Selasa, 19 Januari 2016

Renungan Indah WS Rendra

Renungan Indah WS Rendra

Sering kali aku berkata, ketika orang memuji milikku,

bahwa sesungguhnya ini hanya titipan,

bahwa mobilku hanya titipan Nya,

bahwa rumahku hanya titipan Nya,

bahwa hartaku hanya titipan Nya,

bahwa putraku hanya titipan Nya,

tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya, mengapa Dia menitipkan padaku?

Untuk apa Dia menitipkan ini pada ku?

Dan kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan untuk milik Nya ini?

Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku?

Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya ?

Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah

kusebut itu sebagai ujian, kusebut itu sebagai petaka,

kusebut dengan panggilan apa saja untuk melukiskan bahwa itu adalah derita.

Ketika aku berdoa, kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku,

aku ingin lebih banyak harta,

ingin lebih banyak mobil,

lebih banyak rumah,

lebih banyak popularitas,

dan kutolak sakit, kutolak kemiskinan,

Seolah semua “derita” adalah hukuman bagiku.

Seolah keadilan dan kasih Nya harus berjalan seperti matematika :

aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita menjauh dariku, dan

Nikmat dunia kerap menghampiriku.

Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan Kekasih.

Kuminta Dia membalas “perlakuan baikku”, dan menolak keputusanNya yang tak sesuai keinginanku,

Gusti, padahal tiap hari kuucapkan, hidup dan matiku hanyalah untuk beribadah…

“ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja”

(WS Rendra).

Semoga Allah Swt senantiasa merahmatimu, Om Rendra…
_______________________

Sumber : http://puterakembara.org/archives/00000062.shtml

19 Hadist Rasulullah SAW Mengenai Wanita

19 Hadist Rasulullah SAW Mengenai Wanita

1. Doa perempuan lebih makbul daripada lelaki kerana sifat penyayang yang lebih kuat daripada lelaki. Ketika ditanya kepada Rasulullah akan hal tersebut, jawab baginda, “Ibu lebih penyayang daripada bapa dan doa orang yang penyayang tidak akan sia-sia”.

2. Apabila seseorang perempuan mengandung janin dalam rahimnya, maka beristighfarlah para malaikat untuknya.Allah mencatatkan baginya setiap hari dengan 1,000 kebajikan dan menghapuskan darinya 1,000 kejahatan.

3. Apabila seseorang perempuan mulai sakit hendak bersalin, maka Allah mencatatkan baginya pahala orang yang berjihad pada jalan Allah.

4. Apabila seseorang perempuan melahirkan anak, keluarlah dia dari dosa-dosa seperti keadaan ibunya melahirkannya.

5. Apabila telah lahir anak lalu disusui, maka bagi ibu itu setiap satu tegukan daripada susunya diberi satu kebajikan.

6. Apabila semalaman ibu tidak tidur dan memelihara anaknya yang sakit, maka Allah memberinya pahala seperti memerdekakan 70 hamba dengan ikhlas untuk membela agama Allah.

7. Barangsiapa yang menggembirakan anak perempuannya, darajatnya seumpama orang yang sentiasa menangis kerana takutkan Allah dan orang yang takutkan Allah, akan diharamkan api neraka ke atas tubuhnya.

8. Barangsiapa membawa hadiah, (barang makanan dari pasar ke rumah lalu diberikan kepada keluarganya, maka pahalanya seperti bersedekah. Hendaklah mendahulukan anak perempuan daripada anak lelaki. Maka barangsiapa yang menyukakan anak perempuan seolah-olah dia memerdekakan anak Nabi Ismail.

9. Tiap perempuan yang menolong suaminya dalam urusan agama, maka Allah memasukkan dia ke dalam syurga lebih dahulu daripada suaminya (10,000 tahun).

10. Perempuan apabila sembahyang limawaktu, puasa bulan Ramadhan, memelihara kehormatannya serta taat akan suaminya, masuklah dia dari pintu syurga mana sahaja yang dikehendaki.

11. Wanita yang solehah (baik) itu lebih baik daripada 1,000 lelaki yang soleh.

12. Aisyah berkata, “Aku bertanya kepada Rasulullah, siapakah yang lebih besar haknya terhadap wanita? Jawab rasulullah, “Suaminya. “Siapa pula berhak terhadap lelaki?” Jawab Rasulullah, “Ibunya”.

13. Apabila memanggil akan engkau dua orang ibubapamu, maka jawablah panggilan ibumu dahulu.

14. Wanita yang taat akan suaminya, semua ikan-ikan di laut,burung di udara, malaikat di langit, matahari dan bulan semua beristighfar baginya selama mana dia taat kepada suaminya serta menjaga sembahyang dan puasanya.

15. Wanita yang taat berkhidmat kepada suaminya akan tertutup pintu-pintu neraka dan terbuka pintu-pintu syurga. Masuklah dari mana-mana pintu yang dia kehendaki dengan tidak dihisab.

16. Syurga itu di bawah telapak kaki ibu.

17. Wanita yang tinggal bersama anak-anaknya akan tinggal bersama aku (Nabi s.a.w) di dalam syurga.

18. Barangsiapa mempunyai tiga anak perempuan atau tiga saudara perempuan atau dua anak perempuan atau dua saudara perempuan lalu dia bersikap ihsan dalam pergaulan dengan mereka dan mendidik mereka dengan penuh rasa takwa serta bertanggungjawab, maka baginya syurga.

19. Daripada Aisyah r.a. Barangsiapa yang diuji dengan sesuatu daripada anak-anak perempuan lalu dia berbuat baik kepada mereka, maka mereka akan menjadi penghalang baginya daripada api neraka.

“Barangsiapa mempunyai harta yang banyak, akan lama hisabnya pada hari Akhirat.” Hadits Riwayat :Imam Ahmad bin Hambal

Minggu, 17 Januari 2016

Tahajjud Mahar Bagi Bidadari

Tahajjud Mahar Bagi Bidadari

Azhar bin Mughits adalah seorang yang ahli ibadah. Dalam ceritanya ia bermimpi bertemu dengan seorang perempuan yang tak sama dengan perempuan-perempuan yang pernah ia temui. Azhar bertanya pada perempuan itu, “Siapa kamu?”
“Bidadari.” Jawabnya.

Azhar pun menawarkan diri untuk menikah dengan perempuan itu. Kemudian bidadari itu menjawab, “Pinanglah aku pada Tuhanmu, serta berilah aku mas kawin.”

“Apa maskawin untukmu?” Tanya Azhar penasaran.

Si bidadari itupun menjawab, “Istiqamah salat tahajjud.”

Diambil dari kitab: Ihyâ’ Ulûmiddîn (al-Ghazali)

Riyaa' yang Kreatif

Riyaa' yang Kreatif

Syaitan tidak berhenti berusaha menjadikan amalan anak Adam tidak bernilai di sisi Allah. Diantara cara jitu syaitan adalah menjerumuskan anak Adam dalam berbagai model riyaa’. Sehingga sebagian orang “KREATIF” dalam melakukan riyaa’, yaitu riyaa’ yang sangat halus dan terselubung. Diantara contoh kreatif riyaa’ tersebut adalah :

Pertama : Seseorang menceritakan keburukan orang lain, seperti pelitnya orang lain, atau malas sholat malamnya, tidak rajin menuntut ilmu, dengan maksud agar para pendengar paham bahwasanya ia tidaklah demikian. Ia adalah seorang yang dermawan, rajin sholat malam, dan rajin menuntut ilmu. Secara tersirat ia ingin para pendengar mengetahui akan amal ibadahnya.
Model yang pertama ini adalah model riya’ terselubung yang terburuk, dimana ia telah terjerumus dalam dua dosa, yaitu mengghibahi saudaranya dan riyaa’, dan keduanya merupakan dosa besar. Selain itu ia telah menjadikan saudaranya yang ia ghibahi menjadi korban demi memamerkan amalan sholehnya

Kedua : Seseorang menceritakan nikmat dan karunia yang banyak yang telah Allah berikan kepadanya, akan tetapi dengan maksud agar para pendengar paham bahwa ia adalah seorang yang sholeh, karenanya ia berhak untuk dimuliakan oleh Allah dengan memberikan banyak karunia kepadanya.

Ketiga : Memuji gurunya dengan pujian setinggi langit agar ia juga terkena imbas pujian tersebut, karena ia adalah murid sang guru yang ia puji setinggi langit tersebut. Pada hakikatnya ia sedang berusaha untuk memuji dirinya sendiri, bahkan terkadang ia memuji secara langsung tanpa ia sadari. Seperti ia mengatakan, “Syaikh Fulan / Ustadz Fulan…luar biasa ilmunya…, sangat tinggi ilmunya mengalahkan syaikh-syaikh/ustadz-ustadz yang lain. Alhamdulillah saya telah menimba ilmunya tersebut selama sekian tahun…”

Keempat : Merendahkan diri tapi dalam rangka untuk riyaa’, agar dipuji bahwasanya ia adalah seorang yang low profile. Inilah yang disebut dengan “Merendahkan diri demi meninggikan mutu”

Kelima : Menyatakan kegembiraan akan keberhasilan dakwah, seperti banyaknya orang yang menghadiri pengajian, atau banyaknya orang yang mendapatkan hidayah dan sadar, akan tetapi dengan niat untuk menunjukkan bahwasanya keberhasilan tersebut karena kepintaran dia dalam berdakwah

Keenam : Ia menyebutkan bahwasanya orang-orang yang menyelisihinya mendapatkan musibah. Ia ingin menjelaskan bahwasanya ia adalah seorang wali Allah yang barang siapa yang mengganggunya akan disiksa atau diadzab oleh Allah.
Ini adalah bentuk tazkiyah (merekomendasi) diri sendiri yang terselubung.

Ketujuh : Ia menunjukkan dan memamerkan kedekatannya terhadap para dai/ustadz, seakan-akan bahwa dengan dekatnya dia dengan para ustadz menunjukkan ia adalah orang yang sholeh dan disenangi para ustadz.

Padahal kemuliaan di sisi Allah bukan diukur dari dekatnya seseorang terhadap ustadz atau syaikh, akan tetapi dari ketakwaan. Ternyata kedekatan terhadap ustadz juga bisa menjadi ajang pamer dan persaingan.

Kedelapan : Seseorang yang berpoligami lalu ia memamerkan poligaminya tersebut. Jika ia berkenalan dengan orang lain, serta merta ia sebutkan bahwasanya istrinya ada 2 atau 3 atau 4. Ia berdalih ingin menyiarkan sunnah, akan tetapi ternyata dalam hatinya ingin pamer. Poligami merupakan ibadah, maka memamerkan ibadah juga termasuk dalam riyaa’.

Para pembaca yang budiman, ini sebagian bentuk riyaa’ terselubung, semoga Allah melindungi kita dari terjerumus dalam bentuk-bentuk riyaa’ terselubung tersebut. Tidak perlu kita menuduh orang terjerumus dalam riyaa’ akan tetapi tujuan kita adalah untuk mengoreksi diri sendiri.
Hanya kepada Allahlah tempat meminta hidayah dan taufiiq.

Abu Abdilmuhsin Firanda Andirja

Jangan Takut Miskin Setelah Menikah Karena Allah Sudah Menjanjikan RizkiNya

Jangan Takut Miskin Setelah Menikah Karena Allah Sudah Menjanjikan RizkiNya

“Dan kawinkanlah orang orang yang sendirian di antara kamu, dan orang orang yang layak (berkawin) dari hamba hamba sahayamu yang lelaki dan hamba hamba sahayamu yang perempuan.

Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan karuniaNya. Dan Allah Maha Luas pemberianNya lagi Maha Mengetahui” Begitulah janji Allah dalam QS An Nuur :32) , Masih takut menikah !

Imam Al Qurtubi, mengatakan , ayat tersebut mengandung makna, bahwa jangan biarkan kemiskinan seorang laki laki dan seorang wanita menjadi sebuah alasan untuk tidak menikah semata semata meperoleh ridha Allah dan mencari tempat perlindungan dari ketidak patuhan padaNya, Allah akan memampukannya dan Allah akan mengkayakannya. Ayat itu merupakan bukti bahwa menikah itu tidak pandang bulu. Anda diperbolehkan menikahi orang miskin.

Karena itulah, tidak seharusnya anda berkata, “ Bagaimana aku akan menikah jika aku tidak punya uang?” atau berkata, “ Susah sekali jika aku menikahi orang miskin, jangan jangan aku akan menjadi semakin miskin?’ jangan pernah berkata dan berfikiran seperti itu. Mengapa? Sebab rizki telah dijanjikan oleh Allah, dan makanan pun telah dijamin oleh Allah.

Merujuk pada pemaparan pemaparan tersebut, tidak sepatutnyalah kita takut menikah hanya karena kita miskin, justru saat miskin itulah kita harus berani menikah. Bismillah !!!

Menikah karena Allah , niscaya Allah menjamin kehidupan kita. Lihatlah betapa Rasulullah menunjukan kepada kita bahwa kemiskinan bukanlah penghalang buat menikah.

Buktinya ? beliau berani menikahkan seorang perempuan yang datang kepada beliau dengan seorang lelaki miskin yang tidak mempunyai apa apa selain pakaian yang melekat di tubuhnya.

Hal ini penting saya tekankan, lantaran kebanyakan faktor orang takut menikah karena mereka miskin, sehingga dengan menikah, mereka mengira akan semakin miskin dan susah hidupnya. Padahal, Allah berkata lain, justru dengan menikah  Dia akan mengayakan dan memampukan kita.

Coba pahami dan resapi perkataan sahabat Nabi di bawah ini, kalau kalian masih takut miskin karena menikah, maka pertanyakan keimananmu !!!

“ Patuhilah Allah dalam apa apa yang Dia telah perintahkan padamu untuk menikah. Dia akan memenuhi janjiNya untuk membuatmu kaya.” (Abu Bakar Ash Shiddiq)

“ Carilah kekayaan lewat pernikahan ! aku tidak pernah melihat sesuatu yang lebih aneh daripada seorang laki laki yang tidak mencari kekayaan lewat pernikahan. Padahal Allah telah menjanjikan “…Jika mereka miskin, maka Allah akan mengumpulkan mereka dengan karuniaNya “(Umar bin Khattab)

“Temukanlah kekayaan dengan menikah.” (Abdullah bin Mas’ud)

Untuk Kita yg Menunggu Jodoh

Untuk Kita yang Sedang Menunggu Jodoh

SAUDARAKU

Janji Allah adalah benar, rencana-Nya adalah yang terbaik. Allah berkuasa penuh untuk menjaga manusia dalam kebaikan. Allah juga yang memilihkan jodoh bagi setiap insan. Dan, pilihan Allah pasti yang terbaik. Begitu sejak dulu, dan akan begitu seterusnya.
Jika kita sudah merindukan pertemuan dengan jodoh kita, namun kita masih merasa galau, bimbang dan merasa diri penuh kekurangan, penampilan tidak menarik, harta tidak banyak dan kedudukan rendah, segeralah memperbaiki prasangka kepada Allah. Sesungguhnya Allah sesuai dengan prasangka kita. Ingat, Dia adalah yang paling menginginkan kebaikan dan kebahagiaan bagi kita.

Saudaraku,

Doa kita kepada Allah adalah senjata terbaik untuk menjemput jodoh kita. kita mungkin pernah berada dalam suatu keadaan ketika kita merasa kecil, tak berdaya, sudah mengusahakan banyak hal tapi hanya jalan buntu yang kita dapatkan. Dalam kondisi seperti ini, kita harus ingat pula bahwa sesungguhnya Allah Mahabesar.

Allah yang menciptakan langit dan bumi yang hingga saat kita tidak pernah tahu batasnya. Allah yang menciptakan bintang-bintang dan planet-planet di semesta raya yang hingga kini tidak kita ketahui jumlahnya. Allah pula yang membuat air mengambang di angkasa dalam bentuk awan, lalu dari awan itu Dia turunkan hujan, dan dari hujan itu Dia ciptakan kehidupan. Dan hebatnya Allah, semua itu Allah lakukan dalam waktu yang sama.

Saudaraku,

Lalu, apa kita mengira bahwa mempertemukan kita dengan pasangan hidup kita lebih sulit bagi Allah dibandingkan itu semua?

Perbanyaklah berdoa, meski tampak masih belum dibukakan jalan juga. Salah satu nikmat terbesar dan sering diterima dari Allah adalah pengabulan doa-doa kita. kita mungkin selama ini tidak sadar. Tapi coba perhatikan, berapa kali kita berada dalam kesulitan kemudian kita berdoa pada Allah dan Allah mengabulkan?

Perbanyaklah berdoa. Takinlah Allah akan mengabulkannya, tak terkecuali dalam urusan jodoh kita.

“Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau, ya Tuhanku.” (QS. Maryam: 4).

Referensi: Dream anda Pray/Karya: @Doaindah/Penerbit:QultumMedia

Ini Kenapa Islam Merangan Memuji Seseorang di Hadapannya

Ini Kenapa Islam Merangan Memuji Seseorang di Hadapannya

semua tentang agama islam
"Jika kalian melihat orang-orang yang suka memuji, maka tumpahkanlah debu ke mukanya"

Dari Abu Musa al-Asy’ari radhiyallāhu ‘anhu, dia berkata, “Nabi Shallallaahu ’alaihi wa Sallampernah mendengar seorang lelaki sedang menyanjung lelaki lainnya dan melampaui batas dalam memujinya, lalu beliau bersabda,
أَهْلَكْتُمْ  أَوْ قَطَعْتُمْ ظَهْرَ الرَّجُلِ
“Kalian telah menghancurkan atau mematahkan punggung orang tersebut.”[1]

Dari Abu Bakrah radhiyallāhu ‘anhu, bahwasanya seseorang pernah disebut di depan NabiShallallaahu ‘alaihi wa Sallam, lalu seseorang memuji baik kepadanya, maka Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,
وَيَحْكَ قَطَعْتَ عُنُقَ صَاحِبِكَ
“Celaka kamu! Kamu telah memotong leher temanmu.”
Beliau mengucapkannya berulang-ulang kali,
إِنْ كَانَ أَحَدُكُمْ مَادِحًا لَا مُحَالَةَ فَلْيَقُلْ أَحْسِبُ كَذَا وَ كَذَا إِنْ كَانَ يَرَى أَنَّهُ كَذلِكَ وَ اللهُ حَسِيْبُهُ وَلَا يُزَكِّيْ عَلَى اللهِ أَحَدًا
“Jika seorang dari kalian mau tidak mau harus memuji, maka sebaiknya dia berkata, ‘Saya kira begini dan begini.’ Jika terlihat bahwasanya dia demikian, cukuplah Allah yang menghisabnya, dan tidaklah dia mengakui seseorang suci di hadapan Allah’”[2]

Dari Hamman bin Harits, bahwasanya seorang lelaki pernah memuji Utsman radhiyallāhu ‘anhu, lalu Miqdad menghampiri dan duduk berlutut di atasnya, padahal dia lelaki yang berbadan besar, lalu dia menumpahkan kerikil ke mukanya. Maka Utsman pun berkata kepadanya, “Ada apa denganmu?” Dia menjawab, “Sesungguh-nya Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam telah bersabda,
إِذَا رَأَيْتُمْ المَدَّاحِيْنَ فَاحْثَوْا فِيْ وُجُوْهِهِمُ التُّرَابَ
“Jika kalian melihat orang-orang yang suka memuji, maka tumpahkanlah debu ke mukanya” [3]

Dari Mu’awiyah radhiyallāhu ‘anhu, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam  bersabda,
إِيَّاكُمْ وَالتَّمَادِحَ فَإِنَّهُ الذَّبْحُ
“Jauhilah olehmu saling memuji, karena itu berarti penyembelihan”[4]

Catatan Kaki:
[1] HR. Al-Bukhari (8/22), dan Muslim (3001) dalam pembahasan zuhud dan belas kasihan.

[2] HR. Al-Bukhari (8/22), dan Muslim (3001) dalam pembahasan zuhud dan belas kasihan, dan juga diriwayatkan oleh yang lainnya.

[3] Diambil dari Shahih Muslim (3002) dalam pembahasan zuhud dan belas kasih.

[4] HR. Ibnu Majah dan yang lainnya, sebagaimana terdapat dalam ash-Shahihah hadits no. 1284

Diketik ulang dari buku “Manajemen Lisan Saat Diam Saat Bicara” , Judul Asli: Hasha’id al-Alsun karya Husain al-Awayisyah

Artikel:Muslimah.or.id