Jumat, 05 Juni 2015

Kisah Nyata Pemuda yang Berzina






Allah s.w.t berfirman:
Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” (Qs. Al-Israa’[17]: 32)
Allah bahkan melarang kita untuk mendekati zina karena kerusakan yang dihasilkannya Bahkan mendekati zina saja tidak boleh, karena hal itu lama-lama akan menjerat kita untuk berbuat zina.

Ada sebuah kisah nyata yang diberitakan dalam koran-koran Arab. Yang menceritakan kisah ini adalah orang yang berzina itu sendiri. Dia meminta kepada koran agar tidak mencantumkan namanya dan hanya ingin agar orang-orang mengetahui kisahnya. Dia pun berkisah sebagai berikut:
Aku sedang menjalani kuliah di suatu kampus dan punya banyak kenalan dengan para gadis. Pada suatu ketika aku bertemu seorang gadis. Dari situ kami semakin dekat sampai akhirnya aku melakukan hubungan terlarang dengannya. Kami berulang kali melakukannya sampai dia menjadi hamil karenaku. Dan ketika ketika gadis itu menceritakan tentang kehamilannya pada keluarganya, abangnya datang untuk menghajarku. Aku pun berusaha menghindar dan berkata, “Aku tidak mengenal gadis ini. Carilah orang lain yang menghamilinya.” Kemudian aku meninggalkannya dan pergi. Dan karena mereka tidak punya bukti untuk membuktikan kesalahanku, mereka membiarkanku.
Aku melupakan kejadian ini. Tahun demi tahun pun berlalu. Aku pulang ke rumah pada suatu hari dan menemukan ibuku pingsan di lantai. Aku mencoba menyadarkannya, dan ketika dia sadar, dia berteriak dan pingsan lagi. Aku menyadarkannya kedua kalinya, tapi lagi-lagi dia berteriak dan pingsan. Aku mencobanya sampai tiga kali dan berkata: “Ibu, apa yang terjadi?” Sambil berteriak dia berkata: “Saudarimu!”
Aku berkata: “Apa yang terjadi dengan saudariku?” “Dia dihamili tetangga” ibuku berteriak.
Jadi aku mengunjungi tetangga itu dan menghajarnya sampai dia berkata padaku. Kata-katanya seperti anak panah yang menghujam hatiku. Tahukah yang dia katakan? Dia berkata: “Aku tidak mengenal adikmu. Coba tanyakan orang lain yang menghamilinya.” Masya Allah. Kata-katanya sama seperti yang kuucapkan kepada keluarga gadis yang kuhamili bertahun-tahun lalu.
Aku mengalami mengalami depresi yang berat setelahnya. Kemudian bertahun-tahun setelahnya, aku memutuskan untuk menikah. Setelah bertunangan dan melakukan akad nikah, kami siap untuk mengadakan pesta pernikahan. Pada hari pesta pernikahan aku mengetahui fakta yang membuatku syok. Pasanganku pernah melakukan zina sebelumnya. Dia berkata padaku: “Tutupi keburukanku, semoga Allah juga menutupi keburukanmu.” Aku berkata dalam hati: “Sudah cukup Tuhanku. Aku sudah menjalani cukup hukuman!”
Jadi aku menghela napas mencoba menelan cobaan ini. Dan aku mengabiskan banyak waktu dengan istriku sampai dia melahirkan seorang bayi perempuan yang menjadi pelita hatiku. Kemudian ketika dia berusia 6 tahun, anakku datang dari luar dengan menangis. Ternyata penjaga rumah telah memperkosanya.
Saudara/saudariku terkasih, jangan katakan hukumannya terlalu berat bagi seorang pezina. Gadis dari kampus yang berzina dengannya di awal cerita juga punya seorang saudara yang bersedih karenanya. Jadi Allah memberikannya hukuman kepada saudari si pemuda. Dan gadis di kampus itu mempunyai seorang suami kelak, maka Allah memberi ujian melalui istrinya si pemuda! Dan gadis itu juga mempunyai ayah yang hatinya hancur karenanya, jadi Allah memberikan tes juga kepada putri si pemuda! Apa yang akan kita tuai tergantung dari perbuatan kita. Jadi dia harus menanggung hukuman atas perbuatannya.
Dan untuk orang-orang yang tidak bersalah dalam kisah ini, maka itu cobaan untuk mereka. Allah mengangkat derajat mereka dan menghapus dosa-dosa mereka karenanya.
Saudara/saudariku, Maha Suci Allah! Allah akan membalaskan para wanita yang dinodai oleh lelaki. Jadi berhati-hatilah! Namun apabila di antara pembaca ada yang pernah berzina, janganlah berputus asa. Bertaubatlah kepada Allah s.w.t. Sebab Allah berfirman dalam hadist qudsi:
Wahai keturunan Adam, meskipun anda datang kepada-Ku dengan dosa sebesar bumi kemudian anda menghadap-Ku, tidak menyekutukan-Ku, Aku akan membawakan kepadamu ampunan sebesar dosa itu.” (H.R. Tirmidzi, Hadist sahih)

Kisah Pemuda Yang Terhina DiBumi Tapi Terkenal Di LangitAssalamualaikum

Diangkat dari sebuah kisah nyataterjadi di zaman Rasulullah SAW.Suatu hari hiduplah seorang pemudayang tinggal dengan seorang ibunyayang menderita penyakit lumpuhtotal. Setiap harinya pemuda iniharus mengurusi ibunya, memberimakan, memandikan, membersihkankotoran ibunya, dan semuakebutuhan sang ibu.Dikarenakan
ibunya sudah lumpuh total hingga
tak bisa bergerak, dan pemuda inilah
yang terus mengurusi ibu
kandungnya itu.
Untuk mencukupi kebutuhan mereka
sehari harinya, pemuda itu pun harus
bekerja sebagai buruh dan pembatu
atau budak pada masa itu.
Namun
tidak ada satu pun yang bersedia
menerima pemuda itu, lantaran
pemuda itu miskin, kusut, bau dan
ditambah lagi ia menderita penyakit
kusta dikedua tangannya.
Sampai
pada akhirnya ada yang mau
menerimanya bekerja itu pun hanya
sebagai buruh pengangkat susu sapi.
Sepintas tidak ada hal yang istimewa
didalam diri pemuda paruh baya ini.
Hari harinya hanya sibuk mengurusi
ibunya dan disela sela waktu saat
ibunya tertidur, ia pun bergegas
untuk pergi bekerja mencari
kebutuhan untuk keperluan
pengobatan ibunya. Hanya ada satu
hal yang menjadi kebiasaan si
pemuda ini, pemuda ini selalu ingin
sekali bertemu dengan Baginda Nabi
Besar Muhammad SAW.
Tapi
mimpinya itu pun tak pernah
kesampaian, lantaran ia tidak bisa
meninggalkan ibunya sendirian
dirumah walau sehari pun.
Rumah tempat mereka tinggal itu
sangatlah terasing, bahkan jauh dari
pemukiman atau perkampungan
warga. Itu dikarenakan mereka diusir
oleh penduduk setempat karena
penyakit kusta yang dideritanya itu
dianggap berbahaya dan menular.
Akhirnya pemuda itu pun harus
tinggal bersama ibunya ditempat
yang jauh dari kehidupan warga. Tak
seorang warga pun yang mau
memperthatikan mereka, karena
mereka takut, akan tertular penyakit
kusta.
Sampai suatu hari, begitu
kepinginnya ia bertemu Rasulullah,
ia pun menekatkan diri untuk
meninggalkan ibunya yang sedang
sakit dan pergi menjumpai
Rasulullah SAW yang rumahnya
berjarak cukup jauh untuk
perjalanan kaki.
Setelah lebih dari 80
km kurang lebih berjalan, hati dan
perasaan pemuda itu pun tidak enak,
ia terus menerus memikirkan
kondisi dan keadaan ibunya yang
sedang sakit dirumah. Semakin ia
ingin bertemu Rasul, maka perasaan
bersalah karena meninggalkan
ibunya pun terus semakin berat.
Air
matanya terus mengalir selama
diperjalanan yang jauh dan tanpa
makan dan minum.
Tujuannya hanya
satu, hanya ingin melihat wajah
Rasul, untuk sekali saja.
Namun apa daya, ketika pemuda itu
hampir sampai di negeri dimana
Rasul tinggal. Ia pun tiba tiba
mengubah haluan dan berbalik
menyusul ibunya.
Tak kuasa
menahan tangis, dan merasa
berdosa, ia pun lari sekuat tenaga
untuk pulang dan menyusul ibunya
dirumah. Setelah lebih dari 3 jam
berlari, ia pun sampai dirumah dan
mendapatkan ibunya telah wafat
atau meninggal dunia.
Ia pun
menangis sejadi jadinya, rasa
bersalah terus menyelimuti pikiran
dan perasaan pemuda itu.
Hingga
akhirnya ia pergi menemui warga
untuk mengabarkan kepergian
ibunya kepada warga.
Ia menemui warga untuk meminta
tolong membantu memakamkan dan
menguburkan jenazah ibunya, tapi
tak seorang warga pun yang mau
menolong pemuda itu. Hingga
dengan derai air mata, ia sendiri
yang mengurusi jenazah ibunya,
memandikan, mengafankan, dan
menguburkan ibunya. Didalam
beberapa ceramahNya, Rasul SAW
pernah berpesan kepada para
sahabatNya bahwa, mintalah ilmu
dan nasihat kehidupan dari salah
seorang pemuda di negeri sebrang
yang bernama "Uwais Al - Qarni",
kalian akan menemuinya kelak.
Lihatlah tanda dikedua tangannya
ada bekas penyakit kusta.
Sontak para sahabatpun terkejut dan
heran, karena mereka tahu bahwa
Rasul SAW belum pernah bertemu
dengan pemuda itu sebelumnya.
Dan sebaliknya pemuda itu pun
belum pernah bertemu dengan
Rasul sebelumnya. Timbullah rasa
penasaran dari para sahabat, amalan
apakah yang dimiliki pemuda
tersebut, hingga Rasul SAW berpesan
agar para sahabat meminta ilmu dan
nasihat kehidupan dari pemuda itu.
Tak lama setelah Rasul berpesan,
para sahabatpun lalu bergegas pergi
kenegeri sebrang dan mencari ciri
ciri pemuda yang dimaksudkan oleh
Baginda Rasul SAW tersebut. Setelah
beberapa hari mencari, akhirnya para
sahabat pun berhasil menemui
Uwais Al- Qarni pemuda yang
dibicarakan oleh Rasul SAW itu.
Saat
bertemu sahabat mengataan, apakah
benar engkau adalah uwais al -
qarni ?
pemuda itu menjawab, ia
benar ! sahabat bertanya lagi, apakah
benar dikedua tangamu ada
penyakit kusta ?
ia menjawab, ia
benar ! Para sahabat mengatakan,
jika benar engkau adalah orangnya,
kami diutus oleh Baginda Nabi Besar
Muhammad SAW untuk pergi
menemui mu dan meminta ilmu
serta nasihat kehidupan.
Mohon
berikan kami nasihat dan ilmu itu
wahai pemuda. Pinta para sahabat,
kepadanya.
Sontak, pemuda itu pun terkejut dan
heran sembari menahan air matanya.
Ia mengatakan, bagaimana bisa aku
memberikan ilmu dan nasihat
kepada kalian, sementara kalian
adalah sahabat Rasul, setiap hari
bertemu denganNya.
Sementara aku
ini hanyalah orang miskin, tak punya
apa apa dan aku hanya punya ibu
yang kini telah pergi
meninggalkanku. Memang aku ingin
sekali bertemu langsung dengan
Baginda Rasul,
tapi mimpiku untuk
menemuiNya tak pernah bisa
terwujud, karena aku harus
mengurusi ibuku setiap harinya.
Walaupun aku tahu bahwa aku
mungkin tak bisa bertemu dengan
Baginda Rasul, tapi aku selalu setia
mencoba untuk mengikuti apapun
perintah dan ajaranNya tentang
islam yang hanya kudengar secara
tidak langsung dari orang orang.
Karena tak seorang pun mau
mengajari pemuda miskin dan
berpenyakit seperti aku ini. Itulah
yang diungkapkan pemuda itu
kepada para sahabat.
Tak lama berselang setelah para
sahabat menemui pemuda itu,
pemuda itu pun meninggal dunia,
karena penyakit yang dideritanya.
Saat pemuda itu meninggal, ada
kejadian yang sungguh ajaib terjadi.
Dimana para warga dan penduduk
negeri itu pun terheran heran,
karena mereka melihat banyak
sekali orang orang yang entah dari
mana datangnya berkumpul
memadati rumah uwais al- qarni
tersebut.
Setelah warga penasaran
warga pun berduyun duyun pergi
kerumah uwais tersebut, mereka
melihat banyak sekali orang bahkan
hingga ribuan orang berkumpul.
Anehnya, bahkan tidak satu orang
pun dari ribuan orang orang itu yang
mereka kenal.
Warga kampung heran, karena
ribuan orang orang yang entah dari
mana datangnya ini tadi, mengurusi
jenazah uwais, dan menguburkannya
lalu mendo'akan jenazah uwais al -
qarni. " Mungkin para malaikat ALLAH
telah turun kebumi menjelma
menjadi manusia dan mengurusi
jenazah uwais al - qarni.
Wallahu' alam".
Inilah sedikit cerita hebat dari kisah
nyata hidup Uwais Al - Qarni
pemuda yang hidup dizaman Rasul,
ingin sekali bertemu dengan Rasul,
namun keterbatasannya
membuatnya seumur hidup tidak
pernah bertemu dengan Rasul
hingga ia wafat.
Tapi walaupun
dirinya tidak sempat bertemu
dengan Rasul, ia selalu setia untuk
meneladani Rasul, mengikuti
seluruh ajaran yang diajarkan Rasul.
Walaupun itu hanya ia dapatkan
secara tidak langsung dari apa yang
ia dengar, apa yang ia lihat, selama ia
hidup.
Semoga kepada kita para pembaca
sekalian, bisa menjadikan kisah ini
tauladan untuk bisa mencitai dan
meneladani Rasul seumur hidup kita.
Mudah mudahan kita juga bisa
belajar dari apa yang telah
dibuktikan oleh uwais, walau hari ini
kita tidak bisa bertemu langsung
dengan Nabi Muhammad SAW,
namun kita senantiasa untuk setia,
patuh dan menjalankan semua
sunnah dan perintahnya untuk
beribadah dijalan dan agama yang di
Ridhoi oleh ALLAH SWT.
9 : 1

CARA MAKAN RASULULLAH SAW

Makan sebelum lapar dan berhenti sebelum kenyang
Aturannya, kapasitas perut dibagi ke dalam tiga bagian, yaitu sepertiga untuk makanan (zat padat), sepertiga untuk minuman (zat cair), dan sepertiga lagi untuk udara (gas). Disabdakan. ”Anak Adam tidak memenuhkan suatu tempat yang lebih jelek dari perutnya. Cukuplah bagi mereka beberapa suap yang dapat memfungsikan tubuhnya. Kalau tidak ditemukan jalan lain, maka (ia dapat mengisi perutnya) dengan sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiganya lagi untuk pernafasan” (HR Ibnu Majah dan Ibnu Hibban).

10 Ciri Khas Pribadi Muslim
1. Salimul Aqidah (Aqidah yang bersih). Salimul aqidah merupakan sesuatu yang harus ada pada setiap muslim. Dengan aqidah yang bersih, seorang muslim akan memiliki ikatan yang kuat kepada Allah SWT. Dengan ikatan yang kuat itu dia tidak akan menyimpang dari jalan dan ketentuan-ketentuanNya.
2. Shahihul Ibadah (ibadah yang benar). Shahihul ibadah merupakan salah satu perintah Rasulullah SAW yang penting. Dalam satu haditsnya, beliau bersabda: “Shalatlah kamu sebagaimana melihat aku shalat”. Dari ungkapan ini maka dapat disimpulkan bahwa dalam melaksanakan setiap peribadatan haruslah merujuk kepada sunnah Rasul SAW yang berarti tidak boleh ada unsur penambahan atau pengurangan.
3. Matinul Khuluq (akhlak yang kokoh). Matinul khuluq merupakan sikap dan perilaku yang harus dimiliki oleh setiap muslim, baik dalam hubungannya kepada Allah SWT maupun dengan makhluk-makhlukNya. Dengan akhlak yang mulia, manusia akan bahagia dalam hidupnya, baik di dunia apalagi di akhirat.
4. Qowiyyul Jismi (kekuatan jasmani). Qowiyyul jismi merupakan salah satu sisi pribadi muslim yang harus ada. Kekuatan jasmani berarti seorang muslim memiliki daya tahan tubuh sehingga dapat melaksanakan ajaran Islam secara optimal dengan fisiknya yang kuat. Shalat, puasa, zakat dan haji merupakan amalan di dalam Islam yang harus dilaksanakan dengan fisik yang sehat dan kuat. Apalagi berjihad di jalan Allah dan bentuk-bentuk perjuangan lainnya.
5. Mutsaqqoful Fikri (intelek dalam berfikir). Mutsaqqoful fikri merupakan salah satu sisi pribadi muslim yang juga penting. Karena itu salah satu sifat Rasul adalah fatonah (cerdas).
6. Mujahadatul Linafsihi (berjuang melawan hawa nafsu). Mujahadatul linafsihi merupakan salah satu kepribadian yang harus ada pada diri seorang muslim karena setiap manusia memiliki kecenderungan pada yang baik dan yang buruk. Melaksanakan kecenderungan pada yang baik dan menghindari yang buruk amat menuntut adanya kesungguhan.
7. Harishun Ala Waqtihi (pandai menjaga waktu). Harishun ala waqtihimerupakan faktor penting bagi manusia. Hal ini karena waktu mendapat perhatian yang begitu besar dari Allah dan Rasul-Nya. Allah SWT banyak bersumpah di dalam Al Qur’an dengan menyebut nama waktu seperti wal fajri, wad dhuha, wal asri, wallaili dan seterusnya.
8. Munazhzhamun fi Syuunihi (teratur dalam suatu urusan). Munazhzhaman fi syuunihi termasuk kepribadian seorang muslim yang ditekankan oleh Al Qur’an maupun sunnah. Oleh karena itu dalam hukum Islam, baik yang terkait dengan masalah ubudiyah maupun muamalah harus diselesaikan dan dilaksanakan dengan baik. Ketika suatu urusan ditangani secara bersama-sama, maka diharuskan bekerjasama dengan baik sehingga Allah menjadi cinta kepadanya.
9. Qodirun Alal Kasbi (memiliki kemampuan usaha sendiri/mandiri). Qodirun alal kasbi merupakan ciri lain yang harus ada pada diri seorang muslim. Ini merupakan sesuatu yang amat diperlukan. Mempertahankan kebenaran dan berjuang menegakkannya baru bisa dilaksanakan manakala seseorang memiliki kemandirian terutama dari segi ekonomi. Tak sedikit seseorang mengorbankan prinsip yang telah dianutnya karena tidak memiliki kemandirian dari segi ekonomi.
10. Nafi’un Lighoirihi (bermanfaat bagi orang lain). Nafi’un lighoirihimerupakan sebuah tuntutan kepada setiap muslim. Manfaat yang dimaksud tentu saja manfaat yang baik sehingga dimanapun dia berada, orang disekitarnya merasakan keberadaan. Jangan sampai keberadaan seorang muslim tidak menggenapkan dan ketiadaannya tidak mengganjilkan.

Menutup Aib


Jika kau temukan aib dalam diriku, maka satu pintaku untukmu.Jangan kau sebarkan aibku itu!!Biarlah ia untukku dan untukmu.Nasihatilah diriku.Bukankah Nabi telah mengkhabarkannya kepada diriku dan dirimu;
”Artinya : Barangsiapa yang membebaskan satu kesusahan seorang mukmin dari kesusahan-kesusahan dunia, maka Allah Azza wa Jalla akan melepaskannya dari satu kesusahan di antara kesusahan-kesusahan akhirat.
Barangsiapa memberikan kemudahan kepada orang yang kesulitan, maka Allah akan memudahkan dia di dunia dan akhirat.
Barangsiapa yang menutup aib seorang muslim, maka Allah Azza wa Jalla akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat.
Dan Allah Azza wa Jalla akan selalu menolong seorang hamba selama hamba itu menolong saudaranya”
[Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya].*
Jadi satu pintaku untukmu, wahai kawanku.Tutuplah aibku itu!Karena aku manusia sepertimu………..
Dariku Sang Pendosa (Marzoan Hafiz)

Pola Hidup Sehat Ala Rasulullah SAW


Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Bapak Muhamad Taufan, bagaimana kabarnya hari ini? Kami berdo’a semoga Bapak Muhamad Taufan dan keluarga senantiasa diberikan kesehatan dan kelancaran dalam beraktifitas. Aamiin.
Bapak Muhamad Taufan dan keluarga, padatnya aktifitas dan kegiatan kadang membuat kita terlena dan lupa untuk menjaga pola hidup kita. Padahal, apabila kita telusuri lebih dalam lagi, pola hidup menjadi salah satu kunci penting dalam kesehatan seorang muslim.
“Sesungguhnya telah ada dalam diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (al-Ahzab [33]: 21).
Mengacu pada surat di atas, untuk kesempatan kali ini kami bermaksud memberikan informasi mengenai pola Hidup Sehat Rasulullah SAW yang menekankan pada aspek pencegahan daripada pengobatan. Semoga bermanfaat.
Selektif terhadap Makanan (halal dan thayyib)
Halal berkaitan dengan urusan akhirat, yaitu halal cara mendapatkannya dan halal barangnya. Sedangkan thayyib berkaitan dengan urusan duniawi, seperti baik tidaknya atau bergizi tidaknya makanan yang dikonsumsi.
Makan sebelum lapar dan berhenti sebelum kenyang
Aturannya, kapasitas perut dibagi ke dalam tiga bagian, yaitu sepertiga untuk makanan (zat padat), sepertiga untuk minuman (zat cair), dan sepertiga lagi untuk udara (gas). Disabdakan. ”Anak Adam tidak memenuhkan suatu tempat yang lebih jelek dari perutnya. Cukuplah bagi mereka beberapa suap yang dapat memfungsikan tubuhnya. Kalau tidak ditemukan jalan lain, maka (ia dapat mengisi perutnya) dengan sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiganya lagi untuk pernafasan” (HR Ibnu Majah dan Ibnu Hibban).
Makan dengan tenang, tumaninah, tidak tergesa-gesa, dengan tempo sedang
Apa hikmahnya? Cara makan seperti ini akan menghindarkan tersedak, tergigit, kerja organ pencernaan pun jadi lebih ringan. Makanan pun bisa dikunyah dengan lebih baik, sehingga kerja organ pencernaan bisa berjalan sempurna. Makanan yang tidak dikunyah dengan baik akan sulit dicerna. Dalam jangka waktu lama bisa menimbulkan kanker di usus besar.
Cepat tidur dan cepat bangun
Beliau tidur di awal malam dan bangun pada pertengahan malam kedua. Biasanya, Rasulullah SAW bangun dan bersiwak, lalu berwudhu dan shalat sampai waktu yang diizinkan Allah. Beliau tidak pernah tidur melebihi kebutuhan, namun tidak pula menahan diri untuk tidur sekadar yang dibutuhkan. Penelitian Daniel F Kripke, ahli psikiatri dari Universitas California menarik untuk diungkapkan. Penelitian yang dilakukan di Jepang dan AS selama 6 tahun dengan responden berusia 30-120 tahun mengatakan bahwa orang yang biasa tidur 8 jam sehari memiliki resiko kematian yang lebih cepat. Sangat berlawanan dengan mereka yang biasa tidur 6-7 jam sehari. Nah, Rasulullah SAW biasa tidur selepas Isya untuk kemudian bangun malam. Jadi beliau tidur tidak lebih dari 8 jam.
Cara tidurnya pun sarat makna. Ibnul Qayyim Al Jauziyyah dalam buku Metode Pengobatan Nabi mengungkapkan bahwa Rasul tidur dengan memiringkan tubuh ke arah kanan, sambil berzikir kepada Allah hingga matanya terasa berat. Terkadang beliau memiringkan badannya ke sebelah kiri sebentar, untuk kemudian kembali ke sebelah kanan. Tidur seperti ini merupakan tidur paling efisien. Pada saat itu makanan bisa berada dalam posisi yang pas dengan lambung sehingga dapat mengendap secara proporsional. Lalu beralih ke sebelah kiri sebentar agar agar proses pencernaan makanan lebih cepat karena lambung mengarah ke lever, baru kemudian berbalik lagi ke sebelah kanan hingga akhir tidur agar makanan lebih cepat tersuplai dari lambung. Hikmah lainnya, tidur dengan miring ke kanan menyebabkan beliau lebih mudah bangun untuk shalat malam.
Istiqomah melakukan saum sunnat, di luar saum Ramadhan
Karena itu, kita mengenal beberpa saum sunnat yang beliau anjurkan, seperti Senin Kamis, ayyamul bith, saum Daud, saum enam hari di bulan Syawal, dsb. Saum adalah perisai terhadap berbagai macam penyakit jasmani maupun ruhani. Pengaruhnya dalam menjaga kesehatan, melebur berbagai berbagai ampas makanan, manahan diri dari makanan berbahaya sangat luar biasa. Saum menjadi obat penenang bagi stamina dan organ tubuh sehingga energinya tetap terjaga. Saum sangat ampuh untuk detoksifikasi (pembersihan racun) yang sifatnya total dan menyeluruh.
Berolah raga dengan teratur
Rasulullah sangat senang berolah raga sambil bermain. Olah raga yang Beliau lakukan seringkali sambil bermain dengan anak atau dengan istri Belliau. Selain menjaga daya tahan tubuh, hal ini juga baik untuk menjaga keharmonisan dengan keluarga.
Mudah-mudahan bermanfaat.Mohon maaf apabila ada kesalahan dan hal yang kurang berkenan.
Jazakallah khairan katsira
Wassalamualaikum Wr Wb
Sumber:  Email dari Rumah Zakat Indonesia

Pengendalian Syahwat


Sekitar dua abad yang lalu Karl Marx (1818-1883) menyatakan bahwasanya yang menentukan perang dan damai di antara manusia di dunia ini adalah perebutan mencari makan alias persoalan mengisi perut.
Segala permasalahan di dunia ini, berpusat kepada perut. Semua orang ingin kenyang, dan tak mau lapar, lalu merebut makanan. Maka terjadilah pertentangan, pertikaian yang tidak dapat dielakkan.
Dan satu setengah abad yang lalu datang pula seorang lagi yang bernama Sigmund Freud (1844-1900), menyatakan bahwa bukan urusan perut yang menjadi sebab timbulnya pertentangan dan perebutan di dalam dunia, melainkan faraj (alat kemaluan) lah yang menjadi penyebab, yaitu pemenuhan hasrat seksual yang tak terkendali.
Keduanya Karl Marx dan Sigmund Freud adalah para peneliti dalam masalah-masalah sosial. Mereka mengerahkan perhatian mereka untuk mencari sebab kericuhan ekonomi dan sosial di benua Eropa, dan mereka telah menyampaikan kesimpulan seperti di atas.
Tetapi nun jauh sebelum Manc dan Freud mengeluarkan fahamnya -750 tahun silam- Ulama Islam legendaris yaitu imam Ghazali telah menyatakan bahwa terdapat dua faktor yang sangat menentukan keberlangsungan hidup manusia yaitu syahwat perut dan syahwat faraj kemaluan.
Pandangan imam Ghazali di atas justru berlawanan dengan kedua ilmuwan Barat tadi, kalau menurut mereka, syahwat perut dan faraj adalah penyebab tirabulnya kericuhan di dunia ini, karena landasan mereka yang sangat materialistis. Sebaliknya, imam Ghazali memandang kedua syahwat tersebut adalah potensi yang dimiliki manusia untuk mempertahankan keberlangsungan hidup mereka, karena syahwat-syahwat tersebut merupakan anugerah Allah SWT kepada manusia, bahkan semua makhluk. Apa jadinya jika manusia tidak mempunyai syahwat perut, sementara syahwat perutlah yang mendorong manusia agar tetap hidup dan tumbuh. Dan bagaimana pula jika manusiatidak mempunyai syahwat faraj, tidak ada hasrat untuk menikah dan kawin, sementara syahwat farajlahyang mendorong manusia untuk memiliki keturunan sehingga terjadi regenerasi?
Namun harus diingat, potensi yang ada jika tidak di kelola dengan baik maka keburukanlah yang di dapat. Di sini peran akal harus bermain. Akal yang membedakan manusia dengan makhluk yang lain harus mampu menimbang, mengukur dan menakar baik dan buruk. Kalau peran akal sudah tidak bermain maka benarlah apa yang disimpulkan oleh si Marx dan Freud. Manusia tak lebih sama dengan binatang, bahkan lebih parah dari binatang. Saling memakan dan bebas menggauli betina mana saja.
Tapi apakah dengan adanya akal sudah cukup? Apa yang menjadi tolok Ukur bagi akal dalam menimbang baik dan buruk? Maka dari itu diutuslah Nabi dan Rasul untuk menyampaikan pengajaran dari Allah SWT. Karena Allah yang menciptakan manusia maka Dia pulalah yang paling tahu apa yang terbaik untuk manusia. Disampaikanlah kepada manusia lewat perantara Rasul bagaimana cara memenuhi syahwat perut yang benar, mana yang halal dan mana yang haram. Demikian pula diajarkan bagaimana cara memenuhi syahwat faraj, mana yang boleh dinikahi, mana yang tidak, dan seterusnya.
Akal yang diisi muatan agama inilah, yang sejatinya mampu untuk mengelola potensi-potensi tersebut menjadi kekuatan. Akal yang sehat yang berisi ajaran agama tidak akan tega menyikut, menindas, melukai atau bahkan membunuh saudaranya hanya karena inginmemenuhi syahwat perut. Melainkan dia akan berpikir bagaimana agar orang lain bisa memenuhi syahwat perutnya dengan baik dan halal. Tidak sekali pun terpikir olehnya untuk menggauli istri orang lain, anak orang lain atau bahkan saudara kandung dan anaknya sendiri hanya karena ingin memenuhi syahwat farajnya. Melainkan dia akan berpikir bagaimana kejahatan yang diakibatkan syahwat faraj yang diumbar bisa dihapuskan.
Di sini kiranya salah satu fungsi dan hikmah ibadah puasa yang disyari’atkan oleh Allah S WT atas manusia. Puasa yaitu menahan diri, mengajari manusia untuk mengendalikan syahwat perut dan syahwat faraj sebagai potensi yang ada dalam dirinya. Meski makanan terhidang dihadapannya, makanan itu halal dan sehat, tetapi selama azan maghrib belum berkumandang ia tidak boleh menyantapnya. lstrinya yang dinikahinya secara sah, sesuai dengan tuntunan agama, tidak boleh ia gauli ketika ia sedang berpuasa. Dia harus mampu mengendalikan kedua potensinya itu. Selama satu bulan penuh manusia berlatih mengendalikan syahwat-syahwatnya itu tak lain agar ia menjadi makhluk Allah yang mulia. Seperti cerita Superman (manusia super) yang mampu mengendalikan potensi yang ada dalam dirinya, sehingga ia menjadi kekuatan yang dapat membantu orang yang lemah.
Sumber : Buletin Mimbar Jum’at No. 37 Th. XXII – 12 September 2008