummi tak bisa mengerjakan apa-apa. Jangankan untuk kerja untuk jalan saja susah. Ummi kan muntah-muntah terus, ini badan rasanya tak bertenaga sama sekali," ucap isteriku diselingi isak tangis. "abi nggak ngerasain sih bagaimana maboknya orang yang hamil muda..." Ucap isteriku lagi, sementara air matanya kulihat tetap merebak.

Bi... siang nanti antar Ummi ngaji ya...?" pinta isteriku. "Aduh, Mi... abi kan sibuk sekali hari ini. Berangkat sendiri saja ya?" ucapku. "Ya sudah, kalau abi sibuk, Ummi naik bis umum saja, mudah-mudahan nggak pingsan di jalan," jawab isteriku. "Lho, kok bilang gitu...?" selaku. "Iya, dalam kondisi muntah-muntah seperti ini kepala Ummi gampang pusing kalau mencium bau bensin. Apalagi ditambah berdesak-desakan dalam bus dengan suasana panas menyengat. Tapi mudah-mudahan sih nggak kenapa-kenapa," ucap isteriku lagi. "Ya sudah, kalau begitu naik bajaj saja," jawabku ringan.

Pertemuan hari ini ternyata diundur pekan depan. Kesempatan waktu luang ini kugunakan untuk menjemput isteriku. Entah kenapa hati ini tiba-tiba saja menjadi rindu padanya. Motorku sudah sampai di tempat isteriku mengaji. Di depan pintu kulihat masih banyak sepatu berjajar, ini pertanda acara belum selesai. Kuperhatikan sepatu yang berjumlah delapan pasang itu satu persatu. Ah, semuanya indah-indah dan kelihatan harganya begitu mahal. "Wanita, memang suka yang indah-indah, sampai bentuk sepatu pun lucu-lucu," aku membathin sendiri. Mataku tiba-tiba terantuk pandang pada sebuah sendal jepit yang diapit sepasang sepatu indah. Dug! Hati ini menjadi luruh.

"Oh... bukankah ini sandal jepit isteriku?" tanya hatiku. Lalu segera kuambil sandal jepit kumal yang tertindih sepatu indah itu. Tes! Air mataku jatuh tanpa terasa. Perih nian rasanya hati ini, kenapa baru sekarang sadar bahwa aku tak pernah memperhatikan isteriku. Sampai-sampai kemana ia pergi harus bersandal jepit kumal. Sementara teman-temannnya bersepatu bagus. "Maafkan aku Maryam," pinta hatiku. "Krek..." suara pintu terdengar dibuka. Aku terlonjak, lantas menyelinap ke tembok samping. Kulihat dua ukhti berjalan melintas sambil menggendong bocah mungil yang berjilbab indah dan cerah, secerah warna baju dan jilbab umminya. Beberapa menit setelah kepergian dua ukhti itu, kembali melintas ukhti-ukhti yang lain. Namun, belum juga kutemukan Maryamku. Aku menghitung sudah delapan orang keluar dari rumah itu, tapi isteriku belum juga keluar. Penantianku berakhir ketika sesosok tubuh berbaya gelap dan berjilbab hitam melintas.

"Ini dia mujahidahku!" pekik hatiku. Ia beda dengan yang lain, ia begitu bersahaja. Kalau yang lain memakai baju berbunga cerah indah, ia hanya memakai baju warna gelap yang sudah lusuh pula warnanya. Diam-diam hatiku kembali dirayapi perasaan berdosa karena selama ini kurang memperhatikan isteri. Ya, aku baru sadar, bahwa semenjak menikah belum pernah membelikan sepotong baju pun untuknya. Aku terlalu sibuk memperhatikan kekurangan-kekurangan isteriku, padahal di balik semua itu begitu banyak kelebihanmu, wahai Maryamku. Aku benar-benar menjadi malu pada Allah dan Rasul-Nya. Selama ini aku terlalu sibuk mengurus orang lain, sedang isteriku tak pernah kuurusi. Padahal Rasul telah berkata: "Yang terbaik di antara kamu adalah yang paling baik terhadap keluarganya." Sedang aku...? Ah, kenapa pula aku lupa bahwa Allah menyuruh para suami agar menggauli isterinya dengan baik. Sedang aku...? terlalu sering ngomel dan menuntut isteri dengan sesuatu yang ia tak dapat melakukannya. Aku benar-benar merasa menjadi suami terdzalim!!! "Maryam...!" panggilku, ketika tubuh berbaya gelap itu melintas. Tubuh itu lantas berbalik ke arahku, pandangan matanya menunjukkan ketidakpercayaan atas kehadiranku di tempat ini. Namun, kemudian terlihat perlahan bibirnya mengembangkan senyum. Senyum bahagia. "Abi...!" bisiknya pelan dan girang. Sungguh, aku baru melihat isteriku segirang ini. "Ah, kenapa tidak dari dulu kulakukan menjemput isteri?" sesal hatiku.

Esoknya aku membeli sepasang sepatu untuk isteriku. Ketika tahu hal itu, senyum bahagia kembali mengembang dari bibirnya. "Alhamdulillah, jazakallahu..." ucapnya dengan suara tulus. Ah, Maryam, lagi-lagi hatiku terenyuh melihat polahmu. Lagi-lagi sesal menyerbu hatiku. Kenapa baru sekarang aku bisa bersyukur memperoleh isteri zuhud dan 'iffah' sepertimu? Kenapa baru sekarang pula kutahu betapa nikmatnya menyaksikan matamu yang berbinar-binar karena perhatianku...? Semoga berguna bagi kita semua...amin ya rabbal alamien...

Buat para mujahid dakwah... renungkanlah kisah sandal jepit ini, dan tanyalah hati kita sejauh mana perhatian kita (bukan hanya soal sandal dll) terhadap sosok makhluk bernama istri di tengah2 kesibukan kita... 

http://ariezcorp.blogspot.com/2013/09/sepasang-sandal-jepit-yang-membuat-sadar.html

kisah ini diambil dari: http://berita.animaxline.com/detail-Pepasang+Sandal+Jepit+Yang+Membuat+Sadar.html 

Alhamdulillah

Do’a yang paling afdol adalah ‘Alhamdulillahi robbil ‘alamin’ Segala Puji Bagi Allah Rob Semesta Alam…
kita sering menganggap do’a yang pas untuk kita ialah ‘Robbana atina fidun ya hasanah wa fil akhiroti hasanah wa qinna adzabanar’ kita ingin dunia dapat kebaikan dan akhirat dapat kebaikan dan diakhirat kita tidak ingin kena adzab dari Allah.. do’a ini baik karena Allah sendiri yang mengarang-Nya untuk kita…
tapi do’a yang paling afdol ialah ‘Alhamdulillahi robbil ‘alamin’…
jadi jika kita banyak memuji Allah, menyebut hamdallah sebetulnya kita sedang melakukan do’a yang paling utama…
Rasulullah SAW Tahajud. Tahajudnya Rasul SAW bukan ingin lunas hutang. Tahajudnya Rasul bukan supaya disayang orang. Tahajudnya Rasul bukan supaya jauh dari musibah. tapi Tahajudnya Rasul SAW karena syukur kepada Allah…
memang puncak pengabdian adalah Syukur. Maka kalau kita memiliki bersyukur, sebetulnya sudah. kita punya kunci ‘La in Syakartum, La adzidanakum. Jadi semua nikmat itu seperti lemari yang terkunci, yaitu kuncinya syukur…
mana yang kita fikirkan? isi lemari atau kunci lemari? buat apa memikirkan isi lemari kalau tidak punya kunci? hanya bikin menderita. Kalau kita punya kunci tidak usah memikirkan isi lemari karena memang janjinya bagus. kata Allah ‘Jika kamu bersyukur, maka akan Aku tambah kenikmatan untukmu…’
maka kalau kesibukan kita selalu bersyukur kepada Allah, kita akan lega…
syarat syukur itu apa? jadi jangan takut dengan nikmat yang belum ada. Semuanya milik Allah dan semuanya dalam genggaman Allah.
Jangan risau tentang uang yang belum datang, tidak akan kemana-mana dan tidak akan tertukar sedikitpun. belum punya rumah, jangan risau dengan harga tanah naik, rumah naik tidak ada masalah.., kalau Allah mau ngasih mah mau naik berapa saja pasti dapat.. Kan yang jadi masalah bukan naiknya harga rumah, bukan naiknya harga tanah, tapi yang jadi masalah ialah tidak kebeli…!!. Kalau harga tanah naik tapi kalau Allah mau ngasih mah tidak ada yang bisa menolaknya… sudahlah jangan takut…, jangan takut dengan nikmat yang belum ada…
wah bagaimana nanti??, nanti apa??, nanti mah dalam genggamannya Allah..!!, sekarang nih yang bahaya..!!, kita nanem apa?, kalau sekarang kita nanem syukur maka nikmat sudah janji Allah. Janji Allah itu pasti… tidak akan meleset, tidak akan tertukar, tidak akan tertunda. Sempurna dan tidak ada keraguan…
maka kalau Allah sudah janji ‘kamu syukur maka akan Ku tambah nikmat..’ maka sudah berhenti memikirkan nikmat… maka yang harus kita fikirkan apa?? yang harus kita fikirkan sekarang ialah syukur…
– jangan takut uang yang belum ada, takutlah uang yang sudah ada ini tidak bisa kita syukuri.

– jangan takut memikirkan rumah yang belum ada, jangan takut kontrakan yang belum terbayar. takutlah kontrakan yang ada tidak bisa kita syukuri…
– jangan takut dengan ilmu yang belum kita dapatkan, takutlah ilmu yang ada tidak bisa kita syukuri
jadi rasa takut kita akan tidak bersyukur ini seharusnya besar…, karena ‘wa la inkafartum, inna adzabi la syadid… ‘jika kamu tidak bersyukur maka azab-Ku amatlah pedih…’ subhanallah…
ternyata kalau kufur nikmat itu akan menjadi adzab buat kita, kita takud adzab Allah? takut adzab Allah berarti takut untuk tidak beryukur kepada Allah…
kita kadang kejauhan mikirnya…, uang yang belum ada difikirkan.., mau kemana?? Allah sudah tahu rezeki kita dimana, kapan yang paling pass untuk kita. kita mah tidak usah rewel. Selama ini juga kan kita dicukupi oleh Allah?? iya kan?? duh saya tidak punya ongkos?, tapi kan nyampe ke tujuan dibonceng teman?
syukur syarat pertama ialah ‘hati’. Harus total yang namanya karunia sekecil apapun, sebesar apapun hanya dari Allah, tidak ada selain Allah. Namanya makhluk bukan sumber, makhluk hanyalah sebuah jalan.
Kalau kita sudah melihat makhluk sebagai sumber nikmat maka kita akan mengabdi kepada makhluk itu, kita bakal tunduk, kita bakal merunduk, kita akan berharap dan kita akan takut kepada makhluk. Kenapa? karena makhluk sudah dianggap sebagai sumber, padahal Allah lah sumber- …
Allah… sekecil apapun, sehalus apapun itu Allah yang punya..

Minggu, 17 Mei 2015

11 MANUSIA DI DALAM DOA MALAIKAT

PERCAYA kepada malaikat adalah antara rukun iman. Ada malaikat yang ditugaskan berdoa kepada makhluk manusia dan sudah tentu seseorang yang didoakan malaikat mendapat keistimewaan. Dalam hidup, kita sangat memerlukan bantuan rohani dalam menghadapi ujian yang kian mencabar. Bantuan dan sokongan malaikat sangat diperlukan. Ketika kita menghadapi masalah, kerumitan, keperluan dan bimbingan, bukan saja kita perlukan kekuatan doa dari lidah, tetapi juga sokongan malaikat. Antara orang yang mendapat doa malaikat ialah:
1. Orang yang tidur dalam keadaan bersuci. Rasulullah s.a.w bersabda, maksudnya:
“Barang siapa yang tidur dalam keadaan suci, malaikat akan bersamanya di dalam pakaiannya. Dia tidak akan bangun hingga malaikat berdoa: “Ya Allah, ampunilah hamba-Mu si fulan karena tidur dalam keadaan suci.”

2. Orang yang sedang duduk menunggu waktu solat. Rasulullah s.a.w bersabda maksudnya:
“Tidaklah salah seorang antara kalian yang duduk menunggu solat, selama ia berada dalam keadaan suci, kecuali kalangan malaikat akan mendoakannya: ‘Ya Allah, ampunilah ia. Ya Allah sayangilah ia.’”

3. Orang yang berada di shaf depan solat berjamaah. Rasulullah s.a.w bersabda, maksudnya:
“Sesungguhnya Allah dan kalangan malaikat-Nya bersolawat ke atas (orang) yang berada pada shaf depan.”
4. Orang yang menyambung shaf pada solat berjamaah:Rasulullah s.a.w bersabda, maksudnya:
“Sesungguhnya Allah dan kalangan malaikat selalu bersolawat kepada orang yang menyambung shaf.”
5. Kalangan malaikat mengucapkan ‘amin’ ketika seorang imam selesai membaca Al-Fatihah. Rasulullah s.a.w bersabda maksudnya:
“Jika seorang imam membaca…(ayat terakhir al-Fatihah sehingga selesai), ucapkanlah oleh kamu ‘aamiin’ karena barang siapa yang ucapannya itu bertepatan dengan ucapan malaikat, dia akan diampuni dosanya yang lalu.”
6. Orang yang duduk di tempat solatnya selepas melakukan solat. Rasulullah s.a.w bersabda, maksudnya:
“Kalangan malaikat akan selalu bersolawat kepada satu antara kalian selama ia ada di dalam tempat solat, di mana ia melakukan solat.”
7. Orang yang melakukan solat Subuh dan Ashar secara berjamaah. Rasulullah s.a.w bersabda maksudnya:
“Kalangan malaikat berkumpul pada saat solat Subuh lalu malaikat (yang menyertai hamba) pada malam hari (yang sudah bertugas malam hari hingga Subuh) naik (ke langit) dan malaikat pada siang hari tetap tinggal.
“Kemudian mereka berkumpul lagi pada waktu solat Asar dan malaikat yang ditugaskan pada siang hari (hingga solat Asar) naik (ke langit) sedangkan malaikat yang bertugas pada malam hari tetap tinggal lalu Allah bertanya kepada mereka:
“Bagaimana kalian meninggalkan hamba-Ku?” Mereka menjawab: ‘Kami datang sedangkan mereka sedang melakukan solat dan kami tinggalkan mereka sedangkan mereka sedang melakukan solat, ampunilah mereka pada hari kiamat.’ “
8. Orang yang mendoakan saudaranya tanpa pengetahuan orang yang didoakan. Rasulullah s.a.w bersabda, maksudnya:
“Doa seorang Muslim untuk saudaranya yang dilakukan tanpa pengetahuan orang yang didoakannya adalah doa yang akan dikabulkan. Pada kepalanya ada seorang malaikat yang menjadi wakil baginya,
setiap kali dia berdoa untuk saudaranya dengan sebuah kebaikan, malaikat itu berkata ‘aamiin’ dan engkau pun mendapatkan apa yang ia dapatkan.’”
9. Orang yang membelanjakan harta (infak). Rasulullah s.a.w bersabda, maksudnya:
“Tidak satu hari pun di mana pagi harinya seorang hamba ada padanya kecuali dua malaikat turun kepadanya, satu antara kedua-duanya berkata: ‘Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang berinfak…’”

10. Orang yang sedang makan sahur. Rasulullah s.a.w bersabda maksudnya:
“Sesungguhnya Allah dan kalangan malaikat-Nya bersolawat kepada orang yang sedang makan sahur.”

11. Orang yang sedang menjenguk orang sakit. Rasulullah s.a.w bersabda, maksudnya:
“Tidaklah seorang mukmin menjenguk saudaranya kecuali Allah akan mengutus 70,000 malaikat untuknya yang akan berselawat kepadanya di waktu siang hingga petang dan di waktu malam hingga Subuh.”

Jumat, 15 Mei 2015

Rahsia huruf Alif Lam Mim dalam al Quran

Mungkin kita sering bertanya mengapa Alif Lam Mim dijadikan sebagai ayat per tama dalam Al-Quran setelah surat Al-fatihah? Lalu mengapa Al-fatihah dan Alif Lam Mim berada disurat per tama dan diawal surat kedua dalam Al-Quran, padahal wahyu yang per tama kali turun adalah Al-alaq 1-5?

Dalam sebuah artikel yang pernah saya baca, bahwa jalan hidup yang harus kita jalani didunia mulai dari per tama dilahirkan sampai dengan meninggal ada dalam Al-Quran. Mulai dari kewajiban yang harus kita lakukan ketika per tama kali kita dilahirkan, kewajiban yang harus dilakukan ketika tumbuh menjadi anak – anak, remaja, dewasa sampai dengan meninggal dunia termaktub dalam Al-Quran pada juz 1 – 30.

Jalan hidup yang harus kita lalui harus berdasarkan atas surat Al-Fatihah yang mana sebagai induk dari Al-Quran. Lalu setelah itu, kita mengikuti alur dari juz – juz yang terkandung dalam Al-Quran. Sebagai contoh ketika kita berumur 20 tahun, maka alangkah baiknya kita mempelajari juz 20 dari Al-Quran itu sendiri. karena hal – hal yang akan kita hadapi, kewajiban yang harus kita lakukan pada usia 20 tahun terdapat dalam Al-Quran dalam juz ke-20. begitu juga seterusnya.

lalu bagaimana seandainya umur kita sudah lebih dari 30 tahun, sedangkan dalam Al-Quran sendiri hanya terdapat 30 juz? Maka saat itulah, masa kita untuk mengamalkan semua yang telah kita pelajari dari juz 1 – 30 dari Al-Quran. karena, kebanyakan dari manusia, mendapat ujian kehidupan yang paling banyak pada usia 1 – 30 tahun. karena pada masa itu, manusia mendapat banyak ujian nafsu, harta dan segala macam godaan.

Lalu apa salah satu rahasia dan kekuatan dari “Alif Lam Mim”, sehingga dijadikan sebagai ayat pertama dari surat Al-Baqarah?

ketika kita baru dilahirkan didunia ini, ternyata Allah SWT menginginkan kita mempelajari “Alif Lam Mim”. karena itulah 3 macam pilihan jalan kehidupan manusia didunia. “Alif Lam Mim” terdiri dari huruf ” م ل ا ” yang mana 3 huruf ini mempunyai kandungan makna yang sangat dahsyat.

Huruf pertama, yaitu ” ا = Alif ” menjelaskan manusia yang pada masa hidupnya, berada pada jalan yang lurus sebagaimana huruf “Alif” tersebut. Yaitu, manusia yang selalu mentaati segala perintah Allah SWT dan Rasul-Nya, menjaga hawa nafsunya, mulai dari pertama dia dilahirkan sampai dengan meninggal dunia. Yang mana jalan hidupnya selalu diridho’i oleh Allah SWT. sehingga surga Firdaus selalu menantikan manusia – manusia seperti ini.

Huruf kedua, yaitu ” ل = Lam ” menjelaskan manusia yang jalan hidupnya seperti huruf “Lam”, ketika dia baru dilahirkan dia berada dijalan yang lurus. Tetapi setelah menjalani tahapan kehidupan, ketika dia tumbuh menjadi anak – anak, remaja, dewasa dan sebelum meninggal dunia dia telah berbelok kekiri, dia meninggalkan semua kewajiban, tidak mentaati Allah SWT dan rasul – Nya. dia melupakan jalan kehidupan yang seharusnya dia lalui, Jalan lurus yang sudah diberikan oleh ALlah SWT sebelum dan ketika dia dilahirkan dibumi melalui hidayah – Nya. Dan malaikat Malik pun sudah siap menunggunya dipintu neraka. Naudzubillah min dzalik.

Huruf ketiga, yaitu ” م = Mim ” menjelaskan manusia yang jalan kehidupannya seperti huruf “Mim”. dia berputar – putar dalam kehidupannya mencari kebenaran, tapi diakhir tahapan pencariannya dia menemukan jalan lurus. Yang mana ketika dia baru dilahirkan, dia berada dijalan yang lurus. Tapi ketika dia tumbuh dan beranjak dewasa dia berputar – putar sendiri dalam kehidupannya mencari jalan kebenaran sejati. Dan akhirnya dengan izin Allah SWT diakhir pencariannya, dia menemukan jalan yang diridho’i oleh Allah SWT. Dan surga pun siap menerimanya.

Lalu jalan kehidupan manakah yang akan kita pilih???
Jalan kehidupan seperti huruf ” م ل ا ” “Alif” kah, “Lam” kah atau “Mim” kah???
Semoga kita selalu dijalan yang benar, dan terhindar dari jalan kehidupan seperti huruf ” ل “. Aamiin.

MEMAAFKAN

ORANG SULIT MENERIMA BILA IA DIHINA, DIRENDAHKAN, DLL
AKAN TETAPI BILA IA MELAKUKAN SEBALIKNYA IA MERASA MENANG DENGAN TERTAWA LEBAR SAMBIL BERCERITA KESANA KEMARI, SEAKAN DIALAH YG PALING HEBAT.......! ASTAGHFIRULLAHALADZIM

SADARLAH BAHWA ITU BUKAN CARA YG DILAKUKAN RASULULLAH SOLLOHU ALAIHI WASSALLAM SAAT DIHINA, DIRENDAHKAN BAHKAN DILEMPAR DENGAN BATU HINGGA BERDARAH

IA HANYA MEMAAFKAN
ALLAHUMMASALLIALA MUHAMMAD