Selasa, 26 Mei 2015

9 MAMFAAT TIDUR MIRING KEKANAN

9 MANFAAT TIDUR MIRING KE KANAN


Al-bara’ bin ‘azib menuturkan : Rasulullah bersabda:”Apabila kamu akan tidur,maka berwudhu lah sebagaimana wudhu untuk sholat, kemudian berbaringlah dengan miring ke sebelah kanan…” Dan tidak mengapa berbalik kesebelah kiri nantinya.
9 MANFAAT TIDUR MIRING KE KANAN
1. Mengistirahatkan otak sebelah kiri
Secara anatomis, otak manusia terbagi menjadi dua bagian kanan dan kiri. Bagian kanan adalah otak yang mempersarafi organ tubuh sebelah kiri dan sebaliknya. Umumnya kita menggunakan organ tubuh bagian kanan sebagai anggota tubuh dominan dalam beraktifitas seperti makan, memegang dan lainnya. Dengan tidur pada posisi sebelah kanan, maka otak bagian kiri mempersarafi segala aktiftas organ tubuh bagian kanan akan terhindar dari bahaya yang timbul akibat sirkulasi melambat saat tidur/diam. Bahaya tersebut meliputi pengendapan bekuan darah, lemak , asam sisa oksidasi, dan peningkatan kecepatan atherosclerosis atau penyempitan pembuluh darah. Sehingga jika seseorang beresiko terkena stroke, maka yang beresiko adalah otak bagian kanan, dengan akibat kelumpuhan pada sebelah kiri (bagian tidak dominan).

2. Mengurangi beban jantung.
 
Posisi tidur kesebelah kanan rata memungkinkan cairan tubuh (darah) terdistribusi merata dan terkonsentrasi di sebelah kanan ( bawah ). Hal ini akan menyebabkan beban aliran darah yang masuk dan keluar jantung lebih rendah. Dampak posisi ini adalah denyut jantung menjadi lebih lambat, tekanan darah juga akan menurun. Kondisi ini akan membantu kualitas tidur.

Tidur miring ke kanan membuat jantung tidak tertimpa organ lainnya. Hal ini disebabkan karena posisi jantung ebih condong berada di sebelah kiri. Tidur bertumpu pada sisi kiri menyebabkan curah jantung berlebihan, karena darah yang masuk ke atrium juga banyak disebabkan karena paru-paru kanan berada di atas. Sedangkan paru-paru kanan mendapat pasokan darah lebih banyak dari paru-paru kiri.
 

3. Mengistirahatkan lambung.
 
Lambung manusia berbentuk seperti tabung berbentuk koma dengan ujung katup keluaran menuju usus menghadap kearah kanan bawah. Jika seorang tidur kesebelah kiri maka proses pengeluaran chime ( makanan yang telah dicerna oleh lambung dan bercampur asam lambung ) akan sedikit terganggu, hal ini akan memperlambat proses pengosongan lambung. Hambatan ini pada akhirnya akan meningkatkan akumulasi asam dan akan menyebabkan erosi dinding lambung. Posisi ini juga akan menyebabkan cairan usus yang bersifat basa bias masuk balik menuju lambung dengan akibat erosi dinding lambung dekat pylorus.

4. Meningkatkan pengosongan kandung empedu, pankreas
 .
Adanya aliran chime lancar akan menyebabkan keluaran cairan empedu juga meningkat, hal ini akan mencegah pembentukan batu kandung empedu. Keluaran getah pancreas juga akan meningkat dengan posisi miring ke kanan.

5. Meningkatkan waktu penyerapan zat gizi.
 
Saat tidur pergerakan usus menigkat. Dengan posisi sebelah kanan, maka perjalanan makann yang telah tercerna dan siap di serap akan menjadi lebih lama, hal ini disebabkan posisi usus halus hingga usus besar ada dibawah. Waktu yang lamam selamat tidur memungkinkan penyerapan bias optimal.

6. Merangsang buang air besar (BAB)
 
Dengan tidur miring ke sebelah kanan , proses pengisian usus besar sigmoid ( sebelum anus ) akan lebih cepat penuh, jika sudah penuh akan merangsang gerak usus besar diikuti relaksasi dari otot anus sehingga mudah buang air Besar.

7. Mengisitirahatkan kaki kiri
 
Pada orang dengan pergerakan kanan, secara ergonomis guna menyeimbangkan posisi saat beraktifitas cenderung menggunakan kaki kiri sebagai pusat pembebanan. Sehingga kaki kiri biasanya cenderung lebih merasa pegal dari kanan, apalagi kaki posisi paling bawah dimana aliran darah balik cenderung lebih lambat. Jika tidur miring ke kanan , maka pengosongan vena kaki kiri akan lebih cepat sehingga rasa pegal lebih cepat hilang.

8. Menjaga kesehatan paru-paru
 
Paru-paru kiri lebih kecil dibandingkan dengan paru-paru kanan. Jika tidur miring ke sebelah kanan, jantung akan condong ke sebelah kanan. Hal ini tidak menjadi masalah karena paru-paru kanan lebih besar. Lain halnya jika bertumpu pada sebelah kiri, jantung akan menekan paru-paru kiri yang berukuran kecil, tentu ini sangat tidak baik.

9. Menjaga saluran pernafasan
 
Tidur miring mencegah jatuhnya lidah ke pangkal yang dapat mengganggu saluran pernafasan. Tidur dengan posisi telentang, mengakibatkan saluran pernafasan terhalang oleh lidah. Juga mengakibatkan seseorang mendengkur. Orang mendengkur saat tidur menyebabkan tubuh kekurangan oksigen. Bahkan terkadang dapat mengakibatkan terhentinya nafas untuk beberapa detik dan akan membangunkannya dari tidur. Orang tersebut biasanya akan bangun dengan keadaan pusing karena kurang oksigen masuk ke otak. Tentunya ini sangat mengganggu kualitas tidur.


http://caramemilih.blogspot.com/2012/11/9-manfaat-tidur-menghadap-ke-kanan.html

HUKUM BERTAWASSUL

Pengertian Tawassul sebagaimana yang dipahami oleh umat islam selama ini adalah berdoa kepada Allah melalui suatu perantara, baik perantara tersebut berupa amal baik kita ataupun melalui orang sholeh yang kita anggap mempunyai posisi lebih dekat kepada Allah. Jadi tawassul merupakan pintu dan perantara doa untuk menuju Allah SWT.

Orang yang bertawassul dalam berdoa kepada Allah menjadikan perantaraan berupa sesuatu yang dicintainya dan dengan berkeyakinan bahwa Allah SWT juga mencintai perantaraan tersebut
Orang yang bertawassul tidak boleh berkeyakinan bahwa perantaranya kepada Allah bisa memberi manfaat dan madlorot kepadanya dan. Jika ia berkeyakinan bahwa sesuatu yang dijadikan perantaraan menuju Allah SWT itu bisa memberi manfaat dan madlorot, maka dia telah melakukan perbuatan syirik, karena yang bisa memberi manfaat dan madlorot sesungguhnya hanyalah Allah semata.

Banyak sekali cara bertawassul dalam berdo’a agar dikabulkan Allah, seperti berdoa di sepertiga malam terakhir, berdoa di Maqam Multazam, berdoa dengan mendahuluinya dengan bacaan alhamdulillah dan sholawat dan meminta doa kepada orang sholeh. Demikian juga tawassul adalah salah satu usaha agar do’a yang kita panjatkan diterima dan dikabulkan Allah s.w.t. Dengan demikian, tawasul adalah alternatif dalam berdoa dan bukan merupakan keharusan.

Para ulama sepakat memperbolehkan tawassul terhadap Allah SWT dengan perantaraan perbuatan amal sholeh, sebagaimana orang yang sholat, puasa, membaca al-Qur’an, kemudian mereka bertawassul terhadap amalannya tadi.
,                                                                                                                                                
Seperti hadis yang sangat populer diriwayatkan dalam kitab-kitab sahih yang menceritakan tentang tiga orang yang terperangkap di dalam goa, yang pertama bertawassul kepada Allah SWT atas amal baiknya terhadap kedua orang tuanya, yang kedua bertawassul kepada Allah SWT atas perbuatannya yang selalu menjahui perbuatan tercela walaupun ada kesempatan untuk melakukannya dan yang ketiga bertawassul kepada Allah SWT atas perbuatannya yang mampu menjaga amanat terhadap harta orang lain dan mengembalikannya dengan utuh, maka Allah SWT memberikan jalan keluar bagi mereka bertiga.. (Ibnu Taimiyah mengupas masalah ini secara mendetail dalam kitabnya Qoidah Jalilah Fii Attawasul Wal wasilah hal: 160)

Adapun yang menjadi perbedaan dikalangan ulama’ adalah bagaimana hukumnya tawassul tidak dengan amalnya sendiri melainkan dengan seseorang yang dianggap sholeh dan mempunyai martabat dan derajat tinggi di depan Allah SWT. sebagaimana ketika seseorang mengatakan : “Ya Allah aku bertawassul kepada-Mu melalui Nabi-Mu Muhammmad atau Abu bakar atau Umar dll”.

Para ulama berbeda pendapat mengenai masalah ini. Pendapat mayoritas ulama mengatakan boleh, namun beberapa ulama mengatakan tidak boleh.  Dalam setiap permasalahan apapun suatu pendapat tanpa didukung dengan adanya dalil yang dapat memperkuat pendapatnya, maka pendapat tersebut tidak dapat dijadikan sebagai pegangan. Dan secara otomatis pendapat tersebut tidak mempunyai nilai yang berarti, demikian juga dengan permasalahan ini, maka para ulama yang mengatakan bahwa tawassul diperbolehkan menjelaskan dalil-dalil tentang diperbolehkannya tawassul baik dari nash al-Qur’an maupun hadis, sebagai berikut:

A. Dalil dari al-Qur’an.

 أيها الذين آمنوااتقواالله وابتغوا إليه الوسيلة
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan.”
( QS. Almaidah : 35 )

“Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka, siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya, sesungguhnya azab Tuhanmu adalah suatu yang (harus) ditakuti” Suat Al-Isra [17] : 57
Maksudnya: Nabi Isa a.s., para malaikat dan ‘Uzair yang mereka sembah itu menyeru dan mencari jalan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Lafadl Alwasilah dalam ayat ini adalah umum, yang berarti mencakup tawassul terhadap dzat para nabi dan orang-orang sholeh baik yang masih hidup maupun yang sudah mati, ataupun tawassul terhadap amal perbuatan yang baik-baik.

Wasilah dalam berdoa sebetulnya sudah diperintahkan sejak jaman sebelum Nabi Muhammad SAW. QS 12 : 97-98  mengkisahkan saudara-saudara Nabi Yusuf AS yang memohon ampunan kepada Allah SWT melalui perantara ayahandanya yang juga Nabi dan Rasul, yakni Nabi Ya’qub AS. Dan beliau sebagai Nabi sekaligus ayah ternyata tidak menolak permintaan ini, bahkan menyanggupi untuk memintakan ampunan untuk putera-puteranya QS Yusuf [12] : 97-98 :

قَالُواْ .يَا أَبَانَا اسْتَغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا إِنَّا كُنَّا خَاطِئِينَ. قَالَ سَوْفَ أَسْتَغْفِرُ لَكُمْ رَبِّيَ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

“Mereka berkata: “Wahai ayah kami, mohonkanlah ampun bagi kami terhadap dosa-dosa kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah (berdosa)”. Nabi Ya’qub berkata: “Aku akan memohonkan ampun bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.

Di sini nampak jelas bahwa sudah sangat lumrah memohon sesuatu kepada Allah SWT dengan menggunakan perantara orang yang mulia kedudukannya di sisi Allah SWT. Bahkan QS 17:57 dengan jelas mengistilahkan “ayyuhum aqrabu”, yakni memilih orang yang lebih dekat (kepada Allah SWT) ketika berwasilah.

Ummat Nabi Musa AS berdoa menginginkan selamat dari adzab Allah SWT dengan meminta bantuan Nabi Musa AS agar berdoa kepada Allah SWT untuk mereka. Bahkan secara eksplisit menyebutkan kedudukan Nabi Musa AS (sebagai Nabi dan Utusan Allah SWT) sebagai wasilah terkabulnya doa mereka. Hal ini ditegaskan QS 7:134 dengan istilah بِمَا عَهِدَ عِندَكَ Dengan (perantaraan) sesuatu yang diketahui Allah SWT. ada pada sisimu (kenabian). Demikian pula hal yang dialami oleh Nabi Adam AS, sebagaimana QS 2:37

فَتَلَقَّى آدَمُ مِن رَّبِّهِ كَلِمَاتٍ فَتَابَ عَلَيْهِ إِنَّهُ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

“Kemudian Nabi Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Allah menerima taubatnya.  Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang”.

“Kalimat yang dimaksud di atas, sebagaimana diterangkan oleh ahli tafsir berdasarkan sejumlah hadits adalah tawassul kepada Nabi Muhammad SAW, yang sekalipun belum lahir namun sudah dikenalkan namanya oleh Allah SWT, sebagai nabi akhir zaman.

Bertawassul ini juga diajarkan oleh Allah SWT di QS 4:64 bahkan dengan janji taubat mereka pasti akan diterima. Syaratnya, yakni mereka harus datang ke hadapan Rasulullah dan memohon ampun kepada Allah SWT di hadapan Rasulullah SAW yang juga mendoakannya.

وَمَا أَرْسَلْنَا مِن رَّسُولٍ إِلاَّ لِيُطَاعَ بِإِذْنِ اللّهِ وَلَوْ أَنَّهُمْ إِذ ظَّلَمُواْ أَنفُسَهُمْ جَآؤُوكَ فَاسْتَغْفَرُواْ اللّهَ وَاسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُولُ لَوَجَدُواْ اللّهَ تَوَّابًا رَّحِيمًا

“Dan Kami tidak mengutus seseorang rasul melainkan untuk ditaati dengan seizin Allah. Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasulpun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.”

BAHAYA SIFAT UJUB

Bahaya Sifat Ujub dalam Kehidupan


Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata :

وَكَثِيرًا مَا يَقْرِنُ النَّاسُ بَيْنَ الرِّيَاءِ وَالْعُجْبِ فَالرِّيَاءُ مِنْ بَابِ الْإِشْرَاكِ بِالْخَلْقِ وَالْعُجْبُ مِنْ بَابِ الْإِشْرَاكِ بِالنَّفْسِ وَهَذَا حَالُ الْمُسْتَكْبِرِ فَالْمُرَائِي لَا يُحَقِّقُ قَوْلَهُ : { إيَّاكَ نَعْبُدُ } وَالْمُعْجَبُ لَا يُحَقِّقُ قَوْلَهُ : { وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ } فَمَنْ حَقَّقَ قَوْلَهُ : { إيَّاكَ نَعْبُدُ } خَرَجَ عَنْ الرِّيَاءِ وَمَنْ حَقَّقَ قَوْلَهُ { وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ } خَرَجَ عَنْ الْإِعْجَابِ وَفِي الْحَدِيثِ الْمَعْرُوفِ : { ثَلَاثٌ مُهْلِكَاتٌ : شُحٌّ مُطَاعٌ وَهَوًى مُتَّبَعٌ وَإِعْجَابُ الْمَرْءِ بِنَفْسِهِ }
"Dan sering orang-orang menggandengkan antara riyaa' dan ujub. Riyaa termasuk bentuk kesyirikan dengan orang lain (yaitu mempertujukan ibadah kepada orang lain-pen) adapun ujub termasuk bentuk syirik kepada diri sendiri (yaitu merasa dirinyalah atau kehebatannyalah yang membuat ia bisa berkarya-pen). Ini merupkan kondisi orang yang sombong. Orang yang riyaa' tidak merealisasikan firman Allah إيَّاكَ نَعْبُدُ "Hanya kepadaMulah kami beribadah", dan orang yang ujub tidaklah merealisasikan firman Allah وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ "Dan hanya kepada Mulah kami memohon pertolongan". Barangsiapa yang merealisasikan firman Allah إيَّاكَ نَعْبُدُ maka ia akan keluar lepas dari riyaa', dan barangsiapa yang merealisasikan firman Allah وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ maka ia akan keluar terlepas dari ujub"(Majmuu' Al-Fataawaa 10/277)

Rasulullah bersabda :

ثَلاَثُ مُهْلِكَاتٍ : شُحٌّ مُطَاعٌ وَهَوًى مُتَّبَعٌ وَإعْجَابُ الْمَرْءِ بِنَفْسِهِ

"Tiga perkara yang membinasakan, rasa pelit yang ditaati, hawa nafsu yang diikui dan ujubnya seseorang terhadap dirinya sendiri" (HR at-Thobroni dalam Al-Awshoth no 5452 dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam as-shahihah no 1802)

Lantas kenapa kita begitu waspada terhadap riyaa namun melalaikan penyakit ujub…?

Sesungguhnya racun ujub akan mengantarkan pelakunya kepada penyakit-penyakit kronis lainnya, diantaranya :

  • Lupa untuk bersyukur kepada Allah, bahkan malah mensyukuri diri sendiri, seakan-akan amalan yang telah dia lakukan adalah karena kehebatannya. 
  • Lenyap darinya sifat tunduk dan merendah dihadapan Allah yang telah menganugrahkan segala kelebihan dan kenikmatan kepadanya 
  • Terlebih jelas lagi lenyap sikap tawadhu' dihadapan manusia 
  • Bersikap sombong (merasa tinggi) dan merendahkan orang lain, tidak mau mengakui kelebihan yang dimiliki oleh orang lain. 
  • Jiwanya senantiasa mengajaknya untuk menyatakan bahwasanya dialah yang terbaik, dan apa yang telah diamalkan oleh orang lain merupakan perkara yang biasa yang tidak patut untuk dipuji. Berbeda dengan amalan dan karya yang telah ia lakukan maka patut untuk diacungkan jempol.

Kenapa Mesti Ujub? Sebelum kita terlena dengan ujub yang menggerogoti hati kita maka hendaknya kita renungkan tentang diri kita. Kenapa kita ujub..??, bukankah kita ujub karena amalan kita serta hasil karya yang banyak dan hebat…??. Jika perkaranya demikian maka hendaknya renungkanlah perkara-perkara berikut ini :

Pertama : Sudah yakinkah amalan-amalan kita tersebut dibangun di atas keikhlasan kepada Allah?
Ikhlas merupakan perkara yang sangat mulia, yang menjadikan pelakunya menjadi sangat tinggi dan mulia di sisi Allah. Orang yang ikhlas hatinya hanya sibuk mengaharapkan keridhoan Allah dan tidak peduli dengan komentar dan penilaian manusia yang tidak memberi kemanfaatan dan tidak memudhorotkan. Yang paling penting baginya adalah penilaian Allah terhadap amalannya. Orang yang ikhlas adalah orang yang amalannya tatkala bersendirian lebih banyak daripda amalannya tatkala dilihat oleh orang lain.

Kedua : Bukankah banyak hal yang bisa menggugurkan amalan-amalan kita tersebut?
  •  Riyaa' –meskipun sekecil apapun- merupakan penggugur amal, dan bentuk-bentuknya sangatlah banyak.
  • Amalan yang tidak dibangun diatas ittibaa' sunnah juga merupakan penggugur amalan.
  • Sikap al-mann dalam hati terhadap Allah (yaitu merasa telah berbuat baik kepada Allah dengan mengungkit-ngungkit dan menyebut-nyebut kebaikan tersebut -pen) juga menghancurkan amalan.  ( Lihat : QS Al-Baqoroh : 264, QS Al-Hujuroot )
  • Diantara hal yang menggugurkan amalan adalah sebagaimana sabda Nabi  : Siapa yang meninggalkan Sholat ashar maka telah gugur amalannya" (HR Al-Bukhari no 553) 
  • Dan termasuk dalam hal ini perkataan Aisyah RAkepada Zaid bin Arqom rahdiallahu 'anhu tatkala melakukan transaksi dengan sistem 'iinah (riba) "Sesungguhnya ia (Zaid) telah menggugurkan (pahala) jihadnya bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam kecuali jika ia bertaubat"

Ketiga : Bukankah penilaian Allah yang paling utama adalah tentang hati dan keimanan seseorang?

Betapa banyak orang yang dzohirnya kurang amalannya dan seakan-akan mata kita merendahkannya, namun ternyata ia sangat tinggi di sisi Allah. Sebagai contoh nyata adalah Uwais Al-Qoroni rahimahullah

Keempat : Betapa banyak dosa yang kita lakukan  yang kita sadari dan tanpa kita sadari ?

Betapa sering kita melupakan dosa-dosa yang kita lakukan.., bukankah terlalu banyak dosa yang dilakukan oleh kedua mata kita..?, dosa yang dilakukan oleh kedua telinga kita..?, dosa-dosa yang dilakukan oleh lisan kita..?, dosa-dosa yang dilakukan oleh hati kita…? Sebagai contoh, coba sekarang kita berusaha untuk mengingat kembali dosa-dosa yang pernah dilakukan oleh lisan kita..?, apakah kita masih ingat siapa saja yang pernah kita ghibahi..?, siapa saja yang pernah kita sakiti hatinya dengan perkataan kita…?. Tentu kebanyakannya telah kita lupakan.
 
Belum lagi dosa-dosa yang pernah kita lakukan dengan hati kita..?  Bukankah takabbur, hasad, berburuk sangka juga merupakan dosa…?  Jika perkaranya demikian…bahwasanya tidak satu amalanpun yang kita yakini kita lakukan ikhlas karena Allah…dan tidak satu amalanpun yang ikhlas kita lakukan lantas kita yakin pasti diterima oleh Allah karena selamat dari hal-hal yang merusaknya…, maka apakah yang bisa kita banggakan untuk bisa ujub di hadapan Allah dan merasa lebih baik dari orang lain…

SEMANGAT DALAM BERIBADAH

Kiat-kiat Untuk Membangkitkan Semangat Beribadah


1. Menjaga panca indera dari godaan burukHal yang perlu dilakukan jika ingin semangat dalam beribadah adalah menjaga panca indera dari pengaruh yang buruk. Menjaga mata dari melihat hal-hal yang dilarang Allah SWT, menjaga telinga dari mendengar kata-kata yang buruk, menjaga mulut dari berkata dusta dan keji, serta menjaga anggota tubuh dari melakukan hal-hal yang dilarang Allah SWT. Khusus untuk mata, inilah pintu masuk yang paling mudah merusak hati. Pepatah mengatakan, “Dari mata turun ke hati”. Itulah sebabnya Allah menurunkan ayat khusus agar kita menjaga pandangan kita (hanya memandang yang baik dan halal saja). “Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian lebih suci bagi mereka. Sungguh Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat” (QS. 24 : 30).
2. Menjauhi lingkungan yang buruk


Untuk semangat dalam beribadah, maka jangan bergaul dengan teman-teman yang tidak mengajak kita ke arah kebaikan. Yang lalai dari mengingatkan kita tentang Allah dan ajaran-Nya (Islam). Sebagian anak-anak muda ada yang tidak begitu sensitif dengan akhlak teman sepergaulannya. Yang dilihat dari temannya hanyalah populeritas, kekayaan atau kecantikan temannya. Hal ini adalah salah dan menjerumuskan kita. Nabi saw pernah mengingatkan kita, barangsiapa bergaul dengan tukang api, maka kita akan terkena percikannya. Sebaliknya, barang siapa bergaul dengan pedagang minyak wangi, maka kita akan terkena harumnya. Pepatah lain mengatakan, “Jika kita ingin melihat kemuliaan seseorang, lihatlah siapa teman-temannya”.



3. Membaca buku-buku Islam


Cara lain untuk meningkatkan semangat ibadah adalah banyak membaca buku-buku Islam, terutama buku Islam tentang tazkiyatun nafs (kebersihan hati) seperti buku-buku sufi, sejarah hidup Nabi Muhammad saw, cerita-cerita penuh hikmah, dan lain-lain. Bacalah buku Islam secara rutin dan terjadwal. Jangan pernah abai untuk membaca buku-buku Islam secara rutin. Kalau perlu, kita mempunyai perpustakaan pribadi yang membuat kita lebih mudah membaca buku-buku Islam sesuai dengan keperluan.



4. Mengikuti pengajian



Hal penting lainnya dalam menjaga semangat ibadah adalah menghadiri pengajian secara rutin. Pengajian disini maksudnya adalah belajar agama (aqidah, akhlaq, ibadah, fiqih, dan lain-lain), bukan sekedar belajar membaca Al Qur’an. Sebaiknya setiap muslim memiliki pengajian tetap yang dikunjungi secara rutin. Salah satu perbedaan umat dahulu dan kini adalah umat Islam terdahulu (salaf) mempunyai kebiasaan ngaji. Bahkan mereka merasa aib jika absen dari pengajian. Sebaliknya umat Islam sekarang tidak lagi suka dengan pengajian. Ikut pengajian tidak lagi menjadi agenda prioritas dalam jadwal waktu mereka. Kalau ada waktu kosong baru mereka ngaji. Bukan sebaliknya, berani mengorbankan acara lain demi mengikuti pengajian secara rutin. Faedah ikut pengajian sangat banyak. Diantaranya seperti yang disabdakan Nabi Muhammad saw, “Tidak ada suatu kaum yang menghadiri majelis zikir (pengajian) kecuali malaikat akan mengelilinginya (selama berada di dalam mejelis), dilingkupi oleh rahmat-Nya, diturunkan ketenangan (ke dalam hatinya), dan disebut-sebut namanya oleh Allah SWT di hadapan makhluk-makhluk langit”..



5. Menambah ibadah sunnah.


Jika semangat ibadah ingin lebih mantap lagi, sebaiknya kita juga melakukan ibadah sunnah yang merupakan ibadah tambahan (nafilah) dalam Islam. Ibadah sunnah itu banyak, antara lain : membaca Al Qur’an, sholat dhuha, sholat tahajjud, infaq, shaum sunnah, bersedekah, dan lain sebagainya. Lakukankanlah dengan rutin walau sedikit daripada sekaligus tetapi jarang. “Amal yang disukai Allah adalah amal yang rutin walau sedikit” (HR. Muslim). Untuk menjaga rutinitas obadah sunnah sebaiknya membuat catatan tentang ibadah yang sudah dan belum dilakukan dalam setiap hari. Insya Allah dengan rutinitas ibadah sunnah, iman kita akan selalu prima.

Semoga bermanfaat...

















Do'a Malamku

Ya Allah Ya Robbi Ya Karim

Maafkanlah Salah dan Dosaku, kedua Orang Tuaku dan Semua yg membaca Tulisan ini
Hamba titip keluargaku beserta Anakku nan jauh disana, juga hartaku bendaku semuanya
karna Hamba yakin Engkaulah Sebaik - baik tempat menitip Amanah

Ya Rahman Ya Rahim,  Sebagai mana Engkau mencintai Nabi Muhammad SAW
Maka Hamba mohon Cintailah Kedua Orang Tuaku seperti itu
dan Tempatkan Ia ditempat yg terpuji disisimu

 Aamin

Senin, 25 Mei 2015

Bismillahirrohmanirrohim & Tafsir

Tafsir Lafazh Basmalah ( ‎​بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ )
BISMI : Al-Ismu (sebuah nama/bentuk singular/mufrod/kata tunggal)adalah pecahan dari As-Sumuwwu, maknanya adalah terangkat & tinggi (karna dg nama tsb menjadi tanda penggenal & dia terangkat olehnya). Ada juga yg mengatakan: kata Ismu itu merupakan pecahan dari as-simatun artinya tanda pengenal/alamat. Menurut imam Qurtuby yg pertama adalah yg paling benar dan pendapat ini merupakan pendapat ulama2 pengikut Hasan Al-bishri (ahli tafsir periode tabi'in (generasi setelah shahabat) karena bentuk jamanya (plural) adalah Asmaa_un (nama-nama
huruf 'ba' dikaitkan dg suatu perbuatan yg dibuang (tidak ditulis pada teks) sesuai dg perbuatan apa yg sdg dilakukan saat membaca basmalah tsb. Maka ketika sipembaca berkata: "Bismillaah" artinya: "saya membaca dg memohon pertolongan atas nama Alloh". Contoh: ketika seorang penulis mengambil balpoin/pensil, dia berkata: " Bismillaah" artinya: "saya menulis dg memohon pertolongan atas nama Alloh"; juga orang yg mau makan berkata: "bismillaah" artinya : "saya makan dg memohon pertolongan atas nama Alloh", dan begitulah seterusnya setiap pekerjaan/perbuatan dan dalam segala aktivitas akan menjadi ketentuan yg dikaitkan dg huruf "ba" itu. Dalam hadis Rasululloh saw. bersabda: Setiap urusan yg penting yg tidak diawali dg bismillaah maka itu adalah amalan yg sia-sia (terputus)".
Imam Qurthuby menjelaskan: "Dan ditulisnya "bi_smillaah" tanpa huruf "alif" karna dipandang cukup diwakili dg huruf "ba" yg menempel (ilshoq) sehingga bisa digunakan untuk berbagai perbuatan. Berbeda dg firman Alloh: Iqro bi_smi robbika.... (Qs. Al-A'laq: 1) maka huruf 'Alif'nya itu tidak dibuang/dihilangkan hal itu dikarenakan sedikit sekali penggunaannya (Nb: karena perbuatannya sudah jelas yaitu iqro/bacalah, sementara bismillaah untuk segala perbuatan yg lebih dari satu). (Lihat Tafsir al-Qurthuby: 1/99 dan Fahrur Rozy : 1/83).
ALLAH: Adalah sebuah nama kepunyaan Dzat Yang Maha Suci, Dzat Allah Yang Maha Agung, yg senantiasa ada serta wajib keberadaanNya, tidak boleh disekutukan dg dan oleh apapun juga. Ibnu Katsir menjelaskan: (Allah) adalah sebuah nama untuk Tuhan Yang Maha Tinggi kedudukannya, dan nama itu disebut, sebab sesungguhnya nama itu adalah nama yg teragung. Hal itu dikarenakan nama tsb. mensifati kepada seluruh sifat Allah, sebagaimana firman Allah ta'ala:
"Dia-lah Allah Yang tiada Tuhan (yg berhak disembah) selain Dia, Raja, Yg Maha Suci, Yg Maha Sejahtera, Yg Mengaruniakan keamanan, Yg Maha Memelihara, Yg Maha Perkasa, Yg Maha Kuasa, Yg Memiliki segala keagungan, Maha Suci, Allah dari apa yg mrk persekutukan". (Q.S. Al-Hasyr: 23)Maka nama-nama tsb (dalam ayat di atas dan dalam al-Qur'an) semuanya itu ada dan hadir untuk mensifati Alloh swt."  Kemudian Imam Ibnu katsir menegaskan: "Dan nama Alloh tersebut adalah nama yg tidak boleh digunakan selain daripada-Nya!!!" (Tafsir Ibnu Katsir juz 1 dan lihat kitab Ruhul Ma'any)
Dan Imam Qurtubhy berkata: Allah, nama ini adalah nama yg paling agung diantara nama-nama-Nya Yang Mahasuci, dan juga mencakup/meliputi kepada semua nama-nama yg lainnya, dan juga merupakan sebuah nama bagi yg benar-benar ada, yg mencakup kepada seluruh sifat-sifat ketuhanan, yg disifati dg sifat-sifat rububiyah, yg Maha Esa dalam keberadaanNya, yg tidak ada Tuhan kecuali hanya Dia Yang Mahasuci. (Tafsir Qurthuby: 1/102)Dan nama yg teragung ini (Allah) adalah sebuah nama yg absolut, tidak boleh digunakan secara mutlak kecuali hanya untuk yg diibadahi (disembah) dg benar-benar dan dg cara yg benar. Pendapat ini merupakan hasil dari kesepakatan mayoritas Ulama sebagaimana dijelaskan oleh Abu Hayyan. (Lihat Bahrul Muhith Li Abi Hayyan : 1/14)
AR-RAHMAAN AR-RAHIIM: Adalah dua nama diantara nama-nama Allah Yg Maha Tinggi, kedua-duanya merupakan pecahan dari kata (Ar-rahmah).Ada yg berpendapat bahwa kata "Ar-Rahman Ar-rahiim" merupakan kata dasar artinya & terbentuk dari kata yg lain, hal itu dikarenakan kedua nama tsb merupakan bagian dari nama2 yg sifatnya khusus ditujukan untuk Allah Yg Mahasuci (rincian makna keduanya akan dijelaskan pada tafsir surat Al-Fatihah).
Makna Basmallah:  Basmalah adalah bacaan sipembaca: "Bismillaahir rahmaanir rahiim" & maknanya adalah 'saya memulai dg menyebut nama Allah & mengingat-Nya sebelum segala sesuatu, memohon pertolongan hanya kepada-Nya dalam setiap urusanku, meminta perlindungan hanya dari-Nya, karena sesungguhnya Dia itu Maha Kuasa atas segala sesuatu'.
Maka ketika sipembaca membaca "bismillaahhir rahmaanir rahiim" saat membuka lembaran mushaf Al-Qur'an untuk membaca sebuah surat maka dg bacaan (basmaah tsb) menggambarkan bahwa maksudnya itu adalah 'aku membaca dg nama Allah...' dan begitu pula bacaan "bismillaah" saat dia mau bangkit untuk berdiri, atau mau duduk, dan seluruh perbuatannya, hal itu memberi gambaran tentang maksud dan tujuannya dg bacaan "bismillaah" bahwa ia bermaksud: 'aku berdiri dg menyebut nama Allah...', 'aku duduk dg menyebut nama Allah..', dan begitulah dalam seluruh perbuatannya. (Lihat Jami'ul Bayan fi tafsir Qur'an libnu Jarir)Allohu A'lam!

INGIN SUKSESS ??? ... MULIAKAN ORANG TUAMU

Fitrah kejadian manusia tidak dapat menafikan peningkatan usia dari hari ke hari. Suka atau tidak, kita seharusnya menerima hakikat bahawa setiap yang muda akan menjadi tua apabila sampai masa yang di tetapkan oleh Allah SWT.
Namun, persoalannya bukan usia yang menjadi pertaruhan kita, tetapi amalan dan pengorbanan yang kita lakukan selama ini y
ang menjadi hasil yang harus dinilai setiap manusia lebih-lebih lagi mereka yang bergelar seorang anak.
Rasulullah SAW pernah bersabda “Ada tiga jenis manusia yang terkena laknat Allah SWT iaitu: seorang yang membenci kedua-dua ibu bapanya, seseorang yang berusaha menceraikan sepasang suami isteri, kemudian selepas isteri itu diceraikan beliau menggantikannya sebagai suami dan seseorang yang berusaha supaya orang mukmin saling membenci dan saling mendengki antara sesama sendiri dengan hasutannya”. (Riwayat Ad Dailami)
Justeru, Islam mendidik umatnya supaya berbakti dan menghormati serta berbuat baik kepada orang tua. Dalam arti kata mentaati mereka, menjaga adab sopan semasa berhadapan dengan mereka, memelihara dan mencurahkan kasih sayang dengan tulus dan ikhlas, tidak sekali-kali mencoba menyakiti hati mereka, baik secara langsung ataupun tidak.
Rasulullah SAW berpesan dan mengingatkan bahawa orang yang tidak menghormati orang tua bukan golongan Muslim sebagaimana sabdanya yang bermaksud: “Bukanlah dari golongan kami, sesiapa yang tidak menghormati orang tua kami dan tidak pula mengasihi anak kecil kami.” (Riwayat Al-Tabrani).
Hari ini, banyak kasus kedurhakaan zaman moden yang dilakukan oleh generasi muda kepada warga tua. Ada di kalangan orang tua yang diabaikan, dibiarkan hidup melarat, tinggal di jalanan, mengemis dan berbagai penderitaan lainnya.
Malah, pernah terjadi anak membunuh orang tuanya sendiri disebabkan tamak kepada  harta. Ramai golongan tua yang terlantarkan. Pelakuan seperti ini menandakan semakin banyaknya anak yang mengabaikan tanggungjawab dan penghormatan terhadap orang tua mereka.
Rasulullah SAW pernah bersabda “Ada tiga jenis manusia yang terkena laknat Allah SWT iaitu: seorang yang membenci kedua-dua ibu bapanya, seseorang yang berusaha menceraikan sepasang suami isteri, kemudian selepas isteri itu diceraikan beliau menggantikannya sebagai suami dan seseorang yang berusaha supaya orang mukmin saling membenci dan saling mendengki antara sesama sendiri dengan hasutannya”. (Riwayat Ad Dailami)
Apalah gunanya anak berpangkat besar, berjabatan tinggi, memiliki harta banyak sedangkan perbuatan harian mereka penuh dengan dosa disebabkan derhaka kepada kedua-dua orang tuanya. Kita harus sedar bahawa amal soleh yang banyak tidak mencukupi untuk kita mengabaikan tanggungjawab menjaga orang tua.
Pastinya hati mereka hancur dan air mata sedih akan membasahi pipi bila mereka mengenang anak-anak yang dibelai dari kecil , tetapi apabila dewasa dan berjaya, mereka ditinggalkan dan diabaikan.
Ingatlah saudaraku, anak-anakku bahwa ketaatan kepada ibu bapa adalah pintu keredaan Allah SWT di dunia ini.